BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
22. Pesta Kemenangan



"Gila. Gibran emang keren banget, sih!" Romeo datang dan menepuk punggung seorang pemuda yang mengenakan kaos hitam dan duduk di sebelah Bumi itu.


"Yoi, emang Gibran mah enggak pernah ngecewain!" seru Bumi ikut memuji.


"Lo emang keren banget, sih, bro. EX bangga sama lo." Anraka menimpali.


Gibran yang tak habis habis mendapat pujian kini hanya mampu tersenyum bahagia karena akhirnya teman temannya ini mau akhirnya teman temannya ini mau memujinya lagi setelah sekian lama.


"Please, udah udah. Gue tau gue emang keren tapi kalian enggak harus muji muji gue terus, dong!" Gibran sudah besar kepala, jika diteruskan, bisa bisa ia semakin tersipu malu.


"Udah gue bilang, enggak usah dipuji." Ganta angkat bicara.


"Iya, enggak usah dipuji lagi, makin besar kepala entar." Romeo pun mengambil tempat di sebelah Ganta.


"Ya elah, baru juga seneng." Gibran mendengus kesal.


"Iya iya, mending sekarang lo makan nih," tawar Bumi.


Kelima pemuda itu sedang ada di sebuah restoran untuk acara kecil kecilan merayakan kemenangan Gibran ditanding balapan kemarin malam. Pemuda itu dengan gagahnya bisa mengalahkan lawan dari geng yang menantang EX dengan selisih jarak yang cukup jauh.


Gibran pun berhasil memenangkan uang yang dipertaruhkan oleh kedua geng, hingga akhirnya semua uang yang dipertaruhan senilai total seratus juta rupiah bisa berada di dalam genggaman EX hari ini.


"Makan sepuasnya, kita rayain kemenangan Gibran!"


"Cheers!"


Lima buah gelas yang berdenting menyita perhatian para pengunjung yang juga ada di dalam restoran tersebut.


Meja mereka sudah dipenuhi dengan beragam macam menu makanan hingga membuat kelima pemuda itu bingung ingin makan yang mana terlebih dahulu. Anraka, Gibran, Bumi, Ganta dan Romeo benar benar berpesta hari ini, bahkan mereka masih mengenakan seragam sekolah. Sepulang sekolah kelima pemuda itu langsung mencari resto yang bisa mereka gunakan untuk merayakan kemenangan Gibran untuk kesekian kalinya karena kemarin malam mereka menundanya.


"Malam ini kalian enggak sibuk,


'kan?" tanya Romeo.


"Enggak." Ganta menyahut.


"Kayaknya, sih, enggak." Gibran menyambung.


"Enggak tau, deh. Gue enggak bisa mastiin." Selanjutnya Bumi.


"Enggak tau." Anraka ikut buka suara.


"Dirayain di sini kurang seru, gimana kalau malam ini kita ke tempat yang lebih seru?" Romeo tersenyum miring.


...****************...


Seorang gadis tampak sesekali tersenyum saat membaca sebuah novel di tangannya, punggungnya ia sandarkan di sisi bagian atas ranjangnya.


Gadis berambut panjang itu menikmati waktu membacanya dengan sangat bahagia, malam memang lah waktu yang paling cocok untuk membaca sebuah kisah romansa di novel. Daripada diam saja dan berujung overthinking? Lebih baik membayangkan hal hal yang bisa membuat bahagia walaupun hanya halusinasi semata.


"Gila, nih cewek keren banget. Pengen banget kayak dia tapi gue enggak mungkin bisa." Keelua bergumam pelan, matanya masih fokus pada tiap baris yang tertulis di buku itu.


Ia sedang membaca bagian cerita yang menjelaskan bahwa seorang gadis yang merupakan pemeran utama sedang hang out bersama teman temannya di sebuah club malam yang ramai. Keelua menyebut gadis fiksi itu keren karena ia merasa pergi di club malam adalah suatu hal yang mustahil baginya dan mungkin tidak akan pernah ia lakukan seumur hidupnya.


Bayangkan saja, jangan kan pergi ke club malam hingga harus pulang pagi, tidak mengangkat telepon dari orang tuanya saat ia sedang berada di luar saja bisa membuat Keelua diceramahi habis habisan.


Maka dari itu Keelua mengatakan bahwa itu tidak mungkin.


Terkadang, Keelua ingin menjadi salah satu tokoh utama di dalam novel atau drama romansa. Gadis cantik itu memang tidak begitu suka hal hal berbau percintaan namun berbeda apabila ia sudah menemukan tokoh utama pria di novelnya yang begitu sempurna, Keelua seperti ingin segera punya pacar.


Padahal Keelua sudah memberi tau pada dirinya sendiri untuk tidak membuka hati dan membiarkan seseorang masuk apalagi sampai jatuh cinta dalam waktu dekat ini. Untuknya, itu merepotkan. Perasaan hanya akan membuat seseorang menjadi bodoh dan lemah, Keelua tidak ingin menjadi salah satu dari orang orang yang diperbudak atas dasar kata cinta.


Cinta mungkin perlu tapi tidak untuk sekarang, Keelua belum siap untuk berkomitmen atau menetapkan hati pada satu orang. Ia masih mau menjelajah dan menemui orang orang baru dengan sifat dan karakter yang baru juga. Hidup terlalu singkat jika harus dihabiskan dengan perjalanan cinta yang menyedihkan.


"Kalau bisa, gue maunya pacaran sama cowok fiksi aja. Meskipun awalnya disakitin mulu tapi udah pasti endingnya bahagia. Daripada sama cowok asli, awalnya aja bahagia ujungnya pasti ngerepotin hati doang. Buang buang waktu. Gimana sih caranya bikin cowok fiksi gue hidup? Tolong dong, siapapun!'


Keelua berseru pada bukunya sendiri, seperti orang yang sudah kehilangan akal, gadis itu mengumpat kesal tanpa sebab.


Setakut itu Keelua pada hubungan berkomitmen, ia belum siap untuk patah hati apalagi melupakan seseorang yang hanya meninggalkan luka di hati.


Dengan malas, Keelua kemudian menutup novelnya dan menaruhnya di atas nakas yang ada di sebelah ranjang lalu merebahkan tubuhnya begitu saja ke atas kasur.


Sorot mata gadis berkulit putih cerah itu tertuju pada langit langit kamarnya, kemudian ia bergumam.


"Kapan ya gue ketemu sama cowok yang bisa benar benar nerima gue apa adanya dan ngetreat gue like a queen?"


...****************...


Dentuman suara musik kian menggema dengan keras di dalam ruangan yang sangat luas. Banyak sekali orang di dalam gedung itu, seperti biasa. Romeo melangkah masuk lebih dulu, lalu diikuti oleh Gibran dan anggota EX lainnya.


Romeo sudah tersenyum senang ketika ia melihat pemandangan di dalam ruangan yang pencahayaannya cukup redup dan hanya diterangi oleh kilat kilat lampu yang warna warni.


Semua orang yang ada di sana menari dan tertawa bersama teman teman mereka di atas lantai dansa, yang lainnya memilih untuk duduk dan menonton saja.


Anraka datang di tengah tengah keempat temannya lalu menunjuk ke arah meja yang sudah mereka pesan terlebih dahulu, mereka pun langsung melangkah mendekat ke arah meja itu namun berbeda dengan Romeo. Pemuda itu bukannya mengikuti langkah teman temannya, ia malah pergi ke lantai dansa dengan gembira.


"Si Romeo udah siap nyari mangsa tuh."


Perlu diketahui, selain sudah menebar pesona, Romeo juga adalah salah satu anggota EX yang paling suka bermain dengan para gadis. Romeo adalah kebalikan dari Anraka.


Tapi anehnya, Anraka punya pacar sedangkan Romeo tidak. Pemuda itu memang tidak pernah berpacaran namun ia sangat jago dalam hal menaklukan hati seorang gadis bahkan hanya dalam waktu satu malam.


Waktu itu Isabella menawarkan perjanjian yang cukup menarik pada Anraka yaitu; Isabella akan membantu geng EX untuk menjadi lebih terkenal di SMA Bintang asal Anraka mau menjadi pacar Isabella.


Isabella punya jaringan yang cukup luas di SMA Bintang hingga akan mudah untuk gadis itu jika ia ingin membantu geng EX agar geng itu menjadi lebih ditakuti oleh seluruh siswa yang ada di sekolah. Walau pun Anraka adalah anak pemilik yayasan dan Bumi adalah anak kepala sekolah, tapi mereka tidak punya waktu untuk mengurusi hal hal seperti itu.


Jadi Anraka mengiyakan saja keinginan Isabella namun ia sama sekali tidak pernah menganggap gadis itu sebagai kekasihnya.


Anraka tidak bodoh, ia tau bahwa Isabella sering bermain main dengan banyak laki laki dan berganti ganti. Banyak orang yang memberi tau kabar ini pada Anraka namun pemuda itu memilih untuk tidak peduli karena apa pun yang ingin dilakukan oleh Isabella bukanlah urusannya. Mau sebagai pacar atau bukan, Anraka tidak akan mengurusi gadis itu selama apa yang ia lakukan tidak mempengaruhi Anraka dari sudut mana pun.


"Halo, guys. Udah lama enggak lihat kalian ke sini." Seorang pemuda bertato datang dan menghampiri meja geng EX sambil menyapa. "Hai, Gib. Lo keren, bro!"


"Thanks, bro!"


"EX juga butuh sekolah, makanya dunia malam kita pause dulu," ujar Bumi.


Pemuda bertato tadi tertawa lalu duduk di sebelah Ganta.


"Kalian ke sini enggak bawa cewek?" tanya pemuda itu lagi.


"No, Li. Kita enggak bawa cewe, ribet soalnya." Gibran membalas.


Pemuda yang bernama Lion itu mendecak, "Ribet gimana, sih? Lebih ribet lagi kalau kalian enggak nemu yang pas buat nemenin kalian sampai pagi," katanya.


"Bukannya cewek di sini banyak, ya?" tanya Bumi.


"Banyak. Tapi bekas semua." Lion tertawa.


Anraka hanya menjadi penyimak saja seraya mengisap batang rokoknya lalu menghembuskan asapnya ke udara. Matanya menyapu ke sekeliling ruangan yang dipenuhi dengan manusia yang sedang berjoget ria diiringi musik yang suaranya sangat keras.


"Lo gimana, Rak? Enggak minat bawa masuk cewek ke kamar?" tanya Lion.


"No. Thanks," balas Anraka.


Beberapa jam kemudian, satu persatu teman Lion datang dan bergabung dengan geng EX di meja yang sudah EX pesan tadi. Banyak juga gadis yang datang dan berakhir menggoda Anraka namun tidak ada yang bisa membuat pemuda itu tertarik.


Dari desakan para manusia, Romeo akhirnya muncul dan melangkah mendekat bersama seorang gadis digendongannya.


Romeo dan gadisnya itu lalu bermain main di sofa tanpa malu. Anraka rasa memang semua orang yang berada di tempat ini tidak punya malu, kecuali dirinya.


Menurut Anraka, hal seperti itu bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan bersama dengan sembarang orang apa lagi dengan orang asing yang tidak kita kenal. Anraka tidak semurahan itu, ia akan memilih dan akan sangat pemilih.


"Pesan kamar aja, bro," ujar Bumi pada Romeo yang tampak sudah kehilangan akal.


Sepertinya hanya Anraka, Ganta dan Bumi; pemuda paling suci di tempat ini. Ketiga pemuda itu bahkan tidak punya niat untuk memandangi tubuh seorang gadis. Mereka hanya minum minum saja namun tetap dalam batas wajar, mereka tidak ingin kehilangan kesadaran dan akan berakhir tidur di jalanan.


Gibran sudah lenyap entah ke mana, mungkin pemuda itu sedang bersenang senang dengan Gibran sudah lenyap entah ke mana, mungkin pemuda itu sedang bersenang senang dengan gadis gadisnya juga.


"Kalau gue minum segelas lagi, gue enggak bakal bisa berhenti," gumam Ganta.


Anraka dan Bumi tertawa mendengarnya lalu mereka melanjutkan obrolan mereka walau pun semakin malam, tempat yang mereka datangi ini akan semakin ramai.


"Anraka? Ini kamu?"


Seorang gadis datang dan Seorang gadis datang dan memanggil nama Raka. Sang pemilik nama pun menoleh. Pemuda itu mengernyit ketika mendapati gadis yang selalu mengganggu hidupnya kini tiba tiba ada di depannya.


"Ternyata benar! Aku seneng banget bisa ketemu kamu di sini!"


Isabella mendekat lalu hendak duduk dipangkuan Anraka namun pemuda itu dengan cepat menghindar.


Anraka menoleh malas begitu melihat model pakaian yang Anraka menoleh malas begitu melihat model pakaian yang dikenakan Isabella. Sangat terbuka dan kekurangan bahan.


"Kamu enggak kangen sama aku?"


Lion menatap Anraka dengan tatapan menyelidik lalu terkekeh geli, Anraka membalasnya dengan decakan. Untuk apa Isabella datang ke sini?! "Lo ngapain, sih, ke sini?" tanya Anraka, kesal.


"Aku udah di sini dari tadi, Sayang."


Aroma mulut Isabella menandakan gadis itu sehabis minum alkohol, ia pasti tengah mabuk sekarang.


"Sayang.."


.


.


.


.


.


.


.


.


.