
"Ravi, tolong beliin mama garam di warung depan, dong! Garamnya udah abis nih."
Sekar berteriak memanggil nama anak laki lakinya yang sedang selonjoran di atas sofa ruang tengah dari dapur. Seperti biasa, Ravi pasti sedang bermain game online di ponselnya.
Karena tidak ada balasan, Sekar kembali berteriak memanggil nama anaknya itu.
"Ravi!"
Dengan malas Ravi akhirnya menjawab, "Iya, Ma?"
"Beliin Mama garam di warung depan!"
"Iya, Ma. Bentar." Mata Ravi kembali fokus ke layar ponselnya, tanpa mempedulikan Mamanya yang sejak tadi meminta tolong.
Setelah beberapa menit berlalu, Sekar sudah kehabisan stok kesabaran. Wanita itu pun memutuskan untuk tidak memasak makanan untuk makan siang dan tidak menegur Ravi yang sangat tidak bisa lepas dari game onlinenya itu. Tanpa mengatakan apa pun lagi, Sekar pun masuk ke dalam kamarnya dan berniat untuk kembali melanjutkan tidur cantiknya.
Namun sebelum itu, Sekar mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Keelua terlebih dahulu agar anak perempuannya itu membeli makanan di luar karena ia tidak memasak di rumah hari ini.
Setelah selesai, Sekar pun merebahkan dirinya ke atas ranjangnya lalu akhirnya tertidur pulas.
Beberapa jam berlalu.
Mata Ravi sudah kelelahan karena bermain ponsel, sorot mata anak laki laki itu pun melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 14.44 siang, perutnya sudah minta untuk diisi.
Begitu melangkah ke arah dapur, dahi Ravi mengernyit begitu mendapati meja makan tampak bersih dan tidak terdapat makanan apa pun yang bisa dimakan. Anak laki laki itu pun mendecak kesal, lalu melangkah ke kamar Mamanya.
Begitu sampai di depan pintu kamar Sekar, Ravi kemudian mengetuknya perlahan.
"Ma, Mama enggak masak?" tanya Ravi setelah mengetuk pintu beberapa kali namun tidak mendapat balasan.
Ravi mendengus kesal, lalu kembali melangkahkan kakinya ke sofa dan duduk diam di sana. Setelah diam beberapa lama, Ravi baru ingat bahwa tadi Mamanya menyuruhnya untuk membeli garam namun tidak ia hiraukan. Pasti itulah alasan mengapa Mamanya tidak memasak untuk makan siang.
Dengan buru buru Ravi melangkah ke arah kamar Mamanya lagi lalu kembali mengetuknya.
"Ma, sini Ravi beliin garam. Ravi laper banget mau makan," kata Ravi.
Sama saja seperti tadi, tidak ada balasan yang ia dapatkan. Mungkin saja Mama anak laki laki itu marah padanya karena Ravi tidak mengindahkan permintaan tolong beliau tadi.
Beberapa saat menunggu, akhirnya suara derap langkah terdengar dari dalam, Ravi yang sudah tampak lusuh pun bersenyum semanis mungkin agar ketika Mamanya keluar, beliau bisa melihat senyuman tulus itu dan akhirnya mau memaafkannya lalu memasak untuk makan siang agar Ravi juga bisa makan.
Suara pintu yang dibuka dari dalam terdengar.
"Kamu lapar? Minta makan sama game sana," kata Sekar lalu melangkah keluar.
Ravi mencebik, "Enggak kok, Ma. Game mana bisa ngasih aku makan," kata Ravi.
"Nah, itu kamu tau. Terus kenapa tadi pas Mama suruh kamu malah lebih mentingin game?" kesal Sekar pada Ravi sembari melangkah ke halaman belakang.
Ravi mengekori Mamanya ke mana pun wanita itu pergi, "Ravi minta maaf, tadi keasikan mainnya."
"Ya udah, lanjut main lagi. Nanti juga kamu kenyang kok kalau main game," sindir Sekar.
Ravi lalu merengek dan duduk di lantai seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan oleh Ibunya.
"Ma, Ravi laper," rengek anak laki laki itu sambil menendang nendang udara yang ada di depannya.
Sekar yang kini sudah duduk di kursi yang ada di sudut kolam tersenyum miring, akhirnya anaknya itu bisa menyadari kesalahannya dan tampak sudah menyesal.
Pura pura tidak peduli, Sekar pun bangkit dari duduknya lalu meninggalkan Ravi yang masih merengek di lantai dan kembali masuk ke dalam kamarnya.
"Hari ini enggak usah makan," ujar Sekar lalu membanting pintu kamarnya kasar.
Bibir Ravi sudah melengkung ke bawah, ia merasa seperti ingin menangis karena Ibunya tampak sangat kecewa padanya. Anak laki laki itu lalu mengucek kedua matanya bersamaan, perutnya perih karena lapar, ia juga sudah tidak mood bermain game.
Apa yang harus ia lakukan sekarang?
Tiba tiba suara pintu utama dibuka dari luar terdengar, sedangkan Ravi masih betah duduk di lantai dekat kolam renang. Seorang gadis masuk dengan seragam sekolahnya lalu mengernyit mendapati anak laki laki tadi hanya duduk termenung di atas lantai.
"Woi! Kemasukan lo, ya?" seru gadis itu,Keelua.
Ravi menoleh, senyumnya terbit ketika melihat kakaknya menaruh plastik makanan cepat saji ke atas meja makan. Anak laki laki itu pun langsung berdiri dan berlari mendekat ke arah Keelua.
"Heh, mau ngapain lo?!" Keelua menjauhkan makanan itu dari Ravi.
"Mau makan, Kak. Gue laper," kata Ravi.
"Siapa yang nyuruh lo makan? Ini punya gue," balas Keelua sarkas.
Ravi mendecak kesal, "Lo kok tega banget, sih, jadi kakak? Gue laper belum makan dari siang," ujarnya.
Keelua memutar bola malasnya malas, "Pas ada maunya aja baru ngakuin gue sebagai kakak."
Anak laki laki itu pun langsung membuat raut wajah memelas kepada Keelua, "Please lah, Kak. Gue laper banget."
Mata Ravi sudah melotot saat melihat makanan yang dibawa pulang oleh Keelua. Perutnya sudah berbunyi sejak tadi, ia benar benar butuh makanan.
"Kok bisa? Tumben Mama enggak masak buat makan siang." Keelua mengerutkan dahi.
Pasti Ravi berbuat ulah lagi.
"Enggak tau," balas Ravi bohong.
"Yakin lo enggak tau?" Tatapan mata Keelua menyelidik ke arah adik laki lakinya itu.
Ravi menggaruk pangkal hidungnya lalu berdehem pelan, "Tau, sih," gumamnya.
"Mama kenapa? Lo bandel lagi, ya?" tanya Keelua.
Raut wajah Ravi tidak bisa berbohong, anak laki laki itu memang tidak pandai berbohong. Oleh karena itu, Keelua bisa selalu tau jika Ravi mencoba untuk menipunya.
Anak laki laki yang ditanyai menggeleng, "Enggak, kok. Gue enggak nakal."
"Terus kenapa? Lo jangan coba coba bohong sama gue sebelum gue tau alasannya dari Mama langsung," ancam Keelua.
"Tadi Mama nyuruh gue beli garam, tapi enggak gue lakuin gara gara fokus sama game," jelas Ravi sambil mengusap usap tengkuknya.
Keelua geleng geleng kepala, "Benar benar lo, ya!"
"Sorry, Kak. Gue cuma-ADUH! SAKIT, KAK!"
Telinga Ravi kini sudah berada dalam capitan jari Keelua yang ganas, anak laki laki itu memekik kesakitan karena kakaknya menarik telinganya ke atas dengan tenaga yang kuat.
"Kak, lepas, Kak! Sakit!"
Sekuat tenaga Ravi mencoba melepaskan tangan Keelua dari telinga, namun semakin anak laki laki itu memberontak, maka akan semakin keras juga Keelua menarik telinganya.
"Lo tuh udah sering banget gue kasih tau, ya! Lo boleh main game tapi lo harus dengar kata kata Mama! Apa lagi pas Mama minta tolong sama lo! Emang sesusah apa, sih?" Keelua mulai mengeluarkan jurus terampuhnya.
Jurus yang Ravi dan Bambang sebut dengan 'Jurus seribu ocehan'.
Jika sudah begini, Ravi benar benar tidak punya pilihan lain selain mendengarkan semua ocehan yang akan diterimanya dari kakak perempuannya yang mungkin akan berlangsung bisa sampai satu jam ke depan, walau pun perutnya sangat lapar.
"Lo mau game lo gue hapus terus hape lo gue banting apa? Gue yakin Mama juga enggak akan keberatan kalau gue lakuin itu, karena lo udah benar benar kelewatan," ancam Keelua sembari melepas tangannya dari telinga Ravi dengan kasar.
Sembari mengusap telinganya, Ravi menjawab pelan, "Jangan lah, Kak."
"Makanya! Lo mikir kek! Mama udah capek capek ngurusin lo dari kecil tapi cuma buat ngelakuin hal hal sepele yang disuruhin sama Mama aja lo enggak mau! Mau jadi apa lo, hah?!" Keelua berteriak kencang, memarahi Ravi yang ia rasa sudah melewati batas.
Sekar yang berada di dalam kamar tersenyum senang karena tugasnya untuk mengoceh sudah diwakilkan oleh Keelua, ia jadi tidak harus lagi memarahi Ravi dan membuang buang tenaganya.
Ravi menundukkan kepalanya, ia tau bahwa apa yang ia lakukan hari ini adalah sebuah kesalahan yang sekarang membuatnya kelaparan, dimarahi oleh Keelua dan yang paling buruk adalah ia telah membuat Mamanya kecewa.
"Iya, Kak. Gue tau gue salah."
Keelua mendecih lantas memutar bola matanya malas, "Enggak usah sok baik kalau ujungnya lo bakal ngulangin lagi. Gue udah kenyang sama semua janji manis lo yang dulu dulu, lo pernah janji enggak bakal ngulangin sebelumnya tapi tetap aja lo lakuin lagi. Males tau, enggak?" dumelnya.
Sudah Ravi duga, Keelua pasti akan mengungkit semua kesalahannya yang terdahulu untuk memperjelas betapa salahnya dia. Padahal, Ravi sudah mengaku salah tapi kakaknya ini belum puas juga.
"Ya udah sih, gue tau gue salah.
Bacot banget, laper nih." Ravi tidak mempedulikan ocehan Keelua, ia hanya butuh makanan dan dia harus mendapatkannya segera.
Keelua hampir saja mengumpati Ravi andai anak laki laki kurang ajar ini bukan adik kandungnya. Entah bagaimana cara menghadapi Ravi yang begitu keras kepala dan tidak bisa dinasehati ini agar mau sedikit berubah. Setidaknya bisa sedikit menghargai orang tua.
Keelua tidak bisa membiarkan adiknya berada di jalan sesat seperti ini, bisa bisa Ravi menjadi pemuda tersesat nantinya. Tak apa disebut cerewet atau suka marah marah, yang jelas Ravi bisa tumbuh menjadi pemuda yang baik dan bertanggung jawab agar kedua orang tua mereka bisa bangga. Hanya itu yang Keelua inginkan.
"Gue udah ngasih tau yang bener, ya. Semakin dewasa, lo bakal paham kenapa gue cerewet banget tiap kali lo bikin salah. Ini buat lo juga tau, enggak?" kata Keelua lagi sambil mengeluarkan makanan yang ia bawa dari plastik belanjaan.
Ravi mengangguk anggukkan kepala namun mata dan pikirannya hanya tertuju pada makanan di depannya.
"Lo ambil piring dong! Udah dibeliin, malas gerak pula!" pekik Keelua begitu melihat adiknya hanya menelan ludah saja di tempatnya tanpa berinisiatif mengambil peralatan makan.
Ravi mendecak kesal lantas dengan malas kembali berdiri dan melangkah masuk ke dapur. Anak laki laki itu mengambil apa saja yang ia rasa perlu, tangannya bergerak secepat mungkin saat mengambil piring dan barang lainnya agar ia juga bisa segera makan.
"Nih, cepetan buka. Gue udah laper banget, bentar lagi pingsan." Ravi datang dengan tiga buah piring dan sendok di tangannya.
Keelua mendecak, "Sabar dong, lo udah kayak anak yang enggak pernah dikasih makan aja. Nafsu banget liat makanan doang."
Lantas mengambil alih piring yang dibawa Ravi tadi.
"Bacot, cepetan." Ravi jengah, ia harus makan sekarang.
Setelah selesai memisahkan makanan untuknya dan Ravi, Keelua pun tak pula menyisakan makanan untuk sang Ibu yang memang sengaja tidak memasak siang ini. Seperti biasa, Ayah mereka sedang tidak ada di rumah.
"Akhirnya." Ravi mendesah lega kemudian menyantap makanannya dengan lahap.
Keelua memperhatikan adiknya dengan tampang jijik, menyebalkan sekali.
"Gue mau nanya deh sama lo." Keelua membuka obrolan.
"Hm," balas Ravi seraya mengunyah.
"Lo suka ya sama Angel?"
"UHUUUUK!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.