
"Ayo, kalian siap siap. Kita sebentar lagi sudah harus ke rumah calon istrinya Anraka, bawa semua keperluan yang dibutuhkan."
Oma Arum dengan tergesa gesa menyiapkan pakaian yang akan ia kenakan malam ini, dibantu oleh Bibi Maryam.
Anraka masih berada di kamarnya, baju yang harus pemuda itu kenakan sudah disiapkan sejak sore tadi, ia tinggal memakainya saja.
Dalam hati Anraka berkecamuk, pemuda itu berpikir masih ada waktu untuk kabur dan membatalkan semua rencana yang telah disusun untuk pernikahannya dengan seorang gadis yang tidak ia kenal asal usulnya.
Anraka masih bisa menyelamatkan masa mudanya sendiri.
Namun, setelah ia mengingat apa yang sedang terjadi pada Oma Arum, pemuda itu langsung menghilangkan semua niat buruk yang ada di kepala. Ia tak bisa membiarkan salah satu orang yang peduli padanya kecewa apalagi sampai sakit karenanya.
Kalau takdir sudah memutuskan Anraka untuk menerima semua ini, ia pasti akan menerimanya walaupun dengan berat hati. Lagi pula, tidak ada pilihan lain selain menerima kenyataan bahwa semuanya sudah terjadi.
Sorot mata Anraka masih dengan sayu memandangi setelan rapi yang menggantung di sisi lemarinya, ia sudah harus mengenakan pakaian itu segera dan benar benar pergi mendatangi calon istri yang tidak pernah ia kenal apalagi cintai.
Tok tok tok!
Terdengar suara pintu diketuk dari luar, Anraka masih tetap tidak bergerak di tempatnya sampai seseorang yang menghampirinya itu terpaksa masuk lebih dulu tanpa diberi izin dari sang pemilik kamar.
"Bang Raka.."
Itu Angel, suara gadis kecil itu sangat khas di telinga Anraka. Tanpa menoleh pun Anraka sudah bisa tau dengan jelas bahwa itu adalah suara adik kecilnya.
"Angel disuruh ke sini sama Mama, katanya harus pastiin Bang Raka pakai bajunya. Bang Raka baik baik aja, 'kan?" tanya gadis itu sambil kembali menutup pintu.
Anraka tidak menjawab, bahkan tidak menoleh sama sekali.
Pemuda itu duduk di atas ranjangnya dengan sorot mata kosong, Angel jelas tau kakaknya sedang tidak baik baik saja dan mungkin sedang tidak ingin diganggu.
Angel menghela napas panjang, ia tau ini tidak mudah untuk Anraka tapi percuma saja ia mengatakan bahwa ia tak mau, sama seperti Anraka, ia juga tak dapat melakukan apa apa.
Ini bukan waktu yang tepat untuk banyak bicara, Anraka pasti tidak ingin mendengarkan suara berisik saat ini. Dengan gerakan perlahan, Angel ikut duduk di sebelah Anraka kemudian diam saja dan tidak melakukan apa apa.
Ruangan itu benar benar hening, udara sejuk dari AC membuat kamar itu terasa nyaman. Angel yang sudah mengenakan pakaian rapi hanya menunggu Anraka buka suara, ia tak akan buka suara lagi, cukup Anraka tau saja bahwa ia ada di sana. Anraka pasti hanya butuh waktu.
"Semuanya udah pada siap?" tanya Anraka setelah beberapa menit Angel ada di dalam kamarnya.
"Udah, Bang. Semuanya tinggal nunggu Bang Raka tapi Bang Raka bisa pakaian kapan aja, Angel enggak akan maksa kok," jawab Angel.
Pemuda itu akhirnya bangkit lalu mengambil jas berwarna coklat muda yang memang dipersiapkan untuknya lantas memakainya lalu menatap lurus ke arah cermin. Tidak ada senyuman yang terpantul di sana, hanya dalam beberapa menit pemuda itu sudah siap dengan setelan rapinya.
Ini membingungkan untuk Angel, gadis kecil itu tidak tau harus merasa sedih atau bahagia. Secara tidak langsung, harusnya ini menjadi hari yang bahagia untuk Anraka karena akhirnya pemuda itu akan menempuh hidup baru bersama pasangan yang akan menemaninya seumur hidup.
Namun, di sisi lain Anraka tidak bahagia dengan perjodohannya, pemuda itu tidak menghendaki semua ini terjadi. Maka dari itu, Angel hanya bisa memberikan ekspresi datar dan seolah tidak merasakan apa apa. Memang sebaiknya begitu, tidak senang dan tidak sedih, normal.
"Ayo." Anraka melangkah keluar dari kamarnya lebih dulu, meninggalkan Angel yang masih geming dan bergelut dengan pikirannya sendiri.
Di detik selanjutnya, Angel ikut bangkit lalu mengikuti langkah Anraka yang sudah lebih dulu menuruni tangga untuk turun ke bawah.
"Cucu Oma tampan sekali," puji Oma Arum saat melihat Anraka sudah mengenakan jas yang sudah disiapkan tadi.
Anraka tampak hanya membalas dengan senyuman kecil.
Arya dan Regina juga ada di sana, kedua orang tua Anraka dan Angel itu sudah tampak rapi dengan setelan mereka masing masing.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Arya.
Angel menyusul dari lantai dua dan langsung menghampiri kedua orang tuanya, "Kita harus pergi sekarang, Pa? Emangnya udah mau dimulai?" tanya gadis kecil itu.
"Keluarga calon istri Anraka udah nunggu kita di sana, memangnya kamu mau tunggu apa lagi? Mau tunggu acara ini dibatalin? Itu kan yang kamu mau?" sarkas Oma Arum pada Angel.
"Iya, sayang. Kita harus segera sana, keluarga calon istri kakak kamu udah nunggu." Kemudian Arya menerangkan dengan lebih lembut.
Angel hanya menganggukkan kepala, gadis kecil itu keluar dari rumah lebih dulu, ia sedikit kesal dengan sikap Oma Arum kepadanya yang sebenarnya terjadi setiap saat.
Tak memakan waktu yang lama, akhirnya rombongan keluarga itu langsung meluncur menuju rumah keluarga lain yang sebentar lagi akan menjadi bagian dari keluarga mereka. Dua keluarga yang mungkin akan menjadi satu keluarga besar, setidaknya itu satu satunya harapan yang indah tentang hubungan ini.
Angel duduk di kursi penumpang dengan sorot mata yang terus melihat ke luar jendela, gadis itu menatap apa saja yang muncul di depannya. Meskipun tatapannya kosong namun ia seolah memperhatikan, di dalam kepalanya berterbangan berbagai macam hal yang mungkin akan terjadi di sana saat mereka tiba. Skenario skenario yang Angel ciptakan sendiri di dalam kepalanya namun yang paling gadis kecil itu harapkan terjadi adalah saat di mana Anraka dengan tegas menolak perjodohan ini.
Bermenit menit berlalu, Angel seakan mengenal tempat yang mereka lewati, sepertinya tidak asing, mungkin saja di pernah melewati jalan ini tapi ia lupa kapan tepatnya.
Saat memasuki sebuah kawasan perumahan yang cukup mewah, Angel langsung ingat mengapa ia tau jalan ini dan dari mana ia waktu itu.
"Ini jalan ke rumahnya Kak Keelua."
"Kayaknya rumah yang bakal kita datangi dekat dari rumah Kak Keelua, Angel mau singgah ke sana deh, mau ketemu sama Ravi juga," gumam Angel.
Anraka diam saja, ssmoga Keelua tidak melihatnya nanti. Pemuda itu tidak ingin siapa pun tau bahwa orang tuanya telah menjodohkannya dengan seseorang yang tidak ia sukai bahkan tidak ia kenal.
Itu akan menjadi sangat memalukan.
Anraka tidak ingin ada berita yang beredar tentangnya soal perjodohan ini, dia akan benar benar hati hati dan akan merahasiakannya dari orang orang bahkan teman teman satu gengnya.
"Ini persis jalan ke rumahnya Kak Keelua, apa jangan jangan kita bakal singgah ke sana dulu, ya?" tanya Angel pada dirinya sendiri namun tentu saja Anraka yang duduk di sebelahnya bisa mendengar itu.
Anraka akhirnya ikut memperhatikan jalanan dan ia juga menemukan bahwa mobil yang ia tumpangi ini benar benar melewati jalanan yang selalu orang orang tempuh untuk pergi ke rumah Keelua.
"Rumahnya udah dekat, siap siap ya, Raka. Kamu jangan gugup, biasa aja. Jadi diri kamu yang kayak biasa tapi usahain kasih sedikit senyum buat orang tua yang bakal jadi mertua kamu sebentar lagi itu," petuah Oma Arum.
Anraka hanya diam saja tapi ia mendengarkan dengan seksama.
Beberapa saat kemudian, mobil keluarga Anraka berhenti di depan rumah Keelua, benar benar di depan rumah Keelua dan tepat di depan pagar gadis itu.
"Tuhkan, kita singgah ke rumah Kak Keelua dulu. Kayaknya Oma mau ngomong sama Kak Keelua buat dibawain susu besok," tebak Angel.
Angel ingin ikut turun dari mobil dan masuk ke rumah Keelua, ia ingin sekali bertemu dengan Ravi. Tapi ia tak tau pasti, mungkin Oma Arum hanya turun sebentar saja.
"Ayo turun, tunggu apa lagi?" Oma Arum buka suara.
Semua orang yang ada di dalam mobil akhirnya turun dan masuk ke dalam rumah Keelua secara bergantian. Pertama Regina lebih dulu kemudian Arya dan di susul oleh Oma Arum. Sedangkan Angel dan Anraka masuk bersama.
"Kita mau ngapain ke sini? Kenapa enggak langsung ke rumah calon Bang Raka aja dulu sih? Nanti balik baru singgah, enggak apa apa walaupun lama juga," celoteh Angel dengan suara kecil.
"Halo, selamat datang keluarga Pranata. Silahkan masuk," sambut Ibu Keelua dengan ramah.
Sebelum Regina masuk ke dalam rumah, Angel menahan langkah wanita itu dan langsung bertanya.
"Kita kenapa enggak ke rumah calonnya Bang Raka dulu, Ma? Katanya mereka udah nunggu? Harusnya kita ke sana dulu, pulangnya baru ke sini." Gadis kecil itu tampak memeluk lengan ibunya.
"Kamu mau ke mana lagi? Ini rumah calonnya kakak kamu."
...****************...
"Tamunya udah datang. Jangan pingsan dan berdoa semoga yang datang bukan kakek kakek duda anak lima," kata Ravi seraya menutup pintu kamar Keelua.
Keelua menarik napas panjang kemudian sekali lagi melihat pantulan dirinya dari kaca. Ia harus siap, setidaknya gadis itu bisa sedikit memberikan dukungan untuk dirinya sendiri.
Dengan jantung yang terus berdetak kencang, gadis itu keluar dari kamarnya dengan perlahan lahan. Entah lah, sepertinya ia belum siap bertemu dengan sosok asing yang akan segera menikahinya.
Samar samar Keelua mendengar suara beberapa orang yang sangat familiar dari ruang tengah, dengan langkah mantap gadis itu terus melangkah maju walaupun ia merasa sangat gugup.
"Hai, Keel. Sini, sayang."
Keelua mengangkat kepalanya, wajah orang yang pertama kali ia temukan adalah wajah ibunya yang tersenyum manis ke arahnya dan wajah seorang wanita yang mirip dengan Regina, ibu Anraka.
Sorot mata gadis itu berpindah, ia menemukan sosok Oma Arum dan juga Arya-Ayah Anraka di sana, dahi gadis itu berkerut. Mau apa keluarga Anraka di rumahnya?
Di detik selanjutnya, Keelua akhirnya menemukan sosok Anraka dan Angel yang duduk membelakanginya. Anraka terlihat memakai jas berwarna coklat muda dari belakang, Keelua bisa mengenali pemuda itu dengan sekali lihat saja.
"Keluarganya Raka ngapain di sini? Lagi ada acara, ya? Atau sengaja Mama undang?" tanya Keelua saat Regina mendekat ke arahnya dan merangkulnya.
"Kamu cantik sekali! Sini Keelua, sayang!" panggil Oma Arum dari tempatnya duduk.
Regina mendorong pelan tubuh anaknya untuk pergi ke arah sosok nenek Anraka itu, Regina bahkan belum menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Keelua.
"Hai, Oma. Apa kabar?" tanya Keelua dengan begitu ramah.
"Baik, sayang. Kamu benar benar cantik sekali," puji Oma Arum kemudian.
Keelua tersenyum kikuk, ia merasa ada sesuatu yang aneh dengan keluarganya dan juga dengan keluarga Anraka.
Ibunya bilang, keluarga yang telah melamarnya akan datang malam ini namun mengapa akhirnya orang tuanya itu malah mengundang keluarga Anraka ke rumah mereka? Bagaimana jika orang orang itu datang? Rumah ini tidak begitu besar untuk menampung tiga keluarganya sekaligus.
"Kami emang enggak salah pilih calon menantu."
"Tunggu, APA?!"