BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
33. Tenggelam



"Kamu harus dengar kata kata Oma, ya. Kamu harus jadi cucu yang nurut, kamu tau 'kan siapa yang paling peduli sama kamu? Cuma Oma Arum doang, Mama sama Papa kamu selalu sibuk sama pekerjaan mereka sampai sampai mereka enggak pernah ada waktu buat kamu," kata Oma Arum panjang lebar saat menasehati Anraka yang tempatnya. belum bergerak dari


"Iya, Om," balas Anraka pelan.


Pemuda itu pasti akan menurut saja meskipun terkadang ia merasa ada yang salah tapi apa boleh buat? Semuanya memang benar, hanya Oma Arum yang peduli padanya, sedangkan kedua orang tuanya hanya mempedulikan pekerjaan mereka. Jadi untuk apa Anraka mendengarkan orang orang yang bahkan tidak mempedulikannya?


"Kamu harus makan makanan yang lain, jangan makan makanan yang dikasih sama orang lain bahkan Angel sekali pun. Kamu enggak pernah tau 'kan niat dia ngasih kamu makanan itu apa? Siapa tau dia emang punya niat jahat dan kamu percaya percaya aja sama dia. Oma enggak mau kamu kenapa kenapa," petuah Oma Arum lagi.


Mendengar itu, Anraka kemudian mendongak dan menatap lurus mata Oma Arum.


"Raka bisa pastiin enggak ada apa apa di makanan yang Angel buat tadi, niat dia emang cuma mau Raka makan aja dan adik Raka itu tau apa makanan kesukaan Raka. Oma enggak seharusnya buang makanan yang dia buat, sama kayak yang Oma sering bilang; walaupun punya uang banyak, pantang untuk buang buang makanan," sahut Anraka dengan tampang datarnya.


Walaupun Anraka sangat menyayangi Oma Arum, pemuda itu sudah dewasa dan ia juga tau yang mana yang salah dan yang mana yang benar. Tidak ada salahnya untuk mengutarakan isi hatinya pada Omanya agar Omanya itu mengerti.


Oma Arum geleng geleng kepala, "Kamu malah ngebelain Angel sekarang? Oma baru aja selamatin kamu lho dari makanan yang enggak sehat, harusnya kamu berterima kasih dan tau kalau apa yang udah kamu lakuin itu salah, Anraka," protesnya.


"Raka rasa menghargai pemberian tulus dari orang yang sayang dan peduli sama kita itu bukan hal yang salah. Angel sayang sama Raka dan Raka juga begitu, Oma harus ingat kalau cucu Oma itu bukan cuma Raka aja tapi Angel juga. Kasian dia, Oma."


Untuk pertama kalinya, Anraka berani membela Angel di depan Omanya. Pemuda itu tau bahwa apa yang Oma Arum lakukan sudah sangat menyakiti hati adiknya, sampai kapan ia akan diam dan membiarkan Angel diperlakukan tidak adıl? Jika terus seperti itu, tidak menutup kemungkinan Angel akan membenci Anraka suatu hari nanti dan Anraka tidak ingin itu terjadi.


"Kamu benar benar udah terpengaruh sama Angel, ya. Oma enggak nyangka sama kamu. Nanti kalau kamu dijahatin sama orang lain, pasti kamu bakal nyari Oma dan sadar kalau apa yang kamu lakuin sekarang adalah kesalahan." Oma Arum menatap sang cucu datar.


Dengan berani Anraka membalas tatapan Oma Arum kemudian wanita tersebut berbalik dan pergi meninggalkan kamar Anraka tanpa mengatakan apa pun.


Akhirnya pemuda itu bisa bernapas lega, suasana di dalam kamarnya tadi sangat tenaga dan Anraka tidak terbiasa dengan itu.


Entah apa yang dipikirkan oleh Oma Arum sekarang, mungkin wanita tua itu akan marah pada Anraka tapi pemuda itu yakin hal tersebut tidak akan berlangsung lama.


Anraka pun bangkit kemudian ia menoleh dan melihat pecahan piring di lantai kamarnya yang harus segera dibersihkan. Bibi Maryam pasti akan mengurusnya, yang harus Anraka lakukan sekarang adalah turun ke bawah dan mengecek kondisi Angel.


Pemuda itu singgah ke kamar Angel terlebih dahulu namun adiknya tidak ada di sana, kemudian ia melangkah menuruni tangga lantas melangkah santai menuju halaman belakang. Mungkin saja Angel ada di sana dan sedang membaca novel seperti biasa.


Begitu sampai di halaman belakang, mata Anraka terbelalak kaget dan ia langsung berlari sekuat tenaga.


"Angel!"


Anraka melompat ke dalam kolam ketika melihat tubuh adiknya sudah berada di dalam kolam tanpa gadis kecil itu mencoba untuk menyelamatkan dirinya sendiri.


Dengan secepat mungkin Anraka berusaha menggapai tubuh Angel yang harus segera ia selamatkan atau dia akan kehilangan adik satu satunya itu.


Akhirnya Anraka berhasil menggapai tubuh Angel, pemuda itu pun langsung mengangkat tubuh Angel ke atas agar gadis itu bisa menghirup udara segar.


"Angel! Lo kenapa gini, sih?!"


Pemuda itu pun bergegas membawa tubuh adiknya ke tepi kolam, lalu memanggil manggil nama asisten rumah tangga di rumahnya dengan lantang.


"Bi Maryam! Kang Ujang!"


Tak lama setelah itu, Bi Maryam datang dengan tergesa gesa ketika mendengar suara pekikan dari Anraka.


"Astaga! Non Angel!"


Wanita itu pun buru buru mendekati tepi kolam dan mengulurkan tangannya pada Anraka yang dengan susah payah membawa tubuh adiknya. Napas pemuda itu sudah terengah engah namun ia harus tetap menyelamatkan adiknya yang entah sejak kapan tenggelam di dasar kolam tersebut.


"Tarik Angel, Bi," pinta Anraka, Bi Maryam pun langsung menarik tangan gadis kecil itu.


Dengan jerih payah dan rasa was was, akhirnya Anraka dan Bi Maryam pun bisa membawa Angel naik ke atas.


"Bantuin Raka angkat Angel ke mobil, Bi," tutur Anraka sembari naik ke tepi kolam.


"Jangan dulu, Den." Bi Maryam meminta agar anak majikannya itu tidak membawa Angel ke rumah sakit sekarang.


"Jangan apanya?! Itu Angel udah sekarat!" raung Anraka sembari mengusap wajahnya dengan kasar.


Tanpa menjawab pertanyaan Anraka, Bi Maryam malah mengusap wajah Angel sudah tampak pucat lalu dengan hati hati menekan dada gadis kecil itu dengan kedua tangannya.


Sudah beberapa kali mencoba namun tubuh Angel tidak memberikan respon apa pun, Anraka semakin panik hingga otaknya tidak bisa berputar sama sekali.


"Sekali lagi. Non Angel pasti bisa bertahan." Bi Maryam menarik napas panjang lalu bersiap untuk menekan daďa Angel lagi.


Di tekanan kelima akhirnya Angel berbatuk batuk dan mengeluarkan banyak air dari mulut dan hidungnya. Anraka menghela napas lega selega leganya lalu kembali mengusap wajahnya.


"Ayo, Bi. Kita harus cepat."


Anraka dan Bi Maryam pun membawa tubuh Angel yang masih sangat lemah masuk ke dalam rumah lalu keluar lagi menuju garasi mobil. Tubuh gadis kecil itu pun dimasukkan ke dalam mobil berwarna hitam milik Anraka setelah Bi Maryam naik lebih dulu.


Mobil BMW berwarna hitam yang jarang sekali digunakan oleh Anraka karena pemuda itu lebih suka menggunakan motor dengan alasan jika menggunakan mobil akan memakan waktu lebih lama dan akan sering terjebak macet.


Dengan buru buru Anraka pun memutar mobilnya lalu melesat secepat kilat keluar dari kawasan rumahnya setelah dengan sigap satpam yang menjaga membukakan pagar untuk mobil pemuda itu. Di dalam perjalanan, Anraka tidak memikirkan apa pun lagi kecuali keselamatan adik kecilnya, bahkan pemuda itu tidak memberitahu Oma Arum yang masih berada di rumah tentang kejadian itu saking buru burunya.


Mobil BMW tersebut membelah jalanan kota tanpa rasa takut, mata elang Anraka fokus menatap jalanan di depannya. Hal yang ada dibenaknya sekarang hanya ia harus segera sampai ke rumah sakit agar nyawa adiknya bisa diselamatkan.


"Lo harus bertahan, Angel. Lo harus bertahan."


...****************...


"Mama Papa pulang."


Regina memasuki pintu utama dengan tergesa gesa dikuti oleh Arya di belakang wanita itu.


"Angel? Raka?" panggil Regina.


Tidak ada yang menyahut bahkan ketika kaki wanita itu sudah menapak di anak anak tangga yang akan membawanya ke kamar kedua anaknya.


Regina membuka pintu kamar Angel, tapi ia tidak mendapati siapa pun di dalam ruangan itu. Selanjutnya, wanita itu melangkah ke kamar yang ada di sebelah kamar Angel, yaitu kamar Anraka.


Begitu Regina membukanya, helaan napas kecewa kembali keluar dari mulut wanita itu. Tidak ada siapa siapa di sana, hanya ada aroma mie goreng yang memenuhi ruangan itu dan tanpa sengaja sorot mata Regina mendapati pecahan piring yang mengotori lantai kamar Anraka.


Regina kembali melangkah turun ke lantai dasar dan sekonyong konyong menemui suaminya yang masih mendudukkan diri di atas sofa ruang tengah.


"Pa, Angel sama Raka enggak ada di kamarnya," seru Regina dengan panik.


"Hah?!" Arya terkesiap ketika mendengar uiaran dari sang istri.


Pria itu pun bangkit lalu mencoba mencari kedua anaknya di ruangan lain yang ada di rumah itu. Pasangan suami istri itu pun akhirnya bersama sama menelusuri tiap tiap pojok rumah mereka, tidak ada yang mereka lewatkan bahkan semua toilet di periksa. Mulai dari teras hingga halaman belakang.


Berkali kali Regina menelepon Anraka namun pemuda itu tidak mengangkatnya dan ketika wanita. itu mencoba menelepon Angel, suara dering ponsel gadis kecil itu malah terdengar dari kamarnya, artinya Angel tidak membawa ponsel.


Arya alhasil berinisiatif untuk bertanya pada satpam rumahnya, jadi pria itu segera menelepon satpam yang terjaga hari ini. Sebenarnya Arya bisa bertanya langsung pada satpam rumahnya tanpa melalui telepon namun ia harus berjalan kaki kejauh dua puluh meter terlebih dahulu jika ingin sampai ke pagar rumahnya.


Maklum saja, rumah keluarga Anraka terletak di tengah tengah lahan yang sangat luas dan halaman depan dan belakang lebih luas dari pada bangunan rumah.


"Halo, kang Ujang. Kang Ujang lihat Anraka sama Angel, enggak?" tanya Arya begitu panggilannya terhubung.


"Tadi Aden Raka pergi pakai mobil tapi saya enggak tau sama siapa, Tuan. Kayaknya buru buru banget gitu," ujar Kang Ujang, satpam rumah.


"Ya udah kalau gitu. Terima kasih, Kang."


"Sama sama, Tuan."


Arya langsung memutuskan panggilan lalu menatap wajah istrinya.


"Tadi katanya Raka pergi naik mobil tapi buru buru banget. Cuma Kang Ujang enggak tau dia sama siapa," jelas Arya.


"Pasti sama Angel," balas Regina. "Coba kita tanya Bi Maryam aja," lanjutnya.


"Bi Maryam!"


Setelah beberapa saat, asisten rumah tangga yang dipanggil itu tak kunjung menampakkan dirinya. Regina berniat untuk memanggilnya lagi.


"Bi Maryam!"


Hasilnya sama saja, Bi Maryam tidak kunjung datang. Tidak seperti biasanya.


Arya mendecak, "Ke mana semua orang di rumah ini?" Lalu berbalik dan menuju ke kamar depan yang merupakan kamar Oma Arum.


Perlahan lahan Arya mengetuk pintu Ibunya tersebut lalu segera membukanya. Tampaklah tubuh ringkih Oma Arum tengah tersandar di atas tempat tidur dengan mata yang terpejam. Wanita paruh baya tersebut sedang tertidur.


Arya melangkah masuk lalu dengan lembut membelai lengan Oma Arum agar tidak mengagetkan wanita itu.


"Ma, bangun bentar. Aku mau nanya," desik Arya.


Oma Arum tampak membuka matanya sedikit lalu membalas ucapan Arya dengan gumaman.


"Mama lihat Raka sama Angel, enggak?" tanya Arya.


"Raka ada di kamarnya, kalau Angel Mama enggak tau dia di mana," balas Oma Arum seraya memejamkan matanya.


"Tapi Raka enggak ada di kamarmya, Ma. Dia juga enggak ada di rumah, aku kira Mama tau ke mana mereka," lirih Arya.


"Lho, Raka ke mana? Padahal barusan Mama dari kamarnya sebelum masuk ke kamar Mama buat istirahat," kata Oma Arum. "Pasti diajakin pergi sama Angel itu, makanya dia pergi enggak bilang bilang," lanjut beliau.


Arya mendecak, "Jangan gitu, Ma. Regina lagi khawatir banget sama anak anaknya, dari tadi Anraka juga enggak bisa dihubungi."


Oma Arum pun membangkitkan dirinya lalu turun dari atas ranjang yang sudah menjadi tempatnya bernaung sejak beberapa jam lalu.


"Mereka pasti enggak pergi jauh jauh. Coba tanya Maryam," saran Oma Arum seraya melangkah ke ambang pintu.


"Bi Maryam juga enggak ada, enggak tau di mana."


Tangan Oma Arum yang tadinya hendak membuka pintu tiba tiba berhenti ketika beliau mendengar pernyataan Arya barusan. Ke mana asisten rumah tangga itu? Tumben sekali ia keluar dari rumah tanpa memberi tau siapa pun.


Setelahnya Oma Arum akhirnya keluar dari kamar diikuti oleh Arya di belakangnya.


"Ma, coba hubungi Bi Maryam aja," cetus Arya begitu keluar dari kamar Oma Arum.


Panggilan terhubung.


"Halo, Bi-"


"Nyonya, Non Angel dibawa ke rumah sakit karena tenggelam di kolam."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.