BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
64. Dua Rumah



"Makasih, ya, buat hari ini. Gue senang banget." Keelua tersenyum lebar ke arah Bumi yang juga sedang tersenyum ke arahnya.


"Iya. Sama sama, nanti kita jalan jalan kayak gini lagi kalau lo suka," balas Bumi.


"Oh iya, ini motor lo kenapa bisa lo pakai sekarang? Bukannya tadi kalian semua pulang barengan, ya?" tanya Keelua, ia baru sadar bahwa tadi Bumi dan teman teman lainnya katanya akan pulang menggunakan satu mobil.


"Iya, tadi gue sama anak anak yang lain pulang satu mobil tapi gue minta tolong sama orang rumah gue buat anterin motor ini ke cafe. Gue kan udah bilang mau nganterin lo balik, masa kita pulangnya ramai ramai." Bumi akhirnya menjelaskan.


Keelua mengangguk angguk, "Padahal enggak apa apa kalau pulangnya ramai ramai, lebih seru," balasnya.


"Gue pengennya berdua sama lo, Keel." Bumi bergumam.


"Kenapa?"


"Enggak apa apa. Lo masuk, gih. Gue juga mau balik, gue sore banget, udah mau malam malah." Dengan cepat Bumi mengalihkan pembicaraan agar Keelua tidak mencurigainya.


"Ah, iya. Kalau gitu sekali lagi makasih udah ngajakin gue nonton, jalan jalan, makan, minum, semuanya deh. Makasih, ya!"


Tak henti hentinya Keelua mengatakan terima kasih pada Bumi, ia memang merasa sesenang itu hingga tak bisa berhenti tersenyum.


"Iya, sama sama. Gue pulang, ya. Makasih juga karena udah nemenin gue, Keel." Bumi senyum kecil kemudian kembali memakai helmnya lalu melajukan motornya dengan kecepatan standar lantas berlalu dari hadapan Keelua.


Keelua menghela napas panjang, ia berbalik kemudian menemukan rumahnya yang sudah beberapa hari tak ia tinggali. Baru beberapa hari namun gadis itu sudah sangat merindukan bangunan yang dalamnya penuh dengan kehangatan ini.


Dengan ragu ragu Keelua melangkah masuk, ia sedang memikirkan kata kata yang tepat yang akan ia beritahu pada Ibunya saat wanita itu bertanya tentang dirinya yang mengapa tiba tiba pulang ke rumah ini alih alih ke rumah Anraka yang sekarang berstatus sebagai suaminya.


Keelua membuka pintu tanpa mengetuknya, dari ambang pintu ia sudah bisa mendengar suara TV yang sudah pasti sedang menayangkan drama favorit Ibunya. Dan seperti dugaan, Sekar sedang duduk di atas sofa dan menonton TV di sana.


"Ma.."


Sekar menoleh, "Keelua?" Matanya melebar, "Kamu kapan datangnya, sayang?" tanya wanita itu seraya bangkit dan melangkah mendekat ke arah anaknya.


"Baru aja, Ma. Ravi mana?" tanya Keelua balik.


"Ravi ada di kamarnya, kamu ke sini bareng siapa? Anraka? Mana dia? Kenapa enggak disuruh masuk?" Sekar mengintip ke belakang Keelua, mencari sosok menantunya yang seharusnya ada di sini juga.


"Raka enggak ada, aku ke sini sendirian." Keelua tersenyum getir.


"Sendirian? Kenapa sendirian? Kamu seharusnya sama Raka."


"Kakak?" Suara seseorang mengalihkan atensi Keelua dan Sekar, keduanya berbalik.


"Ravi.."


Anak laki laki itu berlari kecil dan langsung memeluk tubuh Keelua yang masih terbalut seragam sekolah.


"Akhirnya lo ke sini juga, kak," gumam anak laki laki itu.


"Gue pasti bakalan ke sini, Rav. Tenang aja, gue juga kangen sama lo karena enggak ada teman berantem," ujar Keelua seraya tertawa kecil.


"Keel, Raka mana?" Sekar kembali bertanya lagi.


"Aku pulang ke sini karena Raka tadi turunin aku di pinggir jalan pas pulang sekolah. Aku enggak tau apa sebabnya, aku enggak buat kesalahan apa apa yang bikin dia bisa turunin aku gitu aja. Aku malu, Ma. Makanya aku pulang ke sini," jelas Keelua.


Sekar menutup mulutnya tak percaya.


"Si cowok sialan, dari awal gue emang enggak percaya sama dia," geram Ravi.


"Kamu enggak boleh kayak gitu, Rav. Sapa tau ini cuma salah paham, kakak kamu harus selesaiin masalahnya sama suaminya dulu supaya semuanya jelas." Sekar mencoba berpikir positif agar Ravi tidak cepat tersulut emosi.


"Percuma, Ma. Si Raka itu emang enggak baik, Mama sama Papa aja yang maksain kakak buat nikah sama dia. Dari awal aku emang udah enggak setuju, ujung ujung kak Keelua juga yang tersiksa." Ravi benar benar naik pitam.


"Mama bakal coba selesaiin ini, kamu tenang dulu, Keel. Sekarang ganti baju, makan, abis itu istrahat, ya."


...****************...


"Oma enggak mau tau, kamu harus bawa kembali Keelua ke rumah ini. Pakai cara apa pun, yang penting malam ini menantu Oma udah datang baik baik ke sini dan tanpa paksaan."


Anraka mengumpat dalam hati, bagaimana caranya ia membawa Keelua kembali ke rumah ini sementara dirinya lah yang menjadi alasan Keelua pergi?


Tidak mungkin Anraka akan mengemis dan meminta maaf pada Keelua agar gadis itu mau memaafkannya dan kembali ke rumahnya. Itu sangat memalukan.


"Oma aja yang minta dia balik, Anraka enggak mau ngebujuk apa lagi mohon mohon ke dia," kata Anraka.


"Kamu harus bertanggung jawab, Anraka. Kamu yang udah bikin kesalahan, berarti kamu harus tanggung resiko dari kesalahan kamu itu, Oma enggak mau tau." Oma Arum bangkit dan melangkah menuju kamarnya, meninggalkan Anraka yang terdiam di sana.


"Enggak apa apa, nanti kamu minta baik baik aja ke Keelua dan akui kesalahan kamu supaya kamu enggak perlu susah susah ngebujuk dia buat kembali ke sini, sayang," usul Regina.


"Kenapa enggak Mama aja yang suruh dia balik ke sini? Raka enggak butuh dia di sini, Ma. Raka enggak punya perasaan apa apa sama dia," balas Anraka dengan kesal.


"Kamu enggak boleh kayak gitu, Raka. Kamu itu laki laki, coba tunjukkan sikap seperti laki laki. Papa juga mau kamu bawa pulang Keelua ke sini, cari tau dia ke mana dan jemput dia. Paham?" tegas Arya.


Anraka mengeram kesal kemudian bangkit dan melangkah cepat ke arah tangga lalu naik ke kamarnya. Tidak ada satu pun orang yang mau mengerti dirinya, padahal ia sudah mengatakan pada semuanya bahwa ia tak butuh Keelua di sini, jadi untuk apa gadis itu kembali?


Angel memperhatikan perdebatan kakaknya dan orang tuanya dari lantai atas, gadis kecil itu terdiam, ia tak tau harus melakukan apa. Satu satunya hal yang mengisi kepala gadis itu adalah ingatan tentang kejadian kemarin siang. Saat ia bertemu dengan Ravi namun anak laki laki itu bersikap sangat dingin padanya, lebih dingin dari saat awal mereka berkenalan.


Anraka harus membawa Keelua pulang segera, Angel ingin bercerita dan berdiskusi dengan kakak dari Ravi itu untuk mengetahui kira kira apa yang terjadi dengan Ravi. Mengapa sikapnya berubah? Apa karena perjodohan yang melibatkan Keelua dan Anraka?


Angel tidak tau, tapi suasana hatinya terus menjadi buruk sejak hari itu.


Haruskah Angel diam saja? Atau ikut membantu Anraka membawa Keelua kembali ke rumah ini? Satu hal yang Angel harapkan dari kakak kandung dan kakak iparnya itu, semoga mereka terus bersama dan tidak berpisah sampai akhirnya mereka saling menyukai satu sama lain.


Mungkin butuh waktu yang lama namun Angel yakin bahwa mereka bisa melewati ini. Semua yang terjadi pasti punya alasan tersendiri, Anraka menikahi Keelua bukan hanya karena sebuah perjodohan namun karena takdir yang memang sudah menyatukan mereka dari awal.


Angel akan terus menjaga agar hubungan Keelua dan Anraka baik baik saja, meskipun tidak saling mencintai; keduanya masih punya masa depan yang cerah dan kemungkinan untuk saling mencintai. Angel percaya itu.


Sebuah suara menarik Angel kembali ke dunia nyata saat ia sedang asik berenang di lamunannya.


"Angel, kamu enggak apa apa, sayang?"


Angel menoleh, itu ibunya.


"Enggak apa apa, Ma. Kenapa?" tanyanya.


"Mama yang harusnya nanya kamu kenapa, dari tadi Mama perhatiin kamu cuma diam aja di sini. Kamu lagi ada masalah, ya? Cerita ke Mama, kamu jangan nyimpan semuanya sendirian." Tangan Regina terangkat kemudian membelai pelan pucuk kepala anak perempuannya.


Angel tersenyum dengan manis, ia tentu saja akan merahasiakan apa yang ia rasakan sekarang.


Menurutnya ini tidak begitu penting untuk diceritakan, biarkan dia dan Keelua saja yang mengetahui ini. Tapi sayangnya, Keelua tidak ada di sini untuk mendengarkan ceritanya. Angel kembali merasa kesepian.


"Angel enggak apa apa, Ma. Cuma lagi mau bengong aja di sini," katanya.


"Ya sudah, tapi kalau ada apa apa kamu harus bilang, ya?" pesan Regina.


"Iya."


"Tadi kamu lihat Mama sama Papa lagi ngobrol bareng kakak kamu di bawah, 'kan?" Regina membuka topik obrolan baru.


"Iya, Angel lihat."


"Kamu tau enggak kira kira kami tadi lagi bahas apa?" tanya Regina lagi.


"Lagi bahas kak Keelua?" tebak Angel.


"Betul banget. Sekarang Mama mau tanya lagi, Angel anak baik, bukan?" Regina mengganguk mantap.


"Kayaknya sih baik, soalnya Angel enggak pernah dapat nilai jelek di sekolah," jawab Angel dengan bibir yang maju.


"Nah kalau Angel itu anak baik, Angel mau enggak bantuin Mama?"


Dahi Angel mengerut, "Bantuin apa, Ma?" tanyanya.


"Bantuin Mama ngebujuk kakak kamu biar dia mau ngejemput Kak Keelua dan bawa kakak ipar kamu itu pulang ke sini. Yah, Angel?"


Angel menghela napas pelan, "Udah Angel duga."


Regina tersenyum sebentar lalu merangkul pundak anaknya itu, "Kan cuma kamu yang bisa ngebujuk kakak kamu, Ngel. Kamu enggak kasian sama Oma Arum? Oma pengen banget kak Keelua balik lagi ke sini. Bantuin, ya?" pintanya.


Tak ada pilihan lain, Angel hanya bisa mengangguk dan mencoba sebaik mungkin untuk bicara dengan kakaknya yang sangat keras kepala itu. Tidak pasti Anraka akan mendengarkannya atau tidak, yang Angel tau, Anraka punya gengsi yang sangat besar.


"Iya, Ma. Angel coba, ya."


...****************...


"Kamu yakin mau di sini aja? Enggak mau balik ke rumah Anraka sendiri?"


Sekar tengah menyiapkan sarapan untuk keluarganya, di meja makan sudah ada Keelua dan Ravi.


"Enggak mau, biarin aja dia ke sini kalau mau. Dia enggak ke sini juga enggak apa apa, aku enggak betah di sana," balas Keelua.


"Kenapa?" tanya Ravi tiba tiba.


"Apanya yang kenapa?"


"Kenapa enggak betah? Mereka jahat sama lo?"


Keelua menggeleng lalu mengambil sereal yang baru saja Sekar letakkan ke atas meja, "Mereka baik, semua orang di sana baik. Tapi gue lebih suka di sini, rumah gue 'kan di sini," katanya.


"Kamu sudah menikah, Keel. Di sana juga rumah kamu, harusnya kamu bisa betah di sana sama kayak di sini," pesan Sekar.


Keelua menghela napas panjang, "Aku emang belum siap untuk semua ini, Ma. Aku masih mau tinggal sama Mama, sama Papa, sama Ravi. Belum waktunya aku menikah dan tinggal di rumah orang lain, aku masih sangat butuh keluarga aku buat tumbuh dengan baik." Kemudian menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.


Menyedihkan memang, tapi semuanya sudah terjadi.


"Kamu bisa ke sini kapan aja kamu mau, Keel. Kamu enggak perlu sungkan, ini tetap rumah kamu.


Enggak ada alasan untuk enggak ke sini, bedanya sekarang kamu punya dua rumah dan dua keluarga. Mama juga bangga sekali sama kamu karena kamu benar benar mau bantu Mama sama Papa," timpal Sekar seraya duduk di kursi yang ada di depan Keelua.


"Enggak usah ke mana mana, lo di sini aja," potong Ravi.


"Gue juga maunya gitu, Rav. Tapi kayaknya gue emang udah enggak bisa lagi lama lama di sini." Keelua menundukkan kepala, menatap jari jarinya yang bertaut.


"Bukan gitu, Keel."


"Enggak apa apa. Keelua paham, Mama enggak perlu ngejelasin apa pun."


Kemudian Keelua bangkit dan melangkah masuk ke dalam kamarnya. Sekar ingin menghentikan langkah gadis itu namun ia ragu.


Beberapa saat berlalu, Keelua kembali bersama tas sekolah yang kemarin ia bawa pulang ke rumahnya.


"Keelua berangkat dulu. Kalau Raka tetap enggak minta Keelua balik ke rumahnya, Keelua nginap di tempat lain aja. Maaf udah ganggu kalian di sini," ujar Keelua lalu berjalan cepat menuju ruang tamu.


"Enggak, Keel! Kamu jangan kayak gitu!" seru Sekar.


Ravi bangkit dan mengejar Keelua yang melangkah cepat, anak laki laki itu dengan sigap menggenggam lengan kakaknya.


"Kak, lo harus pulang ke sini. Lo enggak boleh ke mana mana lagi, gue enggak punya teman selama enggak ada lo."