
"Gue mau masak bareng Mama!" seru Keelua saat ia sedang berdiri di depan cermin untuk memakai skincare rutinnya.
"Ya udah bagus, jangan masak makanan yang beracun," balas Anraka.
"Lo bisa diem, enggak? Ntar gue masakin makanan berancun beneran, mampus lo!"
"Jadi janda lo."
"Bener juga. Ya udah, enggak jadi."
Keelua kemudian segera bersiap untuk turun dan menemui Regina yang pasti sudah menunggunya di bawah, gadis itu berniat untuk membentuk hubungan yang lebih erat lagi dengan mertuanya karena saat ini keadaan sudah berubah dan Keelua juga sudah menjalin hubungan yang berlandaskan rasa sayang dengan Anraka.
Awalnya, Keelua hanya ingin membalas semua perlakuan baik orang orang yang ada di rumah ini padanya dengan bersikap baik pula. Ia tak berharap untuk memberikan sebuah kesan yang baik sebagai menantu, ia hanya ingin bersikap ramah sebagai seorang asing yang terpaksa harus tinggal di rumah megah ini.
"Lo ikut enggak?" tanya Keelua pada Anraka.
"Bentar, kelarin tugas gue dulu, besok udah dikumpulin," balas Anraka.
"Wah, wah, wah. Tumben banget lo, enggak nyangka gue." Keelua bertepuk tangan meriah, ini sepertinya harus dirayakan.
"Bacot banget. Turun sana, nanti gue nyusul." Anraka membalas dengan sebal.
Keelua terkekeh lalu melangkah menuju pintu tapi sebelum ia benar benar sampai dan memegang gagang pintu kamar Anraka, pemuda itu tiba tiba menghentikan langkahnya.
"Keel, bentar dulu."
Keelua berbalik, "Apaan? Tadi nyuruh gue keluar," sahut Keelua.
"Cium gue."
"Apa?"
"Cium gue."
"Udah gila lo?"
Apa Keelua tidak salah dengar? Apa yang baru saja pemuda itu katakan? Menciumnya? Tapi kenapa?
"Ngapain gue nyium lo? Kenapa harus?" tanya Keelua.
"Lo istri gue, lo harus nurut apa kata suami," ucap Anraka, matanya masih fokus ke arah buku dan laptop.
Keelua menghela napas panjang lalu berbalik dan mendekat ke arah Anraka yang seolah olah sangat sibuk mengerjakan tugas padahal ia hanya menutupi kegugupannya.
Cup.
Satu kecupan manis mendarat di pipi kanan Anraka, entah apa yang harus pemuda itu lakukan saat jantungnya berdetak lebih cepat dan tidak karuan.
Keelua memperhatikan reaksi Anraka tapi pemuda itu tak mengatakan apa apa saat Keelua selesai mendaratkan ciuman tipis di wajahnya.
"Udah, ya. Lo harus turun juga, enak banget cuma makan doang tapi enggak ngapa ngapain. Lo harus bantuin juga," kata Keelua seraya keluar dari pintu dan meninggalkan Anraka yang membeku di tempatnya.
Saat Keelua benar benar menghilang dari balik pintu, Anraka bangkit dari kursi dan melompat lompat bahagia. Pemuda itu seperti orang yang baru saja menang taruhan, tapi bedanya ia berteriak tanpa suara agar tidak ada yang bisa mendengar suaranya dan mengetahui bahwa ia menjadi sangat senang hanya karena diberikan satu kecupan kecil oleh gadis yang sudah berstatus sebagai istrinya.
Keelua turun ke lantai bawah, dengan senyuman ia di sambut oleh Angel yang sedang duduk di ruang tengah bersama Regina, Arya dan juga Oma Arum.
"Kak Keel, kakak mau masak sama Mama lagi, ya?" tanya gadis kecil itu.
Keelua mengangguk, ia turun dari anak tangga terakhir, "Iya, kakak udah bikin janji sama Mama tadi. Takutnya Mama enggak ada waktu, 'kan?" guraunya.
"Mama akan selalu punya waktu untuk anak anak Mama, Mama juga senang masak sama Keelua, dia cepat ngertinya," puji Regina.
"Makasih, Ma!" Keelua tersenyum lebar.
Keelua menggeser pandangannya ke arah lain, ia menemukan sosok Oma Arum yang sedang menonton TV tanpa mengatakan apa pun.
"Halo, Oma. Oma lagi nonton apa?" tanya Keelua.
"Kamu enggak bisa lihat? Oma lagi nonton TV." Oma Arum membalas dengan sedikit jutek bahkan tidak menoleh ke arah Keelua sama sekali.
Keelua terdiam, ia tersenyum getir menghadapi sikap culas Oma Arum kepadanya, ia tidak mengerti apa kesalahan yang telah ia perbuat hingga Oma Arum tiba tiba bersikap berbeda kepadanya. Tidak seperti biasanya.
"Kalian mau bikin makanan apa buat makan malam?" tanya Arya ikut menimbrung.
"Belum tau, sih, Pa. Tapi kayaknya Mama bakal bikin makanan yang paling enak kayak biasanya, enggak ada deh yang bisa ngalahin makanan buatan Mama. Enak banget!" Angel tersenyum senang, ia juga akan ikut membantu Ibu dan kakak iparnya.
"Setuju!" Keelua berseru.
"Enggak usah banyak cerita, langsung masak aja, udah jam berapa ini. Kalian enggak punya waktu banyak buat masak," kata Oma Arum.
Angel dan Keelua terdiam, Regina pun langsung menuntun anak anaknya untuk segera pergi ke dapur dan memasak bersama.
"Raka mana, Keel?" tanya Regina saat mereka sudah mulai masak bersama.
"Raka lagi ngerjain tugas, Ma," jawab Keelua seadanya.
"Hah?" Regina dan Angel bersuara bersamaan.
"Tadi kak Keelua bilang kalau Bang Raka lagi ngerjain tugas? Beneran? Serius? Tugas sekolah gitu maksudnya?"" tanya Angel dengan wajah tidak percaya.
Keelua mendongak, sambil mengiris tomat ia membenarkan apa yang baru saja ia katakan.
"Ini semua karena kak Keelua yang bisa ngerubah sifat dan sikap Bang Raka jadi lebih baik. Bang Raka juga nurut banget sama kak Keelua. Angel juga bingung gimana caranya," ujar gadis kecil yang sedang duduk dan memandangi aktivitas Regina dan Keelua.
"Iya, lho. Kamu harus kasih Mama tips supaya Raka bisa nurut, dia susah banget dibikin nurutnya, cuma kamu satu satunya orang yang benar benar di dengerin, enggak ada lagi orang yang lebih bisa ngendaliin Raka sebaik kamu. Kamu emang hebat, Keel." Tak habis habisnya Keelua menerima pujian dari ibu mertuanya dan juga adik iparnya.
Oma Arum yang masih duduk atas sofa ruang tengah tampak menguping pembicaraan orang orang yang sedang ada di dapur, raut wajahnya tampak tak suka.
"Hai, semua."
Seorang pemuda turun dari tangga, memberi sapaan kecil, seperti bukan dia yang biasanya. Anraka dulunya tidak pernah memberi sapaan bahkan jarang berbicara dengan orang orang yang ada di rumahnya namun kali ini berbeda, pemuda itu bahkan memberi sedikit senyuman.
"Halo, Raka. Sini duduk, sayang," sahut Oma Arum.
Anraka pun duduk di sebelah Oma Arum, kemudian mengobrol kecil.
"Keelua mana, Oma?" tanya Anraka.
Belum sempat Oma Arum menjawab, terdengar suara tawa Keelua dari arah dapur, atensi pemuda itu pun teralihkan.
"Mau ke mana kamu? Enggak mau nemenin Oma nonton di sini?" tanya Oma Arum saat Anraka hendak bangkit dari duduknya.
"Raka mau ngelihat Keelua lagi ngapain, Oma. Oma nonton aja di sini, nanti Papa pasti balik ke sini."
Seperti biasa, Oma Arum selalu duduk dan menonton TV bersama Arya saat malam sebelum jam makan malam. Sementara Ibu Anraka menyiapkan makanan bersama Bi Maryam tapi hari ini, Regina dibantu oleh Keelua dan Angel.
Dengan semangat Anraka langsung menuju dapur untuk mencari sang istri, lagi lagi Oma Arum memasang tampang tak suka.
"Ma.." Terdengar suara panggilan yang cukup lembut dari arah belakang, semua orang yang sedang ada di dapur menoleh dan menemukan Anraka sedang melangkah mendekat.
"Halo, Bang!" sapa Angel dengan semangat.
"Apa, cil?" sahut Anraka sambil meletakkan tangannya di atas kepala Angel hingga membuat gadis kecil itu mendumel sebal.
"Masak apa?" tanya Anraka lugas.
"Lagi bikin sup sama ayam goreng sama sambel," kata Keelua.
"Ayam goreng itu kesukaannya Raka, iya, 'kan?" Regina menyeletuk.
Anraka hanya mengangguk lalu ikut duduk di depan mini bar bersama Angel dan memandangi Ibu serta istrinya yang sedang menyiapkan makanan yang sepertinya hampir selesai.
Beberapa saat berbincang dan mengobrol, makanan pun sudah jadi dan siap untuk disajikan.
Oma Arum, Arya, Anraka dan Angel sudah duduk di meja makan, sementara Regina dan Keelua masih menyiapkan semua kebutuhan makan mulai dari piring hingga air minum. Bi Maryam diminta untuk membersihkan kekacauan di dapur karena Keelua yang mencoba membuat sup tadi.
"Eh, gelasnya kurang," gumam Keelua.
"Angel ambilin, ya!"
"Enggak usah, Angel," tolak Keelua. "Bisa tolong ambilin gelas satu lagi, enggak, Rak? Tempat gelasnya agak tinggi, Angel enggak sampai," kata Keelua sambil menoleh ke arah Anraka.
"Siap!" Anraka buru buru kembali ke dapur untuk mengambil gelas yang Keelua minta.
Melihat itu, Regina dan Arya saling memandang lantas tersenyum.
"Wah, makanannya keliatan enak banget, pasti Keelua yang masak, ya?' tanya Arya dengan senyum guraunya.
"Bukan, Pa. Keelua cuma bantuin Mama," kata Keelua tidak ingin berbangga diri.
"Ah, enggak. Keelua masak juga, kok. Iya, 'kan, Ngel?" Regina buka suara.
"Iya, Ma." Angel menyetujui.
Makan malam pun di mulai, Arya mencoba sup buatan Keelua, tampaknya ia suka dan menikmati makanannya, Keelua tersenyum senang. Orang orang yang ada di meja itu belum tau bahwa Keelua yang membuat sup tersebut, kecuali Regina dan Angel. Sedangkan Anraka datang saat sup itu sudah matang.
"Gimana, Pa? Sup nya tanya Regina. enak?"
"Enak banget!" seru Arya.
"Ini buatan Keelua, lho."
"Oh, ya? Enak bang-"
"Pftt!"
Terdengar suara seseorang seperti membuang makanan yang sudah ia makan, saat Keelua mendongak, ternyata itu adalah Oma Arum.
"Kenapa, Oma?" tanya Anraka.
"Sup nya enggak enak," kata Oma Arum dengan lugas.
"Enggak enak? Ini enak kok, Ma," ucap Arya.
"Iya, ini enak banget." Regina pun buka suara.
"Ini terlalu asin, kalian mau bikin saya sakit lagi? Ngapain sih bikin makanan kayak gini? Enggak bisa dimakan." Oma Arum mengatakan itu tepat di hadapan Keelua.
Keelua yang mendengar semua itu hanya bisa diam, itu menunduk, tiba tiba saja air mata hendak menerobos kelopak matanya namun ia berusaha untuk menahannya sekeras mungkin.
"Enggak usah masak lagi, masakan kamu enggak bisa dimakan, Keelua."