
"Ikut gue," kata Keelua seraya menarik tangan Anraka untuk ikut bersamanya.
Anraka pasrah saja, ia pun tak bertanya mau dibawa ke mana oleh Keelua.
"Mereka bego banget mau ketipu, mana ada hantu pakai celana." Keelua terkekeh sambil menertawai teman teman Anraka yang sangat gampang ditipu.
"Sapatau wujudnya lain, mana mereka tau," sahut Anraka seadanya.
"Berarti mereka emang bego." Keelua mendecih.
"Tapi bagus mereka bego, kalau mereka pinter, lo udah ketahuan tadi," ujar Anraka.
"Bener juga," balas Keelua seraya manggut manggut.
Gadis itu membawa Anraka ke sebuah ruangan yang tidak pernah pemuda itu tau bahwa ruangan tersebut ada di dalam rumahnya ini.
Bagaimana mungkin Keelua bisa mengetahui bahwa ada ruangan yang tersembunyi di sini?
"Ini ruangan apa?" tanya Anraka begitu ia melangkah masuk ke dalam ruangan itu.
"Lo enggak bisa lihat? Ini kayaknya kamar tamu, atau kamar tidur lain cuma agak ketutupan sekat jadi enggak keliatan. Masa lo enggak tau kalau ruangan ini ada di rumah lo?" tanya Keelua.
Anraka menggeleng, "Gue enggak tau, soalnya pas gue beli rumah ini, gue enggak ngelihat sampai ke dalam dalamnya. Cuma lantai bawah sama kamar utama aja," jelasnya.
"Gampang banget lo beli rumah enggak ngecek semuanya dulu, orang banyak uang emang beda," cecar Keelua.
"Bukan gampang, cuma malas aja," balas Anraka.
"Sama aja."
Anraka menelisik seluruh sudut ruangan itu, kamar tersebut sangat luas tapi tidak seluas kamar utama yang ia tempati bersama Keelua. Ada toilet dan kamar mandinya juga, walk in closet mini juga ada.
Kamar ini sangat bagus.
"Andai Angel tinggal di sini, dia pasti bakal nempatin kamar ini," kata Keelua.
"Oh, iya, ya. Apa kita ajak aja Angel ke sini?" tanya Anraka.
Keelua berbalik dan menoleh ke arah Anraka.
"Lo mau ngajak Angel tinggal di sini beneran? Kayaknya kita harus ngomong sama Mama dan Papa dulu, enggak mungkin kita ajak Angel gitu aja. Angel juga belum tentu mau, 'kan?"
"Angel pasti mau. Adik gue itu udah terlalu lama tertekan, sampai aksi percobaan bunuh diri waktu itu, Mama milih buat kerja di rumah buat jagain dia." Anraka menghela napas panjang.
Pemuda itu berjalan menuju jendela kamar tersebut, membukanya lantas menatap langit yang tampak sangat cerah malam ini. Tiba tiba saja pikirannya melayang dan mengingat adiknya, apa yang sedang Angel lakukan sekarang? Apa gadis kecil itu baik baik saja?
"Angel pasti baik baik aja sekarang, ada Mama sama Papa yang jagain dia. Kita juga selalu jagain dia dari jauh, lo tenang aja," ujar Keelua seraya mengelus punggung tegap Anraka.
"Gue cuma enggak tenang, gue takut dia kenapa kenapa. Dia pasti udah ngelewatin banyak kesulitan dan mendem itu sendirian selama ini sampai pernah nyoba buat bunuh diri, gue udah gagal jagain dia. Ketakutan ini selalu aja ngehantuin gue. Apa gue terlalu cuek sama orang orang di sekitar gue, ya?
Sudah sangat lama Anraka ingin mengeluarkan semua keresahan keresahan yang ada di dalam kepalanya dan juga hatinya. Selama ini, pemuda itu tidak punya tempat untuk berbagi isi hati dan apa pun tentang perasaan.
Teman temannya hanya ia jadikan salah satu sumber kebahagiaan yang akan membuatnya merasa tidak punya masalah.
Sekarang, saat Keelua sudah ada di sini, di sampingnya dan menemani segala suka dukanya, Anraka sadar bahwa akhirnya ia punya seseorang untuk mendengarkannya.
Hanya Keelua yang mendengarkannya. selalu
"Lo enggak salah, ini semua emang udah takdir. Lo enggak gagal jadi kakak, lo enggak gagal jagain Angel. Buktinya lo yang nyelamatin dia waktu itu, sekarang Angel juga udah enggak pernah nyoba buat bunuh diri atau apa pun yang bisa nyakitin dia. Angel udah lebih bahagia apalagi ngelihat lo yang mulai berubah, mulai terbuka."
Semua kata kata positif dan tidak menghakimi terus Keelua berikan kepada Anraka, semua semangat dan harapan terus Keelua kasih untuk suaminya. Yang pemuda itu butuh adalah dukungan dan kasih sayang yang sangat jarang ia dapatkan dari keluarganya.
Keelua tau itu, dirinya yang berasal dari keluarga biasa saja namun dilimpahkan kasih sayang sejak ia lahir tau bahwa Anraka hanya kekuarangan perhatian dan rasa nyaman di dalam keluarganya.
Untuk anak, kasih sayang dan perhatian dari keluarga dan orang tua adalah yang paling penting. Tidak peduli sekaya atau semiskin apa pun sebuah keluarga, yang paling mereka butuhkan adalah kasih sayang di dalam tempat yang seharusnya penuh kasih sayang yang orang orang sebut dengan rumah.
"Makasih karena lo ada di sini, makasih karena lo selalu mau ada di samping gue. Ini udah lebih dari cukup buat bikin gue ngerasa kalau gue ini berharga buat seseorang," ucap Anraka, memandang mata Keelua begitu lekat.
Keelua tersenyum manis, ia akan membuat Anraka bahagia dengan caranya sendiri seperti bagaimana pemuda itu tetap mempertahankan hubungan mereka dan menentang keluarganya.
"Sejak kita milih buat saling jatuh cinta, kita udah janji kalau apa pun yang terjadi, kita udah saling memiliki satu sama lain."
Anraka maju satu langkah, mengikis jarak yang menghalangi mereka berdua, tanpa memutuskan kontak matanya dengan Keelua.
"Gue sayang sama lo, Keel."
Keelua jatuh ke dalam dekapan Anraka, tenggelam di dalam pelukan hangat itu hingga membuatnya terasa seperti di hipnotis.
"Gue juga sayang sama lo, Raka." Keelua memejamkan matanya, merasakan tiap aliran darahnya yang memompa jantungnya hingga ia mengalami debaran yang begitu hebat.
Entah apa yang terjadi tapi untuk beberapa menit, Keelua merasa ia sedang berada di tempat paling nyaman dan aman.
Cinta memang selalu datang di waktu yang tepat, tidak ada yang salah dari mencintai, untuk beberapa orang yang gagal dalam cinta, bukan cinta itu yang salah tapi mereka menaruh hati pada orang yang tidak tepat.
Beberapa orang memang tidak bisa memilih kepada siapa mereka akan jatuh cinta tapi semua orang bisa memilih pada siapa mereka akan berharap dan menggantungkan perasaan mereka.
Sebuah hal yang harus dipahami, cinta tidak memaksa dua orang untuk saling memiliki. Ada beberapa orang yang dipertemukan untuk saling mendewasakan, ada orang dipertemukan untuk menjadi pelajaran dan ada orang yang dipertemukan untuk disatukan.
Bagaimana pun akhir pertemuan, semuanya akan membawa kesan dan kisah masing masing.
Jangan menyesali pertemuan apa pun dalam hidup, pelajaran dan pendewasaan bisa kita temukan di mana saja dan kapan saja, kita tidak akan tau di mana dan kapan pelajaran hidup paling berharga akan kita temukan.
"Gue yakin kita bisa sama sama yakinin Oma Arum kalau yang Oma pikirin itu enggak bener."
...****************...
"Lo belum mau tidur?" tanya Anraka pada Keelua.
"Belum," jawab Keelua singkat.
Gadis itu masih bermain ponsel, entah apa yang ia lakukan tapi dari pengamatan Anraka; ia sedang menonton video atau semacamnya.
"Lo tiap hari kerjaaannya begadang mulu, biar apa? Udah tau begadang itu enggak baik, buat apa masih dilakuin, sih? Aneh banget jadi orang, padahal kalau gue-"
"Ada apa, nih? Tumben banget lo ngoceh ngoceh," ujar Keelua, memotong omelan Anraka yang sedang lancar lancarnya.
"Enggak ada. Emang lo doang yang bisa ngoceh?" tanya Anraka balik.
Keelua memutar bola matanya malas, apa apaan itu? Perempuan sudah ditakdirkan untuk mengoceh, laki laki tidak diciptakan untuk melakukan hal yang sama.
"Diem deh, lo tidur duluan aja," kata Keelua sambil membelakangi Anraka yang ada di sebelahnya.
"Enggak bisa kayak gitu, dong. Kemarin kemarin lo marahin gue gara gara main game pas malam, katanya lo enggak mau kalau gue kesiangan, sekarang lo begadang kok boleh? Enak aja, pilih kasih," protes Anraka.
"Siapa suruh lo mau di suruh suruh, lagian gue pilih kasih sama diri gue sendiri, jadi suka suka gue, dong. Wle," balas Keelua sambil mengeluarkan lidahnya untuk mengejek Anraka.
"Lo bener bener, ya."
Anraka geram, kemudian menarik tubuh Keelua hingga si gadis berbalik dan mencoba mengambil ponsel gadis itu. Dengan sekuat tenaga Keelua menghindar dari Anraka dan mempertahankan ponselnya tapi itu bukanlah sebuah hal yang mudah.
"Apaan, sih?! Lepasin hape gue, jelek!" pekik Keelua sebal.
"Lo orang pertama yang ngatain gue jelek, dasar gendut!" balas Anraka tak ingin kalah.
Mata Keelua melebar, gadis itu bangkit dan berusaha lebih keras menarik ponselnya.
"Lepasin!"
"Enggak mau, lo harus tidur!"
Aksi tarik menarik pun tak dapat dihindari, Keelua dan Anraka membuat ranjang yang mereka tempati bergoyang saking gelisahnya mereka.
"Gue hitung sampai tiga, kalau lo enggak ngembaliin hape gue, gue jambak lo!" ancam Keelua pada Anraka.
"Jambak aja, gue enggak takut," tantang Anraka.
Keelua semakin kesal, Anraka jelas tau bahwa apa yang baru saja Keelua lakukan hanyalah ancaman karena gadis itu tidak ada bisa menggapai Anraka dengan tangan kecil dan tubuh pendeknya itu.
Sekarang aja Keelua masih berusaha menarik ponselnya dengan sekuat tenaga, memakai kedua tangannya sampai ia berkeringat di dalam ruangan ber-AC. Sementara itu, Anraka hanya menarik ponsel gadis itu dengan satu tangan, tidak ada gerakan tubuh yang berlebihan hanya mengimbangi Keelua saja.
"Dapat!"
"Ih, sini!"
Tarikan Keelua akhirnya terlepas, Anraka langsung mengamankan ponsel gadis itu. Sambil tersenyum senyum Anraka mengejek Keelua yang merajuk. Bibir gadis itu mencebik dengan kedua pipi yang memerah padam, tingkahnya sangat lucu.
Keelua berbalik, membelakangi Anraka yang masih cekikikan.
"Ya elah, ngambek lo? Gitu doang ngambek, entar lo makin mungil, mau?" ujar Anraka.
Keelua tidak menjawab, ia melipat kedua tangannya di depan dada. Sama sekali tidak ingin memandang wajah Anraka yang menurutnya sangat menyebalkan.
Karena tak ingin ambil pusing, Anraka kembali membaringkan tubuhnya ke atas kasur dan menyimpan ponsel Keelua di bawah bantalnya. Pemuda itu berencana untuk mengembalikan ponsel tersebut kepada pemiliknya besok pagi.
Anraka mulai memejamkan mata, ia akan segera tidur tetapi tiba tiba saja Keelua mendekat ke arahnya dan naik ke atas tubuh pemuda itu. Anraka membuka mata, kedua matanya langsung melebar dan benar benar menemukan Keelua sudah duduk di atasnya.
"Keelua, lo ngapain?!"
"Balikin hape gue!"