BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
15. Rumah Keelua



Seorang gadis kecil bersenyum gembira sambil memandangi jalanan yang ada di luar jendela. Ia tampak begitu senang merasakan angin menerpa wajahnya, terkadang ia memejamkan mata.


"Ravi, Angel baru pertama kali naik bus."


Anak laki laki yang dipanggil melirik, "Beneran?"


Angel mengangguk kukuh, "Iya, ternyata seru banget, ya?"


"Seru apanya? Biasa aja. Enggak usah norak, Angel."


"Ih, seru tau!" Angel mendengus lalu kembali memandangi pemandangan jalanan dari jendela.


"Masa anak orang kaya enggak pernah naik bus," ujar Ravi.


Angel menoleh, "Emang semua anak orang kaya harus pernah naik bus?" tanyanya.


"Enggak juga, sih."


"Tapi makasih ya udah ngajakin Angel naik bus, Angel senang banget!" Anak perempuan itu tersenyum begitu masih ke arah Ravi yang duduk tepat di sebelahnya.


"Sama sama," balas Ravi tanpa menoleh.


Angel kembali tersenyum seraya merasakan angin sepoi menerpa wajahnya lagi, sesekali Ravi melirik ke arah anak perempuan itu. Mengapa Angel bisa nampak begitu polos dan ceria ketika bersamanya atau bersama keluarga padahal di sekolah anak perempuan itu adalah bos tukang palak?


Apa anak perempuan itu punya dua kepribadian? Bagaimana bisa gadis kecil menggemaskan sepertinya membuat orang takut dan memalak mereka?


Pasti tidak akan ada yang menyangkanya jika tidak melihatnya langsung. Sama seperti Ravi, anak laki laki itu awalnya tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari teman temannya tentang Angel yang merupakan anak yang suka memalak bersama teman teman laki lakinya. Namun pada akhirnya Ravi pun melihat kejadiannya langsung hingga membuatnya mau tak mau mempercayainya.


Padahal senyumnya sangat manis dan lucu, tapi ternyata anak perempuan itu ganas juga.


Tak lama kemudian bus dan Angel tumpangi pun yang Ravi berhenti di depan halte yang berada di depan rumah Ravi. Kedua anak itu pun keluar dari bus setelah membayar.


"Rumah kamu di mana?" tanya Angel.


"Di dalam, kita harus jalan dulu masuknya."


"Oh, iya. Harus masuk ke komplek dulu, ya."


Ravi mengangguk lalu melangkah lebih dulu hingga membuat Angel mengekorinya di belakang seperti anak kucing terlantar yang meminta untuk dibawa pulang.


"Udah lama enggak ke rumah kamu," tutur Angel di sela sela perjalanan.


"Hm." Ravi hanya membalasnya dengan gumaman.


Setelah beberapa lama berjalan, akhirnya rumah Ravi pun sudah terlihat. Dahinya berkerut ketika mendapati sebuah mobil yang tak ia kenali terparkir di depan rumahnya.


"Ravi, Ravi."


Terdengar suara lirih dari belakang. Ravi pun menoleh. Ternyata Angel yang sudah melangkah gontai dengan napas yang tersengal sengal.


"Kenapa?"


"Capek. Enggak bisa jalan lagi."


...****************...


"Kamu di sini aja, enggak usah ke sekolah lagi."


Anraka hanya bisa mengangguk ketika Sekar terus memaksanya tetap tinggal di rumahnya dan tidak ke mana mana. Wanita itu juga terus menyodorkannya makanan serta susu yang harus dimakan dan dihabiskan oleh Anraka.


Sudah tengah hari, namun Anraka tidak kunjung kembali ke sekolah setelah tadi pamit kepada teman temannya untuk mengantar Keelua yang tiba tiba pingsan pulang kembali ke rumahnya.


Ternyata gadis itu belum benar benar pulih hingga akhirnya sakitnya kembali kambuh.


"Saya mau minta maaf, Tante." Anraka yang sedari tadi diam akhirnya buka suara.


"Minta maaf buat apa, ganteng?" tanya Sekar.


Dahi Sekar mengernyit, "Kok gara gara kamu?" tanyanya.


"Kemarin saya ninggalin Keelua di jalanan sampai dia kehujanan." Anraka menundukkan kepalanya dalam dalam, ia sangat gugup untuk menatap mata Sekar yang duduk di depannya.


Sekar pun langsung bangkit dari duduknya lalu membuang semua makanan yang ada di atas meja, makanan yang sejak tadi sudah disiapkan untuk Anraka tapi sekarang malah berserakan di lantai.


"Oh, jadi kamu yang bikin anak saya sakit sampai menderita gitu? Kamu enggak kasian apa sama anak saya? Tega teganya kamu ninggalin dia di jalanan, emangnya kamu kira dia apa? Saya sama ayahnya Keelua udah ngejaga dia baik baik dari kecil sampai sekarang, kamu malah gituin anak saya! Emang kurang ajar kamu!"


Anraka menelan salivanya kasar lalu dengan hati yang berkecamuk mencoba untuk memberi pembelaan pada dirinya tapi ia sadar bahwa tidak ada alasan yang bisa membuatnya terlihat tidak bersalah.


"Tunggu apa lagi? Pergi kamu dari sini! Saya akan laporkan kamu kepada orang tua dan nenek kamu itu bahwa kamu sudah menyakiti anak saya secara tidak langsung. Saya tidak ingin lagi anak saya disuruh suruh sama nenek kamu buat mantau kamu di sekolah." Sekar berteriak dengan begitu nyaring hingga mampu membuat telinga Anraka sakit.


Tiba tiba seorang pria bertubuh tinggi besar datang menghampiri kehebohan yang diperbuat oleh Sekar.


"Ada apa ini?" tanya pria itu dengan suara beratnya.


"Ini, mas. Ternyata dia yang bikin Keelua sakit. Dia ninggalin Keelua pas mau ke sekolah terus anak kita kehujanan sampai demam."


Tatapan mata Bambang berubah tajam ke arah Anraka yang masih membatu di atas sofa. Tidak ada cara untuk melawan.


Tiba tiba saja kerah baju Anraka di tarik ke atas hingga membuat pemuda itu mau tak mau bangkit dari duduknya.


BUGH!


Dengan sekali tarikan napas, Ayah Keelua pun membogem wajah tampan Anraka.


"Sial!"


Anraka menggeleng pelan lalu memijit pelipisnya yang tiba tiba berdenyut. Bisa bisanya ia melamunkan hal hal mengerikan seperti tadi.


"Ini, Raka. Minum dulu." Sekar datang dari arah dapur sambil membawakan minuman untuk Anraka.


"Terima kasih, Tante." Anraka pun meminum minuman itu.


Sekar langsung mendaratkan bokongnya ke atas sofa yang ada di depan Anraka.


"Kamu enggak ke sekolah lagi, Nak?" tanya Sekar.


"Saya tunggu Keelua bangun aja, Tante. Kalau dia bangun terus masih sakit, mending saya bawa ke rumah sakit aja," ujar Anraka.


Walau pun tampak begitu dingin dan cuek, Anraka masih punya sopan santun kepada orang lain namun orang taunya dikecualikan. Jika untuk kedua orang itu, Anraka sudah benar benar merasa kecewa.


"Aduh, makasih banget, ya. Lagian Keelua tadi udah dilarang ke sekolah sama adiknya tapi dia batu banget. Jadi terpaksa dibiarin aja, eh tau taunya pulang pulang udah pingsan." Sekar mengoceh panjang lebar.


"Sama sama, Tante."


Sekar tersenyum ke arah Anraka dengan tulus, "Kamu udah lama banget enggak ke sini, ya. Kayaknya baru beberapa kali ke sini, itu juga sama Oma. Lain kali sering sering ya ke sini," ujar Sekar.


Walau pun tak begitu nampak, namun nyata Anraka menarik sudut bibirnya yang menandakan dia sedang tersenyum.


"Iya, tante."


"Gimana kabar Oma kamu? Baik?" Sekar pun melanjutkan basa basinya dengan anak teman suaminya yang kaya raya itu.


"Baik, Tante. Om bambang mana?"


"Oh, Om kamu itu lagi d perternakan, dia emang jarang banget ada di rumah kalau siang, paling sore doang."


Anraka mengangguk paham, pemuda itu berani menanyakan keberadaan Ayah Keelua karena memang hubungan mereka cukup baik. Anraka merasa dirinya dan Ayah dari Keelua itu sangat baik kepadanya.


"Jadi-"


"Ravi pulang."