BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
6. Anraka dan Angel



Seorang gadis kecil terisak kecil di sisi ranjangnya, kakinya menekuk dan kepalanya tertunduk. Ia menumpahkan segala kekesalannya dengan menangis, semuanya tampak menyebalkan sekarang.


Ia tidak kesal karena Neneknya lebih perhatian pada Kakak laki lakinya, melainkan ia kesal karena tidak bisa menjadi cucu yang Neneknya inginkan. Gadis itu ingin sekali menjadi cucu yang dimanja dan disayang, bukan cucu yang selalu dimarahi dan diacuhkan.


"Angel, kamu enggak apa apa, sayang?"


Suara itu menghentikan isakan Angel. Buru buru gadis itu menghapus jejak air matanya lalu berlari ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang berantakan.


Setelah memastikan wajahnya sudah pantas untuk dilihat, Angel kembali berlari ke arah pintu lantas perlahan membukanya.


"Mama?"


"Kamu enggak apa apa?"


Angel tersenyum manis, matanya seperti ikut tersenyum.


"Angel enggak apa apa kok, Ma."


"Kamu nangis, ya?" Regina mengusap pipi anak perempuannya itu.


Angel tercekat kecil, ia kira Mamanya tidak akan menyadarinya.


"Enggak kok, Ma. Tadi Angel abis nonton drama, terus sedih gitu." Angel mencoba mencari alasan agar Mamanya tidak khawatir.


"Beneran?"


Angel mengangguk.


"Kamu enggak mau makan dulu? Mama ambilin makanan, ya?"


"Enggak usah, Ma. Angel enggak laper. Besok aja deh makannya."


Regina menghela napas pelan, "Maafin Oma ya, sayang. Oma bukannya enggak suka sama kamu tapi kamu tau sendiri kan kalau Oma itu sayang banget sama Bang Raka?" jelasnya.


Angel lagi lagi hanya mengangguk kukuh, "Iya, Ma. Angel enggak apa apa kok, Angel tau Oma Arum juga sayang sama Angel. Mama enggak perlu khawatirin Angel, ya?" Lalu tersenyum manis.


Tangan Regina naik ke atas dan bergerak mengelus pucuk kepala anak perempuannya, lalu menarik tubuh gadis itu dan merengkuhnya sebentar.


"Makasih karena kamu udah mau jadi anak Mama yang baik banget. Mama sayang banget sama Angel."


Angel membalas pelukan Ibunya dengan erat, "Iya, Ma. Angel juga sayang sama Mama. Makasih karena Mama udah jadi Mama Angel."


Regina terkekeh kecil, lalu melepas pelukannya dan menatap Angel.


"Mama tau enggak? Aku lagi kesel banget sama Bang Raka." Rika mengadu.


"Lho, kenapa? Kalian berantem?" tanya Regina.


Angel mengangguk, "Bang Raka jahat, udah enggak sayang lagi sama Angel."


"Eh, kok gitu, sih? Abang kamu kenapa memangnya?"


"Tadi kan aku lagi pijitin Bang Raka, terus malah disuruh keluar. Enggak sopan banget jadi Abang." Rika melipat kedua tangannya di depan dada dan mengerucutkan bibirnya lagi.


Tampaknya ia benar benar kesal.


Regina tertawa kecil, "Katanya Bang Raka enggak pernah marahin kamu, tapi kok sekarang malah ngadu ke Mama, sih?


Angel mendecak kesal, "Bang Raka udah enggak sayang sama aku, makanya gitu. Lihat aja, nanti aku enggak mau pijitin dia lagi." Lalu memalingkan wajahnya ke lain arah.


"Kamu lucu banget, sih. Tapi enggak boleh marahan sama Abang Raka, ya. Nanti Bang Raka kesepian lho kalo dicuekin sama kamu," ucap Regina seraya tersenyum.


"Biarin aja. Ya udah ah, aku mau tidur aja, males sama Bang Raka." Angel masih tetap mengomel.


Regina beralih menangkup kedua pipi anak perempuannya dengan kedua tangannya, membawa wajah anak itu agar menatap ke arahnya.


"Ya udah. Kamu istirahat, ya. Kalau laper minta aja sama Bibi Maryam buat diambilin makanan. Mama turun dulu, mau selesaiin kerjaan Mama," tutur Regina.


Angel mengangguk.


"Inget lho, jangan berantem lama lama sama Abangnya," imbuh Regina.


Angel lagi lagi hanya mengangguk.


"Selamat malam, sayang."


"Selamat malam, Mama."


Regina beranjak dari kamar Angel,


lalu turun ke lantai dasar. Ia sangat tau bahwa anak perempuannya itu sedang merasa sangat sedih namun berusaha untuk menutupinya, Regina hanya ingin sedikit menghiburnya. Entah sampai kapan Ibu mertuanya itu akan berlaku tidak adil pada kedua anaknya, yang Regina tau, Angel pasti sedih.


"Kita mau ke mana, Bang! Angel belum ganti baju!" pekik Angel.


"Raka, Angel, mau ke mana?" seru Regina.


"Mama, Angel diculik Bang Raka! Tolong!"


Regina yang berada di ambang pintu hanya menatap nanar Anraka yang memaksa Angel masuk ke dalam mobilnya. Percaya atau tidak, Anraka pasti akan melakukan hal yang tidak pernah disangka sama sekali karena Anraka adalah sosok yang misterius dan susah ditebak.


Angel menutup pintunya perlahan lalu menghembuskan napas pelan, semoga Ibunya tertipu dengan kebohongannya tadi. Ia hanya tidak ingin Ibunya ikut merasa sedih hanya karena melihatnya seperti ini.


Tok tok tok


Tiba tiba suara pintu kamar yang diketuk terdengar lagi.


Angel menoleh, itu pasti Mamanya lagi, dengan gontai Angel melangkah mendekat dan segera membuka pintu kamarnya.


"Iya, Ma- Bang Raka?"


Anraka berdiri di depan pintu Angel dengan tatapan dinginnya, ia juga tidak mengatakan apa pun.


"Ngapain ke sini? Angel mau tidur, bye!" Angel kembali masuk dan berniat menutup pintu tapi Anraka menahan pintu itu.


"Apa sih Bang Raka?! Nyebelin banget! Tadi ngusir, sekarang diusir balik enggak mau!" oceh Angel.


"Ikut gue."


Anraka menarik tangan Angel dan membawanya turun ke lantai bawah, Angel memberontak minta dilepaskan namun Anraka tidak mendengarkannya sama sekali.


"Enggak mau, Bang! Lepasin!"


Anraka mengambil kunci mobilnya, lalu membawa Angel ke luar dari rumah lantas menuju ke garasi.


"Kita mau ke mana, Bang! Angel belum ganti baju!" pekik Angel.


"Raka, Angel, mau ke mana?" seru Regina.


"Mama, Angel diculik Bang Raka! Tolong!"


Regina yang berada di ambang pintu hanya menatap nanar Anraka yang memaksa Angel masuk ke dalam mobilnya. Percaya atau tidak, Anraka pasti akan melakukan hal yang tidak pernah disangka sama sekali karena Anraka adalah sosok yang misterius dan susah ditebak.


Mobil Anraka pun keluar dari kawasan rumah, dan melesat cepat menjauh dari sana. Regina memperhatikan mobil berwarna hitam itu sampai benar benar hilang dari pandangan lalu masuk ke dalak rumah dan menutup pintu.


"Kita mau ke mana, sih! Aku lagi ngambek sama Bang Raka," celoteh Angel.


"Diam. Enggak usah bacot."


"Bang Raka tuh yang bacot."


Anraka tersentak kecil, ia melirik ke arah Angel yang masih mencebik bibir.


Siapa yang mengajarkan Angel berbicara bahasa seperti itu? Ke mana adiknya yang polos dan lugu?


"Siapa yang ngajarin?"


"Ngajarin apa?" balas Angel sarkas.


"Ngajarin bilang bacot."


"Bang Raka lah, siapa lagi," ketus Angel.


Anraka kembali fokus ke jalanan, ia malas berdebat dengan sang adik.


"Bang Raka tuh udah enggak sayang lagi sama Angel, makanya tadi ngusir Angel, 'kan? Padahal kan Angel cuma mau mijitin doang, bukannya terima kasih atau bilang apa gitu, malah diusir. Enggak sopan banget jadi kakak, harusnya kan kakak ngasih contoh yang baik ke adiknya. Kok ini malah kebalik, Angel males banget Bang Raka!" Angel mengoceh panjang lebar, hingga membuat telinga Anraka panas mendengarnya.


Tapi apa boleh buat? Anraka hanya bisa mendengarkan saja tanpa berkomentar jika tidak ingin ocehan itu berlangsung lebih lama. Salahnya juga karena sudah membuat adiknya kesal, Anraka tau bahwa harusnya ia tidak melakukan itu tadi.


Sepanjang perjalanan, seluruh mobil dipenuhi dengan ocehan Angel. Anraka sampai dibuat tidak fokus saat menyetir, tapi apa boleh buat? Biarkan saja Angel seperti itu, sampai ia lega.


Beberapa saat kemudian, setelah menembus padatnya kendaraan dan kemacetan, akhirnya adik kakak itu sampai ditujuan. Angel sudah lelah mengoceh, jadi ia hanya diam saja.


"Turun," titah Anraka.


Angel melihat ke luar jendela, alisnya berkerut.


"Bang Raka ngajakin Angel ke Mall?" seru Angel.


"Hm."


"Enggak mau! Pakaian Angel kayak gembel!"


"Turun sekarang atau gue buang lo ke jalanan?"


"Enggak mau, Bang!"


.


.


.


.


.


.


.


.