BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
19. Teman baru



"Ayo, makan yang banyak, ya, semuanya."


"Pasti, Tante. Kalau perlu, Gibran bungkus semuanya!"


"Heh! Jangan malu maluin lo." Romeo memukul lengan Gibran pelan.


Yang ditegur malah nyengir kuda.


"Enggak apa apa kalau ada yang mau bungkus terus dibawa pulang, tadi Tante sama Ganta masaknya banyak kok." Sekar tersenyum.


"Enggak nyangka si Ganta jago masak, ya," kata Keelua.


"Iya, lho. Gue udah lama temenan sama dia, tapi baru hari ini gue tau dia suka masak, masakannya enak lagi," timpal Bumi.


Ganta tidak mengatakan apa pun, pemuda itu hanya lempeng lempeng saja sembari menyantap makanan yang ada di piringnya.


"Walau pun keliatannya dingin kayak es batu, tapi ternyata teman gue ini keibuan juga," sambung Gibran.


Mata Ganta langsung melirik Gibran dengan tajam, Gibran yang ditatap seperti itu sontak menelan saliva kasar.


"Enggak, bukan. Maksud gue kebapakan, mulut gue typo. Maaf." Gibran memukul mulutnya sendiri yang sudah salah bicara.


Sedangkan yang lain malah tertawa melihat tingkah lucu Gibran yang tampak takut dengan tatapan elang milik Ganta yang dilayangkan olehnya.


"Udah udah, sekarang makan dulu," ujar Bambang.


Anraka, Keelua, Ganta, Gibran, Bumi, Romeo, dan Ravi pun mengangguk. Satu keluarga beranggotakan empat orang dan lima pemuda yang merupakan geng EX itu kini sedang makan satu meja. Makan malam yang cukup menyenangkan.


Setelah selesai makan, semuanya keluar untuk bersantai di halaman belakang. Kecuali Sekar dan Bambang.


Entah apa yang anak anak muda itu akan lakukan, namun sekarang Ravi sudah memangku gitar kesayangannya dan berniat untuk menyanyikan sebuah lagu yang cocok untuk malam yang tak berbintang.


"Sini, Vi, biar gue aja yang main," ujar Romeo seraya mengambil gitar dari tangan Ravi, Ravi pun pasrah saja dan membiarkan gitarnya berpindah tangan.


Suara merdu dari gitar itu mulai terdengar, Keelua mulai bersenandung kecil. Alunan lagu yang indah pun terdengar dari kelompok kecil yang sedang duduk bersama di tepi kolam tersebut.


Romeo yang memainkan gitar duduk di atas kursi kayu dengan sebuah meja di depannya. Bumi duduk di sebelah Ganta. Gibran dan Ravi duduk di sebuah kursi panjang yang menghadap ke arah kolam. Sedangkan Anraka dan Keelua duduk di tepian kolam. Bedanya, Keelua merendam kedua kakinya ke dalam kolam, sedangkan Anraka tidak.


Lirik demi lirik terus terdengar indah di telinga siapa saja yang mendengarnya, tiap lirik itu bergantian dinyanyikan oleh mereka. Hingga akan tiba di reff pertama, Anraka pun mendapat giliran.


"Ketika mereka meminta tawa,"


"Ternyata rela tak semudah kata.."


Reff pun kini akan dinyanyikan oleh Keelua.


"Tak perlu khawatir, kuhanya terluka."


"Terbiasa tuk pura pura tertawa."


Lalu dilanjutkan oleh Romeo.


"Namun bolehkah sekali saja kumenangis?"


"Sebelum kembali membohongi diri."


Ketujuh remaja itu akhirnya bernyanyi bersama, begitu menikmati momen langkah ini dengan gembira. Bahkan Ravi, anak laki laki itu tampak sangat menikmati, Keelua sebagai kakak Ravi pun ikut merasa senang.


Sebabnya, karena terlalu kaku, anak itu tidak begitu pandai bersosialisasi dengan orang lain, apa lagi orang yang baru ia kenal namun anehnya, dengan anggota geng EX terutama Romeo, anak laki laki itu tampak sangat mudah menyesuaikan diri.


Entah karena mereka sama sama menyukai game atau apa, tapi hal ini sangat di luar dugaan.


Tapi tak apa, ini adalah suatu kemajuan yang bagus. Tipe tipe orang seperti Ravi, yang mendapatkan energi dari relasi pertemanan yang lebih kecil alias intovert memang tidak mudah menemukan teman baru untuk diajak bicara. Jadi, melihat Ravi bisa akrab dengan orang asing dalam waktu singkat cukup mampu membuat Keelua kagum pada Romeo yang bisa mengambil hati Ravi begitu cepat.


"Udah malam banget kayaknya, kita cabut dulu, deh," ujar Bumi.


Keelua mengangguk, "Iya, deh. Kalian hati hati, ya." Sembari bangkit dari duduknya dan mengeluarkan kakinya dari kolam.


Karena ternyata kaki Keelua licin, gadis itu hampir saja terjatuh dan masuk ke dalam kolam tapi untungnya seseorang menarik kedua tangannya hingga akhirnya Keelua bisa selamat dan tak jadi berbasah kuyup di malam hari seperti ini.


"Hampir aja lo nyebur," ujar Gibran.


Mata Keelua terbelalak begitu mengetahui bahwa orang yang menarik tangannya adalah Anraka.


Mata kedua insan itu tiba tiba saling bertemu lalu bertaut, hingga beberapa menit berlalu tidak ada yang mencoba untuk memutuskan kontak mata yang intens itu.


"Lo berat," kata Anraka, singkat. Lalu pemuda itu melenggang pergi lebih dulu.


"Kok muka lo merah, sih, Keel?" goda Romeo seraya terkekeh.


"Kakak lo salting tuh," kata Romeo sembari menyenggol lengan Ravi yang berdiri di sebelahnya.


"Terserah." Ravi pun ikut melangkah masuk ke dalam rumah menyusul Keelua.


"Kakak sama adik sama sama nyebelinnya," cicit Gibran.


Romeo mengangguk lalu keempat pemuda yang tersisa itu pun ikut masuk ke dalam rumah.


Satu persatu dari kelima anggota geng EX menyalami tangan Sekar dan Bambang, mereka akan segera pamit dari rumah keluarga Keelua itu.


"Makasih ya, Tante, udah diizinin main ke sini," tutur Bumi.


Sekar mengangguk, lalu menepuk bahu pemuda tinggi itu, "Iya, Bumi. Nanti jangan lupa main lagi ke sini, ya."


"Siap, Tante." Bumi tersenyum, tipis. "Makasih juga, Om, buat wejangan wejangan yang tadi Om kasih buat saya sama Anraka," ucap Raka setelah menyamali tangan Bambang dan tak lupa menyunggingkan senyum di bibir tebalnya.


"Iya, Nak. Sama sama."


"Tante, makasih, ya, udah ngasih kita makanan gratis. Enak banget lagi," kata Gibran dengan senyum lebar hingga giginya yang putih terlihat.


"Iya, kita berasa disantuni banget." Romeo menimpali.


"Kalian anak panti asuhan? Kok merasa disantuni?" Ravi yang duduk di atas sofa tiba tiba menyelutuk dan membuat orang orang yang notabenenya lebih tua darinya itu terdiam.


"Aduh, gelap." Gibran mengusap wajahnya.


"Apanya yang gelap? Orang terang gini," sahut Sekar.


"Enggak, Tante, otaknya Gibran tuh yang gelap." Bumi memotong.


Sedangkan Keelua hanya bisa menggeleng kepala melihat tingkah absurd teman teman dan adiknya itu. Kasian sekali Mama dan Papanya karena harus bertemu dengan manusia manusia minus akhlak seperti geng EX.


"Yuk, udah malam. Kami permisi, Tante," kata Anraka lalu melangkah keluar lebih dulu. Ia sudah lebih dulu menyalimi tangan kedua orang tua Keelua tadi.


"Nanti saya ke sini lagi, kita masak bareng lagi," ucap Ganta sambil tersenyum ke arah Sekar.


"Oke, Ganta. Nanti kita masak yang enak enak lagi," balas Sekar dengan semangat.


Ganta mengangguk lalu melangkah keluar setelah selesai menyalimi tangan Sekar dan Bambang bergantian.


Bumi, Gibran dan Romeo pun menyusul Anraka dan Gibran keluar dari rumah.


"Bang, nanti ke sini lagi. Gue males main sama kakak gue," ucap Ravi sebelum Romeo keluar melewati ambang pintu.


Romeo menoleh lalu menaikan jempolnya tanda setuju. Sedangkan Keelua yang merasa dirinya tersindir melirik ke arah Ravi dengan tatapan tajam khasnya, yang ditatap hanya mengangkat kedua bahunya acuh tanda tidak peduli.


"Lo tuh kurang ajar, ya, jadi adik! Harusnya lo muji gue kek!" kesal


"Kata Papa enggak boleh bohong, lo mau dimarahin Papa?" kata Ravi.


"Nah, bener itu." Bambang menimpali.


"Pas ada Papa aja dia bilangnya enggak boleh bohong, padahal tiap hari kerjaannya bohong mulu. Disuruh belajar katanya udah padahal cuma diem di kamar main game!" dumel Keelua tanpa sadar ia sudah membuka semua rahasia Ravi pada kedua orang tuanya.


"Benar itu, Ravi?" tanya Sekar, kini dengan tatapan mata menyelidik.


"Kakak sialan," umpat Ravi dengan suara kecil yang tak bisa didengar oleh anggota keluarganya yang lain.


"Jujur itu penting, tapi menjaga perasaan orang dengan cara menjaga ucapan kita juga perlu. Ingat itu, ya." Sekar memberi petuah.


Keelua melirik Ravi dengan senyum miring, sedangkan Ravi sudah mendengus kesal.


.


.


.


.


.


.


.


.