
"Sampai kapan gue di sini?"
Anraka membaca pesan itu dengan raut wajah panik, ia hampir lupa bahwa Keelua ada di halaman belakang sendirian bersama baju ketatnya yang benar benar tidak boleh dilihat orang lain.
"Tunggu dulu, si kampret kampret ini belum mau pulang kayaknya," tulis Anraka saat membalas pesan Keelua.
Setelah itu, Anraka memikirkan bagaimana caranya agar Keelua setidaknya bisa masuk ke dalam untuk mengganti bajunya atau diam saja di dalam kamar tanpa sepengetahuan teman temannya. Mereka juga tidak boleh melihat Keelua dengan bajunya yang seperti itu.
Andai Keelua berpakaian biasa saja, dengan tanpa berpikir Anraka pasti bisa saja memperlihatkan bahwa Keelua ada di sini bahkan ia pun akan mengatakan bahwa mereka berdua sudah lama resmi menjadi pasangan suami istri namun keadaannya berbeda.
Anraka mencoba mengetik sesuatu di layar ponselnya lagi, ia memiliki ide gila yang sepertinya harus dicoba.
"Lo bisa enggak masuk ke dalam sini tapi begitu lo masuk, lo langsung sembunyi di dalam kamar mandi sebelah dapur. Lo enggak akan ketahuan, abis itu gue alihin mereka supaya lo bisa naik ke atas," tulis Anraka.
"Oke," balas Keelua.
"Lagi ngetik apa, sih? Kok serius banget muka lo?" tanya Romeo begitu menyadari kediaman Anraka.
"Enggak ada, biasa," balas Anraka dengan setenang mungkin.
Pemuda itu terus melirik ke arah pintu belakang dan bisa terlihat dari posisinya karena ia duduk menghadap ke arah pintu halaman belakang yang bening.
Beberapa saat kemudian,terlihatlah sosok Keelua yang sedang mengendap endap masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang itu. Anraka pun memperhatikan teman temannya dan memastikan bahwa mereka tidak menyadari kehadiran Keelua sama sekali.
Terdengar sebuah suara saat Keelua menutup pintu, sepertinya hanya Bumi yang mendengarnya di antara teman teman Anraka yang lain.
"Suara apaan tuh?" tanya Bumi.
"Suara apa? Gue enggak dengar apa apa," sahut Gibran.
"Enggak, tadi gue kayak dengar suara pintu ke tutup gitu, kayak ada orang yang lagi nutup pintu," jelas Bumi lagi.
"Di dalam rumah ini?" tanya Romeo.
"Iya," balas Bumi.
"Bukan dari rumah tetangga? Lo jangan nakut nakutin kenapa, sih?!" Gibran menoleh ke sana dan ke sini, ia tiba tiba merasa merinding.
"Enggak ada suara apa apa, enggak usah ngelantur," kata Anraka.
"Jangan jangan itu hantu. Dulu pas awal lo nempatin rumah ini, lo bacain apa gitu enggak, Rak?" tanya Gibran, ia menanyakan hal itu seolah olah ia benar benar serius padahal bukan dia yang mendengar suara tadi.
"Enggak." Anraka membalas singkat.
"Astaga, mampus deh!" Gibran menepuk jidatnya.
Teman temannya ini benar benar bodoh, terutama Gibran. Untuk apa pemuda itu tiba tiba membahas tentang hantu dan semacamnya? Kalau mereka tau bahwa yang membuat suara tadi adalah Keelua, mereka pasti akan menertawakan diri mereka sendiri karena terlalu mudah dibodohi.
"Kenapa emang, Gib?" tanya Bumi.
"Karena biasanya kalau rumah baru itu ada penghuninya," tanya Gibran.
Anraka menggeleng, "Enggak ada. Gue enggak bikin gitu gituan, ini rumah gue. Kenapa orang lain mau jadi penghuni selain gue?"
Gibran mendecak, "Bukan orang tapi makhluk," bisiknya.
"Kita juga makhluk kok, makhluk ciptaan Tuhan," celetuk Romeo.
"Diem lo, gue lagi serius. Gue mau bantu Anraka supaya rumahnya enggak kemasukan setan," omel Gibran dengan wajahnya yang serius padahal teman temannya yang lain menanggapinya dengan biasa saja.
"Gimana, Rak? Lo mau-"
"Dor!"
"AAAAAANJING!"
"Gimana? Takut?" tanya Bumi masih dengan sisa tawanya.
"Lo emang kurang ajar, ya!" kata Gibran sambil memukul kepala Romeo dengan sedikit keras hingga membuat pemuda tersebut mengaduh.
Akhirnya suara itu pun terabaikan, Anraka dan teman temannya kembali berbincang tentang hal hal random yang entah apa manfaatnya untuk dibahas tapi seperti itulah para sudah berkumpul. laki laki saat
"Diam di situ, lo aman 'kan?" tulis Anraka dalam pesannya.
"Aman cuma hampir ketiduran," balas Keelua.
Begitu Keelua berhasil masuk ke dalam kamar mandi, Anraka buru buru menyusun rencana baru lagi untuk meloloskan Keelua dan akhirnya gadis itu bisa masuk ke dalam kamar yang ada di lantai atas.
"Eh, mobil sama motor gue kayaknya ada masalah, kalian bisa bantu gue lihat apa masalahnya, enggak? Gue kayak enggak ngerti gitu," kata Anraka memotong pembicaraan teman temannya.
Gibran yang duduk di sebelah Anraka langsung meraba dahi pemuda itu, apa yang baru saja ia katakan? Tidak mengerti soal mesin mobil dan motor? Ada ada saja, tidak mungkin.
"Gimana, Gib? Si Anraka panas. enggak?" tanya Romeo.
"Enggak, dia sehat sehat aja kayaknya." Gibran membalas.
"Sejak kapan lo enggak ngerti soal mesin, Rak? Gue kira lo yang paling jago dari kita semua, kenapa sekarang tiba tiba lo mau minta bantuan kita buat ngecek itu?" tanya Bumi.
"Biar kalian ada gunanya jadi teman gue, ini benar benar parah kayaknya karena gue enggak bisa nemuin masalahnya di mana." Anraka tetap bersikeras agar teman temannya mau membantunya yang sebenarnya tidak butuh bantuan, hanya butuh pengalih perhatian saja.
"Kalau lo enggak bisa, kayaknya kita juga enggak bisa. Gue belajar soal mesin motor aja sama lo," ucap Gibran.
"Sapatau bisa, lihat dulu makanya."
Anraka menatap teman temannya dengan tatapan datar tapi mereka bisa langsung mengerti bahwa Anraka benar benar serius ingin dibantu.
"Kalian semua harus keluar buat ngecek, gue enggak mau ada yang salah, nanti motor gue tambah parah lagi," kata Anraka.
"Ayo." Ganta bangkit lebih dulu lalu keluar dari pintu utama melewati ruang tamu.
"Ya udah, ayo." Romeo dan Bumi pun bangkit bersamaan lalu beriringan keluar dari rumah Anraka menuju garasi tempat di mana Anraka memarkir motor dan mobilnya.
"Lo kenapa masih di sini?" tanya Anraka sambil menoleh ke arah pemuda yang duduk di sebelahnya.
"Gue enggak ngerti apa apa, biarin aja mereka yang ngecek, gue enggak mau makin ngerusak itu," kata Gibran sambil merebahkan badannya di atas sofa.
"Oh, ya udah. Tapi jangan sampai penghuni rumah ini gangguin lo, ya. Biasanya dia muncul kalau ada orang lagi sendirian," ucap Anraka lalu bangkit dan keluar dari rumahnya menyusul teman temannya yang sudah keluar lebih dulu.
Perasaan Gibran langsung berubah tidak enak, pemuda itu pun kembali duduk dan memperhatikan sekitar. Dari dalam kamar mandi, Keelua sengaja membuat suara suara yang bisa didengar oleh Gibran agar pemuda itu mau ikut keluar dan menyusul Anraka serta teman temannya yang lain.
"Astaga astaga!" Dengan terburu buru Gibran berlari keluar.
"Kenapa lo?" tanya Romeo yang melihat Gibran lari terbirit birit dari dalam rumah Anraka.
"Di rumah lo beneran ada setan!" seru Gibran pada Anraka.
Anraka malah terkekeh pelan saat Gibran tidak melihat, Gibran ini memang benar benar penakut.
Tak menunggu waktu lama, Anraka langsung kembali mengetikkan pesan di layar ponselnya.
"Naik sekarang, gue enggak bisa nahan mereka lama lama. Motor sama mobil gue baik baik aja."
"Iya, gue juga udah hampir berlumut di sini," balas Keelua.
Bumi dan Ganta sedang mengecek motor dan mobil Anraka, tampaknya semua baik baik saja.
"Rak, enggak ada yang rusak, semuanya oke."
"Oh, gitu, ya? Berarti perasaan gue aja."