BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
48. Megalodon



"Mau ngomongin apa, Ma, Pa?"


Keelua datang dari kamarnya setelah Ravi memanggil gadis itu. Sekar meminta tolong pada Ravi untuk membangunkan Keelua meskipun awalnya anak laki laki itu tidak mau tapi ia tak tega terus menolak permintaan orang tuanya.


"Duduk dulu, sayang."


Sekar tersenyum ke arah anak perempuannya yang tampaknya memang baru bangun tidur dengan mata yang sembab.


Ada Sekar dan Bambang di sana, memaksakan senyuman yang sebenarnya sangat sulit untuk mereka sematkan di bibir mereka. Bisa dibilang, itu adalah senyum yang palsu.


Keelua akhirnya duduk di sana, di sofa yang berhadapan dengan kedua orang tuanya.


"Soal perjodohan itu, ya?" tebak Keelua.


Tebakannya tepat sasaran.


"Sayang, Mama sama Papa cuma__"


"Bisa enggak langsung ke intinya aja? Keelua udah paham banget kok, Mama tinggal jelasin aja yang mau diomongin itu apa sekarang." Keelua memotong ucapan ibunya.


Bukan bermaksud lancang namun gadis itu merasa hal hal semacam ini sangat menguras energinya. Setelah mengetahui info baru tentang perjodohan ini, yang ia lakukan pasti hanya kembali menangis di kamarnya, karena tidak mungkin orang tuanya akan tiba tiba membatalkan semuanya.


Itu tidak mungkin karena apa yang mereka pertaruhkan sekarang adalah bisnis keluarga mereka.


Ravi juga ada di sana, dia duduk di kursi yang berada tak jauh dari kedua orang tuanya dan juga kakaknya. Anak laki laki itu belum mau ikut campur, dia akan membiarkan orang tuanya menyampaikan apa yang perlu mereka sampaikan kepada anak mereka.


"Iya, ini soal perjodohan kamu. Rencananya keluarga calon suami kamu dan calon suami kamu akan datang ke rumah ini besok sore.


Mereka akan membicarakan pernikahan kamu dengan anak mereka karena katanya mereka ingin secepatnya melangsungkan akad nikah dan resepsi."


"Apa?!"


Seseorang memekik kaget, itu bukan suara Keelua melainkan suara Ravi yang sanggup mengagetkan semua orang yang ada di sana.


"Kamu kenapa, Ravi?" tanya Bambang.


"Akad nikah dan resepsi? Secepat ini? Mereka udah gila? Kenapa buru buru banget, sih? Mereka ngejar apa? Kayak anak mereka mau mati aja."


"Ravi!"


"Apa, Pa?"


Dengan berani Ravi menatap mata sang Ayah hanya untuk membela kakaknya yang sudah pasrah dan tak bisa mengatakan apa apa.


Keelua terduduk lemas di tempatnya dengan kedua tangan yang bertaut, gadis itu sangat cemas hingga gemetar.


"Mama sama Papa enggak mikirin perasaan kakak, ya? Kalian enggak mikirin perasaan Ravi juga? Kakak bahkan belum bisa nerima kenyataan kalau dia mau dijodohin tapi sekarang tiba tiba keluarga orang asing itu mau datang ke sini buat bahas akad nikah? Enggak masuk akal tau, enggak?!"


Ravi akan mati matian membela kakaknya, apa pun yang terjadi ia tidak akan berdiam diri. Ini sudah keterlaluan, kakaknya masih sekolah dan masih mengejar cita cita. Apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran keluarga yang sudah melamar kakaknya itu? Ravi ingin sekali bertemu dengan mereka dan memaki mereka satu per satu.


"Mama sama Papa mikirin kalian makanya kami ngelakuin ini! Kamu pikir bisnis keluarga kita ini untuk siapa? Untuk kalian berdua!" Bambang terteriak keras, menyamai suara Ravi.


"Kita bisa cari cara lain tapi enggak harus ngorbanin kakak juga! Masa depan kakak masih panjang! Kenapa harus nikah sekarang? Uang bisa dicari, masa muda kakak cuma sekali!" sahut Ravi lagi. Emosinya masih menggebu gebu.


"Kamu enggak ngerti apa apa, Ravi! Kamu enggak ngerti apa yang lagi Mama dan Papa usahain dan semua ini enggak segampang yang kamu kira! Kamu terlalu menganggap semua ini sebagai masalah sepele!" bentak Bambang lebih keras.


"Mama sama Papa egois!"


"UDAH! CUKUP!"


Keelua berteriak nyaring, mencoba menghentikan keributan di dalam rumahnya yang tidak menyelesaikan masalah melainkan hanya memperkeruh suasana.


Sekar hanya mampu menangis sambil menutup wajahnya, apa yang terjadi? Mengapa semuanya menjadi hancur seperti ini? Harusnya ia tau kalau pilihannya untuk menerima perjodohan ini adalah kesalahan terbesar yang telah ia lakukan.


Tapi apa yang harus ia lakukan sekarang? Nasi sudah menjadi bubur, tidak ada lagi yang bisa diperbaiki. Semuanya sudah terlanjur.


"Udah, Rav! Udah, Pa! Semuanya udah terjadi, Keelua bakal nerima semuanya, Keelua bakal ikutin apa mau Mama sama Papa. Enggak perlu ada yang ribut apalagi berantem. Semuanya bakal baik baik aja."


Keelua menghapus jejak air mata di pipinya, ia berusaha menutupi perasaannya agar tidak ada lagi keributan yang terjadi.


Ini sudah cukup baginya. Semua masalah yang datang bertubi tubi dan segala tekanan yang Keelua rasakan sudah cukup membuat gadis itu tak sanggup bergerak.


Jika keluarga seperti ini, Keelua tidak bisa lagi menemukan alasan untuk bertahan.


"Lo enggak bisa nerima ini gitu aja, kak. Jangan nyiksa diri lo cuma buat ikutan egonya Mama sama Papa. Ini enggak adil, gue enggak mau lo nyesel seumur hidup! Stop bohongin diri lo sendiri!" Ravi beralih berteriak ke arah kakaknya yang mau saja pasrah dengan keadaan.


Ravi tetap tidak akan tinggal diam, bagaimana pun caranya, ia harus membuat kedua orang tuanya sadar dan tidak menjadi orang tua sadar dan tidak menjadi orang tua yang egois.


"Emang gue bisa apa, Ravi?! Gue bisa apa?! Nolak pun enggak bisa, mau gue marah atau ngamuk sekali pun enggak akan bisa ngerubah apa pun! Lo paham, enggak?! Gue cuma enggak mau buang buang tenaga untuk hal yang gue tau bakal berakhir sia sia!" Keelua berteriak sekuat tenaga, menyalurkan apa yang selama ini ia pendam di dalam hatinya.


"Gue cuma mau bantuin lo, kak! Gue cuma mau bantuin lo! Lo enggak sendirian! Kita bisa ngelaluin ini sama sama. Kita bisa!"


Ravi semakin geram, ia benci kenyataan yang baru saja Keelua katakan dengan tegas. Ravi tau tidak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk kakaknya tapi izinkan dia untuk mencoba. Sekali saja, ia akan berusaha sekuat tenaga walaupun semua orang mengatakan bahwa tak ada lagi yang bisa dirubah.


"Kita enggak bisa!"


Keelua menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya lantas berteriak keras, menangis hingga terisak dan napasnya menjadi sesak.


Memangnya apa yang bisa mereka lakukan? Lebih baik pasrah saja dan menerima kenyataan daripada menaruh harapan untuk hal yang tidak mungkin.


Sekar sama sakitnya dan Bambang pun membenci apa yang ia lakukan. Semua orang terluka tapi tidak ada pilihan lain.


"Mama sama Papa minta maaf, ini akan jadi penyesalan terbesar kami berdua sebagai orang tua. Kalian boleh membenci kami tapi kami tetap akan sayang sama kalian. Enggak ada yang bisa menandingi perasaan sayang kami. Maafin Mama sama Papa, Keelua, Ravi."


"Minta maaf dan penyesalan enggak akan ngerubah apa apa, Pa."


...****************...


"Bang Raka, kejar!"


"Mampus, kita enggak bakal bisa balik kalau kayak gini!"


"Gimana nih, Bang? Angel masih mau sekolah!"


"Diem, jangan bikin gue makin panik!"


"Ambil perahunya cepetan sebelum jauh!"


Anraka dan Angel berusaha keras untuk mengejar perahu karet mereka yang mengapung menjauh dari tepian pulau, entah bagaimana caranya hingga perahu karet tersebut bisa terbawa oleh arus laut yang tenang tadi.


Mungkin Anraka menaruhnya terlalu dekat dengan air hingga ombak bisa membawanya.


"Gara gara Bang Raka, sih! Makanya kalau naruh apa apa itu harus diperhatiin bukan asal naruh aja! Kalau kayak gini siapa yang rugi? Kita juga kan?" omel Angel.


"Jangan salahin gue dong, siapa suruh lo enggak mau bantuin gue tadi? Dari villa sampai sini juga gue yang ngayuh sendiri, lo enggak bantuin gue. Jangan banyak omong deh." Anraka juga ikut mengomel.


"Udah udah, perahunya udah terlalu jauh, jangan dikejar, bahaya." Angel menarik lengan Anraka untuk menghentikan gerakan pemuda itu.


"Gue bisa berenang, lo enggak usah takut. Tenang aja," kata Anraka.


"Enggak, jangan! Bahaya!" pekik Angel.


Anraka akhirnya menuruti perintah Angel, ia juga tidak bisa melakukan apa apa karena perahu karet yang mereka kejar sedari tadi sudah mengapung terlalu jauh.


Tak ada lagi yang bisa mereka lakukan selain pasrah dan memikirkan cara lain agar bisa kembali ke villa.


"Gimana, nih? Bang Raka coba pikirin sesuatu dong." Angel panik karena ia tak menemukan ide di dalam kepalanya.


"Ini gue lagi mikir juga, sabar dong!"


Sepasang kakak beradik itu akhirnya terdiam dengan napas yang memburu, mereka sama sama memikirkan cara agar bisa pulang sebelum menghubungi orang lain untuk menolong mereka.


Anraka merogoh sakunya untuk mengambil ponsel dari dalam sana, tapi seperti dugaan, di tempat ini tidak ada sinyal dan ia tidak bisa menghubungi siapa siapa.


"Enggak ada sinyal, udah Angel duga. Bener bener sial, Angel enggak mau jadi bajak laut!" pekik Angel, ia sudah akan menangis di tempat.


"Lo ngomong apaan, sih? Cepetan cek hape lo, sapatau ada sinyal." Anraka mencoba tenang meskipun ia tak yakin ini akan membantu.


"Enggak ada, Bang. Sama aja, hape sama jaringan kita sama, enggak mungkin di Angel ada tapi di Bang Raka ada."


Anraka mendecak kesal, langit sudah mulai menggelap sedangkan di tempat ini hanya ada mereka berdua. Tidak ada orang lain yang bisa mereka mintai tolong sedangkan jarak antara pulau yang sekarang mereka tempati dengan pantai sekitar satu kilo meter. Tidak mungkin mereka akan berenang sejauh itu, bukan? Kalau pun mereka nekad melakukannya, bisa bisa Anraka akan tenggelam karena Angel tidak bisa berenang jadi dia yang harus menggendong adiknya sampai ke tepi pantai.


Itu lebih berbahaya.


"Jadi kita harus gimana? Nunggu orang orang nyariin kita? Tapi di sekitar sini kan enggak banyak orang yang lalu lalang selain nelayan. Gimana, ya? Aduh, Angel pusing banget sampai enggak bisa mikir." Angel memegangi kepalanya, mencoba berpikir sekuat tenaga tapi tetap saja hasilnya sia sia." Angel menghela napas panjang, benar benar tidak ada cara lain


"Enggak usah banyak omong, berdoa aja semoga ada yang nemuin kita sebelum malam. Lo mau bermalam di sini? Gue sih enggak mau," celetuk Anraka.


Sebab lelah, Angel akhirnya mendudukkan dirinya ke atas pasir putih tanpa alas apa pun, tak peduli kaosnya kotor, gadis kecil itu cemas karena terancam tak bisa pulang dan harus bermalam di pulau yang ada di tengah laut. Hanya berdua dengan Anraka.


"Satu satunya hal yang paling Angel takutin selain enggak bisa pulang itu cuma satu," ujar Angel tiba tiba, kakinya sudah gemetar.


"Apa?" Anraka yang masih berdiri di sebelah Angel menaikkan sebelah alisnya.


"Megalodon!"


"Hust! Ada ada aja lo! Enggak usah ngomong sembarangan, mana ada megalodon di tepian laut kayak gini? Ini masih jauh banget dari tengah laut, ini bukan samudra. Lo pinter tapi goblok, ya," balas Anraka.


Angel mencebik bibir, padahal dia serius. Siapa yang bisa menjamin kalau di tempat ini tidak ada megalodon? Bagaimana jika tiba tiba ikan raksasa itu datang dan memakan mereka? Angel tidak bisa membayangkan itu, ia sudah sangat takut.


"Gimana nih," gumam Anraka. Pemuda itu tak habis habis berpikir.


Langit sudah semakin gelap namun tidak ada tanda tanda siapa pun yang mendekat atau terlihat dari tempat mereka berada. Angel menatap ke sekeliling pulau yang tidak terlalu besar itu. Hanya ada beberapa pohon dan bebatuan yang bisa terlihat, tidak ada taman atau buah yang bisa dimakan seperti di film film petualangan.


"Lapar banget." Angel memegangi perutnya.


"Lihat tuh," ucap Anraka tiba tiba seraya menunjuk ujung langit yang berubah warna.


"Apa?" tanya Angel.


"Senja."


Angel mengikuti sorot mata Anraka yang menatap lurus ke arah siluet matahari yang sudah hampir tenggelam dan menciptakan warna indah yang sedap dipandang mata.


"Cantik, ya," kata Angel. "Kayak Angel," lanjutnya.


"Gue enggak tau kapan kita bisa pulang tapi daripada panik mending nikmatin aja apa yang ada. Jarang jarang kita bisa lihat matahari terbenam dari tengah laut kayak gini. Baru sekali seumur hidup."


"Tapi Angel lapar, Bang!"