
"Yeay, sampai!"
Angel turun dengan terburu buru dari perahu karet yang dia naiki bersama Anraka untuk sampai di dataran kecil yang mereka sebut pulau ini.
Anraka juga ikut turun dari perahu itu kemudian menarik perahu karet milik mereka dan membawanya ke tepian agar perahu tersebut tidak ke mana mana.
Hanya perahu karet ini yang bisa membawa mereka kembali ke villa.
"Kita mau ngapain ke sini, Bang?" tanya Angel dengan penuh semangat.
"Enggak tau. Gue capek," sahut Anraka yang sudah meletakkan perahu karet mereka sedikit lebih dekat ke tepian.
Napas Anraka tampak tersenggal senggal, pemuda itu sepertinya benar benar kelelahan.
"Capek? Capek kenapa? Kita juga baru sampai, udah capek aja." Angel menoleh ke belakang, menunggu kakaknya yang masih berusaha menyamai langkahnya.
"Lo nyuruh gue ngayuh sendirian, lo mah enak tinggal duduk manis aja," dumel Anraka kesal.
"Duduk manis? Tadi kan Angel mau bantuin tapi kata Bang Raka enggak usah. Gimana, sih? Serba salah." Angel balas mendumel.
"Lo ngayuhnya pelan, mau sampai kapan kita di atas perahu kalau lo ngayuhnya kayak gitu?"
Angel memutar bola matanya malas, memang tidak ada yang bisa ia lakukan untuk membuat Anraka mengalah. Pemuda itu pasti akan menyalahkannya untuk segala kejadian sial yang mereka alami. Tak apa, Angel sudah terbiasa.
"Enggak usah berisik, mending kita berjemur aja," ajak Angel sambil menarik tangan Anraka agar melangkah lebih cepat mengikutinya.
Tak ada apa apa di tempat yang Anraka dan Angel sebut dengan nama pulau ini, hanya daratan kecil yang kadang kadang akan hilang jika air laut sedang naik dan akan muncul lagi saat air laut sudah surut. Angel senang berada di sini, karena mereka jauh dari orang orang yang berpotensi untuk mengganggu atau tanpa sengaja membuat mereka terganggu.
Angel butuh hari yang menyenangkan setelah melewati hari hari yang hampir membuatnya gila, walaupun kejadian kejadian yang lebih parah sudah ia rasakan sejak kecil, tapi tetap saja untuk hal seperti ini dia tak akan terbiasa.
Anraka juga senang berada di tempat ini, pemuda itu bisa sejenak melupakan semua masalah yang ada di kepalanya. Masalah yang tak pernah habis rasanya, padahal keinginannya hanya satu, menikmati masa muda yang hanya akan ia lewati satu kali dan tidak menyia nyiakan apa yang sekarang sedang ia jalani.
Kehidupan remaja, sekolah, teman teman, semua itu sedang Anraka nikmati sekarang. Ia tak bisa meninggalkan semua ini begitu saja dan terpaksa harus menjadi suami untuk seorang gadis yang ia pun belum tau asal usulnya bahkan belum tau namanya.
Hal terbodoh yang pernah ada, Anraka kira hal hal semacam ini hanya terjadi di zaman dahulu saja saat orang orang belum punya pendidikan. Ternyata, keluarganya pun bisa melakukan ini padanya.
Anraka pernah mendengar cerita tentang ayahnya yang dulu pernah hampir dijodohkan dengan orang lain dan bukan dengan ibunya. Namun pada akhirnya, setelah menentang semua larangan yang menghambat mereka, ayah dan ibunya akhirnya bisa bersama.
Mungkin terdengar seperti cerita yang romantis tapi tidak semua orang seberuntung itu.
Anraka akan melewati semua kenyataan ini setelah lari beberapa saat, ia hanya butuh waktu untuk mempersiapkan diri.
Apa pun yang terjadi, Anraka akan menghadapi semua masalah seperti laki laki sejati.
"Kalau ini adalah liburan terakhir Angel sama Bang Raka sebelum Bang Raka nikah, Angel enggak akan biarin Bang Raka pulang ke rumah. Angel pengen ada di sini lebih lama. bareng Bang Raka."
Angel sudah berbaring di pasir yang begitu putih sambil menatap langit biru sore yang sangat indah.
Benar benar hari yang indah, bahkan terlalu indah untuk kenyataan bahwa kakaknya akan segera memiliki istri. Sebenarnya itu mungkin akan menyenangkan jika istri Anraka adalah sosok yang baik dan penyayang, terlebih lagi baik dan sayang pada Angel. Angel pasti akan sangat senang tapi bagaimana jika sebaliknya? Bagaimana jika ternyata calon istri Anraka sama saja dengan Oma Arum?
Angel pasti akan menyeburkan diri lagi ke dalam kolam dan berharap tidak ada yang menolongnya.
"Gue pengen tetap di sini juga, Ngel. Tapi sebelum itu, gue pengen bangun," ucap Anraka sembari menggantung ucapannya.
"Gue pengen banget bangun dan sadar kalau semua ini cuma mimpi. Tapi, sayangnya gue enggak akan bisa karena kita sekarang udah ada di kenyataan."
Belum sempat Angel bertanya, Anraka sudah lebih dulu menjawab kebingungan gadis kecil itu.
Tapi sungguh, Anraka benar benar berharap ini mimpi.
"Yang namanya hidup enggak selalu manis, Bang. Sejak kecil kita udah hidup enak dengan segala materi dan fasilitas yang kita punya dan orang tua kita kasih. Di luar sana, ada anak anak seumuran kita yang terpaksa enggak sekolah dan harus kerja dulu supaya bisa makan. Kita dan mereka sama, sama sama manusia biasa, yang bikin beda adalah mereka itu dikasih lebih banyak cobaan sama Tuhan tapi mereka enggak ngeluh, sedangkan kita? Kita dikasih lebih banyak kenikmatan tapi kita masih aja berisik. Selalu meminta yang lebih dan enggak pernah ngerasa cukup." Angel masih setia menatap birunya langit dan Anraka mendengarkan dengan setia di sebelahnya.
"Ada beberapa hal yang perlu kita pahami sebelum kita ngerasa kalau kita adalah manusia paling enggak beruntung di bumi." Dengan senyuman kecil, Angel melirik sedikit ke arah Anraka.
Anraka diam, mendengarkan tiap kata demi kata yang keluar dari mulut kecil adiknya.
"Yang pertama, enggak semua orang dikasih kemudahan untuk menjalani hidup sejak mereka baru lahir tapi syukurlah, kita dikasih kesempatan itu. Dan yang kedua, kita enggak boleh mendongak untuk membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain, sesekali coba menunduk untuk tau ternyata masih ada orang yang punya masalah lebih besar dari kita," ucap Angel dengan lugas.
Terlalu dewasa tapi bagus, Anraka senang karena adiknya begitu pandai membaca suasana dan tau bagaimana caranya menjalani dan memahami hidup dengan ilmu ilmu kehidupan yang sederhana.
Meskipun sederhana, Anraka tidak yakin semua orang bisa menyerapnya dengan baik.
"Yang bisa Angel tangkap dari apa yang udah Angel bilang tadi adalah jangan pernah nganggep kehidupan kita adalah kehidupan yang paling tidak menyenangkan di dunia. Semua orang punya masalah bahkan lebih besar dari kita tapi mereka enggak seberisik kita, mereka masih bisa santai menikmati kehidupan pahit yang mereka punya. Karena begitulah cara mereka bersyukur, dengan tidak mengeluh."
Anraka lagi lagi hanya mampu terdiam, sorot matanya menatap jauh ke depan, menerobos lautan yang luas dan segala jenis ombaknya, pikirannya melayang jauh. Apa yang Angel katakan adalah benar dan ia sadar bahwa ia bisa melewati apa saja, asalkan ia mau dan yakin.
"Sesekali manusia boleh aja ngeluh, itu manusiawi. Angel bisa dengan mudah ngomong ke Bang Raka untuk tetap semangat dan jangan ngeluh karena Angel enggak tau rasanya, itu udah jadi ciri khas manusia. Walaupun Angel belum pernah ngerasain apa yang Bang Raka rasain, Angel jelas tau kalau kata kata penyemangat aja pasti belum cukup tapi seenggaknya Angel mau ngasih lihat kalau Angel peduli. Itu cara Angel berterima kasih."
"Berterima kasih untuk apa?" Di balik sorot matanya yang kosong, telinga Anraka masih tajam mendengarkan.
"Berterima kasih karena Bang Raka udah mau bertahan sejauh ini."
...****************...
"Keel, Mama sama Papa mau ngomong sama kamu, kamu bisa keluar kamar sebentar, sayang?"
Sekar mengetuk pintu kamar anak perempuannya perlahan agar tidak mengagetkan si pemilik kamar.
Ravi yang juga sedang berada di dalam kamarnya pun mendengar suara ibunya itu, ia jadi penasaran kira kira apa yang akan keluarganya obrolkan lagi? Apa itu masih soal perjodohan sialan yang seharusnya tidak pernah terjadi?
Atau soal apa?
Ravi bangkit dari kursinya setelah menutup buku pelajaran yang belum habis ia baca, kemudian dengan perlahan lahan mengintip dari dalam kamar, anak laki laki itu penasaran apa yang sedang terjadi di luar sana.
"Sayang. Keelua?" panggil Sekar lagi.
Ravi mendecak kesal, ia yakin ini pasti ada hubungannya dengan perjodohan itu. Padahal, Keelua baru saja tenang dan mengistirahatkan tubuhnya, sekarang kakaknya itu pasti akan dibuat menangis lagi.
Sampai kapan semua ini akan berlangsung? Apa perjodohan ini benar benar akan terjadi? Bagaimana dengan perasaan Keelua? Apa mungkin akhirnya gadis itu akan menerimanya?
Ravi tidak yakin, ia lebih percaya nanti akan ada saat di mana Keelua kabur dari rumah karena menolak perjodohan ini.
Keelua tampak masih belum keluae dari kamarnya, mungkin gadis itu sedang tertidur pulas. Sekar kemudian berusaha mencari cara lain agar Keelua mau membuka pintu dan akhirnya wanita itu pun melangkah ke arah kamar Ravi.
Ravi yang masih mengintip pun buru buru melangkah ke dalam kamar dan segera naik ke atas ranjangnya saat menyadari ibunya akan datang menghampirinya.
Suara ketukan pintu terdengar, di detik selanjutnya Sekar pun masuk ke dalam kamar Ravi setelah menyembulkan kepalanya dari luar.
"Ravi, lagi ngapain kamu?" sapa Sekar seraya mendekati anak laki laki satu satunya itu.
Ravi memperbaiki posisinya, "Enggak lagi ngapa ngapain, Ma. Kenapa?" tanya anak laki laki itu.
"Kakak kamu lagi tidur, ya? Tadi kalian kayaknya nonton bareng di kamarnya. Barusan Mama panggilin dari luar dia enggak nyahut, dia ada di kamarnya, 'kan?" tanya Sekar seraya mendaratkan bokongnya ke atas ranjang Ravi.
"Kakak ada kok di kamarnya, mungkin lagi tidur. Kenapa Mama nyari kakak? Tumben." Ravi meluruskan duduknya. "Pasti mau bahas soal perjodohan itu lagi, ya?" tanyanya.
Sekar menghela napas panjang, "Iya, Rav. Kamu dukung Mama sama Papa 'kan untuk jodohin kakak kamu? Kamu mau bisnis keluarga kita jalan lagi, 'kan?" tanyanya.
Ravi dengan mantap menggeleng, "Enggak, Ma. Ravi enggak ngedukung rencana Mama sama Papa itu, Ravi tau gimana stresnya kakak setelah tau kalau dia mau dijodohin. Kakak jelas enggak mau dan Ravi juga enggak akan ngedukung kalau kakak enggak mau. Itu namanya maksa dan maksa itu jahat, Ma."
Ravi mengatakan semua yang ingin ia katakan sejak awal, percuma saja jika ia menyimpan semua keresahannya di dalam hati, tidak akan ada yang tau dan ia akan menyesal di kemudian hari karena tidak mengatakan semua ini.
"Mama sama Papa enggak maksa kakak kamu, Rav. Mama sama Papa cuma-"
"Cuma apa, Ma? Cuma minta tolong dan itu harus? Enggak ada minta tolong yang mengharuskan. Mama tau itu, akui aja kalau Mama sama Papa emang maksa kakak. Kakak jelas bakal ngelakuin itu karena kakak mau ngejaga perasaan Mama sama Papa dan kakak juga enggak mau bikin Mama sama Papa kecewa. Tapi Mama sama Papa apa? Mama sama Papa udah bikin kakak kecewa dan enggak mikirin perasaannya."
Ravi dengan emosi yang sudah memuncak berani memotong ucapan sang Ibu. Anak laki laki itu sudah sangat geram dengan semua ini, ia tau bahwa harusnya ia tak melakukan ini dan harus menghormati orang tuanya namun jika tidak seperti ini, ia tak bisa melakukan apa apa untuk Keelua. Sang kakak.
"Maafin Mama sama Papa, sayang. Mama sama Papa terpaksa ngelakuin ini, ini buat kamu sama kakak kamu juga. Mama sama Papa udah enggak punya pilihan lain. Mama sama Papa harap kamu bisa ngerti dan mau coba buat nerima semuanya." Sekar kini sudah menggenggam tangan anak laki lakinya itu dengan erat.
"Andai Ravi udah bisa bantuin Mama sama Papa, Ravi enggak akan biarin kakak kayak sekarang, terancam kehilangan masa muda yang baru aja dia nikmatin. Harusnya Ravi yang minta maaf karena enggak bisa ngejagain Kak Keelua seperti yang seharusnya."
"Maafin Mama, Ravi. Maafin Mama, Keelua."