BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
31. Mie Goreng



Kembali ke hari di mana Angel membuatkan mie goreng untuk Anraka.


"Bang Raka!"


Angel memanggil kakaknya dari luar kamar, pintu kamar pemuda itu tampak tertutup rapat.


Tidak ada suara atau pun jawaban dari dalam, namun Angel tidak ingin menyerah. Ia memanggil Anraka sekali lagi.


"Bang Raka!" panggil gadis kecil itu lagi.


"Angel enggak akan pergi sebelum Abang buka pintunya."


Sama saja. Anraka sama sekali tak memberi sinyal bahwa ia akan membuka pintu kamarnya.


Beberapa saat Angel menunggu, akhirnya gadis itu menemukan cara ampuh yang pasti akan membuat Anraka membuka pintunya segera.


"Ya udah deh kalau enggak mau dibukain, padahal Angel udah bikinin Bang Raka mie goreng pakai cabe. Enak banget pasti, rugi deh." Angel sengaja menaikan volume suaranya agar Anraka yang berada di dalam kamar bisa mendengar seruannya.


Suara kunci pintu yang diputar pun terdengar dari dalam, Angel tersenyum miring.


"Eh, bukain pintunya! Ini Angel lagi bawa dua piring!" pekik Angel yang memang membawa dua buah piring berisi mie yang tadi ia masak di tangan kanan dan kirinya.


Pintu kamar berwarna coklat itu pun terbuka, Angel tinggal mendorong daun pintu tersebut menggunakan kakinya. Tampaklah Anraka yang sedang duduk di meja belajarnya sambil bermain game online di laptop.


Angel tersenyum senang saat menemukan kakaknya tampak baik baik saja. Pemuda itu juga sepertinya sudah mandi dan mengganti baju sekolahnya menjadi pakaian santai rumahan.


"Bang Raka, makan dulu, yuk," ajak Angel sembari meletakkan piring yang dibawanya ke atas meja samping tempat tidur Anraka.


"Taruh aja di situ, nanti gue makan," balas Anraka tanpa mengalihkan pandangannya dari laptopnya.


Angel mendengus lalu mendudukkan bokongnya ke atas ranjang Anraka.


"Udah, enggak usah nanti nantian. Ayo sini makan bareng Angel, nanti mienya jadi gede kayak dosa Bang Raka," ujar Angel.


Anraka mendecak, "Gue enggak mau makan sekarang."


Angel pun ikut mendecak kesal, "Ya udah kalau enggak mau makan bareng Angel, Angel bawa aja makanannya ke luar terus Angel makan semuanya sendiri," ancam gadis kecil itu.


Sesuai dugaan, akhirnya Anraka menutup laptopnya lalu bangkit dan melangkah ke arah Angel yang sudah tersenyum lebar padanya.


"Nih." Angel menyodorkan piring berisi mie pada Anraka dan langsung di terima oleh pemuda itu ketika ia baru saja mendudukkan bokong ke atas ranjang.


"Dihabisin, ya! Itu Angel bikin dengan penuh cinta," kata Angel tanpa memudarkan senyumannya.


Anraka hanya melirik gadis kecil itu tanpa mengatakan apa apa dan mulai menyantap makanannya.


"Gimana? Enak enggak mie buatan Angel?" tanya Angel dengan begitu antusias.


"Semua mie walau pun dibikin sama seratus orang yang beda, rasanya bakal tetap sama aja," balas Anraka.


Angel mendengus kesal. Kakaknya ini tidak peka sekali, padahal apa susahnya memuji makanan yang telah Angel buat untuknya? Membuat suasana hati anak perempuan itu buruk saja.


Tanpa mengatakan apa pun lagi, Angel lalu ikut menyantap mie yang ada di piring berwarna putih tersebut masih dengan rasa kesal pada Anraka.


"Tapi kalau lo yang bikin rasanya lebih spesial," lanjut Anraka.


Angel mendongak, lalu tersenyum ke arah Anraka.


"Nah, gitu dong!"


Anraka membalas senyuman lebar Angel dengan senyuman tipis. Adiknya itu sangat tau cara menyenangkan hatinya. Walau pun cerewet dan sekali mengoceh ia tidak akan cepat berhenti, namun Angel adalah orang yang paling tau isi hati Anraka tanpa pemuda itu harus memberi taunya lebih dulu.


Angel benar benar peka.


"Angel tau banget kalau Bang Raka enggak mau makan makanan lain selain mie goreng, jadi Angel buatin deh."


Anraka melirik Angel lalu mengangguk pelan.


"Bang Raka lagi sedih, ya?" tanya Angel lagi.


Di luar dugaan, Anraka malah mengangguk untuk mengiyakan pertanyaan Angel. Padahal biasanya pemuda itu tidak pernah menunjukkan pada orang lain bahwa ia sedang merasa sedih.


Bahkan, terkadang Anraka tidak menunjukkan emosi apa pun, sama seperti mimik wajahnya, datar.


"Yang Oma Arum bilang tadi itu emang bener, Bang. Angel dengar sendiri, lagian Oma Arum sama Papa dan Mama enggak mungkin becanda apa lagi bohong tentang hal hal yang sensitif kayak gitu," jelas Angel.


"Iya, gue tau kalau yang dibilang sama oma itu enggak bohong. Gue cuma kecewa aja sama diri gue sendiri karena gue baru tau sekarang, gue terlalu sibuk sama urusan enggak penting gue sampai gue enggak pernah nanyain keadaan Oma lagi." Dengan piring di tangannya, Anraka menatap lurus ke depan.


Pemuda itu tidak melihat apa apa, hanya melamun dengan isi pikirannya yang kacau.


"Tapi kata Oma Arum tadi, ada dua hal yang mau dikasih tau ke Bang Raka. Soal penyakit Oma kan udah, terus satunya lagi apa, ya?" tanya Angel pada Anraka sekaligus pada dirinya sendiri, gadis kecil itu menerawang jauh.


Anraka pun ikut berpikir, ia baru ingat tentang yang satu itu. Memangnya apa lagi yang harus ia ketahui? Tentang penyakit Omanya saja sudah cukup menyakitinya, apa lagi yang bisa lebih dari itu?


"Udah udah, enggak usah dipikirin dulu. Abisin aja makanannya sekarang, ya. Walau pun enggak sehat tapi enak." Angel terkekeh.


Anraka melirik Angel dengan senyum tipis di bibirnya. Memang benar, hal hal membingungkan seperti ini sangat memberatkan otaknya, Anraka malas berpikir.


"Sehat tidak perlu, usus buntu nomer satu!" seru Angel lalu tertawa diikuti oleh Anraka.


Kedua orang itu pun melanjutkan kegiatan makan mereka, sambil saling mendengarkan cerita masing masing. Sebenarnya Angel lah yang paling banyak bercerita dan Anraka yang paling banyak mendengarkan karena seperti itulah kodratnya. Angel punya banyak cerita untuk ia ceritakan, sedangkan Anraka malas bercerita panjang lebar namun ia suka mendengarkan cerita orang lain.


Mereka sangat cocok.


Begitu pintu terbuka lebar, tampaklah sosok Oma Arum di ambang pintu.


"Anraka? Angel? Lagi ngapain kalian?" tanya wanita paruh baya itu.


"Lagi makan, Oma." Anraka membalas.


Angel tersenyum ke arah Oma Arum walau pun ia tau Omanya itu tidak akan membalas senyumannya.


"Kamu lagi makan apa, sayang?" Oma Arum mendekat lalu melihat apa yang ada di atas piring kedua cucunya itu.


Dahi Oma Arum mengernyit, "Kamu kenapa makan mie, Raka? Ini enggak sehat lho," tegurnya.


Anraka mendongak, "Enak kok, Oma. Raka suka. Ini Angel yang buatin."


Wajah Oma Arum langsung berubah menjadi datar, lalu ia melirik ke arah Angel yang ikut mendongak menatap ke arahnya itu.


"Tadi Bang Raka enggak mau makan, jadi Angel pengen buatin mie goreng aja buat Bang Raka. Bang Raka kan suka ma—"


PRANG!


Oma Arum menarik piring yang ada di tangan Angel lantas membantingnya ke lantai dan menimbulkan suara pecahan yang berdengung di telinga tiap orang yang mendengarnya. Makanan yang masih ada di atas piring itu pun jatuh berantakan dan akhirnya berceceran di lantai kamar Anraka.


"Oma?!" Anraka terkejut dengan aksi Omanya itu.


"Kamu ngapain ngasih cucu saya makanan yang enggak sehat? Kamu mau dia sakit, hah?!" bentak Oma Arum pada Angel yang masih syok.


Tatapan Angel mengarah pada pecahan piring yang berantakan di lantai, jantungnya berdebar kencang karena kaget dan juga takut. Dengan mata yang berkaca kaca, Angel pun memberanikan diri mengangkat kepalanya dan melihat wajah Oma Arum yang sedang menatapnya tajam


"Jawab saya!" Oma Arum kembali berteriak pada Angel.


Dengan sekuat hati, Angel mencoba untuk tetap mengontrol emosinya yang sudah sangat berkecamuk. Karena ia sadar, bahkan jika ia melawan pun pasti tetap saja tidak ada seorang pun yang bisa membela apa lagi melindunginya.


Kedua orang tuanya, Arya dan Regina pasti sudah ke kantor sekarang. Angel benar benar sendirian. Gadis kecil itu hanya bisa menggeleng pelan, air mata sudah membasahi pipinya. Angel terisak.


"Enggak gitu, Oma. Angel enggak bermaksud ngasih makanan yang enggak sehat ke Bang Raka, Angel cuma mau Bang Raka makan aja, kok." Dengan sekuat tenaga, Angel mencoba merangkai kata demi kata yang sebenarnya sangat sulit keluar dari bibirnya.


"Kamu tau kalau saya enggak suka Raka makan makanan yang enggak sehat kayak gini, kenapa kamu malah bikinin dan bawa ke kamar dia? Hah? Kamu emang anak yang enggak tau diri, ya."


Kata kata yang baru saja keluar dari mulut Oma Arum seakan menusuk jantung Angel begitu dalam.


Angel menundukkan kepala, "Maaf, Oma."


Gadis kecil itu kembali diam, untuk menangis saja sepertinya ia tak mampu lagi. Semua perkataan dan tatapan benci dari neneknya membuat hati gadis itu seolah patah dan hancur berkeping keping. Entah bagaimana cara menjelaskannya namun Angel benar benar terpukul.


"Kamu mau minta maaf untuk apa? Udah jelas jelas kamu mau ngeracunin cucu saya pakai makanan enggak sehat kamu itu. Kamu pikir cucu saya itu sama kayak kamu? Dari didikan aja udah beda, jadi jangan coba coba hasut cucu saya untuk menjadi anak kurang didikan seperti kamu." Oma Arum kembali buka suara.


Suara Oma Arum memang pelan, tidak membentak atau berteriak namun efeknya lebih sakit dari pada tertusuk pisau berkali kali. Angel selalu mencoba mengontrol emosinya, gadis itu memejamkan matanya, kedua tangannya sudah terkepal di kedua sisi tubuhnya tapi sekuat tenaga gadis kecil itu berusaha untuk tidak mengatakan apa apa atau berbuat apa apa.


Biarkan saja, terima saja. Angel tidak boleh durhaka kepada orang tua.


Yang paling menyakitkan sebenarnya adalah saat Oma Arum mengatakan 'cucu saya' seolah olah hanya Anraka saja yang wanita tua itu anggap sebagai cucu sedangkan Angel tidak.


Entah kesalahan apa yang telah Angel lakukan hingga neneknya sendiri seperti sangat membencinya sampai tega mengatakan bahwa Angel adalah anak yang kurang didikan. Padahal Angel tidak merasa seperti itu, ia merasa orang tuanya sangat peduli dan sayang padanya, hanya waktu mereka saja yang kurang karena sibuk bekerja.


Angel menarik napasnya dalam dalam, gadis kecil itu mencoba menenangkan diri sebelum buka suara dan kembali menjelaskan semuanya agar Oma Arum tidak terus salah paham seperti ini.


Angel tidak mungkin punya niat jahat pada Anraka, Anraka itu kakaknya dan Angel sangat menyayangi sang kakak.


"Angel enggak ada maksud sama sekali, Oma. Angel enggak mungkin jahatin Bang Raka, Bang Raka itu kakak Angel, Angel sayang sama Bang Raka," jelas Angel dengan suara pelan, gadis kecil itu terdengar begitu tulus saat ia mengatakan bahwa ia menyayangi kakanya.


Anraka bahkan bisa merasakannya.


Oma Arum mendecih, wanita tua itu masih berdiri di depan Anraka dan Angel yang duduk di atas ranjang Anraka. Pecahan piring berhamburan di lantai bersama mie goreng buatan Angel. Sorot mata Angel sesekali melirik ke arah makanan yang sudah kotor itu lantas kemudian menelan ludah. Kenapa harus dibuang? Padahal itu enak sekali.


Sedih sekali rasanya karena sudah gagal membuat Anraka senang, itu yang Angel rasakan sekarang. Angel tau kakaknya sangat suka tapi karena Oma Arum, kakaknya jadi tidak bisa menikmati makanan kesukaan mereka berdua.


"Kalau kamu sayang sama Raka, kamu harusnya tau makanan apa yang layak dan enggak layak dimakan sama dia. Kamu itu cuma pura pura sayang 'kan sama cucu saya? Saya tau kamu itu iri sama dia karena dia punya segalanya sementara kamu enggak punya apa apa. Makanya, minta sama Mama kamu yang selalu ngebelain kamu.


Mama sama anak sama aja," tutur Oma Arum lagi.


Angel kemudian sadar, ini sudah keterlaluan.


Oma Arum bisa menghina Angel tapi tidak dengan menghina Ibunya. Itu jauh lebih menyakitkan untuk gadis kecil tersebut.


Anraka sejak tadi hanya diam saja namun pemuda itu sadar akan perubahan mimik wajah Angel saat Oma Arum membawa nama Ibu mereka.


"Keluar dari sini."


.


.


.


.


.


.