BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
74. Berbelanja



"Wah, kalian dari mana, nih? Belanjaannya banyak sekali," tegur Regina begitu Anraka dan Keelua sampai di rumah.


"Halo, Ma." Keelua balik menyapa Ibu mertuanya lalu duduk di atas sofa.


"Aku sama Raka baru balik dari mall yang kata Raka punya dia, terus dia nyuruh aku beli semua baju ini, padahal ini terlalu banyak," adu Keelua pada Regina yang tampak sedang senggang dan hanya membaca buku saja, tanpa ada laptop di sisinya.


"Seru banget! Kalian ke mana aja tadi?" tanya Regina, wanita itu tampak sangat senang melihat kedekatan kedua anaknya ini.


"Dia kerjaannya makan mulu, lihat makanan dikit langsung ngiler," celetuk Anraka yang baru saja memasuki ruang tengah dengan beberapa tas belanjaan di tangannya.


Keelua mendecak kesal lantas menatap kesal Anraka yang melangkah naik lebih dulu. Gadis itu kembali menoleh ke arah Regina, ia tersenyum kikuk karena mertuanya ternyata ikut menertawainya.


"Ya udah, aku naik ke atas dulu, ya, Ma. Mau bersih bersih, sekalian mau beresin belanjaan. Mama semangat baca bukunya!" seru Keelua seraya bangkit dan melangkah pergi menuju tangga bersama tas tas belanjaannya.


"Iya, sayang," balas Regina lantas geleng geleng kepala. Ada ada saja kelakukan anak anaknya.


Keelua membuka pintu kamar Anraka dengan kesal, kemudian ia menemukan pemuda yang sebenarnya berstatus sebagai suaminya itu sedang duduk dengan laptopnya di atas kasur.


"Kurang ajar ya lo," tuding Keelua sambil melipat kedua tangannya di depan dada sambil melirik jengkel ke arah Anraka.


Si pemuda tak memberikan respon apa apa, ia hanya terus bermain game di laptopnya dan enggan melihat wajah marah Keelua, sang istri.


"Raka! Lo denger gue enggak, sih?!" pekik Keelua lagi.


Kondisi kamar Anraka sekarang sangat berantakan, semua belanjaan yang baru saja di beli berhamburan di lantai karena Anraka menaruhnya begitu saja tanpa punya niat untuk merapikannya.


"Berisik," balas Anraka.


"Katanya boleh beli apa aja, bagus gue cuma minta makan, bukan minta cerai!"


Anraka menoleh, "Kenapa lagi? Lo masih belum puas? Lo belum cukup sama semua belanjaan lo ini? Pesan online aja, pakai ATM gue."


"Belanjaan gue? Belanjaan lo kali! Ini semua lo yang nyuruh gue buat beli, ambil ini ambil itu. Buang buang uang tau, enggak?! Gue 'kan cuma minta makanan, bukan minta barang barang ini, cuma menuh menuhin lemari doang!"


Baru kali ini Anraka menemukan gadis yang marah marah karena dibelikan terlalu banyak barang mewah, biasanya para gadis menyukai ini, mereka selalu suka menghambur hamburkan uang dan membeli barang barang yang sebenarnya tidak perlu.


Tapi kenapa Keelua berbeda? Kenapa gadis ini lebih mau dibelikan makanan daripada barang barang mewah?


Padahal Anraka sudah membeli semuanya, ada baju, tas, sepatu bahkan aksesoris yang ia yakini akan membuat Keelua terpanah pun sudah ia beli. Namun sayangnya, bukannya senang dan berterima kasih, Keelua malah marah marah seperti ini.


"Lo bakal pakai semua ini suatu saat," kata Anraka santai.


Keelua mengacak rambutnya kesal,


"Kalau itu gue tau, tapi pernah enggak lo mikirin berapa uang yang lo keluarin buat sekali belanja? Lo ingat enggak berapa uang yang lo habisin cuma buat beli semua ini? Lo enggak mikirin duitnya bisa dipakai buat apa? Dengan uang itu lo bisa beli sesuatu yang lebih bermanfaat," oceh Keelua masih dengan wajah kesal serta tangan yang kini sudah ada di kedua pinggangnya.


"Omongan lo kayak nyokap gue, berisik. Bisa diam, enggak?" Anraka tidak mengindahkan semua petuah Keelua sama sekali, tidak ada yang ia dengar dan ia masukan ke dalam hatinya, minimal ke otaknya yang pasti jika dijual harganya akan mahal karena tidak pernah dipakai.


Keelua menepuk jidat, ia masih ingat bagaimana bodohnya tingkah Anraka saat berbelanja tadi.


Sebelum berbelanja pun Keelua sudah menolak, gadis itu menawarkan untuk pergi ke restoran enak atau ke toko buku saja tapi Anraka tetap memaksa dan mengancam akan meninggalkan Keelua sendirian di mall ini jika tidak mau menuruti perintahnya.


Pada saat Keelua berbelanja, gadis itu sedikit risih dengan tingkah seorang pegawai yang bekerja di toko tempat dia dan Anraka masuki tadi. Pegawai itu tampak mengambil semua barang yang sudah Keelua raba atau gadis itu ambil namun ia diletakkan kembali dan memasukkan semua barang tersebut ke dalam keranjang yang ia bawa.


Keelua awalnya heran, mengapa pegawai itu mengambil barang barang yang sudah ia sentuh saja padahal banyak barang lain di dalam toko tersebut.


Setelah memilih sebuah sweater dan sepasang sepatu, Keelua pergi ke kasir dan bertemu lagi dengan Anraka yang ternyata sudah meletakkan belanjaannya juga di sana. Anraka membeli beberapa kaos dan sepatu yang tidak Keelua ketahui bentuknya seperti apa karena terlalu banyak.


"Lo beli banyak banget, satu tas aja enggak akan muat," kata Keelua menegur Anraka yang berbelanja begitu banyak.


"Yakin?" Anraka menoleh dan menaikkan sebelah alisnya.


"Yakin apaan?" tanya Keelua balik, dahinya mengerut.


"Lo bilang belanjaan gue banyak, lo enggak lihat belanjaan lo seberapa banyak? Belanjaan gue enggak ada apa apanya," tutur Anraka.


Keelua mencemooh, "Lo udah gila, ya? Gue cuma beli satu sweater sama satu sepatu doang. Buat apa banyak banyak?" tepisnya.


"Itu?" tanya Anraka lagi sambil menunjuk sesuatu di belakang Keelua dengan gerakan dagunya.


Keelua berbalik, di detik yang sama gadis itu melebarkan matanya saat menemukan dua keranjang pakaian dan beberapa pasang sepatu serta tas sudah berbaris rapi di belakangnya.


"Ini bukan punya gue, punya orang lain kali." Gadis itu syok, tidak mungkin ia membeli semua barang barang ini, ini sangat banyak, Keelua hampir pingsan bahkan hanya dengan membayangkan total harganya saja.


"Itu punya lo, mbak itu saksinya," ucap Anraka sembari menunjuk pegawai toko yang tadi mengambil semua barang yang ia sentuh.


"Lho? Ini bukan punya saya, mbak. Mbaknya yang ngambil, bukan saya!" seru Keelua dengan panik.


"Gue yang nyuruh dia," timpal Anraka.


Keelua menoleh, "Lo nyuruh dia bikin gue bangkrut?!" tuduh gadis itu pada Anraka.


"Emangnya lo yang bayar?" tanya Anraka.


Keelua sontak saja terdiam, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Bukan gue, sih. Tapi sama aja, ini semua 'kan tetap mahal."


"Ya udah, diam aja."


Saat itu juga, Keelua hanya bisa diam dan pasrah. Hal itu juga yang membuat gadis itu marah dan mengamuk sekarang.


Tak ada cara lain, Keelua akhirnya hanya bisa memandangi Anraka yang dengan santai bermain game padahal puluhan juta sudah melayang dari rekeningnya.


Bukan uang Keelua yang habis namun ia yang mengalami sakit kepala. Ini adalah pertama kalinya Keelua menghamburkan banyak uang untuk hal tidak penting semacam ini, walaupun memang bukan uangnya tapi tetap saja.


"Gue enggak mau tau, lo harus nabung mulai sekarang!"enggak ada apa apanya," tutur Anraka.