BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
68. Rumah yang tidak hangat



"Bangun di kamar ini lagi."


Keelua membuka selimutnya lalu bangkit dari posisi rebahnya, setiap hari ia berharap ketika ia terbangun, ia sedang berada di kamarnya namun tentu saja itu tidak akan terjadi. Gadis itu menoleh ke arah kanan, ia mendapati Anraka yang masih tertidur pulas. Sebagai istri yang baik, Keelua tentu saja tidak akan membangunkan suaminya dan lebih memilih mandi lalu turun lebih dulu ke bawah.


Suasana di rumah ini sangat berbeda dengan rumahnya, hal itulah yang membuat Keelua sedikit tidak betah berada di rumah mewah ini. Meskipun memiliki fasilitas yang mewah dan mahal tapi rumah ini tidak menyediakan suara TV di pagi hari yang sudah menayangkan acara gosip dan suara teriakan Ibunya yang menyuruhnya segera bangun dan mandi.


Dulu memang Keelua kesal dengan semua teriak teriakan di pagi hari itu tapi sekarang ia malah merindukannya.


Dengan gontai gadis itu melangkah menuju ke kamar mandi untuk mandi dan segera bersiap ke sekolah, ia akan membangunkan Anraka setelah ia sudah selesai mandi.


Begitu keluar dari kamar mandi, sambil mengeringkan tubuhnya, Keelua mengambil ponselnya lalu iseng membaca pesan di grub sekolah yang tiba tiba menjadi sangat banyak.


Saat membacanya, mata Keelua melebar lantas bersorak senang.


Dengan langkah santai Keelua menuruni tangga, rumah ini benar benar sepi, sepertinya semua orang di dalamnya belum bangun. Berbeda dengan rumahnya yang di jam seperti ini pasti sudah terdengar suara gaduh di dapur.


Keelua tersenyum lebar saat menemukan sosok wanita yang sedang duduk di sofa sembari memangku laptopnya alih alih menonton acara gosip pagi hari. Gadis itu akhirnya melangkah turun lebih cepat.


"Selamat pagi, Ma!"


"Selamat pagi, Keel. Kamu enggak sekolah?"


"Enggak, Ma. Hari ini libur. Mama lagi apa?" tanya Keelua dengan wajah yang sudah segar.


Gadis itu sudah mandi namun saat ia mengecek grub sekolahnya, ternyata ada penyampaian langsung dari Guru bahwa hari ini sekolah libur namun para Guru itu tidak menjelaskan alasannya. Tak masalah, Keelua juga tidak peduli.


"Lagi ngecek jadwal Papa kamu, sayang," jawab Regina.


Keelua mengangguk anggukkan kepalanya, gadis itu duduk di atas karpet seraya menyandarkan kepalanya ke atas meja.


"Kenapa, sayang? Kamu lagi butuh sesuatu?" tanya Regina balik.


"Enggak, Ma. Aku cuma lagi bosan aja, enggak ngapa ngapain. Kalau di rumah Mama Sekar, biasanya aku beres beres atau ngapain gitu, di sini udah ada Bibi Maryam yang bantuin, aku enggak kebagian tugas lagi." Keelua menghela napas panjang.


Keelua sebenarnya senang karena ia tak perlu melakukan apa apa lagi namun ia juga merasa tidak enak jika tidak melakukan apa apa dan hanya tidur seharian meskipun sebenarnya hal itulah yang ia inginkan.


"Kamu bosan, ya?" Regina bergerak menutup laptopnya.


"Gimana kalau kita masak aja?" tawar Regina. "Kamu belum sarapan, 'kan?"


Keelua mengangguk, "Boleh, Ma. Aku emang belum sarapan."


"Ya udah, ayo."


Keelua dan Regina akhirnya pergi ke dapur untuk membuat sesuatu bersama.


"Angel belum bangun, ya?"


"Adik kamu itu biasanya jam segini udah bangun cuma dia siap siap ke sekolahnya agak lama, biasa lah, masih kecil udah perfeksionis," jawab Regina seraya terkekeh kecil.


Keelua juga ikut terkekeh, "Enggak apa apa, Ma. Berarti Angel itu mandiri," katanya.


Regina menganggukkan kepala, ia setuju. Anak perempuannya yang manis itu memang selalu mandiri dan tidak pernah menuntut apa apa dari orang tuanya. Saking mandirinya, ketika ada masalah, Angel akan menyembunyikan segala masalahnya sendirian.


Sebagai seorang Ibu, Regina terkadang takut jika Angel memiliki sifat yang tertutup tentang apa yang ia rasakan seperti itu. Angel bisa saja melakukan hal yang tidak di duga duga dan membahayakan dirinya sendiri seperti insiden kolam berenang waktu itu.


Sejak kejadian Angel tenggelam namun berhasil selamat saat kejadian tersebut, Regina semakin was was dan mulai lebih sering berada di rumah, ia juga mengerjakan pekerjaannya di rumah untuk mengawasi anaknya.


"Aku suka anak kayak Angel, dia aktif, pintar, mandiri dan enggak pernah malu buat utarain perasaannya. Beda banget sama Ravi, adik aku itu dingin banget, Ma. Apalagi sama orang baru, dia enggak akan ngomong sama sekali kecuali ditegur duluan."


"Sama dong kayak Anraka, Anraka juga kayak gitu anaknya," balas Regina.


Keelua mengangguk kukuh, "Iya, Ma. Mereka sama, cuma Raka versi garangnya." Kemudian ia tertawa, Regina juga ikut tertawa bersamanya.


"Wih, pagi pagi udah seru aja, nih. Lagi pada ngapain?"


Seorang anak perempuan menuruni tangga dengan gembira, senyuman manis tidak luntur dari bibirnya.


"Pagi, Angel. Kak Keel sama Mama lagi bikin sarapan, dong," kata Keelua.


Mata Angel seketika berbinar, "Lagi bikin sarapan apa? Angel boleh bantu, ya?" ucap gadis itu seraya mendekat ke arah Keelua yang tampak sedang mengiris daging.


"Kamu mau bantu apa, Angel? Mama sama kakak kamu cuma lagi bikin sandwich, kok," sambung Regina.


Angel mencebik bibir, "Ya udah kalau Angel enggak bisa bantu apa apa, Angel mau ikutan ngegosip aja."


Keelua tertawa, "Kak Keel sama Mama enggak lagi ngegosip kok, kita cuma lagi cerita cerita biasa aja," katanya.


"Iya, cerita biasa aja sambil ngomongin Angel," sahut anak perempuan yang sudah berpakaian seragam sekolah rapi itu.


"Kamu hari ini sekolah, Ngel?" tanya Keelua membuka topik obrolan baru.


Angel mengangguk, "Iya, kak. Besok baru libur," jawabnya.


"Kakak hari ini libur dong," ucap Keelua seraya memasang tampang congkaknya.


"Ih, enak banget. Kok bisa libur, sih? Kok Angel masih sekolah? Hari ini libur, ya? Kayaknya Guru Angel lupa ngasitau deh. Coba Angel tanya dulu," ujar anak perempuan tersebut seraya hendak mengambil ponselnya dari dalam tas.


"Enggak, enggak. Sekolah kakak emang libur sendiri, mungkin lagi ada rapat atau acara yang penting gitu buat para Guru makanya murid muridnya pada diliburin." Keelua menjelaskan.


Sambil bercakap cakap dengan Angel, Keelua terus membantu Regina menyiapkan sarapan. Gadis itu sudah selesai mengiris daging, saat Regina memasak daging yang sudah diiris tadi, Keelua juga membantu menyusun roti yang akan digunakan sebagai alas sandwich yang sedang mereka buat.


"Kalau gitu Angel suruh Guru Angel di sekolah buat bikin rapat aja atau bikin acara khusus buat semua Guru. Kalau kayak gitu, mereka pasti bakal liburin semua murid jadi Angel enggak perlu pergi ke sekolah," kata Angel dengan begitu polosnya.


Sekarang giliran Regina yang tertawa. Suasana di rumah itu berubah sangat hangat dan penuh tawa, hal yang begitu jarang sekali terasa.


Angel bahkan merasakannya, ia tau ada sesuatu yang berubah saat Keelua datang. Gadis yang ceria membawa aura ceria pula ke rumah mereka, rumah yang besar namun tak memiliki sedikit kebahagiaan. Namun, sekarang semuanya sudah berubah, awalnya Angel memang tidak mendukung perjodohan Anraka tapi setelah anak perempuan itu mengetahui bahwa calon kakak iparnya adalah Keelua, ia langsung setuju dan tidak merasa berat hati melepaskan kakaknya.


Memang sulit untuk Keelua dan Anraka karena mereka yang harus menanggung semua resiko dari pernikahan dini ini tapi ada banyak orang yang mendukung dan berharap banyak pada hubungan mereka ini. Semoga saja, kedua manusia itu mau mencoba saling mencintai satu sama lain.


"Selamat pagi, semuanya. Tumben ada yang ngumpul pagi pagi begini." Arya muncul dari dalam kamarnya yang baru saja terbuka.


Angel menoleh, "Pagi, Pa. Ini Mama sama Kak Keelua lagi buatin kita sarapan. Jarang jarang ya Mama bisa masakin kita, biasanya Mama sibuk soalnya," ungkap anak perempuan itu.


"Iya, pasti masakan Mama enak banget nih, orang yang jarang masak 'kan biasanya masakannya enak. Iya 'kan, Keel?" Arya meminta bantuan Keelua untuk menggoda Regina juga.


Keelua menggangguk, "Walaupun aku belum pernah ngerasain masakannya Mama tapi aku yakin kalau masakan Mama pasti yang paling enak." Kemudian memuji masakan Regina bahwa sebelum wanita itu selesai membuatnya.


"Ini cuma sandwich, kalian enggak usah lebay, deh. Mama tau kalian itu cuma mau ngegoda Mama doang, kalian mau nyindir Mama yang jarang masak di rumah, 'kan?" Regina sengaja mencebikkan bibir, ia pura pura kesal padahal sebenarnya ia ingin tertawa sejadi jadinya.


"Siapa yang lebay? Emang bener, kok. Mama waktu itu pernah masakin Angel nasi goreng. Nasi gorengnya enak banget, makanya sampai sekarang Angel selalu nunggu kapan Mama enggak sibuk." Angel menyelutuk.


"Ini sekarang Mama kamu udah enggak begitu sibuk, Mama udah lebih sering di rumah, 'kan? Mama kadang kadang enggak ke kantor, cuma kerja di rumah buat nemenin kamu. Kamu senang, 'kan?" Arya mengelus pucuk kepala Angel dengan sayang.


"Angel senang tapi yang lebih senang pasti Bang Raka. Dari dulu 'kan cuma ini aja yang Bang Raka pengen. Mama sama Papa lebih sering di rumah, temenin Angel sama Bang Raka juga."


"Iya, sayang. Iya."


Keelua hanya mampu meringis di dalam hati, gadis itu tau bagaimana perasaan Angel saat ini. Semua kata dan raut wajah sedih yang gadis kecil itu tampilkan adalah kenyataan yang tidak pernah ia jelaskan secara gamblang. Bambang juga sangat sibuk hingga membuat Keelua jarang bertemu dengan Ayahnya itu tapi Keelua selalu mencoba mengerti dan membuat dirinya paham bahwa apa yang Ayahnya lakukan sekarang adalah untuk dirinya juga, untuk memanjakan dirinya.


Lagi lagi Keelua kembali bersyukur, dibandingkan dengan Angel, Keelua merasa dirinya lebih puas akan kasih sayang. Meskipun Bambang terkadang sangat sibuk dan tidak punya waktu bahkan untuk sedekar pulang melihat anak anaknya, tapi Keelua dan Ravi punya Sekar yang selalu ada untuk mereka dan tidak pernah meninggalkan mereka sendirian di rumah.


Keelua dan Ravi sama sekali tidak pernah kekurangan kasih sayang dari orang tua mereka, hidup mereka memang tidak seberuntung Anraka dan Angel sekarang yang bisa meminta menu apa pun yang ingin mereka makan hari itu dengan seenak hati.


Kemewahan tidak bisa membeli kebahagiaan.


"Kak Keelua di sini aja terus, ya. Angel senang kalau ada Kak Keelua di sini." Angel menoleh ke arah Keelua serava tersenyum lebar.


Arya mendekat ke arah Keelua lalu merangkul bahu gadis itu, "Kak Keelua enggak akan ke mana mana, Keelua 'kan sekarang anaknya Papa Arya sama Mama Regina," kata pria itu.


"Berarti Om Bambang sama Tante Sekar itu juga Papa sama Mamanya Angel, dong?" celetuk Angel.


"Iya, dong!" seru Keelua seraya mengacak rambut Angel seraya tertawa bersama Arya.


"Ih, jangan diacak acak, kak! Ini nyisirnya lama tau!" protes Angel sambil melindungi rambutnya dari Keelua yang usil.


"Mama juga senang sekali karena Keelua ada di sini, Mama jadi punya teman ngobrol kalau Angel lagi enggak ada. Sekarang udah ada yang nemenin Angel juga kalau Mama sama Papa lagi kerja." Regina ikut menimbrung.


Keelua mengangguk, "Iya. Terima kasih banyak karena kalian semua udah nerima Keelua kayak anak sendiri."


Angel turun dari kursinya lalu mendekat ke arah Keelua dan memeluk tubuh gadis itu.


Dari lantai atas, tampak seorang pemuda tengah memperhatikan aktivitas di dapur itu. Wajahnya datar saja seperti biasa namun entah mengapa ia merasakan sesuatu di hatinya, rasanya hangat saat melihat keluarganya berkumpul seperti sekarang. Di rumah ini, semua orang berkumpul saat makan saja, selebihnya sibuk dengan urusan masing masing.


Pemandangan terindah dan sangat jarang pemuda itu temukan di rumah ini, semua orang berkumpul dan tidak ada ponsel ataupun laptop di tengah tengah mereka.


Anraka menghela napas panjang lantas pandangannya mengarah ke seorang gadis yang sedang tertawa lepas di bawah sana, auranya terpancar, membawa keceriaan pada siapa saja yang melihatnya termasuk Anraka sendiri.


Apa dia yang membawa semua kehangatan ini masuk ke dalam rumah yang awalnya sangat kosong dan dingin? Gumam Anraka dalam hati.


Jika iya, Anraka tidak ingin melepaskan gadis itu. Melepaskan Keelua artinya melepaskan semua kehangatan yang telah tercipta dan membawa kembali suasana rumah yang sepi dan tidak hidup.


Anraka tidak menginginkan itu, ia tak mau orang tuanya kembali sibuk dengan pekerjaan mereka terus menerus.


"Lo enggak akan lepas dari gue, Keelua."