BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
Pelukan pertama



Malam yang dingin menyelimuti langit yang gelap, hembusan angin sepoi menerpa kulit seorang gadis yang sejak tadi hanya terdiam di tempatnya, memandangi langit beralaskan malam itu.


Dia Keelua, gadis yang selalu tersenyum apa pun yang terjadi.


Dia Keelua, gadis yang menerima apa saja keputusan orang tuanya asal mereka bahagia meskipun ia tak menginginkannya.


Dia Keelua, gadis yang sedang termenung di balkon kamar Anraka sejak sejam yang lalu.


Keelua diam, ia hanyut dalam pikirannya sendiri, entah bagaimana akhir dari kisah cintanya. Ia tau, Antara mulai mencintainya dan dia juga punya perasaan yang sama tapi bukanlah itu akan membuat seseorang terluka? Maksudnya, Keelua tau bahwa Bumi juga punya perasaan yang dalam terhadapnya tapi apa yang bisa ia lakukan jika pada dasarnya jiwa dan raganya sudah dimiliki oleh Anraka?


Awalnya Keelua mengira bahwa perasaannya pada Bumi adalah nyata, tapi setelah semuanya berjalan, ia sadar bahwa ia tak menemukan apa yang ia cari pada pemuda yang merupakan sahabat dari suaminya itu.


Harus bagaimana Keelua sekarang? Ia tak mungkin merelakan kebahagiaannya demi sebuah perasaan yang dimiliki seseorang padanya, ia juga tak bisa membalas perasaan itu lebih dalam.


Apa Keelua akan terlihat jahat jika ia lebih mementingkan dirinya sendiri? Ini pertama kalinya ia ingin membuat hatinya bahagia setelah beberapa lama larut dalam keterpurukan.


Haruskah ia mengorbankan dirinya lagi dan sekali lagi?


Ini terlalu melelahkan hingga Keelua tak punya harapan tentang membahagiakan dirinya sendiri lagi. Kehidupan hanya selalu memaksanya jatuh dan jatuh sekuat apa pun usahanya untuk bangkit. Ini benar benar melelahkan.


Mungkin sesekali ia harus jahat dan tidak mempedulikan perasaan orang lain, ini adalah satu satunya cara untuk bahagia.


"Keel?"


Keelua menoleh, seseorang memanggilnya dari belakang. Itu Anraka, pemuda yang sedang memakai kaos berwarna hitam itu mendekat ke arah Keelua kemudian ikut memandangi pekatnya malam.


"Lagi ngapain lo di sini?" tanya Anraka sambil menoleh ke arah istrinya yang entah sejak kapan tampak begitu cantik.


"Lagi mikir," jawab Keelua.


"Mikirin apa?" tanya Anraka lagi.


"Sesuatu," balas si gadis lagi.


Anraka kembali menyorot gelapnya malam dengan netranya, menebak nebak kira kira apa yang mampu membuat Keelua berdiam diri seperti ini.


"Kalau ada apa apa, bilang, ya.


Kasih tau gue, gue bukan pemberi saran yang baik tapi setidaknya lo bisa punya seseorang yang bakal setia dengerin apa aja yang mau lo bagi dan nerima semua keluh kesah lo."


Keelua tersenyum, ia tak pernah tau Anraka bisa semanis ini padanya. Ini hanya caranya berterima kasih atau memang aslinya dia sebaik ini?


"Makasih, Raka. Itu berarti banyak buat gue." Keelua menghela napas, ia mencoba menghilangkan semua ketakutan dan kemungkinan kemungkinan buruk di kepalanya.


"Gue tau sekarang lo lagi mikirin perasaan orang lain setelah lo sadar sama perasaan lo sendiri,” tebak Anraka dengan begitu mudahnya.


Keelua tidak tau bagaimana bisa Anraka membaca pikirannya dengan begitu mudah, ia rasa pemuda itu sudah mengenalnya dengan begitu baik.


"Gue cuma bingung, Rak. Gue harus gimana sekarang, apa gue harus jujur sama Bumi tentang perasaan gue yang sebenarnya atau tetap biarin dia berharap sama gue. Dua duanya tetap aja ngebuat keliatan jahat, gue emang udah salah dari awal."


Keelua terdiam, ia sudah tak sanggup berkata kata lagi, semoga Anraka mengerti tentang apa yang ia maksudkan ini. Sebenarnya memang sulit untuk dipahami tapi bisa dirasakan.


"Lo mau dengar saran dari gue, enggak?" Anraka buka suara, memecah keheningan.


Keelua tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya.


"Menurut gue, mending lo jujur aja ke dia soal perasaan lo kalau lo emang enggak suka sama dia, itu bakal bikin semuanya lebih gampang. Lagi pula, dia enggak bakal punya kesempatan buat milikin lo. Lo harus sadar, lo itu cuma milik gue, Keelua."


Tanpa Anraka perjelas pun, Keelua sudah tau posisi dan hatinya milik siapa, tak perlu diragukan lagi.


Seorang Anraka akan mendapatkan apa yang ia mau tanpa perlu mengeluarkan tenaga.


"Terlalu susah buat gue untuk ngelepasin lo, Keelua. Ini pertama kalinya gue berusaha pertahanin sesuatu sampai segininya, gue enggak pernah takut kehilangan apa pun. Cuma lo yang bisa bikin gue lemah kayak gini."


Lagi lagi Keelua hanya bisa diam dan mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Anraka. Di detik yang sama, Keelua yakin bahwa mempertahakan hubungannya dengan pemuda yang sudah berstatus sebagai suaminya ini adalah pilihan yang tepat.


"Maafin semua perlakuan gue selama ini, Keel. Andai dari awal gue bisa bilang kalau gue sayang sama lo, mungkin semuanya enggak akan berakhir serumit ini." Anraka menghadapkan badannya ke arah Keelua, lantas menatap kedua mata istrinya dengan tatapan yang begitu lekat.


Perasaan hangat menjalar di dada Keelua, ia belum pernah merasakan ini sebelumnya. Mungkin inilah yang orang orang sebut dengan kata ... cinta.


Anraka mengangkat dagu Keelua yang sedang menundukkan kepala, memaksa gadisnya menatap matanya. Keelua menangis, ia mengeluarkan begitu banyak air mata yang sudah tak mampu ia bendung sejak tadi.


Tanpa basa basi, Anraka menarik pinggang ramping Keelua kemudian menenggelamkan gadis itu ke dalam dekapannya. Keelua tercekat, ini adalah pelukan pertama mereka setelah beberapa bulan menjadi sepasang suami istri.


"Tetap kayak gini, Keel. Jangan lepasin pelukan ini, gue butuh pelukan kecil kayak gini sejak lama, gue butuh seseorang buat lampiasin semua ketakutan gue. Gue butuh lo, Keel."


Dekapan itu begitu hangat hingga membuat Keelua hanyut di dalamnya, seolah ia bisa menjadi bagian dari Anraka yang sedang menyalurkan segala rasanya pada Keelua. Perasaan ini semakin dalam ada kalanya rasa seperti ini tak dapat tertahan hingga membuat siapa saja lupa siapa diri mereka yang sebenarnya.


Keelua membalas pelukan itu, air matanya jatuh lebih deras lagi hingga membuat bahunya bergetar hebat, kesedihannya sudah tak dapat dibendung. Biar saja ia menangis hingga puas di dalam dekapan Anraka, hanya ini satu satunya cara Keelua meluapkan emosinya.


Jika bukan Anraka, siapa lagi yang bisa mengerti keadaan Keelua sekarang? Menemukan seseorang yang bisa diajak bicara itu mudah namun menemukan seseorang yang peduli itu sulit.


"Maaf tapi lo bener bener harus ngomongin ini sama Bumi, gue enggak mau pertemanan gue sama dia hancur tapi gue juga enggak mau ngerusak hubungan kita dan ngerelain lo buat dia. Bahkan kalau dia nyoba buat ngerebut lo dari gue, gue bakal lupa kalau dia itu teman gue.”


Keelua melepas pelukan itu, kemudian mendongak dan menatap Anraka yang juga sedang menatapnya.


"Hubungan pertemanan kalian enggak boleh rusak, kalian harus tetap jadi teman baik yang selalu sama kayak dulu. Jangan sampai hubungan kalian itu rusak cuma gara gara gue. Gue enggak mau itu sampai terjadi, Raka," kata Keelua, itu benar benar keluar dari hatinya.


"Kalau lo maunya kayak gitu, berarti lo harus dengerin gue. Kasih tau semua perasaan lo ke Bumi dan jangan sampai dia berharap lagi sama lo karena itu cuma bakal bikin dia sengsara," lugas Anraka tanpa bantahan lagi.


Keelua mengangguk, ia tau apa yang harus ia lakukan sekarang.


...****************...


"Halo, Keel. Lo sibuk enggak hari ini? Gue mau ngajak lo jalan lagi, please kali ini jangan lo tolak lagi, ya!"


Keelua diam, ia hanya memandangi Bumi yang baru saja datang dan menyapanya seperti biasa, gadis itu tersenyum.


"Jalan ke mana? Lo yakin gue enggak akan nolak lo lagi?” Gadis dengan kuncir rambut itu terkekeh, seolah apa yang ia katakan barusan adalah hal yang patut untuk ditertawakan.


"Gue yakin, kita 'kan udah pernah jalan sekali dan lo kayaknya enggak ilfeel tuh sama gue," balas Bumi dengan candaan pula.


Keelua menghela napas panjang, "Ya udah kalau gitu, pulang sekolah, ya."


Bumi bersorak senang lantas mencubit pipi Keelua sebentar kemudian berlari dengan cepat keluar dari kelas gadis itu. Keelua sempat mengaduh namun pada akhirnya ia tersenyum lagi. Bumi itu pemuda yang baik, siapa pun gadis yang akan bersamanya nanti pasti sangat bahagia.


Dan Keelua bukanlah gadis itu.


"Gue balik sama Bumi, enggak perlu nunggu gue. Gue mau selesaiin semuanya." Sang gadis menulis sebuah pesan singkat untuk Anraka kemudian menaruh kembali ponselnya ke dalam saku almamaternya.


Saat jam pulang sekolah sudah tiba, Bumi buru buru datang ke kelas Keelua untuk menjemput gadis itu. Entah bagaimana akhirnya tapi Bumi berharap semuanya akan berjalan lancar seperti yang diinginkan.


Setelah sampai di depan kelas Keelua, mata Bumi sedikit menyipit saat menemukan sosok pemuda yang sangat ia kenal sedang berdiri di depan pintu bersama gadis impiannya dan mereka terlihat sedang membahas sesuatu yang sangat serius.


"Keelua," sapa Bumi saat ia sudah berada di sebelah gadis itu.


Keelua dan Anraka menoleh bersamaan, Keelua tersenyum sedangkan Anraka hanya menatap datar saja seperti tatapannya yang biasa.


"Halo, Bumi. Lo baru keluar kelas, ya?" tanya Keelua basa basi.


Bumi melirik Anraka, ia seperti bingung bagaimana bisa pemuda itu mendahuluinya datang ke sini padahal mereka ada di dalam satu kelas dan guru mereka baru saja keluar dari kelas.


"Iya baru banget, soalnya gurunya juga baru banget keluar." Bumi tersenyum tipis.


"Lho, Raka udah dari tadi di sini padahal," sambung Keelua.


"Dia ‘kan singgah buat main main dulu sama cewek cewek dari kelas sebelah, makanya agak lama ke sininya. Lo harus sabar, Keel." Anraka menyeletuk.


"E-Enggak, kok. Enggak mungkin gue kayak gitu." Bumi mengelak dan hanya dibalas dengan cemoohan oleh Anraka.


"Ayo, Keel. Kita udah ada janji, 'kan?" ajak Bumi sambil menarik lembut tangan Keelua dan mengajak gadis itu pergi bersamanya.


Anraka hanya memandangi kepergian keduanya, Keelua melambaikan tangan sedangkan Bumi menatap Anraka dengan rasa penuh kemenangan.


"Ini terakhir kalinya gue ngebiarin lo nyentuh tangan istri gue kayak gitu," gumam Anraka dalam hati.