BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
5. Angel Pranara



Anraka masuk ke dalam rumahnya seraya menyugar rambutnya ke belakang. Ia sangat lelah dan badannya terasa begitu lengket.


"Anraka? Baru pulang kamu?"


Seorang pria yang sedang duduk di ruang tengah seraya berkutat dengan laptopnya menghentikan langkah Anraka. Anraka melirik sebentar lalu kembali melangkahkan kakinya.


"Anraka, Papa nanya kamu."


"Kalau udah sampai di rumahnya namanya udah pulang. Enggak usah nanya lagi," jawab Anraka dengan acuh lalu segera melangkahkan kaki menuju tangga dan naik ke kamarnya.


Arya hanya bisa geleng geleng kepala melihat tingkah anak laki lakinya itu. Semakin hari Anraka semakin acuh tak acuh kepada semua orang bahkan kepada orang tuanya sendiri.


"Raka kenapa, Pa?" Seorang wanita datang dari dapur dan membawa secanggir teh di tangannya.


Arya menghela napas pelan, "Biasalah, Ma. Anraka selalu kayak gitu," desahnya.


Regina mengusap punggung suaminya, "Raka kayak gitu mungkin karena salah kita juga, Pa. Papa sama Mama enggak pernah ada waktu buat dia."


"Nah, bener itu, Pa! Kasian Bang Raka." Seorang gadis kecil datang dan ikut nimbrung di obrolan orang tuanya.


"Kamu ini ngagetin aja, Angel," tegur Regina.


Angel hanya cengengesan sambil menampakkan gigi putihnya, "Bang Raka kenapa, Ma? Jutek lagi?" tanya gadis itu seraya duduk di karpet dan berpangku dagu di atas meja.


Arya dan Regina hanya membalas pertanyaan anak kedua mereka dengan anggukkan. Semua orang tau kalau sikap dan sifat Anraka memang seperti itu, sudah tidak dapat di ubah.


Mau bagaimana pun, Anraka tetaplah Anraka.


"Aku samperin, ya?" Angel bangkit dari tempatnya lalu berlari kecil ke arah tangga.


"Kamu jangan gangguin Abang kamu, nanti kamu kena omel lho," seru Regina yang masih duduk di atas sofa.


"Abangnya Angel walau pun galak tapi enggak pernah marahin Angel, kok!"


Memang benar, Anraka tidak pernah memarahi adik satu satunya itu, walau pun ia galak kepada semua orang tapi ia tidak ingin berlaku kasar pada adiknya yang lucu dan ceria. Paling hanya menggertak saja, itu juga tidak akan membuat Angel takut.


Angel mengetuk pintu Anraka beberapa kali.


"Bang Raka! Angel mau masuk, ya!" teriak Angel keras keras dari luar pintu.


"Berisik." Terdengar suara berat Anraka dari dalam.


Angel pun langsung membuka pintu kamar kakaknya itu lalu menyembulkan kepalanya ke dalam ruang kamar Anraka. Saat mendapati kakaknya sedang merebahkan tubuh di atas kasur, Angel tersenyum senang.


"Hai, Abangku yang ganteng! Capek ya abis sekolah?" tanya Angel dengan pembawaannya yang selalu ceria.


"Hm." Anraka hanya membalas dengan gumaman.


"Abang mau Angel pijitin, enggak?"


"Hm."


"Oke."


Angel melangkah mendekat lalu mulai memijit kaki kanan Anraka dengan semangat, sesekali Angel juga melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Anraka, ia ingin tau kakaknya menikmati pijatannya atau tidak.


Namun ia tidak menemukan perubahan ekspresi sama sekali. Hanya satu ekspresi yang tampak, yaitu datar.


"Bang."


"Bilang lo mau apa?"


Angel tercekat, padahal ia belum selesai berbicara. Tanpa pikir panjang, gadis itu hanya terkekeh malu tidak jelas.


"Angel kemarin dari toko buku, terus ada novel baru. Kayaknya novelnya bagus, kalau Angel lihat sih gitu, ya. Tapi enggak tau deh, enggak ada yang mau beliin jadi Angel belum beli," jelas Angel dengan hati hati.


"Lo dikasih uang sama Papa." Anraka menjawab dengan mata yang masih terpejam.


Angel mendesah kecewa, "Uangnya udah abis buat beli seblak ceker, bakso bakar, telur gulung, bakso kuah, mie ayam sama boba. Udah enggak ada lagi duit Angel."


"Hm."


Gadis itu mendengus kesal lalu meremas kaki Anraka kuat kuat, ia sangat kesal kepada kakaknya itu, Angel kira Anraka bertanya seperti itu karena ingin memenuhi keinginannya. Ternyata tidak sama sekali.


"Lo ke sini karena mau minta itu doang?" tanya Anraka.


Angel mencebik, "Enggak, kok," balasnya dengan sarkas.


Anraka sedikit membuka matanya yang sedari tadi terpejam, ia menemukan wajah Angel sudah ditekuk hingga kusut. Pemuda itu lantas memutar bola matanya malas.


"Keluar."


"Apa, bang?"


"Keluar."


"Kok gitu? Angel kan—"


"Keluar."


"Bang Raka nyebelin!" seru Angel.


Gadis itu sudah mengerucutkan bibirnya hingga maju ke depannya, ia melangkah turun dari kasur Anraka sesegera mungkin lalu melangkah keluar sambil menghentak hentakkan kakinya ke lantai.


Matanya berair dan pipinya memerah.


Sebelum pergi, gadis itu menatap benci ke arah Anraka, pemuda itu pun hanya meliriknya sekilas lalu kembali memejamkan matanya.


BRAK!


Angel menutup pintu dengan keras.


"Mama!"


Anraka menghela napas pelan begitu mendengar teriakan adiknya yang memanggil Mamanya. Ia pasti akan mengadu lagi.


...****************...


"Aden, udah waktunya makan malam."


Suara itu menghentikan kegiatan Anraka yang sedang bermain game di laptopnya, namun tak langsung beranjak, ia menyelesaikan permainannya terlebih dahulu.


"Kalau sudah selesai, Aden langsung turun, ya. Udah ditungguin," seru Maryam, asisten rumah tangga di rumah Anraka.


Beberapa menit kemudian, Anraka pun menyelesaikan permainannya dan menutup laptopnya. Pemuda itu pun melangkah turun dari ranjang lalu keluar dari kamar.


Kakinya melangkah santai menuruni tangga dan pergi ke ruang makan. Semua orang sudah ada di sana.


"Sini, sayang," ajak Regina.


Anraka tidak menjawab, ia hanya mendudukkan bokongnya di atas kursi yang berada di sebelah Omanya, Oma tercintanya.


"Halo, Oma," sapa Anraka.


"Halo, cucu Oma. Sekolahnya hari ini gimana, Raka?" tanya wanita paruh baya itu.


"Baik. Seperti biasanya," jawab Anraka seraya tersenyum tulus.


Pemandangan seperti ini hanya bisa dilihat ketika Anraka sedang berbicara atau berada di dekat Oma Arum, pemuda itu akan menjadi sosok yang sangat berbeda dan tidak pernah tampak di luar. Anraka akan begitu hangat dan penuh senyuman, tidak seperti Anraka yang dingin dan tidak tersentuh.


"Kamu mau makan apa? Biar Oma ambilin, ya," tawar Oma Arum.


Anraka tersenyum lalu mengangguk kecil.


"Raka mau ayam, Oma," pinta Anraka bak anak kecil.


"Iya. Ini Oma kasih ayam ya, yang banyak." Wanita paruh baya itu menyendokkan beberapa potong ayam ke atas piring Anraka yang sudah ditaruh nasi.


Regina menatap Anraka nanar, anaknya itu tidak pernah bersikap manja seperti itu padanya. Bahkan mereka jarang bicara apa lagi saling bercengkrama, hanya seperti orang asing yang tinggal satu atap. Anraka tidak begitu peduli kepada Arya dan Regina, yang pemuda itu pedulikan hanya adik dan juga Oma kesayangannya.


Setelah selesai mengambilkan lauk pauk untuk Cucunya, Oma Arum pun meletakkan piring Anraka di depan pemuda itu.


Anraka tersenyum simpul kepada orang yang sudah menjaganya dari kecil itu, tatapannya begitu teduh, tidak tajam seperti biasanya.


"Terima kasih, Oma," ucap Anraka lalu mengecup pipi Arum sekilas.


"Makan yang banyak. Abisin makanannya, Raka," suruh Oma Arum.


Anraka mengangguk kukuh lalu mengambil sendok dan mulai menikmati makanannya.


"Oma, aku juga mau diambilin, dong." Angel yang duduk di hadapan Anraka mengangkat piringnya dan menyodorkannya di depan sang Oma.


"Kamu ambil sendiri dong, Angel. Udah gede, jangan manja. Kakak kamu itu baru pulang, pasti abis ngegame juga. Capek dia," balas Oma Arum seraya mulai menyantap makanannya.


Dengan senyuman yang memudar, Angel menarik kembali piring yang tadi ia sodorkan. Anraka melirik adiknya itu lalu berkata;


"Sini gue ambilin."


Angel menggeleng, "Enggak usah. Aku bisa sendiri," tolaknya.


Anraka bungkam, ia menatap adiknya itu dengan tatapan nanar begitu pula dengan Arya dan Regina.


"Kamu kok ngomong sama Kakakmu kayak gitu? Enggak sopan banget," tegur Oma Arum.


Angel meletakkan piringnya kasar kembali ke atas meja, lalu gadis itu bangkit dan segera menjauh dari meja makan.


Oma Arum mendecak pelan, "Gitu tuh kalau anak yang didikannya enggak bagus. Enggak tau sopan santun."


Anraka bungkam, ia hanya mampu memperhatikan Angel yang menjauh dalam diam.


.


.


.


.


.


.


.


.


.