
"Udah, sampai sini aja. Lo balik sekarang," kata Keelua begitu sampai di depan kelasnya ditemani oleh Anraka.
"Gue nganter lo sampai duduk di bangku," ucap Anraka tak mau mendengar.
"Enggak! Enggak! Lo pergi sekarang atau gue lempar lo pakai sepatu?" ancam Keelua.
Tapi bukan Anraka namanya jika tidak keras kepala, pemuda itu tetap saja masuk ke dalam kelas Keelua tanpa mengindahkan perintah gadis itu yang sudah dua kali menyuruhnya pergi dari kelasnya.
Namun harus bagaimana lagi? Anraka sudah masuk ke dalam kelasnya, yang Keelua harapkan adalah semoga saja Lula belum datang. Keelua tidak ingin membuat Lula semakin kesal, setidaknya ia tak menunjukkan kedekatannya dengan Anraka.
Setelah menghela napas panjang, Keelua pun ikut masuk ke dalam kelasnya. Ternyata belum begitu ramai, sebagian teman kelasnya juga masih ada di luar kelas.
Anraka menoleh ke arah bangkunya untuk menemukan ke mana Anraka pergi dan betapa terkejutnya gadis itu saat ia menemukan Anraka sudah duduk di sebelah bangkunya yang kosong karena Lula enggan menempatinya.
"Yang duduk di sini siapa?" tanya Anraka saat Keelua mendekat.
"Tadinya Lula tapi sekarang dia enggak mau duduk di situ lagi," jawab Keelua seadanya.
"Kenapa enggak mau?" Anraka bertanya lagi.
Wajah Keelua tampak cemberut, ia malas membahas ini. Apalagi masalah utama masalah yang terjadi antara dia dan Lula adalah karena Anraka. Karena Lula menyukai Anraka yang sudah resmi menjadi suami Keelua sekarang.
"Ya karena dia enggak mau lagi," balas Keelua, ia pun bingung harus menjawab apa.
"Kalau gitu gue yang bakal duduk di sini," kata Anraka, ia serius.
"Hah?! Ngapain? Lo punya kelas sendiri, enggak perlu duduk di sini. Lo juga enggak bakal dibiarin sama Guru, kelas lo 'kan bukan di sini, enggak bisa pindah pindah kelas sembarangan dong."
Anraka ini memang selalu ingin melibatkan Keelua dalam masalah, entah masalah besar dan kecil, Anraka seolah ingin selalu mengajak Keelua bersamanya.
"Bukan hak lo untuk ngatur dan enggak akan ada Guru yang berani ngusir gue," ujar Anraka penuh percaya diri.
Keelua hanya melirik Anraka sebentar, ia tak tau apa yang pemuda ini inginkan. Terpaksa ia pasrah saja dan membiarkan pemuda itu melakukan apa yang ia mau.
Sang gadis akhirnya duduk di tempatnya kemudian menaruh tasnya di dalam laci meja seperti biasanya.
Anraka duduk dengan santai, tak mempedulikan orang orang yang terkejut melihatnya ada di dalam kelas mereka.
Tak sedikit dari teman teman kelas Keelua yang bertanya pada Keelua dengan cara mengode gadis itu dan Keelua pun hanya menjawabnya dengan bahu yang ia naikkan tanda tidak tau.
Tak lama kemudian tampak Lula datang dan sama seperti yang lain; gadis itu kaget saat melihat Anraka ada di dalam kelas yang sama dengannya, apalagi pemuda itu sedang duduk di sebelah Keelua, yaitu di tempat duduknya yang lama.
Keelua tau Lula akan melewatinya namun gadis itu memilih untuk tidak berkontak mata dengan Lula.
Ia hanya tidak ingin memperkeruh suasana dan membiarkan semuanya berlalu begitu saja.
Sampai saat di mana jam masuk tiba, datang seorang Guru yang hendak masuk ke dalam ruang kelas Keelua untuk mengajar.
Begitu Guru tersebut masuk, ia menyipitkan mata saat melihat Anraka ada di dalam kelas itu.
"Saya enggak salah kelas, 'kan? Kenapa kamu di sini, Anraka?" tanya Guru itu.
"Saya mau," jawab Anraka santai.
"Tapi ini bukan kelas kamu," sahut Guru tadi.
Anraka mengangkat wajahnya, kemudian menatap Guru itu lekat.
"Ada peraturan yang ngelarang siswa belajar di kelas yang mereka mau? Ibu ini seorang Guru, untuk apa menanyakan hal seperti itu kepada murid yang mau belajar?" tanya Anraka.
Guru itu terdiam, tatapan mata Anraka membuatnya tak bisa mengatakan apa apa selain menyetujui tiap kata yang Anraka keluarkan.
Lagipula, memangnya siapa yang berani melawan perkataan anak dari Arya Pranata?
"Ya udah, kamu duduk di situ saja."
...****************...
"Lain kali lo jangan kayak tadi, gue enggak mau lo ngelawan Guru apalagi sampai ngomong yang enggak sopan kayak gitu. Sebagai murid itu kita harus sopan sama mereka, kita dapat ilmu yang bermanfaat dari mereka, menghormati mereka aja kayaknya enggak cukup buat ngebalas jasa mereka."
Sejak awal perjalanan pulang hingga sampai di depan rumah, Keelua tidak berhenti memberikan wejangan pada Anraka, gadis itu sangat kesal dengan sikap Anraka yang seenaknya dan tidak sopan pada Guru.
Keelua turun dari motor Anraka saat motor tersebut sudah terparkir di dalam garasi.
"Mereka 'kan dibayar buat ngasih kita ilmu, itu udah sebanding." Anraka menjawab seenaknya.
"Lo ini bener bener, ya! Gue udah capek ngasih tau lo ini itu tapi-"
"Diem atau gue cium lo di sini?"
Ancaman macam apa itu?!
Keelua benar benar diam lantas tanpa pikir panjang langsung Keelua benar benar diam lantas tanpa pikir panjang langsung berjalan lebih dulu untuk masuk ke dalam rumah meninggalkan Anraka yang tersenyum kecil di tempatnya berdiri.
Dengan hati yang kesal, Keelua mengomel hingga masuk ke dalam kamarnya dan Anraka yang berada di lantai atas. Suasana rumah tampak sepi, tidak ada siapa pun di ruang tengah jadi Keelua langsung naik saja.
Tak lama berselang, setelah Keelua sudah selesai mengganti bajunya, Anraka naik kemudian masuk ke dalam kamarnya juga, menyusul Keelua.
"Kita periksa CCTV nya sekarang, lo nyalain laptop gue. Gue mau ganti baju dulu," titah Anraka.
Keelua pun menurutinya, ia juga baru ingat bahwa mereka berdua harus mengecek CCTV untuk membuktikan apa yang Keelua katakan di motor pagi tadi benar atau salah.
"Anggota keluarga yang lain benar benar enggak tau kalau lo masang CCTV ini di depan kamar lo?" tanya Keelua pada Anraka saat pemuda itu sudah duduk di sebelahnya.
"Enggak. Yang tau cuma lo doang, gue juga iseng masang ini."
Tanpa basa basi Anraka langsung membuka file rekaman dari CCTV tersebut dan menontonnya bersama Keelua. Betapa terkejutnya Anraka saat ia melihat dengan jelas bagaimana perlakuan Oma Arum pada Angel, ada banyak rekaman yang menunjukkan aksi kekerasan itu dan hati Anraka terasa terbakar karenanya.
"Jangan, lo jangan pulang ke rumah orang tua lo, nanti mereka ngira kita ada masalah," tolak Anraka.
"Terus gimana? Gue enggak mau terus terusan kayak gini, gue susah buat bahan emosi, kalau Oma Arum terus sinis ke gue, gue takut nanti gue kelepasan dan bikin masalah baru."
Keelua dilema, ia sebenarnya tidak ingin meninggalkan kediaman Pranata namun ia juga tidak bisa tinggal satu rumah dengan orang yang bersikap buruk padanya, itu akan membuat Keelua banyak pikiran dan stress.
Anraka diam, ia berpikir sebentar.
"Ya udah, kita pindah rumah aja."
"Hah?"
"Kita pindah rumah, kita misah, gue bakal nyari rumah lain buat kita tempatin berdua."
Keelua sedikit terkejut dengan keputusan tiba tiba Anraka ini, bisa bisanya pemuda itu mengambil keputusan seperti ini tanpa berpikir panjang.
"Gue enggak yakin kalau Oma Arum biarin lo pergi dari rumah ini," kata Keelua.
"Kita bakal nyoba, sekalian ajak Angel iuga." Anraka menjawab.
"Setelah makan, jangan ada yang berdiri dari kursi masing masing. Oma mau ngomong sesuatu yang sangat penting dan kalian semua harus mendengarnya." Tiba tiba saja Oma Arum buka suara.
Semua anggota keluarga menurut, sementara Keelua dan Anraka cukup bingung dengan apa yang akan mereka lakukan jika Oma Arum juga ingin mengatakan sesuatu padahal mereka juga ingin melakukan hal yang sama.
Baiklah, mereka akan mengalah dan mendengarkan Oma Arum lebih dulu.
Suasana makan malam berjalan tenang seperti biasanya, yang membedakan hanya tidak ada cerita cerita random dari Keelua yang biasanya gadis itu ceritakan pada keluarga suaminya.
"Kak Keelua kok diem? Biasanya cerita," tanya Angel pada Keelua yang duduk di sebelahnya.
"Enggak apa apa, kak Keel enggak punya cerita buat diceritain aja," jawab Keelua.
Angel manggut manggut, ia berusaha memahami situasi kakak iparnya saja.
Semua anggota keluarga menyelesaikan makan malam mereka, sesuai yang Oma Arum perintahkan, tidak ada yang berdiri dari tempatnya.
"Mama mau ngomongin apa? Kita semua udah siap buat dengerin," kata Arya.
Oma Arum mengangguk, ia akan mulai mengatakan apa yang ingin ia katakan di depan semua anggota keluarganya termasuk Keelua.
"Ini soal Keelua dan Anraka," ucap Oma Arum memulai awal katanya.
Keelua dan Anraka saling pandang kemudian fokus pada Oma Arum lagi.
"Perjodohan yang sudah dilakukan sepertinya tidak berhasil, awalnya saya mengira Raka akan menjadi lebih baik setelah menikahi Keelua, tapi ternyata semuanya tidak sesuai ekspetasi."
"Maksudnya apa ya, Ma?" celetuk Regina.
"Saya enggak nyuruh kamu ngomong, jangan motong ucapan saya," kata Oma Arum, menatap tajam Regina.
Jantung Keelua berdebar, begitu pula dengan Anraka. Keduanya sama sama menebak nebak apa yang ingin Oma Arum jelaskan sebenarnya.
"Oma ingin kamu; Keelua dan Anraka berpisah, kalian sebaiknya memutuskan hubungan ini. Kalian lebih baik cerai," tutur Oma Arum.
Mendengar ucapan Oma Arum itu, langit Keelua seolah runtuh, untuk satu detik jantungnya seolah berhenti berdetak.
"Mama udah keterlaluan, Mama benar benar egois. Regina enggak terima!" Regina bangkit dari kursinya, ia menolak keras keinginan Oma Arum.
"Tapi kenapa, Ma? Kenapa Mama tiba tiba minta Keelua dan Anraka berpisah?" Arya pun buka suara.
Anraka bangkit, dengan tergesa gesa ia menarik tangan Keelua untuk ikut bangkit dari duduknya.
"Oma Arum enggak bisa ngelakuin ini, Anraka dan Keelua udah saling suka, nikah dan cerai bukan mainan. Kita berdua enggak mau," tekan Anraka.
Untuk pertama kalinya, Anraka melawan kemauan Oma nya.
"Raka, kamu ini—"
"Keelua dan Anraka bakal pisah rumah sama kalian semua, Raka bakal bawa Keelua ke rumah Raka yang baru aja Raka beli."
Setelah mengatakan itu, Anraka langsung membawa Keelua pergi dari hadapan semua orang yang ada di sana. Tidak peduli Oma Arum terus memanggilnya, yang pemuda itu pikirkan adalah membawa Keelua pergi dari rumah ini agar mereka tetap bisa tenang dan tidak dipaksa berpisah.
"ANRAKA! KAMU UDAH SALAH BESAR KARENA NGELAWAN OMA!"
...****************...
"Masuk," titah Anraka pada Keelua.
Dengan langkah pelan, Keelua masuk ke dalam kamar asing yang merupakan kamar utama di rumah baru yang sempat Anraka ceritakan di mobil tadi.
"Ini kamar kita?" tanya Keelua.
"Iya, gimana? Lo suka?" tanya Anraka balik.
"Suka, tapi kita beneran pergi dari rumah? Mama sama Papa enggak apa apa?" Keelua duduk di atas kasur.
"Enggak apa apa, enggak usah dipikirin. Kita aman di sini," ucap Anraka menenangkan.
Keelua terdiam, kemudian dengan perlahan lahan Anraka membaringkan tubuh gadis itu di atas kasur. Ia harus istirahat agar pikirannya lebih tenang.
Anraka pun ikut berbaring di sebelah Keelua, mengelus pucuk kepala gadis itu.
"Selama kita sama sama, enggak akan ada yang bisa misahin kita."