BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
14. Pawang Anraka



"Vano?! Lo enggak apa apa?"


Keelua menerobos kerumunan lalu menarik tubuh Elvano sekuat mungkin agar menjauh dari Anraka.


Masih dengan deru napas tidak terkontrol, Elvano hanya membalas pertanyaan Keelua dengan anggukkan pelan namun matanya masih menatap tajam ke arah Anraka.


"Udah. Ayo, gue obatin." Keelua menarik tangan Elvano pergi dari tempat itu.


"Woi!" Anraka berteriak nyaring. "Gue belum selesai sama dia," ujarnya.


Tanpa mempedulikan siapa pun, Keelua tetap menarik tangan Elvano yang sudah babak belur karena perkelahiannya dengan Anraka barusan.


Semua bingung dengan tingkah Keelua kali ini, biasanya ia akan marah marah kepada Anraka terlebih dahulu sebelum pergi. Atau minimal akan berteriak pada pemuda itu namun kali ini, gadis itu tidak mengatakan apa pun pergi begitu saja.


Benar benar aneh.


"Eh, itu Keelua kok enggak marahin si Raka dulu? Minimal nimpuk pakai sepatu kek." Gibran terus memandangi punggung Keelua yang menjauh.


Anraka yang masih berdiri di tempatnya pun tampak memperhatikan Keelua yang melangkah pergi bersama Elvano.


Anraka menyugar rambutnya frustrasi lalu berbalik dan menerobos kerumunan lantas pergi dari lapangan.


Gibran menggeleng pelan, seperti ada yang kurang jika Keelua dalam satu hari tidak memarahi atau meneriaki Anraka yang setiap hari pasti melakukan adu jotos dengan siapa saja.


Karena tak tahu harus melakukan apa, akhirnya Gibran dan semua orang yang ada di sana pun membubarkan diri.


...****************...


"Lo enggak apa apa?"


"Sakit."


Dengan telaten Keelua membersihkan dan mengobati luka serta legam yang ada di wajah Elvano.


Pemuda itu sesekali meringis pelan karena merasakan perih dari sentuhan yang dilukanya. Keelua berikan


"Lo lagi berantem sama Anraka?" Elvano pun akhirnya membuka obrolan.


"Emang kapan gue akur sama dia?" balas Keelua.


Elvano menghembuskan napas pelan, "Ya tapi aneh aja pas lo enggak marah marah ke Raka pas dia abis berantem gitu."


"Gue enggak peduli."


Akhirnya Keelua pun bangkit setelah selesai mengobati luka Elvano, tanpa mengatakan apa pun lagi, gadis itu pun melenggang pergi dari ruang kesehatan meninggalkan Elvano sendirian.


Begitu selesai menutup pintu, Keelua mendadak terkejut ketika melihat empat orang pemuda berdiri di depan jalannya. Keelua memutar bola matanya malas lalu segera berbalik untuk mengambil jalan lain.


Namun salah satu dari pemuda itu kembali menghalanginya.


"Apaan?" tanya Keelua malas.


"Lo kenapa, Keel?"


"Enggak ada urusannya sama lo."


Keelua hendak melangkah namun Romeo tetap menghentikan langkahnya.


"Minggir, gue mau lewat."


"Lo harus dengerin kita dulu."


"Gue lagi malas denger apa pun."


Bumi pun datang menghampiri Keelua dan Romeo.


"Keel, dengerin kita dulu," ujar Bumi.


"Kita mau tau alasan kenapa lo tiba tiba berubah kayak tadi, biasanya kan lo marahin si Anraka, tadi kok enggak?"


Mimik wajah Keelua berubah jengah, "Kalian cuma mau nanyain itu doang?"


Romeo dan Bumi mengangguk pelan.


"Enggak apa gunanya, sih? Enggak penting banget."


"Kita enggak mau si Raka kehilangan pawang, Lua." Gibran menimpali.


"Pawang? Pawang buaya?" Keelua berdecih.


Gibran bergumam sebentar, "Si Raka bukan buaya, sih. Lebih tepatnya singa."


Keelua hampir ingin tertawa mendengar itu namun suasana hatinya yang benar benar buruk membuatnya mampu menahan itu.


"Gue cuma lagi males, itu aja."


Tangan Bumi terangkat lalu memegang pergelangan lengan bawah Keelua. Dahi pemuda itu berkerut ketika merasakan tubuh gadis itu sangat hangat.


"Keel, lo masih sakit, ya?" tanya Bumi.


Keelua menggeleng, "Enggak. Gue enggak apa apa."


"Gue cuma lagi enggak mau diganggu aja. Tolong, ya. Jangan ikutin gue." Gadis itu pun melepaskan tangan Bumi dari lengannya lalu beranjak keempat pemuda tadi di depan ruang kesehatan.


"Bisa mati kita kalau si Keelua enggak mau pawangin si Raka lagi. Cuma dia yang bisa bikin si Raka jinak." Gibran bersuara lagi.


"Jinak jinak, emangnya ular?" sahut Romeo.


"Udah gue bilang tadi, si Raka tuh singa," balas Gibran.


"Si Keelua kayaknya belum sembuh total, jadi tingkahnya kayak gitu," sambung Bumi.


"Atau si Raka ada salah sama si Keelua. Makanya tuh cewek jadi bete." Ganta akhirnya ikut dalam obrolan.


"Iya, sih. Kayaknya gitu." Romeo membenarkan ucapan Ganta.


"Eh, Keelua!"


Tampak di ujung koridor Keelua jatuh pingsan tak sadarkan diri, keempat pemuda itu pun lari menyusul gadis itu namun tiba tiba saja seorang pemuda datang dan mengangkat tubuh gadis tersebut.


"Raka?"


Romeo, Gibran, Bumi dan Ganta pun mengikuti langkah Anraka yang tidak membawa Keelua ke ruang kesehatan, melainkan menuju ke luar sekolah atau lebih tepatnya ke parkiran mobil.


Sudah menjadi rahasia umum bahwa Keelua memang sangat dekat dengan semua anggota EX. Walau pun gadis itu suka mencari masalah dengan si ketua geng, yaitu Anraka namun Keelua tetaplah bagian dari mereka.


Seperti yang dikatakan Gibran tadi, Keelua adalah pawang Anraka. Sebenarnya bukan karena Keelua sepenuhnya, melainkan karena Oma Arum yang menyuruhnya.


"Gue pinjem mobil lo, Bran."


Gibran mengangguk lalu memberikan kunci mobilnya pada Anraka. Tanpa basa basi, Anraka pun memasukkan tubuh Keelua ke dalam mobil lalu pergi dari sekolah secepat mungkin.


"Jadi anak pemilik yayasan mah beda, ya. Mau pergi tinggal pergi aja," ucap Romeo begitu Anraka keluar dengan begitu mudah dari pagar.


Gibran terkekeh seraya menepuk pundak Romeo, "Lo kan anak kepala sekolah. Lo juga bisa kali," ujarnya.


"Oh. iya. ya. Lupa."


...****************...


"Halo, Ravi."


Seorang gadis kecil datang dan langsung duduk di sebelah anak laki laki yang tampak sedang membaca buku komik.


Ravi menoleh, ia mendapati Angel sedang tersenyum ke arahnya.


"Kenapa?"


"Enggak apa apa. Lagi apa?"


"Baca."


Angel mengangguk pelan, "Komik,ya?"


Giliran Ravi yang mengangguk.


"Udah jam istirahat nih, emang Ravi enggak mau makan dulu?"


"Nanti aja."


Bibir Angel maju, "Kenapa?"


"Enggak laper." Mata Ravi tidak berpindah dari komik yang sedang ia pegang. Bahkan anak laki laki itu tidak menatap Angel sama sekali.


"Oh, gitu, ya."


Kemudian hening. Tidak ada yang bersuara lagi, namun karena Angel tidak suka keheningan seperti ini akhirnya gadis kecil itu kembali mencari topik agar bisa mengobrol dengan Ravi lagi.


"Oh, iya. Kak Keelua gimana kabarnya?"


"Sakit."


"Hah?"


"Kakak gue sakit." Ulang Ravi.


"Kak Keelua sakit? Sakit apa?"


"Demam."


"Jadi enggak ke sekolah ya hari ini?"


"Ke sekolah."


"Lho, katanya sakit kok sekolah?"


"Dia yang mau."


Angel menghela napas pelan, "Kasian banget kak Keel. Aku mau jengguk ah. Boleh enggak, Rav?"


"Boleh."


"Ya udah, nanti kita pulang bareng, ya?" tanya Angel.


"Enggak."


Angel ingin mengeram kesal karena sejak tadi Ravi selalu saja membalas pertanyaannya dengan satu kata atau dua kata, namun karena ia sudah sering menghadapi manusia dingin seperti Ravi, jadi Angel tidak akan mengeluh.


Lagi pula, Anraka sang kakak lebih dingin dari pada Ravi. Bedanya, Ravi masih sering berkata kata manis ketika suasana hatinya sedang bagus. Sedangkan kakaknya tidak pernah sama sekali mengatakan hal manis atau bersikap manis padanya.


Entah antara gengsi atau malu, tapi sebenarnya Angel tau bahwa kakaknya itu menyayanginya. Hanya malu saja untuk mengatakannya secara terus terang. Angel tau itu.


Jika berbuat salah, bukannya minta maaf, Anraka pasti akan membelikan Angel barang barang atau makanan yang tak mampu gadis kecil itu tolak. Hingga karena tidak ada pilihan lain, ia terpaksa harus memaafkan kakaknya itu.


"Kenapa enggak?" Angel mencebik bibir.


"Gue naik bus, lo pasti dijemput sopir, 'kan?"


Benar juga.


"Enggak apa apa, nanti kita pulang naik mobil aku aja," ujar Angel.


"Enggak."


"Ya udah, aku naik bus sama kamu aja."


"Oke."


.


.


.


.


.


.


.


.