BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
13. Suasana hati yang buruk



"Keelua!"


Lula berlarian menghampiri teman dekatnya yang baru saja masuk ke dalam kelas.


"Lo udah sehat? Lo kemarin kenapa tiba tiba dianter pulang sama Bumi?"


"Biarin gue duduk dulu, La, baru lo introgasi." Keelua melangkah gontai menuju tempat duduknya yang ada di sebelah Lula.


Lula tersenyum kecut lalu mengikuti langkah Keelua.


"Jadi gimana? Lo kemarin kenapa?"


"Gara gara si Raka sialan makanya gue bisa sampai sakit kemarin," gumam Keelua seraya kepalanya ke atas meja. menidurkan


Lula tersontak kaget, "Hah? Kok gara gara Raka?" tanyanya.


"Jadi kemarin tuh gue nganter susu buat Oma Arum kayak biasa, gue sambil buru buru soalnya udah mau telat. Nah, karena gue enggak mau singgah di rumah Raka, akhirnya Oma Arum nanyain tuh, ya udah gue jawab jujur aja, gue bilang gue udah mau telat makanya enggak bisa lama lama." Keelua mulai menjelaskan asal mula ia bisa terkena demam kemarin.


"Terus terus?"


"Eh, taunya si bajingan Raka belum berangkat juga dan bisa ditebak kan akhirnya? Oma Arum nyuruh gue berangkat bareng sama si Raka."


Lula memekik, "AAAA! GUE MAU!"


"****, La. Gue kaget, bego!" Keelua memeluk lengan Lula sambil memegangi dadanya.


Gadis yang membuat Keelua kaget malah nyengir kuda, lalu mencebikkan bibir, "Gue juga mau berangkat bareng Anraka kesayangan," lirihnya.


Keelua memutar bola mata malas, "Jangan mau, nanti nasib lo bakal sama kayak gue."


Dahi Lula berkerut, "Oh iya, kok gara gara berangkat bareng Raka doang bisa bikin lo demam?" tanyanya. "Oh, gue tau! Pasti tubuh lo enggak kuat deketan sama Anraka yang super ganteng itu, 'kan?"


Keelua langsung mencontohkan orang yang sedang muntah, "Enggak. Makasih."


"Terus apaan dong? Lo ceritanya setengah setengah kayak kasih sayang mantan," kesal Lula.


Keelua mendecak, "Pas udah mau nyampe sekolah, si Raka malah nurunin gue di pinggir jalan. Tiba tiba turun hujan lagi, untung ada si Vano, gue akhirnya bisa sampai di sekolah."


"Anjir!" Lula tertawa terbahak bahak mendengar cerita Keelua itu, ia membayangkan bagaimana kesalnya Keelua saat ditinggalkan di pinggir jalan begitu saja. Apa lagi sampai kehujanan, dihukum pula.


Keelua mendengus kesal lalu kembali membenamkan kepalanya di lipatan tangannya yang ada di atas meja. Tangan Lula terangkat lalu mengelus pelan bahu Keelua.


"Udah, enggak usah bete lagi. Gue enggak mau lo sampai benci sama Anraka, nanti bisa jadi cinta," ucap Lula.


Keelua langsung mengangkat kepalanya, "Enggak akan. Gue udah benci sama si Raka sialan dari lama, gue cuma ikutin maunya Oma Arum aja buat mantau dia. Lagian, enggak ada benci yang cinta." bisa berubah jadi


Setelah mengatakan itu, Keelua pun berdiri dari tempatnya meninggalkan Lula yang masih beku di tempatnya.


...****************...


"Kang, saya mau gado gadonya satu, ya. Dibikin pedes, pedes banget kayak omongan tetangga."


"Siap, neng."


Setelah selesai memesan, Keelua pun duduk di meja yang tersedia seraya memangku dagunya. Berada di dalam kelas bersama Lula hanya membuat suasana hati Keelua semakin buruk, apa lagi gadis itu selalu membahas tentang manusia paling menyebalkan di dunia bernama Anraka.


Tubuh Keelua sudah lebih baik hari ini, gadis itu memutuskan untuk tetap berangkat ke sekolah walau pun Ravi bersikeras melarangnya.


Apa yang akan ia lakukan jika hanya tinggal seharian di rumah? Paling hanya mendengarkan ocehan mamanya ketika kesal dengan tokoh antagonis di drama favoritnya.


Walau pun Keelua yang memaksakan diri ingin masuk sekolah, namun saat tiba di tempatnya menuntut ilmu dan bertemu teman temannya tersebut Keelua malah merasa malas dan tidak bersemangat.


Entahlah, ia hanya merasa tidak ada yang menyenangkan hari ini.


"Ini, neng."


Satu piring gado gado super pedas pesanan Keelua sudah tiba. Gadis itu tersenyum ke arah tukang gado gado, "Terima kasih, kang."


Belum sempat Keelua mengambil sendok yang ada di gado gado tersebut, tiba tiba seseorang menarik piringnya.


"Enak, nih. Bagi, ya."


Ternyata pemuda menyebalkan lainnya, Gibran Sanjaya.


"Ini makanan gue, Gibranjing!"


"Anjir, pedes banget, buset!"


"Mampus."


Keelua menarik piring gado gadonya kembali ke hadapannya lalu tersenyum miring melihat Gibran kepedasan lalu berlari mencari air.


Dengan tenang Keelua pun melahap makanannya, begitu Gibran kembali, pemuda itu membawa dua botol air mineral di tangannya.


"Jangan makan yang pedes pedes, Keel. Nanti lo mencret mencret," tegur Gibran seraya mendudukkan bokongnya ke kursi panjang kayu.


"Suka suka gue." Keelua masih fokus dengan makanannya.


"Gimana? Lo udah sehat?"


"Tau dari mana?" Keelua melirik Gibran sekilas.


"Yang nganterin lo balik kemarin kan temen gue, enggak mungkin gue enggak tau."


"Iya, udah sembuh. Kenapa nanya?" ketus Keelua.


"Dapet apaan?" Keelua balas bertanya.


"Hidayah," balas Gibran.


"Ngaco." Keelua dengan lahap memakan makanannya tanpa mempedulikan Gibran.


Sedangkan Gibran hanya memandangi gadis itu tanpa mengatakan apa pun lagi.


Sepertinya Keelua sedang ada di dalam mode 'senggol bacok' jadi Gibran tidak akan macam macam dulu sampai suasana hati gadis itu membaik sendiri.


"Gibran! Gibran!"


Seorang pemuda berlari ke arah Gibran dan Keelua dengan berlari tergesa gesa.


"Apaan?" tanya Gibran ikut panik.


"Itu, si Raka mukulin kakak kelas."


"Hah?!" Gibran bangkit.


Sedangkan Keelua seperti tidak peduli, ia masih terus santai menyantap makanannya.


"Di mana?" tanya Gibran pada pemuda tadi.


"Di lapangan tengah."


"Ya udah, kita nyusul dia." Gibran menoleh ke arah Keelua yang masih diam saja.


"Keel, ayo," ajak Gibran.


"Kenapa?" tanya Keelua tanpa mengalihkan pandangan dari piring gado gadonya.


"Susul si Raka lah."


"Buat? Lo aja sana."


"Kok lo gitu, sih? Biasanya kan lo yang paling cepat mau pisahan Raka kalau dia berantem," tutur Gibran tak habis pikir dengan sikap aneh Keelua.


Gadis itu pun selesai makan, ia meneguk air mineral yang tadi diberikan oleh Gibran lalu bangkit dan berjalan ke arah gerobak gado gado untuk membayar makanannya.


"Keel!"


Keelua tidak menjawab, gadis itu melenggeng pergi begitu saja meninggalkan kantin.


"****, si Raka apain Keelua sih sampai tuh bocah segitunya."


...****************...


BUGH!


BUGH!


Para Guru sudah kewalahan mencoba menghentikan perkelahian hebat yang terjadi di lapangan sejak lima menit tadi. Kedua pemuda itu sama sama kuat dan keras kepala, tidak ada yang mau mengalah.


"Ini gimana, ya. Teman temannya Anraka mana, sih? Siapa yang bisa berhentiin si Raka ini." Salah satu Guru yang ada di sana sudah panik.


Ini masih pagi, belum banyak Guru yang datang. Lagi pula, siapa yang berani menghentikan aksi Anraka? Jika ingin diberi bogem mentah, silahkan saja.


"Biasanya Keelua yang ngelerai tiap kali Anraka berantem, Bu. Cari dia aja," usul salah satu siswa.


"Oh, iya. Keelua mana ini?"


"Aduh, kasian Elvano. Udah babak belur."


"Anraka juga udah lebam sar sana sini, tapi gantengnya enggak berkurang."


Para gadis malah memuji ketampanan dua pemuda yang sedang adu jotos itu, padahal para Guru sudah panik.


"Eh, itu Keelua!"


"Keelua! Tolongin!"


Gadis yang dipanggil pun menoleh, ia melihat kerumunan yang sedang berkumpul menonton aksi perkelahian tersebut.


Ketika melihat siapa yang beradu bogem di lapangan itu, Keelua langsung berlari cepat ke arah mereka.


"Awas, minggir!"


.


.


.


.


.


.


.


.