BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
29. Melamar



"Papa mau jodohin kamu."


"Hah?!"


Keelua yang duduk di atas kursi langsung membelalakan matanya begitu mendengar perkataan Ayahnya barusan.


"Papa jangan becanda kayak gitu, Pa. Enggak lucu ah," protes Keelua.


Gadis itu masih mencoba meyakinkan dirinya bahwa apa yang ia dengar adalah sebuah lelucon atau candaan yang tidak mungkin terjadi. Ia masih berpikir sepositif mungkin untuk menenangkan dirinya sendiri.


"Kamu tau salah kamu, 'kan, Keel?" tanya Bambang.


Keelu mengangguk, "Tau, Pa, tapi kenapa tiba tiba Papa bilang mau jodohin aku? Kalau Papa mau ngasih hukuman jangan yang kayak gitu, Pa. Yang lain aja, aku pasti terima." Gadis itu memasang wajah memelas.


Bambang menghela napas, "Sebenarnya ini bukan bentuk hukuman buat kamu, tapi Papa mau ngasih tau ini sesegera mungkin karena Papa sama Mama enggak mungkin nyimpan semuanya lebih lama dan bakal bikin kamu lebih syok."


Dahi Keelua mengernyit. Apa maksudnya?


"Beberapa bulan yang lalu, ada keluarga yang datang ke rumah kita buat ngelamar kamu. Mereka juga nawarin kerja sama buat bisnis susu kita yang mulai menurun dan mungkin hampir bangkrut." Bambang mulai menjelaskan secara singkat namun langsung pada intinya.


Keelua seperti tidak bisa bernapas dengan teratur, rasanya ada sesuatu yang menghambat di kerongkongannya. Apa semua yang ia dengar ini adalah sungguhan? Atau orang tuanya hanya berniat untuk memberinya efek jera?


"Papa becanda kan, Pa? Aku masih tujuh belas tahun, enggak mungkin aku nikah dalam waktu dekat ini. Lagi pula siapa orang enggak waras yang ngelamar anak di bawah umur?" ujar Keelua dengan mata yang sudah berkaca kaca.


Keluarga siapa yang berani berani datang untuk melamarnya? Seingat Keelua, dia tidak sedang dekat dengan siapa siapa belakangan ini, dia juga tidak pernah mendengar berita bahwa ada seseorang yang mengaguminya diam diam apalagi sampai berniat untuk membawanya ke jenjang yang lebih serius.


Intinya gadis itu tidak bisa menebak orang atau keluarga yang telah datang ke rumahnya waktu itu, dia memang tak mau tau tapi ini merupakan bencana untuk masa mudanya yang seharusnya menyenangkan.


"Papa enggak minta kamu buat nikah dalam waktu dekat ini, waktu mereka datang juga katanya cuma mau melamar kamu untuk anak mereka dulu. Mereka juga belum nentuin waktu nikahnya," kata Bambang.


Keelua mendecak. "Jangan jangan aku mau dijodohin sama kakek kakek tua, ya?! Terus Papa sama Mama nerima gitu aja?" Mata gadis itu melirik ke arah Sekar yang sejak tadi hanya diam dan tampak tidak niat mengatakan apa pun.


Harusnya di waktu waktu seperti ini, seorang Ibu bisa menolong anaknya atau sekedar mendukung untuk menolak perjodohan tidak masuk akal seperti ini. Keelua harusnya dibantu oleh Ibunya untuk mengatakan pada semua orang bahwa ia tak mau menerima ini, tidak akan pernah!


Tapi berbanding terbalik dengan apa yang Keelua harapkan, Ibunya malah diam dan seperti mendukung Ayahnya. Sungguh menyedihkan.


"Jawab aku, Ma." Perlahan air mata Keelua turun membasahi pipinya.


Sekar menggeleng pelan, wanita itu ternyata sudah berderai air mata juga. Ia benar benar tak sanggup melepas anak perempuannya itu dengan sangat cepat namun bisnis keluarga mereka juga harus tetap dipertahankan.


Ini sangat tidak adil untuk Keelua dan Sekar juga tidak bisa melakukan apa apa. Perasaan Sekar sebagai seorang Ibu mungkin lebih hancur daripada Keelua tapi wanita itu juga tidak punya kekuatan untuk menolak sama sekali. Berkali kali Sekar merutuki dirinya sendiri atas ketidakmampuannya untuk membela anak perempuan satu satunya tersebut.


Yang bisa Sekar lakukan hanyalah menangis dan menangis sampai ia lelah.


"Mereka ngelamar kamu untuk anak mereka. Papa bisa pastiin kalau anak mereka itu seumuran sama kamu," ujar Bambang pada Keelua yang tertunduk.


Mendengar itu, Keelua pun mendongak lalu menyeka air matanya.


"Walau pun anak mereka


seumuran sama aku, tapi aku enggak kenal sama dia, Pa. Bagaimana mungkin aku nikah sama orang yang enggak aku sayang bahkan enggak aku kenal!" pekik Keelua. Air matanya masih terus mengalir deras.


Sekuat apa pun gadis itu meyakinkan dirinya bahwa semua ini adalah kebohongan, ekspresi dan suasana di dalam ruangan itu semakin meyakinkan dirinya bahwa ini semua benar dan tidak main main. Tapi, bagaimana mungkin kedua orang tuanya setega ini?


Bambang mengambil kedua tangan putrinya lalu menggenggamnya erat, "Maafin Papa, sayang."


"Terus Papa nerima lamaran mereka?" Keelua perlahan mendongak dan menatap sang Ayah dengan derai air mata.


Dengan penuh rasa bersalah, mau tak mau Bambang pun mengangguk. Ia tidak mungkin membohongi anak perempuannya itu karena cepat atau lambat, Keelua pasti akan mengetahuinya.


Keelua menggelengkan kepalanya.


"Kamu harus ngerti, sayang. Peternakan dan bisnis susu kita harus diselamatin dan cuma keluarga calon suami kamu yang bisa ngebantu kita untuk ngelakuin itu," bujuk Bambang lagi, pria itu juga sama sakitnya tapi sebagai seorang Ayah, ia harus tegas.


Lagi lagi Keelua menggelengkan kepalanya, lalu bangkit dari duduknya. Untuk beberapa detik, terlihat tatapan benci dari sorot mata Keelua, tatapan yang tidak pernah kedua orang tua gadis itu lihat sebelumnya. Seolah, Keelua mereka yang manis kini berubah menjadi kekecewaan yang berwujud.


"Enggak! Dia bukan calon suami aku! Aku enggak akan nerima perjodohan sialan ini!" Keelua berteriak sekuat tenaga.


"Keelua!" Bambang ikut bangkit.


Sambil berderai air mata, Keelua akhirnya memilih untuk berbalik lalu berlari menghindar dan masuk ke dalam kamarnya.


Gadis itu sudah tak kuat lagi, air matanya terus bercucuran dan tidak mungkin bisa terkontrol jika ia berada di ruangan itu bersama kedua orang tuanya lebih lama lagi.


Dada Keelua sangat sesak, tapi menangis tersedu sedu seperti ini bukanlah gaya Keelua. Gadis itu tak pernah ingin siapa pun melihatnya saat ia menangis, rasanya memalukan saja, lebih baik menyimpan semuanya sendirian karena belum tentu semua orang bisa mengerti.


Sekar pun akhirnya kembali menumpahkan air matanya. Ia benar benar tidak sanggup melihat reaksi Keelua ketika mengetahui semua ini. Anak perempuannya itu tampak sangat terpukul dan kecewa.


Lebih parah dari apa yang ia bayangkan.


"Papa, gimana ini?" tanya Sekar pada Bambang sembari terisak.


Bambang mengacak rambutnya frustrasi. Ayah dari Keelua dan Ravi itu tidak tau lagi harus mengatakan apa pada Keelua agar anak itu mau mengerti. Walau pun terdengar jahat dan tidak adil untuk Keelua, sebenarnya Bambang hanya ingin membuat keputusan yang tidak akan merugikan siapa pun.


Jika Keelua menerima dan akhirnya menikah dengan pemuda yang keluarganya kaya raya, hidup gadis itu anak senantiasa bahagia dan tidak akan kekurangan apa pun. Peternakan dan bisnis susu turun termurun di keluarga Bambang pun akan kembali aman dan sejahtera.


Meski pun begitu, Bambang tau bahwa semua ini tidak akan mudah untuk diterima oleh Keelua, ia juga tidak bisa memaksakan kehendaknya dan membuat Keelua tersiksa.


Tapi, kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali.


"Kita udah jahat banget sama Keelua, Pa," kata Sekar.


Ravi mendengarkan semua obrolan Ayah, Ibu dan kakaknya sejak tadi dari dalam kamar.


Tangan anak laki laki itu terkepal, entah mengapa ia merasa sangat marah ketika mendengar bahwa kakak perempuan satu satunya akan dijodohkan dengan orang asing yang tidak mereka kenal.


"Sialan. Umur segitu udah mau nikah, udah gila keluarganya," batin Ravi.


Anak laki laki itu pun turun dari ranjangnya lalu membuka pintu kamarnya dan langsung mendapati kedua orang tuanya yang sedang duduk di ruang tengah.


Ibunya, Sekar, masih terisak sambil menyeka air matanya ketika melihat kehadiran Ravi. Sementara Bambang hanya melirik anak laki lakinya tersebut tanpa mengatakan apa apa.


"Jangan paksa kakakku kalau dia enggak mau," kata Ravi lalu pergi meninggalkan kedua orang tuanya itu.


Perkataan anak laki laki itu membuat kedua orang tuanya diam seribu bahasa.


Dan tanpa mengatakan apa pun, Ravi kembali melenggang pergi begitu saja.


Ravi berniat untuk pergi ke kamar Keelua dan melihat kondisi kakaknya, apa gadis itu baik baik saja atau tidak. Untungnya Keelua tidak punya pacar, jadi Ravi tidak terlalu khawatir. Sebabnya Ravi sering mendengar berita remaja gantung diri hanya karena dijodohkan dan harus putus dari pacarnya.


Semoga kakaknya baik baik saja.


Perlahan, Ravi mencoba mengetuk pintu kamar Keelua. Ia harap kakaknya mau membukakan pintu untuknya, karena saat ini kakaknya itu pasti sangat membutuhkan seseorang untuk menghiburnya.


Setelah beberapa saat tidak mendapatkan jawaban, anak laki laki itu mencoba menempelkan telinganya ke daun pintu kamar Keelua. Ia ingin mendengar apa yang mungkin terjadi di dalam sana, tapi beberapa menit mendengarkan, Ravi tidak menemukan apa apa, hanya hening tanpa suara.


"Kak? Gue masuk, ya," ujar Ravi pelan.


Lagi lagi Keelua tidak membalas. Ravi mulai khawatir.


"Kak, lo enggak apa apa, 'kan?"


Tak ada pilihan lain, Ravi harus segera masuk ke dalam kamar kakaknya itu. Namun begitu memegang gagang pintu dan mencoba membukanya, pintu itu ternyata terkunci dari dalam, Ravi pun mendecak kesal.


Beberapa saat diam, Ravi mencoba mencari cara bagaimana ia bisa masuk ke dalam kamar kakaknya yang pintunya terkunci ini. Sebuah bola lampu pun keluar dari pucuk kepala Ravi, anak laki laki itu tersenyum miring lalu berlari ke arah halaman belakang.


Ravi baru ingat, bahwa kamar Keelua punya jendela yang sangat besar dan berhadapan langsung dengan kolam berenang. Anak laki laki itu akhirnya buru buru menuju halaman belakang untuk bisa mengecek apakah jendela kamar kakak perempuannya itu terbuka atau tidak.


Begitu sampai di nalaman belakang, Ravi mendecak saat mendapati ternyata jendela itu tertutup namun karena tidak ingin menyerah begitu saja, Ravi lantas mendekati jendela itu lalu mencoba membukanya dari luar.


"Yes!"


Ravi bersorak pelan ketika mengetahui bahwa jendela Keelua tidak terkunci dari dalam, jadi ia bisa membukanya dari luar walau pun tampak sulit. Dengan sabar dan hati hati akhirnya Ravi berhasil membuka jendela kamar Keelua, ia pun buru buru masuk melalui jendela itu.


"Astaga!"


"Eh, anjir! Setan!"


"Gue bukan setan. Enak aja lo."


Ravi sempat tersentak kaget saat melihat kakaknya duduk di atas ranjang dengan begitu santai bukannya seperti dibayangan Ravi yang mengira Keelua sedang menangis di sudut kamar seperti orang yang baru saja putus cinta.


"Lo ngapain masuk lewat jendela, hah?! Kayak enggak ada pintu aja.


Ravi mendecak, "Pintu lo ke kunci, gue kira lo kenapa kenapa."


Ravi mendecak, "Pintu lo ke kunci, gue kira lo kenapa kenapa." Kemudian anak laki laki itu memasukkan seluruh badannya ke dalam kamar Keelua lalu menutup kembali jendela yang ia alihkan menjadi pintu darura tadi.


Keelua memutar bola mata malas lalu kembali memakan coklat batang yang ada di tangannya dan fokus ke laptop yang sedang memutar drama korea.


"Gue tadi manggil manggil lo dari luar, kenapa enggak nyahut? Gue udah khawatir taunya lo enak enakan makan coklat di dalam sini," omel Ravi.


"Gue lagi sedih tau, makanya makan coklat! Apaan, sih, lo!" omel Keelua balik.


Ravi mendecih, "Ya udah, sih. Enggak usah ngegas."


"Lo nyebelin, sih." Keelua mendecih.


"Jadi, lo enggak apa apa, nih?" tanya Ravi ragu ragu.


"Gue kesel tapi enggak apa apa, gue yakin Papa sama Mama enggak akan setega itu," kata Keelua sambil mengunyah coklatnya.


Gadis itu masih berusaha membohongi kenyataan dan bersikeras tidak mau menerima apa yang sudah jelas ia ketahui. Keelua benar benar tidak mau menerima perjodohan itu walaupun dipaksa. Siapa yang mau mengorbankan masa muda yang berlangsung tidak selamanya ini?


Gadis berkulit putih bersih itu pun tidak yakin bahwa ia siap untuk menempuh hidup baru bersama orang asing yang tidak ia kenal sebagai pasangan suami istri. Sangat amat menggelikan.


"Kalau mereka tega?"


"Gue coret nama gue sendiri dari kartu keluarga."


"Mana bisa gitu!"


.


.


.


.