
Seorang gadis cantik menatap Keelua dengan matanya yang bundar, ia tampak kelelahan karena habis berlari untung mengejar Keelua.
"Lo mau ke mana?" tanya gadis itu.
Keelua kembali melangkahkan kakinya, "Mau ke ruang ganti," balasnya.
"Ngapain?"
"Ada deh. Kepo banget sih lo, La."
Lula mencebikkan bibirnya, lalu dengan cepat ia kembali tersenym ceria, "Ya udah kalau gitu gue ikut, ya."
Keelua hanya membalas permintaan gadis itu dengan anggukkan..
"Hari ini lo enggak nganter susu?" tanya Lula seraya berjalan di sebelah Keelua.
"Gue nganternya kan pagi doang, itu juga cuma ke rumah Oma Arum doang," jawab Keelua.
Lula mengangguk paham, "Lo ketemu sama Anraka enggak pas nganter?" bisiknya.
Keelua menarikkan kedua bahunya tanda tak peduli, "Enggak. Gue enggak merhatiin, ogah banget."
"Ish, lo mah! Masa yang cakep kayak gitu enggak lo perhatiin, sih?!" kesal Lula.
Giliran Keelua yang mendecih, "Buat apa cakep kalau attitudenya nol?"
"Lo masih aja benci sama si ganteng Anraka. Awas nanti jadi suka, lho," goda Lula.
"Najis."
"Eh, jangan deh. Lo jangan suka sama Anraka, nanti saingan gue nambah lagi."
Lagi lagi Keelua hanya mencibir, mana mungkin ia suka dengan pemuda yang selalu membuat onar di mana saja? Sudah menjadi rahasia umum di sekolah ini, di mana ada Anraka Pranata, sudah pasti ada masalah.
"Sialan!"
"Keel, Keel! Lihat deh, itu kayaknya ada orang berantem," seru Lula seraya menunjuk ke arah lapangan yang letaknya ada di tengah tengah gedung sekolah.
Keelua menghela napas pelan, "Mau taruhan sama gue, enggak?"
Lula menoleh dengan bingung, "Gue yakin yang baku hantam itu pasti si bajingan Anraka," tutur Keelua.
Dengan buru buru Lula dan Keelua mendekat ke kumpulan orang itu lalu menerobos masuk.
"Udah gue duga."
Seperti dugaan Keelua, ternyata benar yang berkelahi kali ini tidak lain dan tidak bukan adalah Anraka Pranata.
Keelua menyenggol lengan seseorang yang berdiri di sebelahnya, ia adalah seorang pemuda yang tampak sedang asik menikmati adegan baku hantam di depannya.
"Itu si Anraka kenapa mukulin tuh anak?" tanya Keelua.
"Tadi tuh cowok enggak sengaja nabrak si Raka, jadi si Raka emosi."
Keelua mendecak. Selalu saja, selalu saja hanya karena masalah selepe Anraka bisa memukuli anak orang hingga babak belur. Dosa apa yang Keelua lakukan hingga ia harus diberi amanah oleh Oma Arum untuk mengawasi Anraka.
Mau tak mau, jika tak ingin pemuda yang sudah terkapar di lapangan itu pingsan, Keelua harus melangkah maju dan menghentikan aksi kekerasan ini. Semua orang yang ada di sana sangat tidak berguna, mereka lebih memilih menonton seseorang dipukuli habis habisan dari pada melerai.
"Anraka," panggil Keelua dengan nada pelan.
Namun telinga Anraka sepertinya sudah tertutup emosi, ia seperti tidak mendengar apa pun lagi.
"Anraka!" Kali ini Keelua memanggil dengan suara yang lebih keras.
Seperti sebelumnya, Anraka tidak juga mendengar panggilannya. Keelua menghela napas panjang, Anraka mungkin akan baru mendengar jika ia di panggil oleh Tuhan.
"Anraka! Berhenti, sialan!"
Keelua melepas salah satu sepatunya lalu melayangkannya ke arah Anraka dan pas mengenai kepala pemuda itu. Dengan marah, Anraka mendongak dan menatap Keelua tajam.
Dengan napas yang memburu, Keelua melangkah semakin mendekat ke arah dua orang yang sedang berguling di tanah itu. Tatapan Keelua tak kalah tajam.
"****, lo lagi," umpat Anraka.
Keelua melipat tangannya di depan dada, "Iyalah, gue. Lo pikir siapa?"
Anraka bangkit, tubuhnya tampak tinggi menjulang. Keelua melihat pemuda yang tadi dipukuli oleh Anraka sudah terbatuk batuk dan tidak berdaya. Ia cukup kasian melihat pemuda itu.
"Argh." Keelua meringis pelan saat Anraka meremas lengan atasnya dengan keras.
"Jangan ikut campur urusan gue," tekan Anraka seraya menatap Keelua lekat.
Anraka masih memakai baju basketnya, ia padahal baru saja memukuli orang beberapa saat lalu namun sekarang ia sudah kembali memukuli orang lain lagi.
"Ini emang bukan urusan gue, tapi kalau anak orang kenapa kenapa, emang lo mau tanggung jawab? Ngotak dikit kalau mau mukulin orang, udah gue bilang jangan berantem di sekolah. Oma Arum marah!" omeh Keelua.
Jika sudah membawa bawa Oma Arum, Anraka pasti tidak akan berkutik lagi. Ia pasti akan diam saja, tentu saja karena jika ia memberontak atau menyanggah ucapan Keelua, gadis itu akan mengadu dan Anraka pasti akan dimarahi.
Belum sampai Keelua mengambil sepatunya, tiba tiba seseorang menendang sepatunya hingga terpental jauh. Keelua menoleh dan mendapati seorang gadis yang menatapnya dengan sinis.
"Kurang ajar lo, ya!" caci Keelua.
Gadis tadi hanya memutar bola mata malas lalu menatap Keelua dari atas hingga bawah dengan tatapan menilai.
"Lo enggak malu apa? Gatelin pacar pacar orang mulu?" cecar gadis itu.
Alis Keelua menekuk tajam, "Apa lo bilang?" tanyanya.
"Udah gatel, budek lagi," sindir gadis itu.
Keelua terkekeh pelan lalu menggeleng tak percaya lantas kembali mendekati sepatunya yang tadi di tendang oleh gadis tidak punya adab tadi.
Namun lagi lagi gadis itu berlari ke arah Keelua lalu menendang sepatu Keelua yang belum sempat digapai oleh empuhnya.
Keelua mengeram kesal, "Sialan lo, ya!" Lalu mendorong tubuh gadis itu.
"Lo kasar banget ya jadi cewek! Bisa bisanya cewek kayak lo berani nyoba ngerebut Raka dari gue!"
Keelua melongo, lalu tertawa keras. Apa yang ia katakan tadi? Merebut Raka? Apa dia sudah gila?
"Makan aja sana cowok lo, gue enggak tertarik," tutur Keelua lalu melangkah mendekat ke arah gadis yang mencari masalah dengannya.
"Enggak usah dekat dekat! Lo mau ngapain, hah?!"
"Lo udah nyari masalah sama gue, kenapa sekarang malah takut?" Keelua tersenyum miring.
"Lo jangan berani berani main tangan sama gue, ya! Enggak ada cowok yang mau sama lo kalau lo kasar kayak gini!" teriak gadis itu.
"Iyalah gue emang kasar, kalau mahluk kasar mah lo."
"Kurang ajar lo!" maki gadis itu.
"Aw!"
Keelua menendang pangkal kaki gadis itu hingga membuatnya meringis kesakitan.
Keelua terkekeh, "Gitu aja udah mau nangis, lemah lo." Lalu berbalik dan mengambil sepatunya.
"Dadah, Anabelle!"
Keelua meninggalkan gadis yang sedang mengeram dan menyumpah serapahinya, namun ia tidak peduli.
Gadis itu adalah Anatasya Isabella, pacar Anraka. Sebenarnya hubungan mereka sangat membingungkan dan tidak jelas, Anraka seperti tidak memiliki hubungan dengan gadis itu namun berbeda dengan Isabella yang selalu mengumbar hubungan tidak jelas mereka.
"Keel, lo enggak apa apa?" Lula datang dan menghampiri Keelua yang sudah melenggang pergi.
Keelua mengangguk, "Gue enggak apa apa, kenapa emang?"
"Lo harusnya nendang si Isabella lebih keras lagi, segitu doang mah enggak sakit," tutur Lula.
Keelua memajukan bibirnya, "Kenapa enggak lo aja sendiri?"
Lula tercekat, "Enggak deh, gue kan enggak ada masalah apa apa sama dia."
"Terus kenapa lo nyuruh gue nendang dia keras keras?"
Lula terkekeh, "Enggak kok, gue becanda."
Keelua hanya memutar bola matanya malas, lalu tiba tiba berhenti di tempat.
"Kenapa?" tanya Lula yang juga ikut berhenti.
"Tadi gue mau ke mana, ya?"
"Ke ruang ganti, 'kan?"
"Astaga, Bumi!"
.
.
.
.
.
.
.