BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
Hari libur



"Keel?"


Seseorang memanggil nama Keelua dari awal belakang, gadis itu buru buru menghapus air matanya sebelum ia berbalik.


"Ngapain nangis?" tanya Anraka.


"Enggak apa apa." Keelua mencoba merubah raut wajahnya.


"Ini gue udah bangun, gue bakalan habisin semua makanan yang lo bikin, tenang aja. Jangan nangis." Anraka mendekat ke arah Keelua lalu mengusap pipi istrinya.


"Apaan sih, gue enggak apa apa. Gue cuma lagi keingat sesuatu makanya gue nangis, bukan gara gara lo kok." Keelua menghela napas panjang.


Mau tak mau, Anraka langsung duduk di sebelah Keelua lalu memperhatikan gadis itu. Sepertinya Keelua sedang butuh teman untuk bicara.


"Keingat apa? Lo mau cerita sama gue?" tanya pemuda itu.


Lagi lagi air mata Keelua terjatuh, ia sadar bahwa akhir akhir ini ia lebih sering menangis dari biasanya.


"Gue lagi kangen sama rumah gue, gue kangen suasananya, gue kangen Mama, Papa, Ravi. Gue juga kangen Mama Regina, Papa Arya, Angel. Gue kangen mereka semua," ucap gadis itu dengan suara parau. "Tapi, gue enggak kangen sama Oma Arum, Oma jahat." Kemudian menutup wajahnya dengan tangan.


Melihat kesedihan istrinya, Anraka hanya mampu menarik napas, ia juga bingung harus melakukan apa sekarang. Ia tidak bisa melakukan apa apa karena memang mereka dipaksa oleh keadaan.


"Lo kangen sama rumah lo? Gue bisa bawa lo ke sana tapi kita enggak bisa pulang ke rumah gue dulu, di sana ada Oma Arum. Lo juga pasti enggak mau kalau kita datang ke sana terus Oma Arum bikin masalah lagi," terang Anraka.


"Gue paham, tapi kenapa harus kayak gini, sih? Kayaknya hubungan kita enggak pernah lancar, dulu pas kita belum saling suka, Oma Arum selalu maksa kita buat sama sama yerus. Terus sekarang setelah akhirnya kita bisa numbuhin rasa suka itu, Oma Arum tiba tiba minta kita buat pisah. Aneh banget, 'kan?" eluh Keelua.


Jangankan gadis itu, Anraka yang merupakan cucu kesayangan dari Oma Arum pun bingung dengan sikap Oma nya itu. Ia tak tau apa yang Oma nya pikirkan hingga melakukan hal ini.


Mau tak mau, keduanya harus sama sama menentang keinginan Oma mereka.


"Gue juga bingung tapi enggak usah dipikirin, kita bakal selesaiin masalah ini kok. Tapi pelan pelan, ya. Kita cari jalan keluarnya sama sama." Anraka mengelus pucuk kepala istrinya sambil menenangkan gadis itu.


Keelua pun berusaha menenangkan dirinya agar Anraka tidak kepikiran dan ikut merasa tidak enak sepertinya.


Hari ini adalah hari libur, artinya kedua pasang suami istri itu tidak masuk sekolah, mereka hanya akan berdiam diri di dalam rumah atau mungkin melakukan sesuatu yang mereka sukai bersama sama.


"Hari ini kita ngapain, ya? Lo punya ide yang seru, enggak?" tanya Anraka, ia membuka topik obrolan baru agar kesedihan tidak terus menyelimuti rumah mereka.


Keelua berpikir sebentar, "Lo mau gue ajarin masak, enggak?" tanyanya.


Anraka berpikir sebentar, ia berpikir cukup lama.


"Enggak," balasnya dengan lantang.


"Kalau enggak mau kenapa pakai mikir segala? Mikirnya lama lagi kayak ngasih orang harapan," ucap Keelua seraya mencebik bibir.


Anraka tertawa kecil, ia suka melihat wajah cemberut Keelua seperti sekarang ini. Ia terlihat cantik sekaligus lucu.


Tidak pernah keduanya bayangkan bahwa orang yang mereka benci bisa hidup bersama mereka dalam satu rumah dan satu kamar seperti sekarang ini. Ini masih seperti mimpi, tidak ada yang bisa melawan takdir.


Anraka jadi ingat dengan buku yang waktu itu ia temukan di dalam mobilnya, sebuah novel milik Keelua yang tertinggal dan sempat ia baca sedikit isinya. Di sana tertulis bahwa benci bisa berubah menjadi cinta.


Hidupnya kini lebih bahagia, dengan Keelua di dalamnya yang selalu membuatnya merasa ceria dan bisa hidup lebih lama.


"Di sini ada kolam berenangnya, 'kan?" tanya Keelua.


"Ada," balas Anraka.


"Ya udah, kalau gitu kita renang aja,' usul Keelua seraya bangkit dan pergi ke lantai atas untuk mengganti bajunya.


"Gue sarapan dulu, ya!" seru Anraka yang masih duduk di atas kursi meja makannya.


"Iya!" Keelua balas berseru dari atas.


Anraka akhirnya memakan makanannya lebih dulu, sambil menunggu Keelua yang mungkin akan mengganti baju tidurnya dengan kaos yang lebih ringan agar ia mudah berenang.


Sedangkan Anraka, ia tak berpikir untuk mengganti baju, ia akan melepas bajunya saja dan memakai celana pendek sebagai bawahan. Ia tidak akan merepotkan dirinya sendiri dengan harus mengganti pakaian hanya karena mau berenang dan berbasah basahan.


Tidak lama berselang, terdengar suara langkah kaki Keelua yang menuruni tangga dan hendak menghampiri Anraka. Si pemuda pun tidak menoleh, ia tetap sibuk dengan makanannya dan berpikir bahwa Keelua akan berjalan lebih dulu menuju kolam berenang.


"Gimana? Enak, 'kan?" tanya Keelua soal makanan yang telah ia buat, padahal ia hanya memasak pasta yang begitu mudah untuk dibuat.


Tapi sebagai suami yang baik hati dan selalu menjaga hati istrinya, Anraka menjawab, "Iya, enak banget kalau lo yang bikin," pujinya.


"Halah, bokis lo!" ejek Keelua seraya mengambil satu gelas susu dan meminumnya.


"Gue bener-astaga!"


Belum sempat Anraka menolehkan kepalanya ke arah Keelua dengan sempurna, pemuda itu langsung buru buru membuang wajahnya lagi. Ia terkejut.


"Kenapa lo? Kesurupan?" tanya Keelua dengan gurau.


"Enggak. Enggak apa apa,"" jawab pemuda itu dengan gugup.


"Enggak jelas." Keelua mendapati wajah Anraka seperti orang yang kaget melihat sesuatu, tak ambil pusing, gadis itu akhirnya pergi ke halaman belakang lebih dulu.


Di detik selanjutnya, Anraka buru buru memakan makanannya agar ia bisa segera menyusul Keelua. Apa yang ia lihat hari ini benar benar di luar dugaan, ini pertama kalinya ada hal yang mampu membuat Anraka sekaget itu.


Setelah selesai, Anraka bangkit. Entah bagaimana tapi jantungnya berdetak begitu kencang hingga ia tak bisa mengatur napasnya sendiri, ia tak tau bagaimana caranya agar ia bisa fokus sementara Keelua pasti akan membuat wajahnya terus memerah.


Langkah Anraka begitu berat padahal ia hanya harus berjalan beberapa meter untuk keluar dari rumahnya dan menuju ke halaman belakang tempat kolam berenang berada.


Ia mengantisipasi kehadiran Keelua agar ia tidak terkejut lagi, ini sungguh menguras tenaga Anraka.


Itu dia di sana, gadis yang tidak menguncir rambutnya, rambut indah itu ia biarkan terurai begitu saja dan menambahkan kesan cantik pada gadis itu.


Keelua menyadari kehadiran Anraka, ia menoleh.


"Udah makannya?"


"Ngapain lo pakai baju kayak gitu?"