BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
Menang



"Jadi ini enggak ada yang rusak? Enggak ada masalah?" tanya Gibran.


"Enggak ada. Mesinnya juga normal, apanya yang bermasalah, Rak?" tanya Bumi.


"Kemarin bermasalah tapi kalau sekarang udah enggak, bagus deh," kata Anraka dengan santainya.


Setelah itu, Anraka buru buru menghubungi Keelua lagi.


"Lo udah di atas belum?" tulis Anraka dalam pesannya.


"Udah," balas Keelua.


Anraka akhirnya bisa bernapas lega, pemuda itu akhirnya memutuskan untuk mengakhiri drama ini dan masuk ke dalam rumah lagi.


"Eh, mau ke mana lo?" tanya Romeo saat melihat Anraka masuk ke dalam rumahnya begitu saja.


Tanpa menoleh Anraka menjawab, "Masuk lah, ngapain di luar?"


Teman temannya yang lain pun saling tatap, mereka bingung dengan apa maksud Anraka sebenarnya mengajak mereka keluar dan mengecek kendaraannya padahal semuanya baik baik saja.


Pemuda yang aneh.


Begitu mereka semua sudah kembali masuk ke dalam, Romeo yang tampak mengantuk bangkit dari duduknya lalu melangkah ke lantai atas.


Anraka sedang bermain game bersama Gibran awalnya tidak menyadari itu, sampai Bumi bertanya pada Romeo yang sudah sampai di tengah tangga.


"Mau ke mana, Rom?" tanya Bumi yang sedang menonton TV.


"Mau tidur, di kamarnya si Raka."


Kemudian Bumi manggut manggut, itu bukan hal yang baru, semua anggota EX sudah terbiasa saling berbagi kamar. Di rumah siapa mereka berkumpul, rumah itu akan seperti rumah mereka juga.


Anraka masih belum sadar hingga beberapa detik setelahnya otaknya memberinya sinyal bahwa Romeo tidak boleh masuk ke dalam kamarnya karena di sana ada Keelua.


"Sial," umpat Anraka seraya melepas ponselnya yang sejak tadi ia genggam.


"Eh, gimana nih, Rak?" tanya Gibran yang panik karena Anraka tiba tiba berhenti bermain.


"Mainin dulu, Ta," titah Anraka pada Ganta seraya lari menuju ke lantai atas untuk mengejar langkah Romeo.


Anraka menemukan bahwa Romeo sudah tidak ada di lorong lantai dua, berarti pemuda itu sudah masuk ke dalam kamarnya. Bagaimana ini, apa yang akan ia lakukan?


Dengan tergesa gesa Anraka masuk ke dalam kamarnya dengan jantung yang berdetak kencang karena membayangkan ekspresi Romeo saat melihat istrinya apalagi dengan penampilan seperti itu.


BRAK!


Anraka membuka pintu kamarnya dengan keras, pemuda itu menemukan Romeo sudah berbaring di kasurnya tanpa rasa bersalah sedikit pun bahkan pemuda itu sepertinya sudah tertidur pulas.


Hal yang pertama Anraka lakukan adalah mencari keberadaan Keelua yang benar benar harus disembunyikan tapi ia tak menemukan keberadaan Keelua di mana pun, bahkan di bawah ranjang sekali pun.


Anraka pergi ke toilet, kamar mandi dan walk in closet tapi tidak ada siapa siapa di sana.


Ia tak menemukan Keelua atau siapa pun di dalam ruang kamarnya selain dirinya dan Romeo.


Ke mana Keelua pergi?


Anraka benar benar tak menemukan siapa siapa, akhirnya ia keluar untuk mencari Keelua di lantai dua juga namun di ruangan lain.


Sebelum itu, Anraka menghubungi Keelua lebih dulu.


"Keel, lo di mana? Kok di kamar enggak ada?" tanya Anraka di dalam pesannya.


Keelua tidak langsung menjawab, gadis itu tidak melihat pesan yang baru saja Anraka kirimkan pula.


Anraka mulai was was, ke mana gadis ini?


"Raka! Kita menang!" seru Gibran dari lantai bawah.


Anraka mendecak kesal, kemudian memilih turun karena mungkin Keelua bersembunyi di lantai bawah atau semacamnya.


"Rak! Sini dulu!" panggil Gibran yang duduk di depan TV, ia duduk di atas karpet bersama Ganta.


Mau tak mau, Anraka harus menghampiri teman temannya yang sudah sejak tadi memanggilnya.


"Kita menang, lihat dong! Tingkat nasional!" kata Gibran dengan semangat.


Mata Anraka sedikit melebar, "Wah, gue emang keren. Coba kalau bukan gue yang bentuk tim nya, pasti kalian udah gugur di babak pertama," ujarnya.


"Kurang ajar lo, gue juga jago kali." Gibran memprotes.


"Kita menang nih, masa enggak ada perayaan apa apa," sambung Bumi.


Anraka dan teman temannya ternyata menang turnamen game yang mereka ikutin beberapa waktu lalu. Semua anggota inti EX ikut namun mereka juga mengajak beberapa anggota EX yang lain, mereka memilih yang jago bermain saja.


Memang Anraka yang membentuk tim tersebut dan seperti biasa,Anraka lah yang menjadi ketua tim tersebut.


Setelah Anraka tidak fokus dengan balapan atau hal hal yang berkaitan dengan kenakalan, pemuda itu lebih memfokuskan diri dengan bisnis serta game yang sekarang sudah menjadi hobinya.


Teman teman pemuda itu pun mengikuti jejak Anraka yang mulai menjauhkan diri dari kegiatan kegiatan nakal yang membahayakan serta dunia malam yang tidak pernah ada habisnya.


Mereka hanya menghabiskan uang dan berfoya foya setiap hari, itu juga untuk sesuatu yang tidak bermanfaat.


"Harus ada dong, hadiahnya juga lumayan. Sayang banget kalau enggak kita rayain, udah lama juga kita enggak pergi nongkrong bareng bareng," sahut Gibran.


"Ya udah, ayo. Atur aja waktunya," kata Anraka menyetujui.


"Gimana, Ta? Lo setuju, 'kan?" tanya Gibran pada Ganta yang sejak tadi hanya diam saja.


"Ya," balas Ganta singkat.


Akhirnya mereka semua kembali duduk di sana, berbincang tentang banyak hal dan menyusul rencana nongkrong mereka. Gibran mengusulkan untuk pergi ke bar atau semacamnya tapi Ganta tidak menyetujuinya karena ia berpikir bahwa mabuk di awal pekan tidak akan bagus.


Bumi juga mengusulkan ke beberapa tempat yang bagus tapi teman temannya yang lain ada yang tidak setuju.


Sebenarnya seperti inilah kegiatan geng EX inti saat mereka akan pergi ke suatu tempat untuk merayakan sesuatu atau sekedar ingin berkumpul, pasti semuanya akan rumit tapi mereka sudah terbiasa.


Lama berbincang, akhirnya mereka menemukan tempat yang sepertinya cocok untuk dijadikan tempat mereka merayakan kemenangan mereka itu.


Tak terasa waktu sudah hampir malam, sudah banyak hal yang mereka lakukan sementara Romeo tertidur di lantai atas.


Gibran bahkan sudah memesan makanan dan minuman karena ia sudah kelaparan sejak tadi, Anraka menolak untuk memberi makan teman temannya karena ia yakin bahwa teman temannya itu akan menghabiskan satu kulkas penuh jika dibiarkan untuk mengambil makanan sendiri.


Lagi pula, makanan yang ada di dalam kulkas rumah Anraka adalah makanan yang harus dimasak terlebih dahulu, tidak ada makanan yang bisa langsung di makan. Anraka tidak mau mengambil resiko rumahnya kebakaran karena membiarkan teman temannya memasak makanan sendiri, ia juga tak tau memasak, selama ini hanya Keelua yang memasakkan sesuatu untuk Anraka saat mereka ingin makan.


Ganta memang pandai memasak tapi Anraka tetap saja tidak membiarkan mereka pergi ke dapur miliknya, Keelua bisa marah jika dapur mereka berantakan.


"Di dalam kulkas lo isinya makanan yang harus di masak dulu, emangnya lo bisa masak? Ngapain beli makanan yang enggak instan kalau lo tinggal cuma sendiri?" tanya Bumi.


"Enggak apa apa, suka aja." Anraka menjawab.


"Si Ganta 'kan bisa masak, kenapa kita enggak nyuruh dia aja buat masak?" tanya Gibran sambil menoleh ke arah Ganta yang sedang bermain ponsel.


"Ogah," balas Ganta singkat.


Bumi dan Anraka terkekeh pelan.


Mereka semua tau bahwa Ganta bisa memasak bahkan makanan yang ia buat memang enak tapi mereka semua juga tau bahwa Ganta akan memasak saat ia ingin saja dan itu pun di waktu waktu tertentu.


"Itu makanan udah banyak, makan aja semuanya, Gib," ujar Bumi.


Gibran manggut manggut, "Romeo belum bangun? Kasian amat tuh anak, kayaknya begadang sampai pagi nonton film biru," katanya.


"Enggak tau, kayaknya kecapean co-"


"Woy, gue dengar."


Sosok seorang pemuda turun dari tangga, memandangi teman temannya yang sedang makan bersama tanpa mengajaknya.


"Sini, makan," panggil Bumi.


Romeo mendekat lantas ikut duduk di atas sofa, pemuda itu menghela napas panjang saat bokongnya sudah menempel dengan sofa.


"Gue tadi ngelihat sesuatu di kamarnya Raka, kayaknya itu hantu deh."


"APA?!" Gibran berteriak takut.