
"Ma, Angel enggak mau Bang Raka dijodohin apa lagi sampai nikah," lirih Angel.
Regina membelai rambut gadis kecil itu, "Ini demi kebaikan kakak kamu, sayang. Kamu harus bantuin Mama, Papa sama Oma Arum untuk ngerubah kakak kamu jadi cowok yang lebih baik," jelas wanita itu.
"Emangnya Bang Raka harus nikah dulu biar bisa jadi cowok yang baik?" tanya Angel.
Gadis kecil itu benar benar tidak ingin kakaknya menikah di usia yang sangat mudah apa lagi tanpa persetujuan dari pemuda itu. Angel tau bahwa Anraka sangat tidak menginginkan ini semua namun kakaknya itu tidak bisa mengatakan apa apa apa lagi melawan keinginan Oma Arum.
Walau pun selalu dianggap nakal dan tidak punya etika di luar, Anraka sebenarnya adalah cucu yang sangat penurut dan tidak pernah membantah keinginan Oma Arum, neneknya.
"Mama sama Papa bahkan Oma Arum udah nyoba buat ngerubah sikap kakak kamu jadi lebih baik, tapi enggak ada cara yang berhasil, Angel. Kamu tau itu, 'kan? Mama, Papa, Oma Arum, kita semua udah frustrasi ngehadapin sikap kakak kamu yang nakal banget di luar. Hal itu enggak boleh dibiarin terus menerus, Mama sama Papa enggak mau nantinya kakak kamu terjebak di dalam pergaulan bebas yang bakal ngerugiin diri dia sendiri," terang Regina panjang lebar.
"Iya, Ma. Angel paham," balas Angel. "Tapi pertanyaan Angel, emangnya setelah nikah Bang Raka bisa jadi lebih baik? Emang kalau Bang Raka nikah, Bang Raka bisa berubah jadi enggak nakal lagi? Calon istri Bang Raka kira kira bakal tahan enggak sama sikap, sifat dan kelakuannya Bang Raka? Kita aja sebagai keluarganya enggak tahan, apa lagi orang asing yang tiba tiba mau masuk ke dalam kehidupannya Bang Raka," protes Angel dengan menggebu gebu.
Regina tersenyum, ia baru menyadari bahwa anaknya yang manis ini sangat cerewet dan pikirannya sudah sangat dewasa. Ia bahkan bisa membedakan mana hal yang baik dan yang buruk, ia juga sudah bisa memikirkan kemungkinan kemungkinan terburuk dalam suatu keputusan. Anak gadisnya tubuh besar terlalu cepat.
"Mama, Papa sama Oma Arum enggak mungkin ngambil keputusan ini kalau menurut kami ini enggak akan ada hasilnya, sayang. Bahkan kalau kamu tau siapa calon kakak kamu; kamu siapa calon kakak kamu; kamu pasti bakal senang banget dan pengen Bang Raka buru buru nikah," kata Regina kemudian.
Dahi Angel mengernyit, "Emang Angel kenal sama orang itu? Atau orang itu orang yang terkenal? Mama sama Papa mau nikahin Bang Raka sama artis, ya?" tanya gadis itu dengan semangat.
Regina tak henti hentinya tertawa ketika melihat tingkah menggemaskan anaknya ini, entah mengapa sepertinya Angel sangat ingin tau dan tidak bisa membiarkan satu rahasia pun tersembunyi darinya. Gadis pendek itu selalu ingin tau dan mencari tau segala hal yang ingin ia ketahui, Regina tentu tidak akan bisa menutupi rahasia ini lebih lama lagi. Cepat atau lambat, Angel pasti akan mengetahuinya.
"Enggak, sayang. Bukan sama artis, tapi pastinya kamu bakal suka sama orang itu," balas Regina seraya kembali membelai rambut panjang anaknya.
Angel pun hanya manggut manggut membalas perkataan Ibunya.
Regina pun tersenyum manis, akhirnya anak perempuan satu satunya itu bisa mengerti dan tidak menanyakan banyak pertanyaan lagi. Ia bisa pergi sekarang.
"Mama keluar dulu, ya, sayang. Kamu istirahat, kunci pintu rapat rapat. Enggak usah bukain pintu buat orang yang enggak mau kamu temuin, pokoknya fokus istirahat aja," pesan Regina lalu keluar dari kamar Angel dan menutup pintu kamar gadis kecil itu.
Angel mengangguk kepala, lalu manik matanya menatap Regina yang sudah keluar dan menutup pintu kamarnya perlahan.
Mamanya benar, ia harus mengunci pintu agar tidak ada seorang pun yang tidak ia inginkan masuk ke dalam kamarnya secara tiba tiba. Gadis kecil itu tidak ingin menemui siapa siapa hari ini, ia hanya ingin tidur dan bersantai saja hingga ia bosan.
"Siapa?" tanya Angel dari dalam.
Tidak ada yang menjawab hingga beberapa menit, orang di luar sana malah kembali mengetuk daun pintu kamar Angel lagi.
"Siapa?" Angel mengulangi pertanyaannya. Kali ini suaranya lebih keras, ia takut seseorang di balik pintu itu tidak mendengar suaranya.
"Ini gue." Oknum yang mengetuk pintu pun mengeluarkan suara, ternyata dia adalah Anraka.
Angel buru buru membuka pintunya lalu membiarkan Anraka masuk ke dalam dengan wajahnya yang lesu.
"Bang Raka? Bang Raka enggak apa apa?" tanya Angel sambil terus memperhatikan gerak gerik Anraka yang sekarang sudah mendaratkan bokongnya ke atas kursi meja belajar gadis itu.
"Gue enggak apa apa, gue emang selalu kayak gini. Ngerasa kayak sampah, gue udah biasa. Lo enggak perlu nanya lagi," balas Anraka seraya menguyar rambutnya ke belakang.
Angel mendekat lalu menyentuh bahu tegap Anraka dengan tangan tangan kecilnya. Setelah mendarat mulus di sana, tangan mungil itu pun bergerak untuk mengelus bahu tersebut dengan pelan.
"Jangan mikir kayak gitu, Bang. Angel juga enggak suka kok, tapi bukan berarti kita harus nyerah buat yakinin Mama, Papa sama Oma Arum buat batalin ini," kata Angel. "Lagian Bang Raka bukan sampah kok, siapa yang berani bilang kalau kakaknya Angel sampah? Sini Angel cabein mulutnya," lanjutnya.
Anraka tampak menghela napas pelan, ia sangat frustrasi memikirkan hal hal seperti ini. Kalimat penenang saja tidak cukup untuk membuatnya lebih baik, pemuda itu memerlukan sesuatu untuk membuat perasaannya jauh lebih tenang.
Tapi pergi bercerita kepada teman temannya sepertinya bukanlah ide yang bagus, Anraka yakin bahwa teman temannya itu tidak akan memberi saran yang bagus. Mungkin Ganta dan Bumi bisa memberikan pencerahan untuknya, tapi ia sedang malas mendengarkan ocehan manusia manusia sok tau yang seolah olah tau segalanya padahal mereka tidak merasakan apa yang sedang ia rasakan.
Mungkin yang Anraka butuhkan sekarang hanyalah waktu untuk sendiri dan memikirkan jalan keluar dari masalahnya yang ia rasa cukup berat ini. Tidak ada salahnya untuk menyendiri beberapa saat, mungkin dengan melakukan hal itu ia bisa merasa lebih baik dan otaknya akan berpikir lebih jernih.
Berlibur ke sebuah pulau sepertinya bukanlah ide yang buruk. Pemuda itu tentu saja tidak akan memikirkan masalah sekolahnya atau pun masalah perjodohannya yang entah mengapa bisa terjadi bahkan tanpa persetujuannya itu.
Anraka tidak peduli. Apa pun yang terjadi, ia hanya akan bersantai.
"Angel, lo besok ikut gue ke pulaunya Mama."