
"Lo bisa pergi, enggak?!"
Anraka mendorong tubuh Isabella yang terus mendekat ke tubuhnya.
"Kamu kenapa, sih, kok enggak mau dekat dekat sama aku? Aku kan pacar kamu!"
Anraka memilih untuk tidak menghiraukan gadis itu lagi, ia kembali menenggak minuman yang ada di depannya langsung dari botol tanpa memperhatikan gadis berisik di sebelahnya.
Tiba tiba Gibran datang dan langsung duduk di sebelah Bumi.
"Dari mana lo?" tanya Bumi pada Gibran.
"Dari sana, tadi ketemu temen," kata Gibran.
Bumi menarik senyum tipis lalu mencicipi alkohol yang masih tersisa di gelasnya, "Temen apa temen?" godanya.
"Temanlah! Bagi, dong!" Gibran menunjuk botol minuman yang ada di atas meja.
Bumi pun meraihnya lalu memberikan botol itu langsung pada Gibran, "For the winner!" serunya.
Keempat pemuda yang ada di sana pun melakukan 'cheers' dengan botol dan gelas meja. Anraka dan Gibran menggunakan botol, sedangkan Ganta dan Bumi menggunakan gelas.
Lalu mereka sama sama meminum minuman keras itu.
"Lah, udah teler si anjir." Gibran menoleh ke arah Romeo yang sudah tersandar lungĺai di atas sofa.
"Biasalah. Dia kecapean abis main main sama cewek cewek sini," ujar Lion yang juga tengah sibuk dengan gadisnya, ia kini sudah dengan gadisnya, ia kini sudah berada di meja sebelah.
Gibran tertawa pelan lalu atensinya beralih kepada Isabella yang tampak mabuk berat di sebelah Anraka.
"Cewek lo kenapa tuh? Udah mabuk banget kayaknya," kata Gibran pada Anraka.
"Gue enggak kenal," balas Anraka singkat.
Isabella yang ternyata masih mendengar obrolan Anraka dengan teman temannya langsung merengek, "Kok kamu gitu, sih, Isabella yang ternyata masih mendengar obrolan Anraka dengan teman temannya langsung merengek, "Kok kamu gitu, sih, sayang?"
Anraka mendecak tanpa melirik gadis itu.
Tiba tiba Isabella bangkit dan mencoba untuk duduk di atas pangkuan Anraka, pemuda itu awalnya diam karena sudah jengah dengan sikap Isabella yang sudah mirip seperti gadis yang tidak punya malu.
"Anjir, lo mau ngapain, Bel? Hargaiin jomblo, dong." Gibran ikut kaget saat melihat dengan tergesa gesa Isabella memeluk tubuh Anraka dari samping dengan erotis.
"Aduh, kasian si Ganta, otaknya jadi teracuni," ujar Bumi, ia tampak biasa saja. Bumi sudah tau betapa nakalnya Isabella.
"Sayang.."
Isabella terus saja memanggil Anraka dengan sebutan itu sejak tadi, benar benar membuat Anraka mual.
"Kalian bisa tolong gue usir nih cewek, enggak?" tanya Anraka pada teman Lion yang duduk di sebelah meja mereka.
Lion tertawa, "Kalau lo enggak mau, kasih ke teman gue aja, Rak. Mereka pasti mau kok." Lalu tersenyum miring.
"Gue enggak mau! Gue maunya sama Raka! Iya, 'kan, sayang?" seru Isabella dengan suara parau khas orang yang sedang mabuk.
Gadis itu juga sempat ingin memeluk tubuh Anraka namun pemuda itu dengan cepat menepisnya.
"Raka, main sama aku, yuk!"
Gibran bersorak ramai sambil bertepuk tangan ketika mendengar ajakan gila dari Isabella. Ia tidak menyangka bahwa Isabella bisa mengatakan itu di depan Anraka. Benar benar tidak waras.
Di dalam ruangan yang remang dan dipenuhi dentuman musik yang keras ini, Anraka merasa ingin sekali membuang Isabella sejauh mungkin. Ia merasa sangat malu dengan tingkah murahan Isabella yang orang orang anggap sebagai pacarnya.
"Turun dari pangkuan gue sekarang atau gue bakal lempar lo keluar dari sini?" ancam Anraka sembari menekan semua kata katanya.
Aura gelap sudah bisa dirasakan oleh semua orang yang ada di sekitar Anraka, akan berbahaya jika Isabella tidak segera menjauh dari pemuda itu.
"Jangan ngajak si Raka dulu, Bel. Dia lagi enggak mau tuh kayaknya," ujar Bumi.
Isabella malah mendengus kesal tanpa mendengarkan perkataan Bumi.
"Cepatan turun, woi! Jangan cari masalah sama si Raka," imbuh Gibran.
Lagi lagi Isabella mendengus kesal lalu akhirnya berdiri dari pangkuan Anraka. Dengan terhuyung huyung seperti ingin jatuh, ia tampak tak bisa mengendalikan tubuhnya.
"Udah parah nih cewek," cicit Ganta.
Karena tidak bisa berdiri lebih Karena tidak bisa berdiri lebih lama, tubuh Isabella pun jatuh terduduk di atas sofa dan membuat Romeo yang tertidur di sofa itu juga terbangun dari tidurnya.
"******!" umpat Romeo.
"Bisa bisanya lo ketiduran di tempat beginian, anjir. Gue aja enggak bisa ngantuk kalau lagi di tempat berisik kayak gini." Gibran geleng geleng kepala melihat Romeo yang tampak sangat pulas saat tertidur tadi.
"Capek gue, Gib." Romeo masih memejamkan matanya yang terasa berat.
"Kurang ajar lo," maki Gibran.
Bumi yang ada di sebelah Gibran hanya bisa tertawa ketika menyimak obrolan tidak jelas kedua temannya.
"Bisa bisanya lo nolak gue!" Isabella tiba tiba berteriak.
Gibran tersontak kaget, pemuda itu langsung mengelus dadanya.
"Kaget gue, anjir," kata Bumi.
Walau pun suara musik yang ada di dalam ruangan itu sangat keras, tetapi teriakan Isabella masih mampu membuat kedua pemuda itu terkejut.
"Lo bakal nyesel karena udah tolak ajakan gue, Anraka!" teriak Isabella lagi.
Sedangkan Anraka hanya sibuk dengan ponselnya, lalu sesekali menenggak minumannya.
Tampak betul bahwa Anraka tidak peduli sama sekali dengan gadis bergaun merah di depannya itu, bahkan sejak tadi Anraka tidak pernah menatap wajah Isabella semenit pun.
"Udah, cantik. Jangan marah marah terus."
Seorang pemuda datang lalu duduk di sebelah Isabella. Sekarang gadis itu berada di tengah Romeo dan pemuda asing itu.
Mata Gibran dan Bumi terbelalak ketika mendengar pertanyaan dari pemuda itu, semua mata pun melirik ke arah Anraka.
Anraka yang merasa diperhatikan pun mendongak lalu tanpa disangka menaikan alisnya ke arah pemuda tadi, memberi tanda bahwa ia mengizinkan.
"Thanks, bro."
"Lo siapa, bro?" tanya Gibran.
"Gue temannya Lion, salam kenal, ya." Pemuda itu menyunggingkan senyum miring.
Gibran manggut manggut.
"Kurang ajar lo, Anraka! Lihat aja! Gue bakal bikin lo panas! Gue bakal bikin lo cemburu!" Isabella masih terus memaki dan berteriak tidak jelas namun Anraka sama sekali tidak peduli.
Gibran terkekeh, "Peduli aja enggak, gimana mau cemburu?" cibirnya.
"Lo ngomong mulu dari tadi." Bumi menyenggol lengan Gibran untuk memberi isyarat agar pemuda itu diam.
"Si Ganta enggak salah bilang si Isabella murahan." Romeo yang masih memejamkan mata ikut bersuara.
"Diam aja lo, kampret," balas Gibran.
"Minum lagi," ajak Anraka.
Keempat pemuda itu pun mengangkat botol dan gelas mereka lagi. Mungkin karena sudah sering minum minuman yang beralkohol, jadi keempat pemuda itu sudah kebal, rasa mabuk mereka tidak berlebihan. Ganta memilih untuk tidak terlalu banyak minum dikarenakan jika keempat temannya mabuk berat, paling tidak ia bisa menyetir mobil untuk pulang.
Pemuda itu hanya minum sedikit demi sedikit, tidak seperti ketiga temannya yang minum tanpa berpikir.
Si pemuda asing yang katanya teman Lion tadi sudah mengangkat tubuh Isabella untuk naik ke atas pangkuannya, lebih parahnya, mereka melakukan itu di meja geng EX tanpa sedikit pun rasa malu.
Kedua orang gila itu tampak sangat menikmati, apa lagi Isabella yang mau saja diajak oleh pemuda asing hingga berkicau begitu keras tanpa henti.
Gibran membantu Romeo yang setengah sadar berjalan dengan begitu sabar, pemuda mabuk itu beberapa kali hampir terjatuh karena tersandung kakinya sendiri.
"Gue kayaknya enggak mungkin pulang, bisa abis gue dimarahin." Anraka berbisik pada Bumi.
"Ya udah, lo nginep di rumah gue lagi aja."
"Oke."
...****************...
Dalam perjalanan pulang, Bumi dan Anraka hanya diam dan tenggelam dalam pikiran mereka masing masing. Tidak ada pembahasan yang menarik dan malam ini memang begitu sepi dan mampu membuat siapa saja terdiam dan suara suara dari kepala mulai menguasai diri.
Bumi menoleh sedikit, ia mendapati pemuda yang memiliki bau alkohol menyenggat itu hanya diam dan menatap ke depan, tatapannya kosong ke arah jalanan.
"Rak?" panggil Bumi.
"Hm." Anraka membalas dengan gumaman.
"Gue mau nanya sesuatu, boleh enggak lo jawab jujur?" tanya Bumi hati hati.
"Hm," balas Anraka lagi sambil mengangguk anggukan kepalanya.
"Lo gimana sama Isabel sekarang? Lo beneran sayang enggak sih sama dia?" Bumi menatap lurus ke depan namun pendengarannya ia fokuskan pada Anraka, ia tak ingin kelewatan satu kata pun dari pemuda itu.
Sekarang Anraka sedang berada di bawah pengaruh alkohol, bisa Bumi jamin pasti ia akan menjawab pertanyaan dengan jujur dan tidak ada kebohongan sama sekali.
"Enggak. Gue sebenarnya enggak pernah punya perasaan sama dia cuma dulu karena gue kasian dan biar dia enggak neror gue lagi, gue terpaksa terima ajakan dia buat pacaran," jelas Anraka singkat.
"Jadi dia yang nembak, ya?" tanya Bumi.
Anraka angguk angguk kepala, kesadarannya belum sepenuhnya terkumpul.
"Kalau lo enggak beneran sayang sama Isabel, gimana sama Keelua?" Lagi lagi Batara memberi pertanyaan yang tidak dimengerti maksudnya. Kemana kah arah pembicaraan pemuda ini? Untung saja Anraka sedang tidak sadar makanya pemuda itu bisa menjawab dengan santai tanpa menanyakan mengapa pertanyaan ini ditanyakan padanya.
"Sama aja, cuma Keelua beda."
Dahi Bumi mengerut, "Sama aja tapi beda? Kalau sama berarti enggak beda dong, Rak." Lalu mendengus pelan.
Terdengar Anraka terbatuk batuk beberapa kali lantas ia mendongak sembari menyandarkan kepalanya di kursi mobil Bumi. Udara sejuk dari AC mobil membuat pemuda itu mengantuk, ia benar benar akan tepar setelah ini dan sudah pasti tidak akan ke mana mana selain tidur di rumah Bumi, persetan dengan sekolah.
"Kalau sama Keelua, gue enggak ngerasa terganggu cuma kadang kesel aja karena dia selalu ngurusin urusan gue. Gue tau Oma gue yang nyuruh dia, tapi kalau dia mau, dia bisa nolak kok. Dianya aja yang mau deket deket sama gue, emang siapa sih cewek di sekolah yang enggak naksir sama gue?" tutur Anraka.
Bumi memutar bola matanya malas, bahkan dalam keadaan mabuk saja temannya ini masih bisa memuji dirinya sendiri.
"Jadi, menurut lo ada peluang enggak lo bakal suka sama Keelua "Jadi, menurut lo ada peluang enggak lo bakal suka sama Keelua nantinya?" tanya Bumi lagi, pemuda itu memanfaatkan kesempatan emas ini sebaik mungkin. Kapan lagi ia bisa bertanya pada Anraka tentang hal hal semacam ini?
Anraka mulai memejamkan matanya, "Enggak tau, gue enggak bisa nentuin masa depan tapi gue harap enggak. Gue terlalu kasar sama dia sekarang, enggak mungkin juga gue sama dia bisa saling suka."
"Itu menurut lo, tapi gimana kalau takdir maksa lo sama Keelua buat bareng bareng. Dengan rasa kesal lo ke dia yang sekarang, lo tetap bakal nerima takdir itu atau enggak?" Bumi menoleh ke arah Anraka, ia ingin sekali mendengar jawaban dari mulut pemuda itu langsung.
"Mungkin aja," sahut Anraka.
Bumi terdiam.
.
.
.
.
.
.
.
.