BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
Donor darah



"Keluarga Gibran Sanjaya?"


Romeo berdiri dan mendekati seorang Dokter yang baru saja keluar dari ruangan Gibran.


"Kami teman temannya, Dok. Orang tuanya belum hadir," kata Romeo.


"Saya hanya ingin mengabarkan bahwa kami kekurangan stok darah untuk pasien, sementara pasien harus mendapatkan donor darah secepatnya karena luka di lengannya mengeluarkan banyak sekali darah."


Semua orang yang ada di sana saling menatap, bukan karena tidak ingin mendonorkan darah mereka, hanya saja banyak dari mereka yang tidak tau apa golongan darah mereka sendiri.


"Golongan darah teman saya apa ya, Dok?" tanya Keelua.


"Golongan darah pasien adalah O," jawab Dokter itu.


"Golongan darah gue AB," gumam Romeo.


"Gue A," sahut Bumi.


"Lo, Rak?" tanya Keelua pada Anraka.


"Gue AB," balasnya.


"Lo, Gib?" Kemudian Keelua bertanya kepada Gibran.


"B," jawab pemuda itu singkat.


Lantas semuanya pun ditanyai tapi tidak ada yang bergolongan darah sama dengan Gibran. Apa golongan darah O sesusah itu untuk didapatkan?


Keelua mendecak, gadis itu tak tau apa golongan darahnya, mungkin saja ia bisa membantu Gibran namun ia harus mengetahu golongan darahnya lebih dulu.


"Saya enggak tau golongan darah saya apa, Dok. Siapa tau sama kayak golongan darahnya Gibran, apa bisa di cek dulu?" tanya Keelua pada Dokter tadi.


"Bisa kalau mba-nya mau," kata Dokter itu.


"Saya mau," sahut Keelua.


"Baik, silakan."


Dokter itu mengajak Keelua untuk masuk ke dalam ruangan namun sebelum masuk, Keelua pamit kepada teman temannya terlebih dahulu lantas menitipkan ponsel serta tasnya pada Anraka karena hanya pemuda itu yang bisa ia percaya.


"Gue nitip ini, jangan sampai ada yang hilang dan jangan lo intip isi tas gue. Paham, 'kan?" kata Keelua pada Anraka.


Si pemuda hanya menganggukkan kepala kemudian mengambil tas dan ponsel milik Keelua lantas terus memegangnya tanpa niat untuk menaruhnya di tempat lain.


"Lo mau aja disuruh suruh sama tuh cewek," celetuk Bumi tiba tiba.


Anraka mengalihkan pandangannya dari Keelua yang sudah menghilang dari balik pintu kemudian menatap Bumi yang duduk tak jauh darinya.


"Kenapa emang?" tanya Anraka balik.


"Lo 'kan laki laki, lo juga ketua geng kita. Masa disuruh pegang tas sama hape lo mau aja? Harga diri lo sebagai laki laki gimana?" tanya Bumi lagi sambil terkekeh pelan.


Anraka tenang tenang saja, tidak ada raut wajah marah atau kesal. Seolah olah ia tak masalah saat dikatai seperti itu, Bumi sampai heran melihat tingkah Anraka.


"Sebagai laki laki enggak ada salahnya kalau gue perlakuin perempuan kayak ratu, lagian ini cuma megangin tas doang, bukan diminta buat hal macam macam. Lo bisa malu kalau lo mainin perasaan cewek, harga diri lo bisa dipertanyakan kalau lo udah bikin cewek kecewa," balas Anraka dengan tenangnya.


Beberapa orang yang ada di sana bertepuk tangan untuk Anraka, ini pertama kalinya mereka melihat Anraka membahas tentang perempuan apalagi cara memperlakukan perempuan dengan baik.


Sebelum ini, Anraka adalah laki laki yang sama sekali tidak mau menceritakan masalah percintaannya di depan orang orang.


Bumi terdiam, ia memilih untuk tidak buka suara lagi, ia sebenarnya tidak mengharapkan ini.


Setelah Keelua masuk ke dalam ruangan bersama Dokter tadi, orang orang yang ada di sana kembali menunggu kabar tentang kondisi Gibran. Semuanya setia menunggu, tidak ada yang beranjak dari tempat mereka sama sekali.


Waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam, semoga Gibran baik baik saja, teman teman pemuda itu selalu mengiriminya doa dan berharap ia cepat siuman.


Anraka mengecek arlojinya beberapa kali, ia menunggu Keelua keluar dari ruangan itu, ada perasaan was was di hati pemuda tersebut. Kenapa Keelua lama sekali?


Tak lama berselang, sosok gadis yang ditunggu tunggu akhirnya muncul. Ia tersenyum lebar, lalu menghampiri teman temannya.


"Darah gue golongannya O, jadi gue bisa donorin ke Gibran. Gibran udah ditanganin sama Dokter," kata Keelua dengan senangnya.


"Seriusan? Wah, makasih banyak ya, Lua," ujar Romeo.


"Iya, sama sama. Enggak perlu makasih, Gibran 'kan juga teman gue," balas Keelua.


Kemudian teman teman yang lain juga bertanya tentang bagaimana proses pengecekan darah tadi, sakit atau tidak? Dan bagaimana perasaan gadis itu saat darahnya diambil? Ia merasa lemas atau tidak.


"Gimana tadi? Pas cek darah sakit, enggak?" tanya salah satu dari anggota EX.


"Agak sakit, sih. Kan disuntik, diambil darahnya," jawab Keelua.


Orang itu manggut manggut.


"Abis donor darah lo enggak ngerasain apa apa? Harusnya lo lemes, sih." Seseorang menyeletuk.


Sulit untuk Keelua berkomunikasi dengan teman teman Anraka ini, ia benar benar tidak tau nama mereka karena mereka terlalu banyak. Jika ia menanyakan nama mereka satu persatu, ia pun tidak akan ingat karena ini adalah kali pertama ia bertatap muka dengan mereka. Tidak mungkin gadis itu bisa mengingat wajah orang orang ini dalam satu kali pertemuan.


Namun meskipun Keelua tidak mengenal mereka, gadis itu tetap bersikap baik pada orang orang itu dan bertingkah seolah mereka sudah lama berteman hingga menjadi teman akrab.


"Gue cuma agak pusing doang," sahut gadis itu.


"Duduk sini," ucap Anraka tiba tiba.


Keelua menoleh dan tanpa basa basi langsung menghampiri Anraka yang menggeser duduknya untuk gadis itu.


"Sekarang lo duduk, istirahat. Gue enggak nyuruh lo ngomong sama mereka," bisik pemuda itu.


Keelua memutar bola matanya malas, "Gitu aja lo cemburu," balas Keelua, ia pun berbisik.


"Gue enggak cemburu," balas Anraka.


"Udah jelas lo cemburu," sahut Keelua.


Anraka memilih mengalah dan tanpa aba aba langsung menarik Keelua untuk bersandar di bahunya. Orang orang yang melihat itu sontak saja tercengang dan seperti tidak percaya.


Apa yang mereka lihat ini benar benar ketua mereka? Anraka Pranata si ketua geng EX?


Bumi yang melihat kedekatan Anraka dan Keelua hanya bisa mengepalkan tangan, ia tau bahwa Keelua memang bukan siapa siapa di hidupnya tapi entah bagaimana ia sangat menyukai gadis itu.


Tidak tau apa sebabnya tapi Bumi ingin Keelua ada untuknya, bukan untuk Anraka.


Kehidupan Anraka terlalu sempurna, ia mendapatkan apa yang ia mau hingga membuat orang lain iri. Apa pemuda itu tidak bisa membaca situasi dan mengerti bahwa Bumi yang merupakan temannya sendiri sedang berjuang menahan perasaannya yang berkecamuk?


Setidaknya jika ingin bermesraan jangan di sini, mereka harusnya punya tempat untuk berdua.


Bukan di rumah sakit yang ramai akan teman teman mereka, Bumi merasa harga dirinya jatuh karena ini.


"Lo mau ngapain?" tanya Anraka saat Keelua mengangkat kepalanya dari bahu pemuda itu.


"Gue mau beli minum dulu, deh. Haus banget," kata Keelua seraya bangkit dari duduknya.


Dengan cepat Anraka menahan langkah gadis itu, "Jangan ke mana mana, gue yang beli buat lo," ujarnya.


Mau tidak mau, Keelua mengalah saja. Ia tidak ingin adu mulut di depan teman teman Anraka meskipun sebenarnya ia melakukan itu di mana saja jika dengan Anraka. Namun, sekarang situasinya berbeda.


Akhirnya Anraka melangkah pergi, meninggalkan Keelua yang duduk manis di tempatnya bersama ponsel di tangannya. Sebelum pergi, Anraka mengembalikan tas dan ponsel milik Anraka, ternyata pemuda itu benar benar memeganginya. Keelua pikir pemuda itu akan menyuruh orang lain lagi untuk menjaga barang barangnya.


"Keel.." panggil Romeo dengan suara yang agak dipelankan.


Keelua mendongak dan menatap Romeo yang melihat ke arahnya.


"Iya, kenapa?"


"Lo apain ketua gue sampai bisa kayak gitu? Pelet lo kuat banget, ya," tanyanya.


Keelua terkekeh pelan, "Pelet apaan? Ngadi ngadi lo," balasnya.


Romeo ikut terkekeh, "Gue serius nanya, anjir. Lo apain si Raka sampai bisa sebucin itu sama lo?"


Keelua diam sebentar, lantas gadis cantik itu menggelengkan kepala.


"Enggak gue apa apain, gue ngerasa Anraka juga biasa aja ke gue. Enggak ada yang berbeda dari awal," balas Keelua dengan santai.


"Enggak ada apanya? Itu dia enggak pernah kayak gini ke cewek cewek dia sebelumnya, yang ada malah dia yang dikejar kejar sampai mampus. Tapi pas sama lo kayak keliatan banget kalau dia ngejaga lo dengan baik banget, dia selalu merhatiin lo juga," jelas Romeo panjang lebar. "Gue juga tadi sempat ngelihat tuh cowok bolak balik ngecek jam tangannya, mungkin dia ngerasa lo lama banget di dalam. Sampai ditungguin," sambungnya.


Saat Keelua dan Romeo sedang mengobrol, teman teman mereka yang lain hanya menyimak saja termasuk Ganta dan Bumi.


Obrolan yang tengah berlangsung cukup menarik untuk didengarkan, tidak sedikit dari mereka juga ingin tau apa yang telah Keelua lakukan pada ketua mereka hingga bisa menjadi seperti sekarang. Sebenarnya ini adalah sebuah kemajuan untuk Anraka, sikapnya yang terlalu beku akhirnya bisa mencair sedikit demi sedikit.


Semua itu tentu saja karena Keelua.


"Hubungan gue sama Anraka enggak berbeda sama sekali, gue ke dia biasa aja, dia ke gue juga biasa aja. Tapi gue enggak tau orang lain ngelihat hubungan gue sama Anraka berubah atau enggk, yang jelas gue sama dia baik baik aja, ngalir kayak biasa," terang Keelua.


Romeo manggut manggut, "Tetap aja gue penasaran banget kira kira apa yang udah lo lakuin sampai Anraka bisa sejatuh cinta ini sama lo. Gimana caranya?!" gemas pemuda itu.


"Tinggal kasih jatah, beres," celetuk Bumi.


Keelua terdiam, raut wajahnya yang ceria langsung berubah, gadis itu kelihatannya tidak suka.


"Apa apaan sih lo? Enggak usah ngomong sembarang, nanti kalau si Raka dengar, bisa jadi masalah lagi," omel Romeo pada Bumi yang duduk di sebelahnya.


Tiba tiba ada sebuah botol air yang melayang ke arah Bumi, dengan respon yang sangat baik pemuda itu langsung menangkapnya sebelum botol air minum tersebut mengenai wajahnya.


"Botol siapa nih?" tanya Bumi heran.


"Gue enggak suka cara lo ngomong."


Muncul lah sosok Anraka dari jarak beberapa meter, ia adalah oknum yang melempar Bumi dengan botol itu.


Bumi dan semua orang yang ada di sana terkejut begitu melihat Anraka kembali dengan wajahnya yang datar, mereka tau bahwa sebentar lagi akan terjadi masalah yang besar.


"Rak, si Bumi enggak ada maksud ngomong kayak gitu, dia cuma asal ceplos aja. Dia enggak ada maksud apa apa kok ngomong kayak gitu ke Keelua," kata Romeo saat Anraka mulai mendekat.


"Gue enggak butuh penjelasan," balas Anraka.


Romeo menelan salivanya dengan susah payah, apa yang harus ia lakukan jika Anraka menghajar Bumi di sini? Ini adalah rumah sakit yang penghuninya sudah lumayan sepi karena waktu pun sudah menunjukkan tengah malam.


Tapi jika ada sesuatu yang terjadi, salah satu dari mereka akan langsung mendapatkan perawatan di rumah sakit. Itu adalah cara yang praktis.


Dengan tatapan tajam, Anraka mendekat ke arah Bumi dan berdiri tepat di depan pemuda yang sedang duduk di kursi tunggu rumah sakit itu.


"Gue enggak masalah kalau lo ngomongin gue di belakang, soal apa pun itu gue enggak masalah. Tapi, jangan pernah lo ngomong yang enggak enggak tentang dia. Gue bakal ngehajar lo di mana aja, enggak peduli di mana sekarang."


Bumi terdiam. Ia sudah pasrah jika Anraka akan membuatnya babak belur, mengingat tiap kali menghajar seseorang pemuda itu tidak akan segan segan.


Beberapa menit menunggu, tidak ada pergerakan dari Anraka, pemuda itu masih bergeming di tempatnya.


Romeo pun sudah berjaga jaga jika tiba tiba saja Anraka melayangkan tinjunya pada Bumi. Ia akan segera mengamankan kondisi tapi Anraka belum juga melakukan apa apa.


Sementara Keelua hanya diam saja, dia lebih memilih untuk bungkam dan melihat tindakan Anraka selanjutnya. Padahal, Romeo sudah memberikan isyarat pada gadis itu untuk menghentikan Anraka tapi ia enggan melakukannya.


"Gue pengen banget mukul lo sekarang, tapi karena gue udah janji sama Keelua bukan enggak berantem lagi, gue bakal nunda itu."


Setelah mengatakan hal tersebut, Anraka berbalik dan meninggalkan Bumi tanpa satu pukulan pun. Ini mustahil.


Tangan Bumi terkepal, pemuda itu bangkit dan bersiap untuk menyerang Anraka dari belakang tapi sebelum ia mengapai Anraka, seseorang menarik bajunya hingga hampir robek.


"Jangan berani nyerang belakang, laki laki harus berhadapan," kata Ganta, dia lah yang menahan Bumi. dari


Bumi melepaskan cekalan Ganta dan memilih untuk duduk lagi di tempatnya, Ganta tidak akan melepaskannya jika sudah mengatakan hal seperti tadi.


"Minum," titah Anraka sembari memberikan botol minum yang ia bawa khusus untuk Keelua.


Pemuda itu membawa beberapa untuk berjaga jaga, satu botol sudah ia lempar ke arah Bumi.


"Makasih udah inget sama janji lo," sahut Keelua.


Anraka hanya menganggukkan kepala dan menoleh ke arah lain, lagi lagi ia menarik Keelua untuk bersandar di pundaknya.


Bumi mengeram, nasib baik memang selalu bersama Anraka. Pemuda itu mendapatkan semua yang ia mau sedangkan dirinya tidak, untuk mendapatkan gadis biasa sepeti Keelua saja sangat sulit, sementara ia bisa mendapatkan siapa pun gadis yang ia mau di luar sana. Namun lagi lagi, yang ia mau adalah gadis berambut panjang itu.


"Gue bakal dapatin dia, gimana pun caranya."