BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
46. Dejavu



"Anraka sama Angel kemana, Ma? Mereka enggak ada di kamarnya, apa belum pulang sekolah?"


Arya masuk ke dalam kamarnya lantas langsung bertanya kepada istrinya tentang keberadaan kedua anaknya yang sepertinya sedang tidak ada di rumah.


"Tadi waktu masih di kantor Angel ngabarin aku, katanya dia sama Anraka mau nginap di villa malam ini, mereka ke sana dari tadi siang," jelas Regina.


Alis Arya mengerut, "Lho, mereka ke villa cuma berdua doang? Kok tiba tiba banget? Biasanya kan kita ke villa kalau ada kepentingan atau lagi hiburan keluarga. Mereka mau ngapain di sana cuma berdua doang?" tanyanya lagi.


"Mungkin mereka lagi refreshing, Pa. Anraka pasti lagi pusing banget sekarang, mikirin Oma, mikirin perjodohan dia. Kita harus ngertiin dia juga sesekali, meskipun dia enggak ngomong sama kita tapi dia pasti punya perasaan juga." Regina yang sedang duduk di depan kaca lemari hiasnya kemudian menoleh dan menatap suaminya yang tampak cemas.


"Enggak apa apa, kamu tenang aja. Angel pasti bakal selalu kabarin aku, besok mereka pulang kok." Regina bangkit dari duduknya lalu mengecup singkat pipi suaminya untuk mengatakan bahwa semuanya akan baik baik saja.


Arya pun akhirnya mencoba untuk bernapas normal, pria itu hanya mengkhawatirkan keadaan anak anaknya saja jika mereka pergi sendirian. Anraka seharusnya meminta izin pada Arya terlebih dahulu sebelum mereka pergi namun Anraka memang tipe anak yang cuek dan acuh kepada orang tuanya.


"Mama udah ngasih tau Anraka kalau besok kita udah harus ke rumah calon istrinya? Papa udah bilang ke Oma Arum untuk undur rencana ini tapi Oma bilang udah enggak bisa diundur lagi dan kita udah harus ketemu sama calon mertua Anraka secepatnya. Terlebih lagi, Anraka harus ikut pergi ke sana," ucap Arya. "Gimana nih, Ma?" lanjutnya.


"Aku tau, tapi tadi enggak mungkin aku ngelarang Anraka dan Angel pergi, mereka udah siap siap soalnya. Enggak apa apa, nanti kalau mereka udah balik, aku tanyain deh," sahut Regina.


Arya menghela napas panjang, pria itu sedikit cemas dengan rencana besar besok. Padahal Anraka belum mengatakan bahwa ia setuju atau tidak untuk dijodohkan tapi besok anak laki laki dari Arya dan Regina itu sudah harus pergi ke rumah calon mertuanya.


Entah apa yang akan Anraka lakukan, mustahil jika pemuda itu akan menerima begitu saja. Sudah pasti akan terjadi drama drama yang mempersulit jalannya rencana besok.


Tapi bagaimana pun itu, Regina dan Arya harus membawa Anraka bertemu dengan calon istri dan calon keluarga barunya.


"Kira kira Anraka bakal setuju enggak, ya? Papa takut Anraka bakal malu maluin keluarga kita di rumah calon istrinya nanti. Mama tau sendiri Anraka gimana anaknya." Arya kemudian


membanting tubuh lelahnya ke atas kasur dan menatap langit langit kamarnya yang berwarna putih cerah.


"Papa enggak boleh kayak gitu, kita harus ngertiin posisinya Raka dong. Raka pasti syok banget sama kejadian tiba tiba ini, anak laki laki kita terancam kehilangan masa mudanya cuma buat nurutin ego Oma Arum. Harusnya kita enggak ngelakuin ini ke dia, ini jahat tau enggak? Andai Mama bisa ngelakuin sesuatu buat Raka, Mama pasti enggak akan ngebiarin Raka terjebak dalam masalah kayak gini. Mama enggak tega, Pa," lirih Regina dengan air mata yang hampir jatuh ke pipi.


Selalu saja, selalu saja Regina ingin mengeluarkan air matanya saat ia memikirkan nasib Anraka yang benar benar akan menikahi seorang gadis yang tak akan pemuda itu sangka sangka. Regina tau betul bagaimana hubungan anaknya dengan gadis yang akan menjadi menantunya tersebut, ia hanya was was, tidak ada orang tua yang ingin anaknya gagal dalam hal apa pun apalagi pernikahan.


"Ini bukan nurutin egonya Oma Arum, Ma. Mama tau sendiri 'kan Oma Arum itu lagi sakit parah dan cuma ini yang dia minta ke kita, Ma. Anraka sebagai cucu kesayangan pasti akan ngelakuin apa pun buat Omanya, Papa juga yakin perempuan yang Oma Arum pilih itu adalah calon pendamping yang baik dan cocok untuk Anraka." Arya membalas tanpa menoleh sama sekali, sebenarnya ini juga berat untuk pria itu.


Regina menghela napas panjang, "Iya, aku tau. Tapi kasian Raka yang harus korbanin masa mudanya, Pa. Masa muda yang hanya sekali tapi dia terancam enggak bisa nikmatin itu. Hati aku sakit banget rasanya."


Tentu saja ini bukanlah hal yang mudah untuk Regina dan Arya, anak laki laki mereka adalah harapan satu satunya. Namun, dengan segala materi yang mereka punya, Anraka tidak akan mereka biarkan putus sekolah apalagi kehilangan masa mudanya. Hanya saja, mereka tidak mau Anraka menanggung terlalu banyak beban di kepalanya tapi entah bagaimana caranya karena tidak ada yang bisa membaca isi kepala pemuda itu.


Mau tak mau, perjodohan ini pasti akan terjadi kecuali Anraka sendiri yang menolaknya mentah mentah.


"Ya udah, Ma. Kita enggak bisa ngapa ngapain lagi, hal yang bisa kita lakuin sekarang cuma berusaha bikin Raka bahagia dengan pernikahannya nanti. Walaupun dia nikahin perempuan yang enggak dia cintai tapi seenggaknya dia masih bisa berusaha untuk itu," ucap Arya pelan.


Regina bangkit dari duduknya lantas berdiri di sisi ranjang seraya menatap wajah suaminya, "Tapi gimana kalau dia enggak bisa cinta sama istrinya nanti, Pa? Papa pernah mikirin itu, enggak? Papa tau sendiri cinta itu enggak bisa dipaksa."


Arya bangkit dari posisi rebahnya lantas menghadapkan tubuhnya ke arah Regina, tangan pria itu terangkat lalu menarik pelan lengan istrinya dan membawanya ke pangkuannya.


"Papa tau kekhawatiran Mama sekarang, Papa paham. Tapi Papa juga enggak bisa ngapa ngapain buat selamatin Raka, Ma. Oma Arum masih punya kuasa penuh atas Papa dan juga anggota keluarga di rumah ini. Sebagai orang tuanya kita, kita harus sangat menghormati Oma Arum, dia Mama aku dan juga Mama kamu."


Arya mencoba memberi pengertian pada Regina, selembut mungkin ia ingin menjelaskan bahwa apa yang terjadi sebenarnya tidak semenakutkan apa yang ada di dalam bayangan istrinya itu.


"Papa inget enggak dulu waktu kita masih pacaran, Oma Arum hampir jodohin kamu sama perempuan lain pilihan dia? Kamu inget kan gimana usaha kita buat batalin perjodohan itu sampai kita bisa bareng bareng kayak sekarang? Kamu tau gimana rasanya, Pa."


Regina kemudian menunduk, menatap jarinya yang bertaut cemas, ada perasaan dejavu setiap kali ia memikirkan Anraka yang diharuskan menikah dengan perempuan yang tidak ia cintai. Kisah pahit perjuangan Regina dan Arya dulu akan segera dirasakan oleh anak mereka sekarang. Itu menyakitkan, Regina tau rasanya dan ia tak ingin membiarkan Anraka merasakan hal yang sama.


"Anraka enggak punya pacar kan, Ma? Raka pernah cerita ke Mama kalau dia punya pacar atau teman dekat?" tanya Arya pada istrinya sambil memeluk perut rata wanita itu.


Regina menggeleng pelan, "Aku enggak tau apa apa soal Raka, Pa. Papa tau sendiri kalau Raka itu tertutup banget, jangankan ngomong sendiri, aku minta dia buat ngomong aja enggak mungkin dia langsung mau," sahutnya.


"Jadi gimana caranya supaya kita bisa tau?" tanya Arya lagi.


Regina masih ingat betul bagaimana sulitnya berusaha mendapatkan restu dari Ibu kandung Arya yaitu Oma Arum, bahkan sampai sekarang sikap Oma Arum kepada Regina tidak begitu ramah namun Regina tak ambil pusing.


Jika ingin mengulang kisah pahit yang dulu, rasanya Regina sudah tak ingin lagi. Begitu sakit saat berada di situasi dimana kita terancam harus melepaskan orang yang benar benar kita sayangi sepenuh hati.


"Semoga kita bisa perbaiki keadaan ini, ya."


...****************...


"Gue beneran yakin, lo suka sama Angel, 'kan? Secara lo sama Angel nempel mulu di sekolah," tebak Keelua.


Ravi sudah berulang ulang kali mengatakan bahwa tebakan Keelua salah tapi gadis itu terus memaksa dan mengatakan tebakannya itu benar.


Sebenarnya siapa yang memiliki rasa suka di sini? Bukannya sejak tadi mereka berdua sedang membicarakan tentang Ravi yang suka pada seorang anak perempuan lain bukan tentang Keelua yang menyukai seseorang.


Sedangkan Keelua memaksa Ravi untuk mengatakan iya padahal jawabannya adalah tidak.


"Bukan, kak. Lo budek, ya? Gue udah berkali kali bilang enggak, bukan." Ravi sudah lelah terus mengulangi jawabannya namun Keelua tetap saja tidak percaya.


"Kalau lo bukan suka sama Angel, jadi lo suka sama siapa? Lo kan nolep, emang ada cewek mau sama lo selain Angel?" tanya Keelua, perkataan gadis itu cukup membuat Ravi tersinggung namun ia sudah terbiasa.


"Lo ngeremehin gue, ya. Tunggu di sini bentar," kata Ravi lantas ia berjalan cepat keluar dari kamar Keelua dan buru buru pergi ke kamarnya.


"Aneh banget, dasar bocil," gumam Keelua.


Gadis berambut panjang itu benar benar penasaran, kira kira tipe laki laki seperti Ravi ini menyukai gadis seperti apa. Setau Keelua, Ravi sangat cuek dan tidak mempedulikan siapa siapa, sungguh anak perempuan yang bisa membuat adiknya jatuh hati itu sangat hebat.


Tak lama berselang, Ravi datang dan sudah membawa ponsel di tangannya.


"Lihat nih. Gue enggak mau sombong tapi lo lama lama ngelunjak," kata Ravi seraya menyodorkan ponselnya ke arah Keelua dengan layar menyala dan memperlihatkan room chat whatsappnya.


Mata Keelua melebar begitu melihat apa yang ingin Ravi tunjukkan padanya, ternyata room chat anak laki laki ini dipenuhi dengan ratusan chat dari nomor nomor baru yang tidak disimpan olehnya.


"Ini semua chat dari siapa? Banyak banget, ini lo yakin bukan teror chat dari oknum pinjaman online?" tanya Keelua syok.


Ravi mendecak kesal, "Bukan lah, ini semua chat yang enggak gue balas dari fans fans gue. Gue punya banyak fans di sekolah tapi gue selalu cuek aja karena cewek cewek suka cowok yang cuek dan bodo amatan," jelas anak laki laki itu.


Keelua manggut manggut, "Bener juga, buktinya Anraka yang super duper cuek itu aja punya banyak fans, dia dikejar kejar sama cewek cewek goblok yang rela harga dirinya jatuh cuma buat cowok enggak jelas kayak Anraka Pranata." Kemudian memberikan ponsel yang ia pegang tadi kepada si empuhnya.


"Nah, makanya. Cowok cuek itu pasti banyak yang suka dan ngejar, tapi..." Ravi sengaja menggantung ucapannya.


"Tapi apa?" tanya Keelua penasaran.


"Kalau ganteng," sambung Ravi kemudian.


Keelua dan Ravi lantas bertawa bersama, itu memang sudah menjadi point utama jika ingin memiliki banyak penggemar dan disukai banyak orang. Fisik dan wajah yang rupawan adalah aset terbesar manusia sekarang, mengalahkan materi dan ilmu. mungkin. Semakin hari, dunia semakin tidak beres.


"Jelas sih, cewek cewek gila itu ngejar Anraka karena menurut mereka Anraka itu ganteng," ucap Keelua.


Ravi bergumam, "Lo gimana? Lo enggak mau ikutan ngejar si Raka? Bukannya peluang lo besar buat dapatin dia? Oma dia kan suka banget sama lo, udah nganggep lo kayak cucunya juga," tanyanya.


"Sorry, gue enggak mau bersaing cuma buat cowok. Kalau emang seorang cowok udah ditakdirin buat gue, mau seluruh perempuan di dunia ngejar ngejar dia, dia pasti bakal kembali ke gue. Gitu aja sih," seru Keelua. "Lagian, siapa juga yang mau sama Anraka. Udah nakal, enggak tau sopan santun, sok ganteng lagi. Malas banget," lanjutnya.


"Tapi kalau si Raka baik, pinter, sopan, sederhana, pasti lo mau sama dia, 'kan? Ngaku aja," ledek Ravi.


Keelua mencemooh, "Bocil tau apa, sih? Mending sekarang lo kasih tau gue siapa cewek yang sangat tidak beruntung karena disukain sama lo. Pasti dia bakal jauhin lo sejauh jauhnya kalau di tau."


"Bacot lo!"