BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
Menolak



"Ngomong ngomong, Mama gue datang enggak semalem?"


Mata Keelua membulat, apa yang harus ia katakan?


Gadis itu berubah gugup, ia tidak mau berbohong namun ia juga tidak mau menyakiti hati Gibran. Ia tau akan menyakitkan jika pemuda itu tau bahwa orang tuanya sengaja tidak datang untuk melihat kondisinya.


"Engg-"


"Gib, lo udah siuman?!"


Romeo melompat dari tempatnya berbaring lantas dengan cepat memeluk tubuh Gibran yang masih lemah, pemuda itu sangat bahagia.


"Sakit! Sakit! Lepasin, anjir!" Gibran memberontak karena Romeo menyentuh lukanya yang masih terasa sangat sakit.


Saat tersadar kalau Gibran kesakitan, Romeo pun buru buru melepas pelukannya kemudian terkekeh pelan.


"Sorry, abisnya gue senang banget lo udah siuman. Lo ngerasa oke, enggak?" tanya Romeo dengan penuh senyuman.


"Sebelum lo meluk gue, gue oke. Sekarang hampir k.o," balas Gibran dengan raut wajah sebal.


Keelua terkekeh, untung saja Romeo datang di saat yang tepat, ia jadi tidak perlu menjawab pertanyaan Gibran tadi.


"Gibran udah siuman dari tadi cuma gue enggak bangunin kalian karena kayaknya kalian tidurnya pagi, 'kan? Ngantuk banget pasti," celutuk Keelua.


"Harusnya pas biji mata dia baru gerak lo udah bangunin gue, Keel. Gue itu harus jagain Gibran sampai kapan pun. Iya, 'kan, ayang?" canda Romeo sambil mencolek dagu Gibran.


"Andai tangan gue enggak robek, gue injek injek lo sekarang juga, Rom." Gibran murka.


Lagi lagi Keelua dan Romeo tertawa melihat wajah Gibran yang kesal, jarang jarang pemuda yang receh dan ceria ini menampakkan wajah kesalnya seperti itu. Bukannya takut, Keelua dan Romeo malah merasa lucu.


"Woi! Bangun kalian! Bubar kita, anjir. Si dongo udah siuman, ngapain kita di sini lagi?" teriak Romeo di dalam ruangan itu, spontan membangunkan mereka yang sedang tertidur.


Mata Keelua dan Gibran membulat, ada ada saja Romeo ini.


"Berisik!" sahut Ganta.


"Ini teman kalian udah siuman, bangun kek, kasih selamat atau apa gitu," tutur Gibran.


Tidak sesuai dengan ekspetasi, mereka sama sekali tidak bergerak dari tempat mereka walaupun mereka tau bahwa Gibran sudah siuman, sebagian ada yang melanjutkan tidurnya termasuk Anraka dan Ganta.


"Wah, temen bangsat emang kalian. Bubar bubar!" pekik Gibran dengan kesal.


...****************...


"Lo tau ciri ciri orangnya gimana?"


"Enggak, dia kayak pakai masker gitu, mukanya ke tutup semua."


Anraka, Bumi, Ganta, Romeo dan


Keelua sedang duduk mengelilingi


Gibran. Mereka sedang membicarakan tentang seperti apa orang yang kemarin menyerang Gibran, mungkin saja mereka akan melangsungkan pencarian atas orang itu.


"Kira kira siapa yang benci banget sama kita dan punya dendam sama kita atau geng EX, ya? Gue rasa sih enggak ada karena semua anggota geng yang kita kalahin pasti bakal pindah ke EX. Mereka enggak mungkin nyerang kita," sambung Romeo.


"Kita enggak tau gimana isi hati orang, bisa aja kita ngelihat mereka baik ke kita tapi ternyata punya niat nusuk dari belakang. Jangankan anggota yang enggak begitu kita kenal, orang di dalam ruangan ini aja bisa berkhianat satu sama lain," tambah Ganta.


Semuanya terdiam. Benar apa yang dikatakan oleh Ganta barusan, tidak ada yang tau siapa yang melakukan semua ini, tidak ada yang bisa dipercaya dan tidak ada yang bisa dicurigai. Semuanya masih abu abu.


"Walaupun Gibran enggak tau gimana orangnya, kita tetap bisa cari tau lewat CCTV atau lokasi kejadian. Mungkin aja ada titik terang atau sesuatu," kata Keelua.


"Iya, bener. Gue setuju, secepatnya setelah Gibran mulai baikan, kita bakal langsung ngecek ke sana," sahut Romeo.


Mereka semua akhirnya mulai menyusun rencana dan kira kira bagaimana caranya agar semua rencana yang mereka rencanakan bisa berjalan dengan baik.


"Sebenarnya gue sama Raka juga lagi pusing banget karena Angel tiba tiba aja menghilang dan sampai sekarang kita belum punya kabar tentang dia." Keelua membuka topik baru.


"Hah? Angel hilang? Sejak kapan?" tanya Gibran panik.


"Sejak kemarin, tapi karena kita juga cemas sama kondisi lo, makanya kita buru buru ke sini dan baru sempat ngasih tau itu sekarang," jawabnya.


Memang benar, sejak kemarin ruangan ini sangat penuh dengan orang orang yang menjaga Gibran, mereka semua dari geng EX tapi sekarang mereka sudah pulang setelah mengetahui bahwa Gibran sudah siuman dan baik baik saja.


"Kita juga lagi nyari cara buat nemuin dia, tapi yang bikin gue bingung, di video CCTV yang nangkap keberadaan Angel terakhir, dia keliatan naik ke mobil Oma Arum tapi pas ditanya, Oma Arum bilang kalau dia enggak ngapa ngapain dan enggak bawa Angel ke mana mana," sambung Anraka. Ia benar benar bingung.


Bumi mendecak, "Sorry, ya. Bukan apa apa nih, tapi yang namanya orang ngelakuin kesalahan, dia enggak mungkin ngaku dan bicara jujur. Dia pasti bakalan bohong supaya orang lain percaya dan enggak nyalahin dia lagi. Lagi pula yang kayak kita tau, Oma Arum kayaknya enggak begitu suka sama Angel," katanya.


"Enggak mungkin seorang Oma enggak suka sama cucunya sendiri," protes Gibran.


Keelua terdiam, apa yang dikatakan Bumi itu benar namun sulit untuk dipercaya. Keelua tau bahwa Oma Arum punya sikap yang berbeda kepada Angel jika dibandingkan dengan Anraka yang selalu menjadi kesayangan tapi apa mungkin Oma Arum sampai tega melakukan hal yang jahat seperti ini?


Keelua tidak tau tapi ia harap itu semua tidak benar.


"Semuanya masih jadi teka teki, setelah dari sini gue bakal langsung nyari Angel lagi sama keluarga gue. Kalian di sini aja, jagain Gibran baik baik," kata Anraka.


Gibran menganggukkan kepala, "Makasih udah datang ke sini dan ngejagain gue walaupun lo juga butuh bantuan. Gue bakalan cepat sembuh supaya bisa bantuin lo juga, semoga Angel cepat ketemu, ya," tuturnya.


"Lo jaga diri baik baik, gue sama Keelua harus pulang dulu. Mama gue sendirian di rumah, kita harus nemenin dia." Anraka bangkit dari duduknya, siap siap untuk pulang ke rumahnya.


"Kita? Maksudnya lo sama Keelua jagain Mama lo gitu? Emangnya kalian tinggal satu rumah?" tanya Bumi.


Astaga, Anraka salah bicara.


"Enggak, maksudnya Raka bakal nganterin gue pulang dulu abis itu dia mau nemenin Mamanya di rumahnya." Keelua buru buru membuat alasan yang paling masuk akal agar teman temannya tidak curiga.


"Kalau gitu jauh dong, ya? Lo sama Keelua 'kan enggak searah, lo harus muter lagi kalau mau nganterin dia. Lo duluan aja, nanti gue yang nganterin Keelua balik, dia suka kok diantar sama gue," kata Bumi lagi.


Raut wajah Anraka berubah seketika, auranya pun menjadi lebih mendominasi saat menatap mata Bumi begitu tajam.


"Enggak perlu, gue yang bakal nganterin dia balik. Lo di sini aja," balas Anraka, tanpa menerima bantahan apa pun.


"Kenapa? Gue cuma mau bantuin lo kok, lagian Keelua juga pasti mau. Iva 'kan, Keel?" tanya Bumi pada Keelua.


Keelua hanya mampu menghela napasnya, untuk apa Bumi mencari masalah dengan Anraka lagi? Ini rumah sakit namun Anraka bisa saja menghajar Bumi di sini karena pemuda itu tidak tau tempat sama sekali jika sudah emosi.


"Gue sama Anraka aja," balas Keelua.


"Lo emang suka ngerepotin orang, ya? Lo dengar sendiri 'kan kalau si Raka harus nemenin Mamanya terus nyari Angel yang hilang. Sampai kapan lo mau ngekorin si Raka terus? Emangnya kalian pacaran? Enggak, 'kan? Lo jangan selalu bergantung sama si Raka dong. Dia enggak cuma ngurusin lo doang." Bumi mengatakan itu dengan lantang, di hadapan teman temannya bahkan di hadapan Anraka dan Keelua.


"Sana gue aja, biarin dia pergi," sambung Bumi lantas menarik tangan Keelua dengan keras hingga membuat gadis itu meringis.


"Sial."


BUGH!


"ANRAKA!"


"Jangan berani berani lo sentuh dia di depan mata gue, gue bisa aja ngehajar lo di sini, enggak peduli lo teman baik gue sekali pun." Anraka membisikkan itu tepat di depan wajah Bumi yang baru saja ia bogem.


"Udah! Udah! Ayo, pulang!" seru Keelua sembari menarik tubuh Anraka untuk ikut bersamanya kemudian mereka keluar dari kamar inap Anraka.


"Gue sama Raka pulang dulu," kata Keelua sebelum menutup kembali pintu ruangan Gibran.


"Lo enggak apa apa?" tanya Romeo yang buru buru membantu Bumi bangkit setelah dihantam keras oleh Anraka.


"Sialan," umpat pemuda itu sembari berdiri.


"Lo kayaknya jangan macam macam sama Keelua kalau ada Anraka deh, gue baru banget ngelihat dia semarah itu apalagi sampai mukulin lo gitu aja. Kayaknya dia emang sayang banget sama Keelua, mungkin mereka udah jadian juga. Relain aja, bro." Gibran yang duduk di atas ranjangnya hanya bisa menatap Bumi iba.


"Diem lo! Gue enggak akan ngerelain Keelua gitu aja, gue pasti bisa dapatin dia lagi. Gue enggak mau dianggap remeh sama cewek biasa kayak dia, dia enggak bisa nolak gue cuma buat si Raka. Emang dia pikir dia secantik apa?" marah Bumi.


Romeo mendecak, "Lo enggak selalu bisa dapatin apa aja yang lo mau. Udah jelas Keelua enggak suka sama lo, jangan lo paksa. Lo juga jangan ngehina dia kayak gitu, dia emang cewek yang biasa aja tapi dia punya hati yang baik. Kalau enggak, lo enggak mungkin suka sama dia sampai terobsesi kayak gini. Enggak bisa ngedapetin bukan berarti harus membenci, lagian cara lo deketin dia emang udah salah dari awal," tuturnya.


"Lo laki laki, laki laki harus menghormati perempuan." Ganta buka suara.


Bumi tidak mendengarkan nasihat teman temannya, ia akan tetap melakukan apa pun sesuai keinginannya.


"Lagian cewek lo banyak, kenapa harus Keelua, sih?"


"Dia nolak gue dan enggak ada cewek yang boleh nolak gue."