
"Setuju!" Keelua berseru.
"Enggak usah banyak cerita, langsung masak aja, udah jam berapa ini. Kalian enggak punya waktu banyak buat masak," kata Oma Arum.
Angel dan Keelua terdiam, Regina pun langsung menuntun anak anaknya untuk segera pergi ke dapur dan memasak bersama.
"Raka mana, Keel?" tanya Regina saat mereka sudah mulai masak bersama.
"Raka lagi ngerjain tugas, Ma," jawab Keelua seadanya.
"Keel, lo enggak apa apa?"
Anraka masuk ke dalam kamarnya yang sudah ada Keelua di dalamnya.
Keelua berbalik, ia tersenyum. "Iya, enggak apa apa."
Anraka mendekat, "Maafin Oma, ya. Oma pasti enggak maksud ngomong kayak gitu, mungkin Oma lagi pusing atau sakit makanya ngomong kayak gitu. Maafin Oma, ya, Keel," ucapnya.
"Enggak apa apa, lo enggak perlu mikirin itu, gue benar enggak apa apa. Enggak usah minta maaf, Rak." Keelua menoleh ke belakang, menatap mata Anraka yang sepertinya merasa bersalah.
"Tapi gue enggak enak, gue tau lo pasti ngerasa sedih sekarang. Gue cuma mau-"
"Udah udah, diem aja. Enggak usah kayak gitu, ah. Orang gue enggak apa apa."
Anraka menghela napas panjang, ada perasaan yang membuatnya tidak bisa tenang saat melihat Keelua seperti ini.
"Ngomong ngomong makanan lo benaran enak, enak banget. Lo nyoba juga, 'kan? Itu udah sempurna banget, enggak ada yang perlu lo perbaikan lagi. Oke?" kata Anraka, ia mengatakan hal yang Jujur.
Keelua tersenyum, "Iya, emang enak. Makasih udah suka tapi emang enggak semua orang seleranya itu sama. Mungkin menurut Oma Arum enggak enak karena dia emang ngerasa itu enggak enak. Enggak apa apa, kok. Lo enggak perlu cemasin gue, gue baik baik aja. Sumpah."
Lagi lagi, Keelua berbohong. Matanya tidak bisa menipu, terlihat gadis itu benar benar sedih.
"Terserah. Makanan lo paling enak," tutur Anraka.
Gadis yang sedang memakai kaos kebesaran itu tersenyum manis, Anraka merinding melihat senyuman itu. Benar benar cantik hingga ia tak ia dapat berkedip.
Keelua kembali menghadap ke laptopnya seperti semula, membelakangi Anraka yang duduk di atas ranjang.
Anraka pun terdiam, ia tak tau bagaimana caranya berbicara dengan Keelua sekarang, gadis itu berbohong, sudah jelas ia sedang merasa tidak baik baik saja tapi lebih memilih untuk mengatakan bahwa ia baik baik saja.
Perempuan memang sulit ditebak.
"Lo lagi nonton apa? Gue boleh ikutan, enggak?" tanya Anraka.
Jika tak bisa menghibur Keelua, setidaknya Anraka bisa menemani gadis itu saat ia sedang butuh teman untuk tidak merasa kesepian. Keelua harus tau bahwa Anraka sangat peduli padanya.
"Lagi nonton drama Korea, lo mau nonton bareng gue?" tanya Keelua, kali ini ia tak berbalik.
"Boleh."
"Ya udah, bentar."
Keelua bangkit bersama laptopnya lalu membawa laptop itu ke sebelah Anraka dan meletakkannya di atas ranjang.
"Ini genrenya romance, lo enggak usah banyak komentar nanti filmnya jadi enggak seru." Keelua memberitahu Anraka di awal, ia tau bahwa Anraka tidak begitu menyukai apa pun yang terlalu 'romantis'.
Anraka mengangguk saja, mereka pun akhirnya menonton drama itu bersama dan tampak
menikmatinya. Sebenarnya Anraka tidak terlalu mengerti apa konsep dari drama yang ia tonton tapi kehadiran Keelua di dekatnya membuat hatinya menjadi tenang dan nyaman. Alih alih memperhatikan layar laptop, Anraka malah memperhatikan wajah Keelua yang tampak serius menonton film di laptopnya.
Ternyata sesuka ini Keelua dengan drama.
Saat Keelua mendecak kesal, barulah pandangan Anraka kembali pada layar laptop, saat film itu kembali membosankan, Anraka akan kembali memandangi wajah Keelua tanpa rasa bosan sedikit pun.
Perasaan yang membawa Anraka menuju Keelua adalah perasaan yang paling menyenangkan untuk pemuda itu, rasanya semuanya menjadi berwarna padahal dulu Anraka hanyalah abu abu yang penuh dendam.
Seiring berjalannya waktu, dengan Keelua di sisi Anraka, semuanya berangsur angsur membaik, bahwa rasa kecewa Anraka terhadap orang tuanya pun terus berkurang meskipun tak semudah itu untuk hilang.
Entah bagaimana cara Keelua melakukan ini semua, tapi perjodohan ini membuat Anraka mengerti bahwa belum tentu hal yang kita benci adalah buruk untuk kita. Bisa saja, rasa tidak suka kita itu akan membawa kita ke jalan yang lebih gelap jika tak sesekali dimaklumi. Tidak semua buruk itu benar benar buruk dan tidak semua baik itu benar benar baik.
Anraka belajar banyak hal, ia diberi pengalaman dan kedewasaan yang amat berarti. Mungkin ini saatnya berterima kasih pada semesta setelah banyaknya hinaan yang sudah Anraka lontarkan padanya.
"Ah, cowoknya romantis banget, sih!" kata Keelua memuji aktor utama di dalam drama yang sedang ia tonton itu.
Anraka kembali mengalihkan netranya ke arah layar laptop, melihat apa yang terjadi di dalam film yang membuat istrinya menggila ini.
"Yang kayak gini itu cuma ada di drama Korea doang, enggak ada cowok senorak ini di dunia nyata. Enggak usah halu," caci Anraka dengan santainya.
Keelua mendecak, "Apaan, sih?! Diem aja deh, gue juga tau kali! Tapi ini tuh kayak real, lo enggak lihat muka ceweknya sampai merah gitu? Walaupun cuma akting tapi si cewek pasti beneran klepek klepek, gue jamin!" seru gadis itu.
"Ceweknya juga sama noraknya," balas Anraka lagi.
"Bacot lo!"
Anraka tersenyum kecil melihat Keelua yang marah marah hanya karena ia mengatakan bahwa para pemain drama itu berlebihan alias norak, padahal itu benar.
Perempuan memang seperti itu, berekspektasi terlalu tinggi hingga membuat dirinya sendiri kecewa tapi menyalahkan keadaan untuk itu. Aneh sekali.
"Udah malam, lo enggak mau tidur?" tanya Anraka.
"Dramanya belum selesai, Raka. Lo enggak lihat? Gue enggak mau tidur kalau ini belum selesai, gue enggak mau tutup mata kalau si cewek ini belum nyesel. Paham lo?!" balas Keelua dengan juteknya.
Anraka memajukan bibirnya, terserah saja. Padahal tampak sekali bahwa Keelua sudah benar benar mengantuk, terlihat dari matanya. Kita lihat saja, sampai kapan gadis itu akan tahan tidak tidur hanya untuk menonton orang orang yang sedang berakting.
Karena lelah, Anraka pun membaringkan tubuhnya dan menatap langit langit kamar yang putih, ia kembali mengingat kata kata Oma Arum yang begitu kasar pada Keelua tadi.
Setau Anraka, Omanya itu sangat suka dan sayang pada Keelua tapi mengapa ia tiba tiba mengatakan hal yang sangat tidak enak didengar itu? Apa Keelua pernah melakukan kesalahan yang fatal hingga membuat sikap Oma Arum berubah?
Sepertinya tidak, Keelua adalah gadis yang tidak pernah macam macam dan selalu menghormati orang orang di rumahnya.
Lantas, mengapa Keelua diperlakukan seperti itu oleh Oma Arum? Dan yang paling membingungkan, Oma Arum mengatakan bahwa makanan yang Keelua buat tidak enak padahal itu benar benar enak. Berarti, Oma Arum memang sengaja mengatakan hal yang membuat hati Keelua kecewa. Padahal, Keelua sudah berusaha membuat sup seenak mungkin tapi usahanya sama sekali tidak dihargai.
Bukan Anraka yang memasak makanan itu tapi ia juga merasa buruk saat mendengarnya.
Betapa hancurnya hati Keelua tapi gadis itu tidak mengeluh, ia bahkan tersenyum ke arah Oma Arum dan mengatakan bahwa ia akan mencoba memasak makanan yang lebih enak lagi di lain kesempatan.
Entahlah, Keelua memang selalu suka berpura pura.
"Keel?" panggil Anraka.
Gadis itu hanya menjawab dengan gumamam, ia masih fokus pada layar laptonya.
"Gue enggak suka kalau ada orang yang bikin lo sakit hati, gue enggak tau sejak kapan perasaan ini ada tapi gue mau berterima kasih sama lo karena lo udah baik dan mau nerima semua kekurangan gue. Lo bisa tahan sama gue aja udah hebat banget," kata Anraka sambil terkekeh, ia menertawai dirinya sendiri.
"Dulu gue kayak yang lo lihat sekarang, banyak bicara, suka ngobrol sama orang lain tapi sejak masuk SMA-gue enggak tau kenapa sikap gue bisa berubah jadi cuek dan enggak peduli sama siapa pun bahkan sama keluarga gue sekali pun. Seolah olah, gue ngerasa harus bodo amat sama orang lain untuk ngelindungin diri gue sendiri, tapi ... gue enggak tau gue berlindung dari apa." Anraka masih menatap lekat langit langit kamarnya itu.
"Sampai lo datang dan bikin gue sadar kalau sebenarnya gue enggak perlu takut sama apa pun, enggak ada yang perlu gue cemasin dan berantem sama orang lain itu ternyata enggak nyelesain masalah. Sama kayak yang sering lo bilang dulu. Untung ada lo, ya."
Keelua masih tidak mengatakan apa pun, Anraka rasa gadis itu sedang mendengarkannya.
"Kalau lo enggak ada, gue mungkin masih kayak dulu, nongkrong di cafe atau bar semalaman. Gue enggak akan pulang sebelum Oma Arum yang minta gue balik sampai nangis nangis. Bandel banget gue, ya."
Kenangan kenangan kelam Anraka berputar di kepalanya, pemuda itu merasa senang sekaligus sedih.
Ia senang karena sudah melewati masa masa yang seru itu tapi ia sedih karena sudah menghabiskan masa mudanya dengan hal hal yang semestinya tidak perlu ia lakukan.
Tapi semua itu adalah pelajaran yang tidak perlu di sesali, setidaknya Anraka sudah merasakannya hingga ia tak penasaran lagi. Sebenarnya itu bukan apa apa, yang lebih buruk adalah saat Anraka selalu memukuli orang orang yang tidak bersalah dan membuat masalah kecil menjadi masalah besar padahal sekali lagi itu tidak perlu.
Anraka menghela napas, "Gimana pun keadaannya, gue senang bisa nemuin diri gue sendiri. Entah apa penyebab gue jadi kehilangan diri gue tapi semuanya udah balik lagi, gue bisa bahagia lagi. Gue kangen gue yang ini, Keel. Bukan Raka yang jagoan."
Pemuda itu tersenyum, tulus. Ia benar benar bahagia bisa menemukan dirinya lagi, rasanya memang sulit untuk menjadi seseorang yang belum dapat menemukan jati dirinya sendiri tapi itu tak masalah. Menjadi bahagia adalah hal yang paling penting dari apa pun, kebahagiaan tidak punya takaran, kebahagiaan tidak punya batas hanya kita sendiri yang bisa memilih untuk bahagia atau tidak.
Masih dengan senyumannya, Anraka berbalik dan menemukan hal yang tidak terduga. Saat laptop Keelua masih menyala dan memutar film yang mereka nonton tadi, si empuhnya ternyata sudah terlelap pulas di sebelah laptop itu.
Berarti Keelua tidak mendengar apa yang Anraka katakan panjang lebar tadi. Astaga.
Alih alih marah, Anraka malah tersenyum sambil memandangi Keelua dengan wajah kelelahannya.
"Selamat tidur, cantik."