
"Oma udah jodohin kamu."
Wajah Anraka yang tadinya datar tanpa ekspresi, kini berubah menampakkan raut wajah bingung.
"Raka salah dengar. Oma bisa tolongin ulangin?" pinta Anraka.
"Enggak ada yang perlu diulangin, Raka. Kamu enggak salah dengar," balas Oma Arum.
Anraka tersenyum kecil, "Enggak lucu, Oma. Anraka enggak terlalu suka sama candaan kayak gini," katanya. Berusaha membohongi otaknya sendiri.
Oma Arum menatap cucu laki lakinya itu lekat, lalu menggeleng pelan, "Enggak ada yang becanda, Anraka. Kamu tau itu."
Senyum di bibir Anraka pun lenyap tak bersisa, tatapannya lurus ke depan, menatap wanita yang tidak melahirkannya namun sudah menjaganya sejak kecil. Omanya. Oma Arum.
"Enggak mungkin," gumam Anraka dengan aura dingin yang begitu menusuk.
Regina, Arya dan Angel ada di sana. Namun, mereka hanya bisu membiarkan Oma Arum yang Regina, Arya dan Angel ada di sana. Namun, mereka hanya bisu membiarkan Oma Arum yang mengatakan semua ini pada Anraka. Mereka beranggapan bahwa jika Oma Arum yang mengatakannya, Anraka bisa diam untuk mendengarkan terlebih dahulu sebelum pergi dan menghancurkan apa saja yang ada di depannya.
"Semuanya mungkin, Anraka. Dan inilah kebenarannya, kamu harus menerima itu karena ini keputusan dari Oma dan sudah disetujui oleh Mama dan Papa kamu," kata Oma Arum, membalas tatapan Anraka yang setajam tatapan elang.
"Tapi Angel enggak setuju!" Tiba tiba anak perempuan satu satunya yang ada di dalam ruangan tersebut buka suara. Ia berteriak begitu keras padahal kondisinya masih sangat lemah.
Oma Arum dan Anraka melirik gadis kecil itu dengan tatapan yang berbeda.
"Udah, sayang. Jangan motong pembicaraan orang tua," tegur Regina yang duduk di sebelah anak itu.
"Angel harus ngomong sekarang sebelum terlambat atau Angel enggak akan bisa ngomong apa apa lagi abis ini," kata gadis itu dengan penuh keyakinan.
Di matanya tampak ada amarah yang sudah ia pendam dari lama dan kini berubah menjadi api yang siap membakar apa saja.
"Angel enggak akan biarin Oma atau pun Mama dan Papa buat maksa Bang Raka buat nikah diumur Bang Raka yang baru belasan tahun. Apa kalian enggak tau kalau mental Bang Raka belum siap buat semua itu? Kakaknya Angel bakal tersiksa dan Angel enggak mau itu terjadi," kata Angel, matanya berkaca kaca.
Angel adalah gadis yang pintar dan juga pandai menganalisis hal hal seperti ini. Ia akan berbicara jika hal yang ia lihat itu salah, gadis kecil itu tidak akan membiarkan orang orang di sekitarnya salah mengambil keputusan.
Menurut Angel, kadang kadang orang dewasa terlalu naif dan enggan untuk mendengarkan kata hati mereka sendiri hanya karena suatu hal yang ingin mereka capai dan kepuasan diri yang ingin mereka tuntaskan. Harus ada suara dari seorang anak yang masih polos untuk membuat mereka sadar. Itu pun jika mereka ingin.
"Kamu enggak tau apa yang lagi kamu omongin, Angel. Kamu itu masih kecil, enggak usah membantah orang tua," tegas Oma Arum sembari menatap Angel yang sesekali menundukkan kepalanya karena ingin menyembunyikan matanya yang basah.
"Angel tau, Oma. Angel tau, bahkan Mama sama Papa tau. Bang Raka enggak mau ini, kenapa harus dipaksain? Angel yakin Bang Raka enggak akan bahagia kalau ikutin maunya Oma Arum terus!"
"Cukup, Angel!" bentak Oma Arum seraya berdiri dari sofa yang tadi beliau duduki.
Regina merengkuh tubuh anaknya yang sudah terisak karena tak mampu menahan tangis. Ibu dua anak itu tau bahwa gadis kecilnya hanya tidak ingin membuat sang kakak terkena masalah atau bahkan berada di sebuah situasi yang tidak ia inginkan. Regina tau bahwa Angel sangat menyayangi kakaknya dan hanya kakaknya lah yang ia punya.
"Kamu harus ngajarin anak kamu itu, Regina! Dia sama sekali enggak tau sopan santun!" Oma Arum menunjuk Angel dengan emosi yang meluap luap.
Entah mengapa Oma Arum sangat tidak menyukai cucu perempuannya itu, mungkin karena sejak kecil Angel tidak terlalu dekat dengan Omanya jadi mereka lebih sering terlibat kesalahpahaman.
"Mama udah ngajarin Angel dengan benar. Adanya Oma Arum yang enggak bisa ngertiin maunya Bang Raka!" balas Angel dengan suaranya yang sengaja ia tinggikan.
Gadis kecil itu sudah lelah. Ia tidak masalah jika Oma Arum memperlakukannya tidak adil namun gadis kecil itu tidak bisa menerima jika kini Oma Arum berlaku tidak adil pada kakaknya juga.
Oma Arum menggeleng pelan ketika mendengar jawaban yang tidak terduga dari cucu perempuannya yang ia kenal pendiam itu. Bisa bisanya Angel berteriak lantang seperti itu, bahkan tanpa rasa takut sama sekali.
"Bawa dia pergi sebelum saya makin marah, Regina," titah Oma Arum.
Regina mengusap wajah Angel yang basah, lalu merapikan rambut panjang gadis itu.
"Ayo, sayang. Kita ke kamar, ya."
Angel menggeleng gelengkan kepalanya, ia sama sekali tidak mau meninggalkan Anraka sendirian dan harus menerima mentah mentah keinginan Oma Arum untuk menjodohkan kakaknya itu.
Kakaknya belum cukup umur untuk menikah dan gadis seperti apa yang akan Oma Arum bawakan untuk Anraka? Mungkinkah gadis itu akan bersikap baik padanya? Atau malah akan bersikap sama seperti Oma Arum yang selalu membeda bedakannya? Angel tidak ingin situasi menjadi lebih buruk. Bisa ia bayangkan bagaimana perasaan kakaknya sekarang, pemuda itu pasti tengah memikirkan bagaimana nasib kehidupan masa mudanya yang akan segera direnggut oleh perjodohan sialan ini.
Angel tidak bisa membiarkan ini terjadi.
Sejak tadi Arya tidak mengatakan apa pun karena sebenarnya ia sedang mencerna kata kata Angel tadi. Ada benarnya, Anraka pasti tidak akan bahagia. Namun, Arya sangat yakin pada gadis yang akan dijodohkan oleh Anraka, anak laki lakinya itu pasti akan merasa bahagia suatu hati dan berterima kasih karena Nenek dan orang tuanya telah membuatnya menikahi gadis baik seperti calonnya itu.
Meski pun awalnya tanpa cinta, Arya yakin bahwa cepat atau lambat, Anraka akan mencintai gadis yang akan pemuda itu nikahi setelah mereka sudah terikat dalam hubungan pernikahan.
"Tapi, kenapa?" Anraka buka suara.
Oma Arum pun menoleh ke arah pemuda yang sedang tertunduk itu.
"Apanya yang kenapa, sayang?" tanya Oma Arum dengan lembut.
Anraka mengangkat kepalanya, "Kenapa harus dijodohin? Bahkan Raka belum lulus," tanya pemuda itu.
Oma Arum tersenyum lalu kembali duduk di sofa yang bersebelahan dengan Anraka.
"Ini juga untuk kepentingan kamu, Anraka," balas Oma Arum.
Anraka menggelengkan kepalanya, "Untuk kepentingan? Kepentingan apa yang Oma Arum maksud?" tanya pemuda itu, wajahnya benar benar datar tanpa senyuman sama sekali.
"Jadi kamu enggak percaya sama Oma? Dari dulu Oma yang selalu mikirin kepentingan kamu, Raka. Oma selalu ngasih kamu yang terbaik dan kamu tau itu. Kenapa sekarang kamu kayak ngeraguin Oma?" terang wanita paruh baya itu.
Maarin Papa, Kaka. ini memang untuk kebaikan kamu." Setelah sekian lama membisu, akhirnya Arya pun buka suara.
"Kepentingan apa yang kalian maksud?!" Anraka sudah tidak mampu mengendalikan emosinya lagi.
"Raka. Tenang, sayang." Oma Arum berusaha agar Anraka tidak terbawa emosi.
"Oma akan jelaskan alasan Oma sama orang tua kamu ngelakuin ini dan ambil keputusan ini." Oma Arum memperbaiki posisinya.
Dengan deru napas yang tersenggal senggal, Anraka menatap Omanya yang duduk di depannya itu. Sudah ia duga, semua ini hanyalah omong kosong belaka yang tidak bisa diterima oleh otaknya. Apa masih ada di zaman sekarang orang tua yang menjodohkan anak mereka? Apa para orang tua itu tidak memikirkan perasaan dan masa muda anaknya mereka sama sekali? Dan sialnya, orang tua Anraka adalah salah satunya.
"Oma ngelakuin semua ini demi kamu. Supaya kamu terbebas dari pergaulan kamu yang terlalu bebas itu. Dari teman teman kamu yang tidak sehat dan dari semua hal yang membuat kamu menjadi pribadi yang nakal dan liar seperti ini. Kamu mungkin keliatan seperti anak yang baik di depan Oma, tapi tidak di luar sana."
Kepala Anraka terasa seperti dipukul oleh batu yang sangat besar, dan kemudian hancur berkeping keping. Apa maksud dari semua ini? Siapa pun tolong katakan bahwa ini hanyalah mimpi.
Bagaimana mungkin Anraka bisa menerima semua ini? Bahkan ia belum bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri namun sekarang ia sudah di tuntut untuk bertanggung jawab atas kehidupan orang lain yang tidak ia kenal dan tiba tiba harus menikahi orang itu.
Apa semua keluarganya sudah gila? Kenapa harus dia dan apa artinya semua ini? Siapa saja, tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Bisakah pemuda itu mendapat pilihan lagi? Atau setidaknya berikan dia alasan yang masuk akal.
Apa hidupnya harus terus dihancurkan? Apa tidak cukup semua penderitaan yang sudah ia rasakan selama ini? Apakah semuanya tidak cukup hingga kemalangan harus datang bertubi tubi padanya?
Masa muda yang bahagia adalah harapan satu satunya yang Anraka punya, masa kecilnya sudah hancur dan tidak bisa diselamatkan lagi, pemuda itu kira masa mudanya akan terselamatkan dan tidak ada yang bisa menghentikannya untuk melakukan itu. Ternyata ia salah, dunia selalu tidak adil padanya.
Sungguh, Anraka ingin keluar dari kehidupan memuakkan ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.