BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
Kepalsuan



Anraka terbangun di tengah malam, ia merasa tidurnya kurang nyaman namun ia melihat Keelua tertidur pulas.


Pemuda itu membuka ponselnya, kemudian menghubungi salah seorang temannya namun bukan dari anggota EX inti. Anraka meminta orang itu untuk pergi ke rumah orang tuanya besok lalu membawakan motornya ke rumah yang sekarang ia tempati.


Orang itu menyiakan saja, Anraka akhirnya menghubungi Ibunya; Regina, untuk mengatakan di mana ia berada sekarang dan meminta Ibunya untuk memberikan kunci motor miliknya kepada temannya yang akan datang ke rumahnya besok.


Anraka tidak mungkin pergi mengambilnya sendiri, ia baru saja keluar dari rumah. Akan terlihat tidak logis jika ia pulang lagi hanya karena ingin mengambil motor miliknya.


Regina pun menyetujui dan meminta Anraka untuk menjaga diri dan menjaga Keelua juga. Wanita itu sudah pasti cemas tapi ini demi kebahagiaan anak anaknya juga.


Saking buru burunya pergi, Anraka bahkan lupa mengajak Angel. Mereka juga tidak membawa banyak baju, Anraka bilang mereka


bisa membelinya lagi nanti. Untung saja, rumah yang Anraka beli ini sudah memiliki fasilitas yang lengkap dan terawat jadi ia tak perlu repot repot lagi.


Untuk berjaga jaga, Anraka juga menghubungi geng EX inti untuk memberi info bahwa ia pindah rumah tapi pemuda itu bilang ia hanya sendiri di rumah ini. Hubungannya dengan Keelua masih menjadi rahasia.


Saat ditanyai alasan mengapa ia pindah dari rumahnya yang begitu mewah, Anraka hanya menjawab di dalam grub chat teman temannya bahwa ia ingin 'bebas'.


Tidak banyak yang bisa Anraka katakan karena semua ini memang masih rahasia dan tidak ada seorang pun yang boleh mengetahuinya selain keluarganya.


Anraka menghela napas panjang, kemudian menoleh ke arah Keelua. Beberapa saat memandangi wajah gadis itu, yang terlihat sangat polos jika sedang tidur. Pemuda itu berharap bahwa keputusan yang ia ambil ini adalah keputusan yang terbaik.


Semoga.


...****************...


Di pagi yang cerah, tiba tiba saja sebuah pesan dari Oma Arum masuk ke ponsel Anraka. Oma Arum mengatakan bahwa ia akan datang menghampiri Keelua dan Anraka dan mereka harus bertemu dengan wanita tua itu.


Anraka lupa bahwa Oma Arum sudah tau di mana rumahnya karena ia juga sempat mengatakannya ada Oma Arum, bahkan mereka sudah pernah datang untuk melihat lihat rumah ini sebelum Anraka membelinya.


Rencananya rumah ini adalah rumah yang akan Anraka tempati nanti tapi karena menyukai designnya, pemuda itu akhirnya iseng dan membeli rumah tersebut.


Setelah membaca pesan tersebut, Anraka langsung menunjukkannya kepada Keelua.


"Gue enggak tau kita harus gimana sekarang, Rak. Apa kita beneran harus pisah sekarang?" Keelua duduk di atas ranjang, memeluk lututnya dengan kepala yang menunduk.


"Kita enggak akan pisah, Keel. Percaya sama gue, kita bakal terus sama sama, gue enggak bakal biarin siapa pun misahin kita berdua." Anraka mendekat ke arah Keelua kemudian memeluk tubuh Keelua dari depan. Mencoba memberi kekuatan pada gadisnya, sudah banyak masalah yang mereka lewati, Anraka tidak bisa melihat Keelua terus merasa sedih seperti ini.


"Biar gue yang ngurusin semua ini, gue janji semua bakal baik baik aja, lo Cuma perlu percaya sama gue," kata Anraka sembari mengecup pucuk kepala Keelua dengan sayang.


Keelua mendongak, menatap Anraka dengan mata yang sembab. Ia benar benar tak ingin berpisah dengan pemuda ini, ia masih ingat betapa sulitnya mereka berdua berusaha mempertahankan hubungan yang terpaksa ini hingga menjadi hubungan yang sama sama mereka impikan sampai saat ini.


"Kenapa sih Oma pengen misahin kita, padahal 'kan awalnya Oma sendiri yang maksa kita buat nikah. Gue capek banget, Rak. Gue capek selalu dipaksa buat nerima semua keputusan orang lain tanpa bisa mutusin apa apa buat kehidupan gue." Keelua mendecak kesal, ia ingin menangis namun air matanya sudah tak mampu keluar lagi.


"Gue juga capek selalu menuhin ekspetasi orang orang, Keel. Kita sama sama capek jadi please, lo harus bantuin gue buat cari jalan keluarnya. Kita bakalan terus bareng bareng, kita enggak akan pisah, oke?"


Keelua mengangguk, sepertinya ini sudah saatnya melawan dan mempertahankan apa yang sudah menjadi miiknya. Tidak peduli dengan apa yang orang lain katakan yang terpenting adalah Anraka ada di sini untuknya. Keelua rasa itu saja sudah cukup.


Terdengar suara bel dari bawah, sepertinya Oma Arum sudah tiba. Anraka pun mengecek ponselnya dan ternyata sudah ada pesan dari Oma nya itu.


"Turun, Oma di bawah." Isi pesan itu.


“Ikut gue, kita turun ke bawah dan ngomong langsung sama Oma." Anraka menarik tangan Keelua kemudian menariknya perlahan.


Mereka berdua akan turun ke lantai bawah dan menemui Oma Arum yang sudah menunggu Keelua sejak tadi.


Keelua dan Anraka keluar dari kamar, kemudian menuju tangga dan turun ke lantai bawah. Di ruang tengah, sudah tampak sosok seorang wanita tua yang duduk membelakangi mereka berdua.


"Oma.." Anraka buka suara.


Yang dipanggil menoleh, tanpa menggambarkan senyum sedikit pun.


"Duduk di sini, Raka.” Oma Arum membalas setelah menghadap ke depan lagi.


"Ayo, Keel," ajak Anraka.


Sepasang suami istri itu akhirnya duduk di sofa yang ada di hadapan Oma Arum, Keelua pun tak menampilkan senyum apa apa, ia terlalu muak dengan semua kepalsuan yang sejak awal ia terima.


"Oma mau ngomong apa sama Keelua?" tanya Anraka dengan raut wajah datar.


"Kamu enggak perlu tau, Raka. Oma Cuma mau ngomong berdua sama dia," jawab Oma Arum seraya tersenyum tipis.


"Keelua ini istri Raka, Raka berhak nemenin dia di sini. Oma tinggal bilang apa pun yang Oma mau di depan Keelua dan di depan Raka juga."


Oma Arum mencemooh, “Kamu sudah benar benar, Anraka. Sekarang kamu benar benar mencintai istri kamu ini, ya?" tanyanya.


“Bukannya itu udah seharusnya? Itu juga 'kan yang Oma mau dari dulu? Kenapa harus dipertanyakan lagi?" tutur Anraka dengan lantang.


"Itu dulu, Raka."


Oma Arum memang mendukung hubungan kedua anak manusia ini pada awalnya, bahkan ialah yang memaksa mereka berdua untu menikah. Namun, setelah semuanya berjalan, Oma Arum baru sadar bahwa cucu kesayangannya kini sudah diambil alih oleh gadis miskin yang awalnya tidak memiliki apa apa tapi kini sudah diratukan oleh Anraka.


Apa pun yang Keelua katakan pasti akan dituruti oleh Anraka bahkan pemuda itu sudah berani membantah neneknya. Hal itulah yang ditakutkan oleh Oma Arum, ia tak ingin kehilangan perhatian dan rasa hormat dari cucunya begitu saja, ia ingin menjadi satu satunya wanita yang Anraka dengar dan patuhi. Bukan orang lain, bukan Regina apa lagi Keelua.


"Raka enggak peduli itu dulu atau sekarang, yang jelas perasaan itu enggak bisa diubah, Oma. Enggak semudah itu untuk sayang dan berhenti sayang sama seseorang, Oma enggak bisa maksain kemauan Oma terus menerus kayak gini. Raka juga punya kehidupan sendiri." Anraka mengatakan semua yang ingin ia katakan, tidak peduli Oma Arum akan marah atau seperti apa, ia hanya ingin mempertahakan hubungannya.


"Kamu udah benar benar lancing setelah tinggal sama dia," kata Oma Arum dengan wajah yang memerah.


"Bukan lancang, Oma. Aku sama Raka Cuma lagi mempertahankan hubungan kami berdua.


Hubungan yang sulit sekali kami bangun karena semuanya di mulai dari keterpaksaan. Oma sendiri yang maksa kami untuk nikah dulu, sekarang Oma mau misahin kami setelah kami ngelakuin apa yang Oma suruh?" Setetes air mata Keelua terjatuh tanpa aba aba, "Kami ini manusia, Oma. Bukan alat yang bisa Oma perintah dan gerakan sesuka hati Oma. Tolong ngertiin perasaan kami, Anraka ini bukan benda yang bisa Oma kendalikan, dia manusia, dia cucu Oma, dia punya hati."


Sudah sepayah ini Keelua memohon namun Oma Arum tetap saja keras hati dan tidak bisa melihat cinta yang kedua manusia ini miliki. Entah apa yang sebenarnya wanita tua tersebut inginkan dari Anraka, entah sampai kapan ia ingin memperlakukan cucunya seperti alat.


"Kalian tau apa soal cinta? Kalian ini masih terlalu muda untuk membahas hal hal seperti ini, Oma tentu saja lebih tau apa yang kalian butuhkan sekarang. Lebih baik kalian berpisah saja, tidak ada yang lebih baik dari itu."


"Kenapa? Kenapa kita harus pisah? Raka dan Keelua enggak ada masalah apa apa, kami Bahagia, untuk apa kita berdua pisah kalau kita masih sama sama saling membutuhkan? Raka enggak pernah ngomong ini ke Oma, tapi sekarang Oma harus tau kalau Raka benar benar sayang sama Keelua. Enggak ada yang bisa misahin kami, bahkan Oma sekali pun."


Keelua bisa melihat dengan jelas bahwa tatapan Oma Arum seketika berubah, raut wajahnya pun menunjukkan bahwa ia sedang marah dan tidak bisa menahan emosinya lagi. Spontan Keelua memeluk lengan suaminya karena sebenarnya ia cukup was was, ia tak pernah melawan perkataan Oma Arum satu kali pun, ini adalah pertama kalinya.


"Kamu akan tau apa akibatnya kalau kamu berani menentang keputusan Oma dan lebih memiih gadis ini, Anraka. Gadis miskin yang enggak akan bisa bikin kamu Bahagia," ucap Oma Arum.


Kata kata itu berhasil membuat dada Keelua terasa seperti di hujam dengan begitu keras, ia tak menyangka bahwa Oma Arum yang begitu ia hormati selama ini bisa mengatakan hal sekasar itu padanya. Keelua mulai sadar bahwa ia sudah salah menilai seseorang, ia mengira Oma Arum benar benar peduli dan sayang padanya, nyatanya tidak. Lagi lagi, semuanya hanya kepalsuan.


"Raka Bahagia sama Keelua, Oma enggak bisa menilai kehidupan kami gitu aja. Keelua ini gadis terbaik untuk Raka, terima kasih karena Oma sudah memilihkan dia untuk Raka."


Oma Arum berdiri, siap untuk meninggalkan rumah Anraka dan Keelua.


"Kamu akan menyesali semua keputusan kamu, Anraka."