
"Kalian siapa?"
Seorang anak laki laki muncul dari balik pintu yang sudah terbuka.
"Rav, tolong usir mereka, sebelum Papa denger," bisik Keelua.
Mata Ravi melirik ke arah lima pemuda yang berdiri di depan pintu rumahnya.
"Mereka siapa, kak?" tanya Ravi pada Keelua.
"Enggak tau, mereka orang jahat," ujar Keelua.
"Orang jahat matamu. Kita ini anak baik baik," potong Gibran.
"Hai, kita teman satu sekolahnya kakak lo, gue Bumi." Bumi mulai memperkenalkan diri dengan sopan.
"Yang di sebelah gue ini Anraka, gue yakin lo udah kenal." Bumi menunjuk pemuda yang berdiri di sebelah kanannya.
"Yang di sebelah Anraka itu Romeo."
"Dia Ganta," ujar Bumi seraya menunjuk pemuda yang berdiri di sebelah kirinya, "Yang di sebelahnya lagi Gibran," lanjutnya.
"Oh."
"Oh, doang? Bocil kurang ajar." Gibran mendecak.
"Bisa main video game, enggak?" tanya Ravi.
"Bisa! Si Ganta jagonya!" sahut Romeo.
"Oke, masuk."
Ravi pun menyingkir dari pintu untuk mempersilahkan pemuda pemuda itu masuk. Sedangkan Keelua hanya bisa melongo dengan mulut terbuka ketika melihat adiknya dengan tanpa rasa bersalah mengizinkan para berandalan itu masuk.
Apa yang harus Keelua katakan pada Ayahnya jika beliau bertanya? Bisa tawat riwayatnya.
"Ma, ada tamu," seru Ravi begitu kelima teman kakaknya itu masuk dan mendaratkan bokong mereka ke arah sofa.
"Siapa? Kalau sales panci enggak usah diladenin, panci Mama masih bagus bagus semua," balas Sekar dari dalam.
"Bukan. Ini pengamen," sahut Ravi lagi.
"Astaga, adik lo beneran minta digibeng, Keel," tutur Romeo.
Seperti biasa, wajah Ravi akan selalu datar tanpa ekspresi jika sedang berada di sekitar orang yang belum ia kenal dengan baik.
"Pengamen, kok pengamen bisa sampai di rumah kita, sih?" Sekar melangkah cepat menuju ruang tamu sambil mengoceh.
"Omo!" Sekar terlonjak kaget begitu mendapati lima bujang tampan berada di ruang tamunya.
"Siapa ini? Pengamennya?" tanya Sekar.
Bumi tertawa, "Bukan, Tante. Kit teman sekolahnya Keelua, maksud kami ke sini itu mau silahturahmi," tuturnya dengan pembawaan yang tenang seperti Bumi biasanya.
"Tante masih inget sama kamu, kamu yang nganterin Keelua pulang waktu itu, ya?" tanya Sekar.
Bumi mengangguk, "Iya, Tante."
"Saya Gibran, Tante, temannya Keelua juga." Gibran memotong.
"Saya Romeo, Tante. Senang ketemu sama Tante."
"Ganta," ujar Ganta seraya tersenyum tipis.
Keelua memukul dahinya pelan, apa apaan mereka ini?!
"Kalian semua temannya Keelua?
Ganteng ganteng banget," kata Sekar sembari tersenyum, tulus.
"Iya, tante. Maaf malam malam gini kita dateng ganggu waktu Tante." Bumi membalas senyum Sekar dengan senyum tipis.
"Oh, enggak apa apa. Sering sering aja main ke sini, ya!"
Dahi Keelua mengerut, apa apaan ini?! Kenapa Mamanya bersikap ramah sekali kepada lima pemuda ini dan tampak tidak marah sama sekali? Padahal sebelumnya Keelua tidak pernah mengajak teman laki lakinya untuk datang ke rumah.
"Bang, mau main PS, enggak? Tadi katanya jago," tanya Ravi pada Romeo.
Romeo mengerjap lalu mengangguk, "Ayo."
Ravi pun bangkit lalu memberi isyarat pada Romeo untuk mengikutinya.
Sampai di ruangan tempat PS Ravi berada, Romeo langsung mengambil stik PS yang tergeletak di atas lantai sembari menunggu Ravi menyalakan PS-nya.
Di tengah tengah permainan, Ravi tidak banyak bicara, anak laki laki itu hanya terus fokus pada permainannya. Sedangkan Romeo yang membenci keheningan mulai berniat untuk membuka obrolan.
"Lo kok tiba tiba ngajak gue main? Kan kita baru kenal," ujar Romeo.
Tidak langsung menjawab, Ravi masih fokus memukuli karakter yang dipakai oleh Romeo.
"Karena lo jago mainnya."
"Kok lo bisa tau?"
"Temen lo yang bilang tadi."
Romeo mengangguk, "Iya, ya."
"Ngomong ngomong, lo beneran adiknya Keelua?"
"Iya. Kenapa?"
"Kok kalian berdua beda banget? Kalau sama Keelua, dia pasti-"
"Dia pasti udah ngomongin banyak hal enggak berhenti sambil ngoceh ngoceh enggak jelas, sedangkan gue cuma diem doang," potong Ravi sebelum Romeo menyelesaikan ucapannya.
"Ya karena gue sama dia beda. Cowok enggak semestinya banyak omong," kata Ravi.
"Tapi kakak lo banyak yang suka karena dia ramah ke semua orang dan banyak omong," balas Romeo. "Tapi gue enggak masalahin itu, sih. Semua orang beda beda, kalau pun lo sama Keelua sama berisiknya, orang tua kalian pasti bakal minggat dari rumah." Romeo tertawa.
Sudah Romeo duga, Ravi, adik Keelua itu pasti tidak akan tertawa bersamanya. Ia sama saja dengan Ganta, terlalu kaku.
"Iya." Ravi terkekeh kecil. "Kakak gue berisik, enggak pernah bisa main PS lagi, tapi nantangin mulu," dumel Ravi.
"Oh, pantes aja lo ngajak gue."
Di ruang tamu, empat orang pemuda tadi masih asik berbincang bersama Keelua dan Sekar. Gibran terus saja memberi lawakan lucu yang mampu membuat semua orang yang ada di sana tertawa.
Di sela sela obrolan mereka, tiba tiba seorang pria dewasa datang dari dalam rumah, membuat suasana mendadak hening.
"Ada apa ini?"
Seluruh urat yang ada di tubuh Keelua mendadak tenang, gadis itu menelan salivanya susah payah.
"A-Anu, Pa-"
"Kenapa kalian ada di sini?!"
Empat pemuda yang ada tersentak kaget lalu bersamaan bangkit dari duduk mereka.
"Maaf, Om. Kita pamit dulu," kata Bumi seperti sudah siap untuk kabur dari hadapan Pak Bambang alias Ayah Keelua.
"Lho, mau ke mana?" tanya Bambang, "Kenapa kalian ada di sini? Enggak masuk ke dalam?"
"HAH?!" Keelua memekik kaget.
"Kenapa, Keel? Ajak teman temannya masuk, dong."
Keelua menggeleng pelan, mau tak mau ia harus mengikuti perintah Ayahnya itu.
"Ayo, masuk. Sekalian makan malem bareng aja. Tante juga baru mau masak ini," ajak Sekar.
"Saya bantuin, ya, Tante."
...****************...
Semua orang pun sibuk dengan urusan mereka masing masing.
Romeo dan Ravi sibuk bermain game, Bumi, Anraka dan Bambang sibuk mengobrolkan hal hal berat yang tentu saja menurut Keelua pasti sangat membosankan.
Sedangkan Ganta sedang berada di dapur membantu Sekar menyiapkan makanan, dan yang terakhir, Gibran dan Keelua yang tengah sibuk menonton serial baru yang tayang di TV.
Geng EX tenyata di terima dengan baik oleh keluarga Keelua, tidak seperti yang Keelua bayangkan di awal. Ia pikir, Ayahnya tidak akan suka juga anak perempuannya terlalu sering bergaul dengan anak laki laki.
"Kayaknya adik lo seneng banget tuh main sama si Romeo sampai ketawa ketawa gitu," kata Gibran, matanya fokus ke arah TV sambil terus mengunyah camilan yang ada di atas meja.
Keelua mengangguk, "Iya, dia pasti seneng karena akhirnya nemu teman main game yang jago, enggak asal asalan kayak gue." Gadis itu terkekeh, "Lagian, gue emang enggak suka main game, tapi kasian aja kalau ngeliat dia main game sendirian."
"Ternyata lo baik juga jadi kakak," sahut Gibran.
"Iyalah. Udah cantik, baik lagi."
"Gue tarik ucapan gue."
"Kurang ajar."
Sementara di halaman belakang, dua orang pemuda dan seorang pria dewasa tengah berbincang tentang kenakalan masa remaja. Yang lebih tua menceritakan pengalamannya sewaktu ia masih duduk di bangku SMA.
"Enggak apa apa kalau sekarang kalian nakal, menikmati masa muda, tapi ingat! Jangan sampai kalian merusak masa depan kalian sendiri," kata Bambang, memberi petuah.
"Tapi kalau di sekolah, siswa siswanya tuh dilarang nakal, Om. Enggak boleh nakal katanya," balas Bumi
"Nah, kalau di sekolah, kalian itu diajarkan untuk disiplin karena masa sekolah enggak akan keulang lagi. Tapi kalau menurut Om, enggak apa apa nakal, jaman sekarang cowok cowok nakal, apa bahasa kerennya itu, ya? Om lupa."
"Bad boy, Om?"
"Nah, itu. Lebih digemari sama gadis gadis kan, ya?"
"Iya, Om," balas Bumi dan Anraka bersamaan.
"Nah, enggak apa apa kalau gitu. Kalau mau terkenal di sekolah, harus nakal," kata Bambang.
Bumi dan Anraka pun tertawa. Mereka setuju.
Mari beralih ke dapur, di mana seorang pemuda tengah asik mengiris daun bawang dengan begitu telaten. Sesekali mengusap matanya yang terasa basah karena rasa perih yang dikeluarkan oleh daun itu.
"Matanya perih, Ta?" tanya Sekar.
Ganta mengangguk, "Iya, Tante."
"Ya udah sini, Tante aja. Kamu irisin tomat aja, ya!"
"Siap, Tante!"
.
.
.
.
.
.
.