
"Kamu jangan berpikir mau pergi dari rumah ini, Arya. Kamu enggak akan Mama izinkan untuk keluar dari rumah ini. Kamu harus tetap di sini bersama Anraka. Biarkan saja para perempuan ini pergi, mereka enggak lebih dari belanu yang selalu mengganggu," ancam Oma Arum saat Arya mengatakan bahwa jika Regina pergi, ia juga akan pergi.
"Almarhum Ayah selalu bilang ke Arya kalau laki laki itu harus berani dan bertanggung jawab untuk apa pun yang ada di dalam hidupnya. Sekarang, Arya akan mengikuti semua pesan pesan Ayah. Arya bertanggung jawab atas Istri Arya dan anak anak Arya.
Mama tidak bisa menyuruh Arya untuk melepaskan tanggung jawab Arya begitu saja. Arya ini laki laki, Ma."
Arya benar benar akan pergi jika Oma Arum memang berniat membiarkan bahkan menyuruh Regina untuk pergi.
Laki laki mana yang tega melihat istrinya pergi dari rumah untuk mencari anak mereka yang hilang seorang diri? Arya sudah berjanji akan selalu menjaga Regina sejak awal mereka memutuskan untuk hidup bersama.
Tidak ada yang lebih penting dari hubungan dekat antar anggota keluarga.
"Tolong, Ma. Kasih tau Angel ada di mana sekarang, Regina cuma minta itu aja. Enggak ada yang lain lagi, Regina cuma butuh Angel. Enggak apa apa kalau Oma mau ngusir aku dari sini, aku akan pindah tapi tolong kembalikan Angel," mohon Regina hingga hampir berlutut namun Arya menahan tubuh wanita itu.
Sebagai seorang Ibu, kekuatan terbesar Regina hanyalah anak anaknya. Selama ini ia bertahan di rumah yang penuh hinaan dan tekanan untuk dirinya ini karena ia masih memikirkan kondisi anak anaknya dan perasaan trauma yang akan terus tertanam di dalam benak mereka jika melihat pertengkaran pertengkaran yang tidak seharusnya mereka lihat.
Regina hanya ingin kesehatan mental anak anaknya baik baik saja tapi sepertinya sekarang ia sudah benar benar gagal karena Angel yang begitu menurut pun bisa dibuat hampir bunuh diri oleh sikap dan perlakuan anggota keluarganya sendiri.
Bayangan masa lalu saat Angel mencoba untuk bunuh diri membuat Regina hampir kehilangan akal. Spontan otaknya memberikan dia kemungkinan kemungkinan terburuk yang mungkin saja terjadi saat ini. Ia tak mau berpikir macam macam tapi ia juga harus waspada dan bertindak cepat.
Angel bisa saja melakukan sesuatu tanpa berpikir lebih dulu saking stressnya dengan keadaan. Di tambah lagi usia gadis kecil itu yang terlalu muda dan akan membuatnya sulit untuk memproses suatu keputusan dengan matang.
"Kamu punya telinga, 'kan? Saya sudah bilang kalau saya tidak tau anak kamu itu ada di mana, saya enggak bawa dia ke mana mana. Saya pun tidak sudi untuk berada satu mobil dengan anak membawa sial itu."
"SUDAH. MA! TOLONG! MANA ANAK SAYA?!" teriak Regina marah, sudah keberapa kalinya wanita tua itu mengatakan hal yang tidak seharusnya ia katakan mengenai Angel.
Itu benar benar keterlaluan.
Bagaimana caranya untuk membuat Oma Arum mengaku? Regina sungguh tak dapat menahan rasa cemasnya lagi.
"Berani beraninya kamu membentak saya, ya! Apa keluarga kamu yang tidak tau diri itu tidak pernah mengajari kamu cara sopan santun kepada orang lain? Apa yang mereka ajarkan? Cara mencari laki laki kaya, hah?!"
"Cukup! Udah! Apa apaan kalian ini? Gue malu!" geram Anraka.
Napas pemuda itu naik turun, ia tak mengerti lagi apa yang harus ia lakukan agar keluarganya tidak bercerai berai seperti ini. Sungguh, ia benar benar malu saat tau bahwa wajah asli dari anggota keluarganya hanyalah orang orang yang saling mencela dan menghina.
Terutama Oma Arum yang ia ketahui sebagai wanita yang selalu lemah lembut padanya dan tidak pernah mengucapkan kata kata yang menyakiti hatinya. Kini, wanita yang sama dengan tega menyakiti hati Ibunya, Ayahnya bahkan istrinya.
Anraka tidak tau harus melakukan apa, pemuda itu mengacak acak rambutnya lalu keluar dari rumah. Keelua panik dan langsung mengikuti langkah pemuda itu, ia takut Anraka akan melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya sendiri.
"Anraka!" seru Arya.
"Ini semua gara gara Mama! Sekalian aja hancurin hidup aku, Ma! Aku udah benar benar enggak sanggup!" ucap Regina sarkas lantas melepas cekalan tangan Arya lalu ikut keluar meninggalkan suaminya dan Oma Arum yang geming.
Arya menundukkan kepala, sementara Oma Arum masih tidak terlihat merasa bersalah sedikit pun padahal masalah sudah semakin besar.
Air mata Arya menetes begitu saja, ia merasa gagal. Gagal menjaga anak anaknya dan jaga membentuk rumah tangga yang harmonis seperti impiannya. Dia dan istrinya sangat saling memcintai tapi kenapa orang orang di sekitar mereka tidak bisa mendukung mereka? Bahkan ibunya sendiri.
"Sudahlah, enggak usah dipikirin. Kalau dia udah kehabisan uang pasti dia bakal kembali lagi ke kamu. Dia pikir cari uang itu gampang apa? Selama ini cuma bisa minta dari suami sok sok an mau pergi dari rumah. Mau makan apa dia?" cela Oma Arum kemudian. Tak memperhatikan bahwa anaknya sedang meneteskan air mata.
Arya tidak mengatakan apa pun lagi, walaupun hatinya memberontak untuk mengatakan sesuatu tapi ia tak mau. Pria itu tetap diam saja, membiarkan sakit di hatinya sedikit merada agar ia bisa mengangkat kepalanya lagi dan kembali mengejar anak dan istrinya.
"Mama enggak mau tau, kamu harus bawa Anraka kembali lagi ke sini. Mama enggak peduli dengan Regina atau Keelua yang\="
"Berhenti, Ma. Arya sudah enggak kuat."
...****************...
"Raka! Raka! Stop, Anraka!"
"Lo apa apaan, sih? Jangan kabur dari masalah!" teriak Keelua sebelum Anraka hendak menaiki motornya.
"Gue enggak lari dari masalah, Keel. Gue cuma muak dengan semua masalah ini, gue capek. Gue enggak bisa terus terusan hidup dengan kondisi keluarga gue yang kayak gini. Mereka kayak bukan keluarga, mereka lebih mirip musuh. Oma ngehina Mama, gue enggak bisa milih salah satu dari mereka, gue enggak bisa benci salah satu dari mereka. Gue cuma mau keluarga gue kayak keluarga lain, Keel. Gue enggak butuh semua kekayaan ini kalau cuma bikin hidup gue tersiksa dengan terlalu banyak tekanan dan tuntutan. Gue pengen hidup biasa aja, asal keluarga gue harmonis. Lo paham maksud gue?" Anraka berujar panjang lebar dengan napas yang terengah engah dan mata yang basah.
"Gue enggak tau gimana caranya jadi lo tapi lo harus tau kalau gue bakal selalu ada di sini buat lo. Jadi, jangan lari. Kita lewatin ini sama sama. Oke?" balas Keelua, tanpa ada intimidasi sedikit pun.
"Gue cuma capek, Keel. Gue cuma capek."
Anraka akhirnya tenggelam ke dalam pelukan Keelua, menangis sejadi jadinya dan memeluk tubuh gadis itu erat erat. Entah ke mana lagi ia harus pulang, rasanya hanya Keelua lah yang bisa ia jadikan rumah ternyaman.
Tanpa perlu berpura pura, tanpa perlu menjadi kuat, Keelua akan selalu bersamanya. Apa pun yang terjadi.
"Lo bisa nangis semau lo, selama apa pun yang lo butuhin. Enggak akan ada yang ngelarang lo, termasuk gue."
Keelua mengusap punggung Anraka yang gemetar, ia memejamkan mata karena rasa sakit yang Anraka rasakan seolah olah bisa ia rasakan juga.
Bagaimana pun juga, keduanya sudah menjadi pasangan yang abadi dan berjanji akan menjadi selamanya.
Keelua memang tidak pernah mengatakan bahwa ia akan bisa selalu menemani Anraka hingga akhir tapi ia ingin sampai akhir bersama pemuda itu.
Dengan segenap cinta yang Keelua punya, ia ingin membuktikan pada Anraka bahwa tidak ada yang bisa mengalahkan sebuah ketulusan.
"Maafin Mama, Keel."
Dari arah belakang, muncul lah sosok wanita yang sama seperti Anraka, berderai air mata. Keelua menoleh dan mendapati Regina sedang menatap ke arahnya dan juga Anraka.
Buru buru Anraka menghapus air matanya lantas mengangkat kepalanya dan ikut menatap sang Ibu. Hatinya terasa seperti diiris begitu ia menatap mata sembab milik Ibunya, ada perasaan gagal dalam hati pemuda itu.
"Mama? Mama kenapa minta maaf?" tanya Keelua, melepaskan pelukan Anraka kemudian beralih mendekat ke arah Regina.
"Maafin Mama, sayang. Raka, maafin Mama. Ini semua gara gara Mama, ini semua salah Mama. Mama enggak tau kenapa Oma Arum sangat benci sama Mama padahal Mama sudah berusaha ngelakuin yang terbaik supaya Mama bisa diterima. Begitu pula dengan Angel, Angel enggak punya salah apa apa. Angel bahkan selalu mencoba menjadi cucu yang baik.
Tolong Mama, bantu cari Angel." Regina menangis sesunggukkan, matanya sudah sangat merah akibat menangis.
"Ini bukan salah Mama, enggak ada yang salah di sini. Mama enggak perlu minta maaf lagi," balas Keelua.
Regina menggeleng, "Mama udah nyeret kalian berdua ke dalam masalah pribadi Mama dan Oma Arum. Yang harusnya dapat hinaan itu Mama, Keel, bukan kamu. Tapi gara gara ngebelain Mama, kamu dapat hinaan yang seharusnya enggak kamu dengar, sayang. Sekali lagi maafin Mama," ucap Regina lantas memeluk tubuh Keelua.
"Bukan salah Mama, bukan salah Mama." Hanya kalimat itu yang terus Keelua ulang.
Awalnya Keelua tidak ingin menangis, bahkan saat berhadapan dengan Oma Arum tadi, ia sama sekali tidak ingin mengeluarkan air matanya sedikit pun karena ia tau bahwa jika ia menangis, Oma Arum akan menganggapnya lemah dan memperlakukannya seperti Regina.
Keelua tidak mau itu terjadi makan dari itu ia berusaha setegar mungkin walaupun semua kata yang keluar dari mulut Oma Arum bagaikan belati yang menusuk jantungnya.
Tapi saat Regina memeluknya seperti ini, Keelua merasakan sesuatu yang membuatnya ikut merasa sedih. Masih dengan tegar ia menahan air matanya tapi tetesan air mata itu tak mampu ia kendalikan lagi.
Keelua membalas pelukan Regina dengan lebih erat, ia membiarkan Ibu mertuanya yang baik itu untuk menangis sejadi jadinya, mengeluarkan semua tangis yang sudah lama di pendam dan apa pun yang membuatnya harus berpura pura.
Hidup dalam kepurapuraan memang menyakitkan tapi inilah hidup, terkadang berpura pura dibutuhkan agar mampu tetap bertahan.
Regina hanya memperhatikan kedua perempuan yang sama sama ia cintai itu, rasanya senang karena sekarang ia punya seseorang yang akan selalu menemaninya tapi Anraka pun sadar bahwa sekarang ia punya tugas baru. Yaitu, menjaga Keelua dan memastikan bahwa gadis itu selalu bahagia saat bersamanya.
Sudah tuntas janji Keelua untuk selalu menemani suka duka Anraka, kini Anraka yang harus memenuhi janjinya. Meskipun tidak ada yang sempurna di muka bumi ini, tapi Anraka akan mengusahakan yang terbaik dari sekarang.
Bagaimana pun keadaannya, Anraka akan melindungi orang orang orang yang mencintainya dan yang ia cintai.