
Sudah bermenit menit Anraka duduk di dalam ruangan Angel, pemuda itu tidak mengatakan apa apa selain menatap tubuh adiknya yang terbaring di atas bangsal, gadis kecil itu tampak sangat lemah dan pucat.
Skenario skenario acak memenuhi kepala Anraka. Ada banyak 'seandainya' di dalam otaknya.
Seandainya ia bisa membela adiknya di depan orangnya langsung agar gadis itu merasa diperhatikan, seandainya ia tidak menerima makanan dari Angel tadi, seandainya Oma Arum tidak masuk ke dalam kamarnya tadi, seandainya ia tidak membiarkan Oma Arum memarahi hingga memaki Angel tadi. Dan banyak lagi, masih ada seandainya seandainya yang lain. Itu hanya sebagian kecil.
Anraka sangat merasa bersalah pada adiknya dan pada kedua orang tuanya, meskipun pemuda itu tidak begitu peduli pada kedua orang tuanya yang juga tidak peduli padanya tapi menjaga Angel agar tetap aman adalah tugas dan tanggung jawabnya. Anraka merasa lalai.
Semoga Angel baik baik saja, Anraka menebak mungkin adiknya itu nekad menenggelamkan diri ke dalam kolam karena sikap Oma Arum tadi yang sudah pasti sangat menyakiti hati gadis kecil itu.
Mungkin Oma Arum tidak akan menyadari efeknya akan sebesar ini tapi kesalahan Anraka juga karena pemuda itu tidak buru buru membawa Angel pergi dari kamarnya. Itulah sebabnya Angel mendengar semua kata kata yang sebenarnya tidak pantas untuk ia dengar dari Oma Arum. Itu pasti akan mempengaruhi kesehatan mentalnya dan membuat gadis itu murung karena merasa salah terus menerus.
Ini cukup jahat menurutnya, tapi mengapa ia tak bisa melakuan apa apa demi adiknya? Anraka kehilangan kuasa atas dirinya sendiri, itu menyedihkan.
Ponsel Anraka tiba tiba berdering, sebuah panggilan masuk membuat pemuda itu mendecak pelan. Waktunya sedang tidak pas.
Mau tak mau, Anraka harus mengangkatnya karena ini adalah panggilan masuk dari Bumi. Mungkin saja itu penting.
"Halo, Rak? Lo di mana? Ini anak anak pada ngumpul, lo enggak mau ikut apa? Seru tau," ucap Bumi saat panggilan itu sudah terhubung dan Anraka baru saja menaruh ponselnya di depan telinga.
Pemuda itu memutar bola matanya malas, ia kira Bumi menghubunginya untuk suatu hal yang sangat penting jadi ia mengangkatnya meskipun Anraka sedang tak ingin berbicara dengan siapa pun. Tapi ternyata tidak, sialan.
"Gue lagi enggak bisa, gue di rumah sakit," balas Anraka singkat.
"Di rumah sakit? Siapa yang saling, lo enggak a—"
Panggilan terputus. Dari pada mendengar Bumi mengoceh, lebih baik Anraka menenangkan pikirannya. Pemuda itu kemudian mengangkat kepalanya, sorot matanya kembali menatap bangsal Angel.
"Gue minta maaf karena belum bisa ngejagain lo kayak yang seharusnya kakak ngejagain adiknya, Ngel."
...****************...
"Nyonya, Non Angel dibawa ke rumah sakit karena tenggelam di kolam."
Ponsel Regina jatuh ke lantai tanpa wanita itu sadari, mulutnya terbuka ketika mendengar kabar yang tiba tiba saja mampu menghancurkan hatinya.
Angel tenggelam? Bagaimana mungkin!?!
"Kenapa, Ma? Semuanya baik baik aja, 'kan?" tanya Arya dengan panik sambil buru buru menahan tubuh Regina yang hampir tumbang.
"Ada apa, Regina? Raka baik baik aja, 'kan?" celutuk Oma Arum.
"Pa, kita harus ke rumah sakit sekarang. Angel tadi tenggelam di kolam berenang," ungkap Regina seraya mencoba menyeimbangkan tubuhnya lalu segera melangkah keluar.
"Hey, kamu belum jawab pertanyaan Mama! Raka cucuku baik baik aja, 'kan?" pekik Oma Arum yang masih berdiri di tempatnya.
"Kita harus ke rumah sakit dulu, Ma, biar kita tau semuanya. Mama mau ikut atau enggak?" tanya Arya yang sudah bergegas hendak pergi ke rumah sakit sesegera mungkin.
"Ya udah. Demi Raka, Mama akan ke rumah sakit walau pun harus repot repot," kata Oma Arum lalu masuk ke kamarnya untuk mengambil tas.
Setelah semuanya siap, Arya pun buru buru melajukan mobilnya keluar dari kawasan rumahnya dan menuju ke rumah sakit yang alamatnya sudah di kirimkan oleh Bi Maryam ke ponsel Regina.
Tidak ada hal lain yang dilakukan oleh Regina selain berdiam diri dan menatap ke luar jendela.
Segala doa ia panjatkan untuk Angel agar anak perempuannya itu akan tetap baik baik saja. Entah apa yang sudah terjadi pada Angel sampai sampai gadis kecil itu nekad melakukan hal seperti ini, Regina pun tidak tau semua hal yang terjadi hari ini atas dasar keinginan Angel sendiri atau keinginan orang lain.
Namun tetap saja tidak ada yang lebih penting selain keselamatan anak perempuan itu.
"Ma, aku mau nanya." Regina buka suara.
Oma Arum membalas dengan gumaman, "Iya, tanya apa?"
"Tadi aku masuk ke kamarnya Raka, terus aku lihat ada pecahan piring. Mama tau enggak apa yang udah terjadi?" tanya Regina dengan suara yang seperti sudah tidak punya tenaga lagi.
"Pecahan piring?" Arya menyelutuk.
Drama apa lagi ini? Kenapa begitu banyak drama dalam keluarga mereka?
Terdengar Oma Arum mendecak, "Oh, itu. Itu salah anak kamu, si Angel. Dia bikinin Raka cucuku makanan yang enggak sehat, jadi tadi Mama ngasih tau dia tapi dia malah ngelempar piring makannya gitu aja ke lantai," jelasnya.
Regina geleng geleng kepala. Tidak mungkin Angel berlaku kurang ajar seperti itu.
"Mama yakin begitu kejadiannya?" tanya Regina, pelan.
"Kamu pikir saya bohong, hah?! Berani beraninya kamu nuduh saya yang enggak enggak, ya!" Oma Arum berteriak dari kursi penumpang.
Meneriaki Regina yang duduk di depannya, tepatnya di sebelah Arya yang sedang menyetir mobil.
"Regina enggak nuduh, Mama. Regina cuma nanya, Ma," balas Ibu dari Anraka dan Angel itu dengan tenang tanpa emosi sama sekali.
"Kamu itu emang menantu kurang aja, ya! Udah bagus saya izinin kamu tinggal di rumah anak saya tapi sekarang kamu malah berani ngelawan saya kayak gini. Dasar enggak tau diuntung!" teriak Oma Arum seraya terus meninggikan volume suaranya.
"Cukup!" Mau tak mau Arya harus menghentikan situasi tidak kondusif ini.
"Ada apa, Arya? Kamu juga udah berani ngelawan Mama?" ketus Oma Arum pada satu satunya pria yang ada di dalam mobil yang sedang mereka naiki.
"Aku enggak ngelawan Mama tapi tolong Mama jangan teriak teriak kayak gitu. Aku sama Regina lagi risau mikirin keadaannya Angel, Ma," tutur Arya dengan nada suara selembut mungkin agar Mamanya bisa lebih tenang dan tidak marah marah lagi.
"Kamu pikir Mama enggak risau mikirin keadaannya Anraka? Kenapa, sih, kalian itu cuma mikirin Angel dan enggak pernah mikirin Anraka?" dumel Oma Arum kemudian.
Arya menghela napas pelan, percuma saja jika ia terus mencoba membuat situasi dalam mobil itu lebih dingin, Oma Arum pasti tidak akan membiarkan itu terjadi. Lebih baik Arya dan Regina diam saja agar tidak terjadi hal buruk yang lebih dari ini.
"Enggak sopan banget, harusnya nunggu suami sama mertuanya dulu. Bukan malah lari larian kayak orang gila gitu," cibir Oma Arum ketika keluar dari mobil dan melihat punggung Regina sudah menjauh.
Semua hal menjadi tidak penting lagi untuk Regina, di pikiran wanita itu hanyalah Anraka dan Angel, kedua anaknya yang harus baik baik saja.
"Mba, tolong cek nomor kamar pasien atas nama Angel Pranara," ujar Regina pada resepsionis rumah sakit tersebut.
"Baik, Mba. Tunggu sebentar, ya," balas sang reseptionis dengan ramah.
Kemungkinan terburuk sudah memenuhi otak Regina, wanita itu sudah tidak bisa berpikir jernih lagi karena terlalu takut dan khawatir. Semuanya benar benar akan ia lakukan untuk kedua anaknya, semoga Tuhan masih berbaik hati untuk membiarkan Angel dan Anraka baik baik saja.
Harusnya Regina tidak berpikiran jauh seperti ini namun itulah naluri seorang Ibu yang tidak ingin anaknya dalam bahaya. Pemikiran negatif pun akhirnya menjalar ke seluruh otaknya.
"Ruangan VIP 007, ya, Mba. Silahkan lewat sana, lantai lima," kata si resepsionis sembari menunjuk lift yang ada di sebelah kanan ruangan.
Regina mengangguk, "Terima kasih." Lalu segera masuk ke dalam lift dan langsung naik ke lantai lima.
Begitu sampai di lantai yang dituju, Regina pun keluar dari lift lalu segera mencari ruangan 007 yang dikatakan oleh resepsionis tadi.
"Nah, ini dia." Mata Regina melebar begitu menemukan kamar yang ia cari.
Wanita itu pun hendak masuk ke dalam ruangan tersebut dengan tergesa gesa. Begitu membuka pintu, tampaklah sosok gadis kecil yang sedang terbaring lemah di atas ranjang dengan alat bantu pernapasan yang menutupi mulut dan juga hidungnya.
"Angel.."
Mata Regina seketika berair saat mendapati anak perempuannya tak berdaya seperti itu, tubuhnya membeku di ambang pintu.
"Nyonya," lirih Bi Maryam yang ada di atas sofa bersama Anraka yang juga hanya diam dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun ketika melihat Ibunya masuk ke dalam ruangan tersebut.
Perlahan lahan kaki Regina mulai tergerak untuk melangkah mendekat ke arah Angel yang masih tak sadarkan diri, wanita itu dengan setegar hatinya memilih untuk melihat wajah anak perempuannya dari dekat.
Ketika bisa memandang jelas wajah pucat gadis kecilnya, setetes air mata jatuh dari kelopak mata Ketika bisa memandang jelas wajah pucat gadis kecilnya, setetes air mata jatuh dari kelopak mata Regina. Tak ada hal lain yang bisa wanita itu lakukan selain merutuki dirinya sendiri yang sudah lalai menjaga anak anaknya. Tidak ada senyuman di wajah Angel kali ini, matanya tertutup rapat dan bibirnya pucat, sangat menyakitkan melihat anak perempuannya terbaring seperti ini.
"Bangun, sayang. Mama ada di sini," bisik Regina seraya mengambil tangan Angel yang tampak begitu putih dan lemah.
Telapak tangan gadis itu sangat dingin dan halus, tetesan demi tetesan air mata dari Regina sudah tak mampu wanita itu bendung lagi.
Sungguh, ia benar benar merasa gagal menjadi seorang Ibu. Padahal wanita itu sudah melakukan yang terbaik, sebisa mungkin ia tidak ingin melakukan kesalahan yang sama seperti apa yang ia lakukan pada Anraka kecil dulu.
Regina memang sibuk tapi ia selalu menyisikan waktu untuk menanyakan keadaan anak bersamanya, semuanya pasti akan berlalu begitu lama dan berat. Regina tidak siap untuk kehilangan apa pun dan siapa pun.
"Maaf."
Sebuah suara menghentikan isakan Regina sejenak. Wanita itu menoleh dan mendapati Anraka sebagai oknum yang baru saja berujar itu.
"Maafin Raka karena enggak jaga Angel dengan baik. Ini semua salah Raka," lirih Anraka dengan tangan yang terkepal kuat di atas kedua pahanya.
"Harusnya kakak jagain adik," lanjut pemuda itu.
Regina seketika terdiam begitu mendengar pengakuan Anraka. Sikap yang sudah tidak pernah Regina lihat setahun belakang ini, Anraka yang sekarang duduk di hadapannya adalah Anraka yang sama yang Regina kenal beberapa tahun lalu.
Anak laki lakinya yang manis dan tampan.
Entah apa yang sudah mengubah Anraka, padahal pemuda itu dulu tidak pernah bertingkah kasar dan juga tidak berpenampilan seperti preman pasar yang tidak terurus seperti sekarang.
Otak pemuda itu seperti dicuci hingga ia tak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk juga berubah menjadi sangat keras kepala.
"Kalau Raka enggak nerima makanan yang Angel bikin, Oma Arum enggak bakal marahin Angel sampai ngelempar piring itu di depan Angel." Anraka menundukkan kepala, ia tak sanggup menatap mata Ibunya.
"A-Apa?"
Apakah Regina tidak salah denger? Apa Anraka barusan benar benar mengatakan bahwa Oma Arum lah yang telah melempar piring yang Regina lihat di kamar Anraka sore ini? Lalu, mengapa wanita paruh baya itu berbohong ketika Regina bertanya di mobil tadi?
"Sialan," umpat Regina dalam hati.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.