BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
Membela Teman



Fajar sudah menyingsing, Keelua hanya tidur beberapa jam saja kemudian terbangun lagi. Anraka terus menjaga Keelua sepanjang malam, bahkan saat gadis itu tertidur, Anraka rela menjadikan bahunya sebagai tempat sandaran untuk Keelua.


Keelua masih bisa tidur beberapa jam, sementara Anraka tidak tidur sama sekali, ia dan teman temannya yang lain sudah terbiasa begadang hingga pagi bertemu pagi lagi. Jadi, menunggu Gibran siuman dari malam sampai pagi bukan hal yang sulit untuk mereka.


Cahaya mentari yang masuk melalui jendela ruangan inap Gibran mulai menerangi, Keelua membuka matanya pelan pelan serta mengusapnya lembut, suasana ruangan di pagi ini sangat hening.


Keelua mengalihkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan, semua orang sedang tertidur pulas, mungkin mereka tidak tidur semalaman.


Jam tangan yang gadis itu kenakan sudah menunjukkan jam delapan pagi, sementara Keelua masih sangat mengantuk. Untuk beberapa detik pertama saat gadis itu membuka mata, ia langsung mengingat Ibu mertuanya yang tinggal sendirian di rumah dan adik iparnya yang masih menghilang.


Setelah ini Keelua dan Anraka akan pergi untuk mencari Angel lagi.


Ada Anraka di sebelah Keelua, duduk di sebelah gadis itu dan memejamkan matanya, sudah bisa dipastikan ia sedang tertidur pulas.


Semua sofa di penuhi dengan orang orang yang sedang tertidur, termasuk Ganta, Bumi dan Romeo. Karena sofa tidak cukup, beberapa orang tidur di lantai.


Tanpa sadar Keelua menyunggingkan senyum, ia terpukau dengan sikap solidaritas teman teman Gibran yang benar memiliki niat untuk menjaga teman mereka. benar


Keelua harap suatu saat nanti ia punya teman teman yang seperti ini agar apa pun yang ia lakukan bisa mendapatkan support dan tidak pernah merasa kesepian di mana pun dan kapan pun.


Gadis itu diam di tempatnya, ia yang lebih dulu bangun di antara orang orang yang ada di dalam ruangan itu. Saat ruangan sedang hening heningnya, Keelua mendengar suara seseorang mengeram pelan.


Gadis itu pun menoleh ke arah kasur rumah sakit yang Gibran tempati, ia terkejut setengah mati saat menemukan pemuda yang beberapa menit lalu masih terbaring itu sudah duduk dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran kasur.


Keelua buru buru bangkit dan menghampiri Gibran, ia ingin memastikan bahwa pemuda itu baik baik saja.


"Gib, lo baik baik aja? Lo udah beneran siuman?" tanya Keelua dengan raut wajah panik.


Bagaimana tidak, gadis itu melihat dengan mata kepalanya sendiri ada seorang manusia yang sedang cedera parah di lengannya bisa bangkit dari posisi tidurnya tanpa bantuan orang lain. Bukankah itu hal yang cukup menakjubkan?


"Lo lihat gue buka mata, 'kan? Artinya udah. Gue lagi sakit, lo malah banyak nanya," balas pemuda itu.


Keelua mendecak, "Lo butuh sesuatu, enggak?" tanya gadis itu.


"Minum, dong. Tolong," pinta Gibran.


Dengan sigap Keelua buru buru mengambilkan minuman untuk Gibran, hatinya sangat senang karena pemuda itu bisa siuman dengan waktu yang tidak terlalu lama dan sepertinya ia terlihat baik baik saja walaupun Keelua yakin bahwa luka di lengan Gibran masih terasa sakit.


"Ini, minum yang banyak," kata Keelua sambil menyodorkan gelas penuh berisi air.


"Kembung tau," balas Gibran.


"Banyak omong lo, minum aja buruan."


Pemuda itu meminum airnya hingga tandas dengan beberapa kali tenggak saja, tentu saja saat pingsan tidak ada cairan yang masuk ke dalam tubuh selain infus, itulah yang membuat Gibran bisa sehaus ini.


"Yang lain masih pada tidur, kayaknya mereka baru aja tidur pas pagi tadi. Padahal gue tidur jam dua tapi mereka masih ngobrol. Mau gue bangunin aja?" tanya Keelua sambil melirik ke arah teman temannya yang terlelap. masih


"Enggak usah, ngapain lo bangunin? Masa cuma gara gara gue siuman lo mau bangunin mereka? Enggak usah," balas Gibran.


"Emangnya lo pikir mereka ke sini buat apa? Mereka cuma mau lihat lo baik baik aja, enggak ada keperluan apa apa lagi. Kalau lo udah pulih, mereka juga pasti bakal balik," sambung Keelua.


Gibran terkekeh, kemudian menatap semua teman temannya yang tidur berhamburan di mana mana. Mereka ini setia sekali, Gibran sampai terharu. Untung saja mereka ada di sini, jika tidak, Gibran pasti akan mencoret nama mereka semua dari daftar teman.


Lukanya sangat parah, Gibran sadar akan hal itu. Rasanya sakit sekali, sampai ingin menangis tapi tentu saja Gibran tidak akan menangis di depan siapa pun kecuali di hadapan dirinya sendiri, di depan cermin.


"Gue senang mereka ada di sini, lo juga. Makasih, ya. Gue ngerasa punya keluarga sekarang," gumam Gibran sambil tersenyum tipis.


Dada Keelua tiba tiba saja sesak saat mendengar kata kata Gibran barusan, ia jadi ingat bagaimana reaksi Ibu pemuda itu saat Anraka menghubunginya malam tadi. Mungkin saja Gibran memang kesepian hingga merasa tidak punya keluarga karena sikap orang tuanya.


Tapi, Keelua harap Gibran baik baik saja dan ia tetap berada di dalam kewarasannya.


"Iya. Kita 'kan teman teman lo," balas Keelua seraya menyengir kuda.


"Mereka udah enggak perang dingin lagi?" tanya Gibran, mencairkan suasana.


"Siapa?" Keelua tidak tau siapa yang pemuda itu maksud.


"Tuh, mereka yang lagi tidur sebelahan," ucap Gibran sambil menunjuk dengan dagunya.


Keelua menoleh ke arah tatapan Gibran lantas mencebik bibir кеtiка mengetanul siapa yang pemuda itu maksud.


"Kenapa harus? Setau gue mereka baik baik aja," kata Keelua.


"Di depan lo mereka emang baik baik aja, enggak mungkin ada masalah. Tapi ada sesuatu yang enggak bisa lo pahami dari tatapan mata mereka. Ada yang beda, lo enggak mungkin sadar sama hal itu," jelas Gibran kemudian.


Keelua berpikir sebentar, memangnya Anraka dan Bumi ada masalah apa? Kenapa mereka harus terlibat dalam perang dingin? Padahal, mereka tampak baik baik saja, tidak ada yang berubah dan benar benar terlihat seperti mereka berdua yang biasanya.


Atau ini ada hubungannya dengan masalahnya dengan Bumi waktu itu? Yang tanpa sengaja harus melibatkan Anraka juga?


Andai orang orang terutama Gibran tau bahwa dirinya dan Anraka sudah menikah, tidak ada satu pun dari mereka yang akan mempertanyakan atau mengira Keelua sangat jahat hingga sekedar memberi harapan palsu pada Bumi.


Namun Keelua rasa ia tak pernah memberi harapan palsu bahkan ia tidak punya niat untuk melakukan itu pada Bumi.


"Mereka enggak punya masalah, lo enggak perlu ngomong yang macam macam," kata Keelua, ia hanya tidak ingin membahas itu, terlalu membuatnya emosi.


Gibran menghela napas panjang, rasa sakit di lengannya tiba tiba saja kambuh lagi tapi dengan sekuat tenaga ia terus berusaha untuk mengatasinya.


"Lo enggak mungkin sebego itu, Keel. Lo tau 'kan kalau si Bumi itu suka sama lo? Dia yang duluan suka sama lo daripada si Raka. Harusnya lo hargaiin perasaan dia, kalau emang lo lebih suka sama si Raka, kalian harusnya ngomong baik baik supaya antara Bumi dan Raka enggak ada salah paham. Lo paham enggak maksud gue?"


Sebenarnya Gibran sedikit kesal pada Keelua, karena gadis itu mampu membuat teman temannya bertengkar hingga saling mendiami satu sama lain. Yang awalnya tidak pernah bertengkar, tiba tiba Bumi dan Anraka terlibat kesalahanpahaman yang seolah olah sangat serius padahal ini hanya tentang seorang gadis.


Gadis biasa bersama Keelua, yang tidak ada spesial spesialnya kecuali mampu mengambil hati seorang Anraka, hal yang sangat mustahil untuk dilakukan oleh gadis yang tidak seberuntung Keelua.


Keelua mengangguk kukuh, "Iya. Gue tau, tapi ada beberapa hal yang enggak lo tau sampai lo ngira gue jahat. Gue enggak jahat, gue cuma menghindar dari Bumi yang aslinya buaya dan lo enggak pernah ngasih tau itu ke gue."


Raut wajah Gibran tiba tiba berubah, yang awalnya bertampang serius tiba tiba berubah seperti orang yang kebingungan.


Keelua yakin, Gibran pasti kaget saat ia mengatakan bahwa Bumi adalah laki laki buaya atau suka bermain perempuan.


Sebagai teman, Gibran pasti akan menyembunyikan kebusukan temannya kepada orang lain tapi untuk hal hal seperti ini, tidak ada kata teman yang harus dilindungi. Ini sangat menyangkut dengan perasaan, harus diteliti dengan baik.


"Kenapa diam? Bener, 'kan kalau teman lo itu buaya kelas kakap? Lo enggak tau aja waktu itu dia ninggalin gue di dalam studio bioskop dalam keadaan gue nangis kejer, ia pergi gitu seolah olah yang paling tersakiti padahal aslinya ceweknya banyak." Keelua mencemooh.


"Pas gue balik, di depan mall gue lihat dia lagi mesra mesraan sama cewek yang gue enggak kenal itu siapa. Dia peluk pelukan sama si Bumi dan si Bumi meluk juga, itu namanya apa?" sambung gadis itu.


Mata Gibran membulat, ia mengerutu dalam hati. Bisa bisanya Bumi melakukan itu padahal dia sendiri yang meminta Gibran untuk menjaga rahasia dan tidak mengatakan apa pun pada Keelua tapi malah dia yang membuat gadis itu tau.


"Cuma teman doang kali," kata Gibran.


"Teman apaan kayak gitu? Lo enggak usah belain temen lo yang salah, ya!" kesal Keelua sembari mencubit kaki Gibran dengan gemas.


"Eh eh, gue lagi sakit tau!" Gibran meringis. "Enggak ada sopan santunnya banget sama orang sakit," prosesnya.


Keelua mendecih, "Lo enggak sakit, cuma tangan lo doang yang abis di bacok. Itu kan bukan sakit namanya," ujarnya.


Gibran geleng geleng kepala, percuma saja berdebat dengan perempuan, ia seratus persen tidak akan menang.


"Tapi ini lukanya parah enggak, ya?" cicit Gibran sembari memperhatikan lukanya yang sudah ditutup dengan perban.


"Enggak apa apa, pasti sembuh kok. Paling ninggalin bekas jahitan dikit, namanya laki laki harus biasa sama luka," kata Keelua menyemangati.


Gibran mengangguk, ia menyetujui itu.


"Ngomong ngomong, Mama gue datang enggak semalem?"