
"Makasih ya, nak Bumi udah mau nganterin Keelua pulang."
Bumi tersenyum ke arah Ibu Keelua lalu mengangguk pelan, "Iya, Tante, sama sama. Saya balik ke sekolah dulu."
"Iya, kamu hati hati, ya. Sekali lagi terima kasih."
"Iya, tante. Saya pamit."
Bumi pun melangkah pergi dan naik ke mobilnya lalu meninggalkan rumah Keelua.
Sekar masuk ke dalam rumah lalu segera mengecek keadaan anak perempuannya yang tiba tiba sakit.
Keelua sedang berbaring di atas sofa dengan tubuhnya yang masih menggigil, Sekar buru buru pergi ke kamar Keelua dan mengambil baju dan juga selimut untuk Keelua.
Setelah Keelua selesai mengganti baju, Sekar pun datang dari dapur dan mengambilkan semangkuk bubur untuk anaknya itu.
"Keel, makan dulu."
"Ish, kok Mama bikinin bubur, sih? Keelua kan enggak suka." Keelua memutar badannya.
"Kamu ini, ya, lagi sakit masih bisa aja pilih pilih makanan," oceh Sekar.
"Ya lagian, udah tau anaknya enggak suka, masih ada dibikinin," balas Keelua.
"Cepetan makan, Keelua!" seru Sekar hampir emosi.
Keelua mengeram kesal lalu membuat suara seperti orang menangis, "Aku lagi sakit masih aja di marahin, aku ini anak mama bukan, sih!"
Sekar menghela napas panjang, anaknya ini benar benar membuatnya harus banyak banyak bersabar.
"Ya udah, kamu mau makan apa?" Kali ini Sekar akan mencoba mengikuti kemauan Keelua mau tidak mau.
"Bubur ayam."
"Ini juga bubur, Keelua."
"Itu buburnya polosan, enggak menarik." Keelua menutup kepalanya dengan selimut.
"Astaga. Anak ini." Sekar menepuk dahi, menahan diri agar mencoret nama anaknya pertamanya itu dari kartu keluarga. tidak
"Ini udah agak siang, Keelua. Udah enggak ada yang jualan bubur ayam jam segini."
"Enggak apa apa kalau Mama enggak mau beliin, paling aku kelaparan padahal lagi sakit," ucap Keelua.
Sekar lagi lagi menghela napas pasrah, bisa bisanya Keelua mengancamnya dengan ancaman bodoh seperti itu. Tapi ia tak punya pilihan selain mengikuti kemauan Keelua, Sekar tau betul bagaimana keras kepalanya Keelua.
Belum lagi jika Keelua mengadu pada Bambang, Sekar bisa dimarahi karena tidak mengikuti kemauan Keelua yang notabenenya adalah anak kesayangan Pak Bambang.
"Buang buang uang."
...****************...
"Permisi, goput!"
"Sebentar."
Sekar keluar dan mengambil bubur ayam yang sudah ia pesan untuk Keelua tadi, akhirnya anak itu bisa berhenti merengek karena kelaparan.
"Terima kasih."
Lalu Sekar pun segera masuk dan menyiapkan bubur itu untuk Keelua makan.
Keelua yang sudah pindah ke kamarnya sejak tadi sudah tidak mengeluh kelaparan lagi, Sekar pun masuk ke dalam kamar dan menemukan anak perempuannya sudah tidur nyenyak dengan selimut yang menutupi tubuhnya hingga ke leher.
Sekar menghembuskan napas pelan, "Tadi minta bubur ayam, sekarang udah ada malah tidur." Lalu melangkah masuk ke dalam kamar dan meletakkan bubur ayam Keelua di atas nakas.
Tak langsung beranjak pergi, Sekar malah duduk di sisi ranjang Keelua, memperhatikan wajah anaknya yang tampak damai dan polos, tidak menyebalkan seperti biasanya.
Tangan Sekar terangkat untuk membelai rambut Keelua, dadanya tiba tiba sakit saat memikirkan sesuatu yang belum ia beri tau pada anak ini.
"Mama belum siap jauh dari kamu, Keel." Sekar menyeka air mata lolos dari pelupuk matanya.
Setelah puas memandangi wajah Keelua, Sekar pun keluar dari kamar gadis itu setelah memberi sebuah kecupan kecil di dahi Keelua.
Saat mendengar suara pintu di tutup, Keelua yang sebenarnya tidak tertidur itu sedikit membuka matanya. Alisnya menekuk mendengar ucapan sang Mama tadi.
"Enggak siap jauh dari gue? Emang gue mau ke mana?" gumam gadis itu.
Tanpa ambil pusing, Keelua langsung mengambil bubur ayam yang ada di atas nakasnya lalu menyantapnya dengan lahap seperti orang yang tidak sakit.
Keelua kelaparan.
...****************...
"Bagi duit."
Anak laki laki yang dimintai uang seorang gadis kecil menggeleng pelan, menandakan ia tidak punya uang.
"Apa apaan ngegeleng gitu? Gue minta duit bukan minta lo geleng geleng."
Anak perempuan itu mendecih, "Bohong. Enggak mungkin lo enggak ada duit."
"Beneran enggak ada."
"Kasih gue duit atau lo bakal dihabisin sama teman teman gue?" ancam gadis kecil tadi.
Anak laki laki yang dipalak kembali menggeleng seraya menoleh ke arah beberapa anak laki laki yang berdiri di belakang anak perempuan yang suka memalak teman temannya.
"Seribu aja deh, buat beli tejus, masa enggak ada." Anak perempuan itu kini menawarkan keringanan untuk korbannya.
"Gue adanya lima ratus perak doang," lirih anak laki laki tadi.
Si gadis kecil menghela napas berat, "Ya udah enggak apa apa, nanti gue tambahin lima ratus perak lagi buat beli tejus."
Anak laki laki tadi pun memberikan satu satunya uang yang ia punya pada gadis kecil tomboy yang sejak tadi terus memalaknya.
Si gadis kecil tersenyum miring lalu menyimpan koin bundar itu ke dalam saku seragamnya.
"Oke, lo boleh pergi."
Gadis kecil itu pun kembali melangkah angkuh bersama ketiga teman laki lakinya yang bertubuh lebih tinggi darinya, ia sudah bagaikan ratu yang dijaga oleh para pengawal atau seperti tuan putri yang dijaga oleh bodyguard.
"Kita ke mana sekarang?' tanya salah satu dari teman laki laki gadis itu.
Si gadis kecil bergumam pelan, "Kayaknya kita harus malak lagi, uang kita enggak cukup buat beli sosis bakar," ujarnya.
"Emang udah ada berapa ribu?" tanya anak laki laki yang satu lagi.
"Baru tujuh ribu." Gadis kecil itu menghitung ulang recehan yang ada di tangannya, ia juga sudah mengumpulkan koin koin yang ia taruh di saku seragamnya.
"Tumben dikit," timpal anak laki laki satunya.
"Anak anak sekolah ini pada miskin miskin semua, males banget malakinnya." Si anak perempuan kembali memasukkan uang pecahan seribu dan dua ribu serta beberapa uang koin tadi ke dalam sakunya, supaya aman.
Ketiga anak laki laki yang bersamanya mengangguk.
"Tapi cukup buat beli telur gulung." Salah satu dari anak laki laki kembali buka suara.
"Enggak, gue juga mau beli bakso bakar. Kalian juga mau, 'kan?"
"Mau," balas tiga anak laki laki itu bersamaan.
"Nah, makanya. Kayaknya kita harus lebih giat lagi malaknya. Semoga hari ini berkah, ya!" seru gadis kecil itu untuk menyemangati teman temannya.
"Amin!" seru tiga anak laki laki tadi bersamaan lagi.
Akhirnya dengan tekad mereka. yang sudah bulat, juga penuh keyakinan dan hati yang tulus ketiga anak laki laki dan seorang anak perempuan pendek itu pun kembali menjadi korban baru, incaran mereka adalah anak anak yang seragamnya rapi dan wajahnya tampak seperti anak yang membawa banyak uang jajan.
Memang sulit dibedakan dengan mata telanjang, tapi ahli palak memalak punya cara tersendiri untuk membedakannya.
"Yang itu aja tuh," tunjuk anak laki laki pada seorang anak yang sedang duduk di kursi yang ada di depan kelas.
"Jangan, dia kayaknya enggak punya teman. Kasian," tolak si anak perempuan.
"Yang itu aja tuh," tunjuk anak laki laki satu lagi pada segerombolan anak perempuan yang sedang asik bercengkrama di bawah pohon.
"Jangan yang itu. Kalian enggak lihat mereka bawa bekal? Pasti enggak punya uang jajan."
Anak laki laki itu mengangguk, mengiyakan perkataan gadis itu.
"Yang itu aja gimana?" Anak laki laki yang sedari tadi diam pun memberi saran.
"Itu kakak kelas kita, ege! Mana cowok semua lagi, kalau kalian mau dipukulin sih gue enggak apa apa."
"Eh, enggak usah kalau kayak gitu." Anak laki laki tadi terkekeh
Mata gadis kecil itu pun dengan jeli mencari sasaran mereka, tiba tiba sosok anak laki laki mengalihkan atensinya.
"Nah, yang itu aja!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.