
"Duduk dan ceritain, lo lihat apa?"
Bumi meminta Romeo untuk duduk di sebelahnya lalu menceritakan apa yang sebenarnya pemuda itu lihat, di sisi lain Gibran sudah ketakutan dan ingin segera pulang.
"Tadi pas gue masuk ke kamarnya si Raka, enggak ada siapa siapa. Abis itu karena ngantuk banget ya udah gue langsung rebahan aja di atas kasur. Beberapa saat gue merem, gue dengar suara pintu di buka gitu, gue enggak tau itu pintu kamar mandi atau walk in closet, yang penting suara pintu dibuka gitu." Romeo mulai bercerita.
Bumi, Ganta, Gibran dan juga Anraka mendengarkan dengan seksama.
Anraka sebenarnya ragu dengan pengakuan Romeo tapi ia tetap akan mendengarkan semua hal yang pemuda itu katakan untuk memastikan apa yang Romeo lihat sebenarnya.
"Gue buka mata, tapi udah setengah sadar karena mata gue udah berat banget, semalaman gue enggak tidur karena abis begadang main game. Pas gue buka mata, gue kayak ngelihat sosok cewek keluar dari kamar Anraka, rambutnya panjang, bajunya putih."
"Anjir! Gue mau pulang sekarang! Rumah si bangsat ini ada hantunya!" gumam Gibran ketakutan.
"Lo lihatnya jelas? Bukan mimpi?" tanya Bumi.
"Jelas. Enggak mungkin gue mimpi, gue masih setengah sadar, gue tau kalau gue enggak mimpi," kata Romeo meyakinkan teman temannya.
"Di rumah ini emang cuma lo sendirian? Enggak ada orang lain?" tanya Ganta pada Anraka.
Pemuda itu terpaksa berbohong lagi, ia mengangguk dan menjawab, "Iya."
Anraka akhirnya berpikir, mungkin saja yang Romeo lihat itu adalah Keelua tetapi karena tidak tau bahwa Anraka tidak tinggal sendirian di rumah ini, pemuda itu mengira bahwa ia baru saja melihat hantu.
Bisa jadi.
Gibran sempat berpikir hal yang sama, tapi sosok seorang gadis yang ia lihat ada di halaman belakang bukan di dalam kamar, atau Anraka punya lebih dari satu gadis di rumahnya?
Astaga, ini membingungkan sekaligus menakutkan untuk Gibran.
"Yang lo lihat itu pakai baju warna putih? Panjang atau pendek? Ketat enggak bajunya?" tanya Gibran.
Duk!
Bumi mengetuk kepala Gibran hingga pemuda itu mengaduh.
"Lo sama makhluk kayak gini aja masih sempat sempatnya nanyain pertanyaan cabul, ya. Cewek masih banyak, ngapain lo ngarepin hantu pakai baju ketat?" sosor Bumi sambil menatap Gibran sebal.
"Bukan itu, jangan main getok pala gue, dong! Nanti gue makin bodoh!" oceh Gibran setelahnya.
"Itu tau," gumam Bumi.
"Gimana? Jawab dulu, anjir," kata Gibran sambil menatap ke arah Romeo, hendak meminta penjelasan.
"Kayaknya bajunya enggak ketat, bajunya panjang juga, sekilas kayak celana, celana panjang, baju lengan panjang juga," jelas Romeo.
Gibran semakin yakin bahwa gadis yang ia lihat di halaman belakang dekat kolam tadi bukan gadis yang sama yang Romeo lihat di dalam kamar Anraka.
"Udah malam, kita pulang aja, yuk." Gibran sudah tak sanggup, ia ingin pulang segera.
"Ya udah, pulang sana," balas Anraka.
"Kalian enggak mau cari tau apa yang baru aja gue lihat? Sapatau itu manusia atau maling yang masuk ke dalam rumah, kalian belum lihat siapa siapa keluar dari rumah ini, 'kan?" Romeo buka suara lagi.
"Ngapain lo mau cari tau sosok kayak begituan? Udah, enggak usah aneh aneh, kita enggak boleh ganggu dia, mending kita pulang. Gue mau buru buru tidur," celetuk Gibran.
"Lo enggak mau ditemanin, Rak?" tanya Ganta.
"Enggak apa apa, santai aja. Gue enggak ada masalah," tolak Anraka dengan halus.
"Beneran? Tapi lo hati hati, ya. Kalau ada apa apa kabarin kita, jangan sampai ada yang gangguin lo kalau lo sendirian," pesan Gibran.
Anraka mengangguk kemudian teman temannya pun pamit pulang, mereka sebenarnya bisa tinggal di sini lebih lama namun Anraka yang menyarankan mereka untuk pulang lebih awal karena sejujurnya ia juga ingin mencari keberadaan Keelua yang belum juga menghubunginya.
Setelah mengantar teman temannya sampai ke depan pagar dan benar benar menjauh dari rumahnya, Anraka segera masuk lagi dan mengunci pintunya.
Pemuda itu buru buru naik lagi ke atas untuk mencari Keelua, ia mengecek seluruh ruangan yang ada di kamarnya sekali lagi dan tidak melewatkan apa pun.
Kamar itu benar benar kosong, tidak ada tanda tanda Keelua di dalamnya.
Anraka lantas turun dari lantai dua kemudian keluar ke halaman belakang, mengecek seluruh penjuru tempat itu dan melihat ke dalam kolam, mungkin saja Keelua sedang berendam atau semacamnya. Tetap saja, hasilnya nihil.
Tidak ada siapa siapa di halaman belakang, Anraka mulai frustrasi, ia bingung harus mencari Keelua ke mana lagi.
Pemuda itu mencoba menelepon Keelua, berdering tapi tidak diangkat. Ia ingat bahwa ponsel gadis itu selalu berada di mode senyap dan getar, jarang sekali ia biarkan berdering.
Pemuda itu kembali naik ke atas, dengan napas yang berat ia menghentikan langkahnya di anak tangga paling atas. Pemuda itu duduk di sana, memikirkan sesuatu agar ia bisa mengetahui di mana Keelua. Tidak mungkin juga gadis itu keluar dari rumah, jika ia keluar, teman temannya pasti sudah melihatnya sejak tadi.
Anraka memegangi kepalanya menggunakan kedua tangannya, ia menundukkan kepala, ke mana Keelua pergi sebenarnya?
"Lo ke mana, sih? Ngerepotin hati aja," gumam Anraka sembari terus mencoba menelpon Keelua.
Anraka menoleh, ia mendengar seseorang memanggil namanya, sepertinya itu Keelua tapi suaranya terdengar pelan dan lembut.
"Keel? Itu lo, 'kan?" sahut Anraka.
Tidak ada jawaban, Anraka bingung, ia mendengar jelas suara itu.
Pemuda itu akhirnya bangkit, ia berjalan pelan menuju kamarnya. Ia tidak mungkin salah dengar, itu memang suara Keelua, meskipun terdengar tidak begitu keras tapi Anraka sangat hafal suara istrinya sendiri.
Anraka tidak tau suara itu berasal dari mana, tapi itu pasti dari lantai atas. Tepat di belakangnya hingga pemuda itu spontan menoleh ke belakang.
"Keel? Lo di mana?"
Tidak ada siapa siapa di kamarnya, sudah ketiga kalinya Anraka mengecek, Keelua tidak ada di sini.
Anraka keluar lagi dari kamarnya, ia benar benar seperti orang kebingungan yang tidak tau harus melakukan apa. Keelua sedang mempermainkannya atau apa? Ke mana gadis itu sebenarnya?
Anraka berdiri di sisi pembatasan yang membuat siapa saja bisa langsung melihat ke lantai bawah, jika berdiri di sana akan tampak seluruh ruang tengah.
Mungkin Keelua ada di bawah tapi ia bersembunyi, hanya itu yang bisa pemuda itu simpulkan agar ia tetap bisa berpikir positif.
Jujur saja, tiba tiba cerita yang Romeo ceritakan tadi terus berputar di dalam kepala Anraka. Apa mungkin benar benar ada hantu di rumahnya ini?
"Keel? Lo di-"
"Rawr.."
"ANJING! PERGI LO, SETAN!"
"Cantik cantik gini dibilang setan."
"Keelua? Lo dari mana aja?!"
Anraka sangat terkejut saat tiba tiba saja menemukan Keelua berdiri di belakangnya sambil membuat suara yang membuat pemuda itu terlonjak takut setengah mati. Andai saja Anraka sudah kehilangan akal, ia pasti akan langsung membogem wajah Keelua, tapi untung saja ia masih sempat melihat wajah gadis itu.
"Lo harus lihat muka lo sendiri, sih. Ketakutan banget, keluar masuk kamar kayak orang bingung. Sumpah, lo keliatan kayak orang dongo," ejek Keelua sambil tertawa.
Anraka seperti belum sepenuhnya sadar, ia hanya menatap wajah Keelua seperti orang bingung.
"Lo ngeliatin gue dari tadi? Lo di mana?" tanya Anraka.
Pemuda itu memperhatikan pakaian yang Keelua gunakan, baju ketatnya sudah diganti dengan piyama katun berwarna putih, berlengan panjang disertai celana panjang yang warnanya sama.
Untung saja Keelua sudah mengganti bajunya, jika tidak, Anraka mungkin tidak akan bisa menahan dirinya sendiri.
"Iya lah, gue merhatiin lo dari tadi sambil ketawa ketawa, lo lucu banget. Sumpah, gue enggak tau lagi harus gimana saking capeknya ketawa." Keelua masih senantiasa tertawa seraya mengusap ujung matanya yang berair.
Sementara Anraka yang tadi sudah hampir ketakutan, ia tak tau harus melakukan apa lagi karena Keelua sudah membuatnya benar benar terlihat seperti orang bodoh.
Andai Anraka tau bahwa Keelua memang sengaja bersembunyi darinya, ia pasti akan membuat gadis itu kelelahan karena bersembunyi. Anraka tidak akan mencarinya tapi tadi pemuda itu mengira bahwa Keelua hilang atau semacamnya.
"Terus lo di mana dari siang? Romeo juga sempat masuk ke dalam kamar gue terus katanya dia ngelihat sosok cewek gitu. Itu lo, 'kan?" tanya Anraka.
Pemuda itu baru ingat bahwa Romeo menceritakan pengalamannya bertemu dengan sosok gadis di kamarnya tadi, sekarang Anraka yakin bahwa gadis yang Romeo lihat adalah Keelua.
Keelua mengangguk, "Iya, tadi gue masih di dalam walk in closet, ganti baju. Tiba tiba gue dengar suara pintu kamar dibuka, gue kita itu lo. Terus pas selesai ganti baju, gue ngelihat Romeo di atas kasur lo lagi tidur. Karena takut ketahuan, ya udah gue keluar pelan pelan, gue kira dia udah enggak sadar," jawabnya.
"Dia masih setengah sadar, untung aja dia enggak ngelihat muka lo.
Kalau dia lihat, dia pasti bakal benar benar yakin kalau yang lihat itu hantu," kata Anraka, pemuda itu menyandarkan tubuhnya di pembatas sambil melipat kedua tangannya di depan dada. dia
"Kurang ajar lo!" maki Keelua.
"Lagian kenapa lo pakai piyama gini, sih? Warna putih lagi, rambut diurai, nakutin aja."
"Lo takut juga, ya? Kayak si Gibran. Kalian cowok cowok geng, jago berantem tapi takut sama hantu. Ketua geng apaan kayak gitu?"
Keelua sempat mengintip dari lantai atas saat para pemuda itu duduk bersama di atas sofa sambil mendengarkan cerita Romeo, sangat tampak bahwa yang paling ketakutan adalah Gibran, pemuda banyak omong itu ternyata penakut.
"Gue tetap manusia. Emangnya lo pikir orang yang suka berantem itu bukan manusia?" sungut Anraka.
"Bukan. Gue kira iblis," sahut Keelua di balas dengan putaran bola mata jengah oleh Anraka.
"Lo sembunyi di mana tadi?" tanya Anraka.
"Oh, tadi gue niatnya mau tidur di kamar tapi karena ada Romeo, gue pindah ke kamar sebelah."
"Kamar sebelah?" Anraka memasang raut wajah bingung.
"Ikut gue," kata Keelua seraya menarik tangan Anraka untuk ikut bersamanya.