BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
37. Kantin Rumah Sakit



"Lo beneran lihat hantu?" tanya Anraka dengan nada suara datar.


Keelua mengangguk, "Iya, ini ada di depan gue sekarang," katanya.


Anraka mendecih. Keelua tersenyum miring.


"Cepetan abisin, gue mau ke kamar Angel lagi," kata Anraka.


"Ya udah, lo duluan sana." Keelua masih setia mengaduk aduk nasi gorengnya.


"Enggak. Gue nungguin lo aja," kata Anraka.


Keelua mengangkat kepalanya, menatap kedua mata Anraka sembari memincing.


"Lo takut, ya?" tanya Keelua to the point.


"Takut apaan?" Anraka bertanya balik seperti tak peduli.


"Lo takut juga kan sama cerita yang tadi gue ceritain ke lo?" Mata Keelua semakin memincing, ia berusaha menggali kebohongan dari mata pemuda itu.


"Enggak," balas Anraka acuh.


Keelua lalu tersenyum miring, "Lo pasti takut, keliatan kok. Gayanya aja kayak cowok nakal, tapi sama hantu doang takut," sindir gadis itu.


"Sama hantu doang? Lo enggak tau apa yang mungkin bakal mereka lakuin ke manusia?" seru Anraka.


"Emang apaan? Paling nampakin muka serem penuh darah, ketawa ala kunti atau mungkin narik kaki lo itu," jelas Keelua, menyebutkan semua kemungkinan kemungkinan yang mungkin Anraka maksud.


Anraka tidak menjawab, pemuda itu diam saja.


"Raka?" panggil Keelua dengan nada suara pelan.


Firasat Anraka tiba tiba tidak enak, pemuda itu memilih untuk tidak menoleh ke arah Keelua yang duduk di ujung kursi yang ia duduki juga.


"Itu apaan di samping lo!"


"ANJING!"


"HAHAHAHAHAHAHAHA!"


Suara tawa Keelua menggema di kantin yang sepi itu, entah bagaimana ia bisa tertawa selepas itu di keadaan mencekam seperti ini. Bahkan di dalam ruangan tersebut hanya terdengar suara detak jam dinding saking heningnya, hanya Keelua dan Anraka yang ada di dalam ruangan tersebut, bersama pegawai kantin rumah sakit yang berada di dapur mereka.


Anraka melompat ketakutan hingga spontan mendekatkan tubuhnya pada Keelua yang tadi sengaja membuatnya terkejut hingga ketakutan.


Keelua tidak menyangka, ketua geng yang paling ditakuti di sekolahnya hanyalah pemuda penakut yang bisa berteriak begitu keras ketika dikejutkan. Tak habis habis gadis itu tertawa, bahkan sampai Anraka menyadari bahwa semuanya hanyalah lelucon dari Keelua yang sengaja membuatnya ketakutan.


"Sialan," umpat Anraka sembari menetralkan raut wajahnya.


"Harusnya lo lihat ekspresi lo tadi, sumpah kocak banget!" seru Keelua dengan sisa sisa tawanya.


"Diam enggak lo? Atau gue tinggalin lo sendirian di sini," ancam Anraka.


Keelua tersenyum, "Tinggalin aja kalau berani, paling pas lo keluar dari kantin lo langsung ketemu sama mba mba kunti yang perutnya bolong," katanya lalu menyuapkan nasi ke dalam mulutnya sendiri.


"Lo sadar enggak ini tempat apaan? Bisa bisanya lo bahas gituan di sini!" cicit Anraka dengan nada kesal.


Pemuda itu tidak akan berteriak keras seperti Keelua walau pun sebenarnya ia sangat ingin menendang gadis itu hingga naik ke luar angkasa dan tidak kembali lagi. Gadis yang kurang ajar.


"Ya emang kenapa? Lo kayaknya takut banget," ucap Keelua, kini nafsu makannya sudah kembali.


Mungkin karena tingkah lucu Anraka yang mau saja dibohongi jadi Keelua merasa puas bisa membuat pemuda yang terkenal maco itu berteriak seperti seorang gadis.


"Ya lo ngotak, dong! Ini kan bukan tempat kita," balas Anraka.


"Ini jelas jelas tempat kita, dong. Yang di rawat di sini itu manusia, bukan hantu, berarti ini tempatnya manusia dan kita manusia," terang Keelua tanpa ingin mendengar bantahan.


Tapi bukan Anraka namanya kalau hanya akan menerima pandangan orang lain begitu saja, apa lagi dengan Keelua. Pemuda itu pasti akan berusaha keras mematahkan pendapat Keelua agar ia tidak malu.


"Tapi kan mereka yang nungguin tempat ini, kita enggak boleh sembarang di sini. Kayak lo tuh, sembarangan ngomong," omel Anraka.


Keelua mendengus pelan, Sejak kapan Anraka berubah menjadi pemuda yang begitu cerewet dan banyak bicara seperti ini? Tidak seperti biasanya. Namun sepertinya Keelua akan lebih menyukai Anraka yang tidak banyak bicara walau pun menyebalkan dan keras kepala.


Anraka tersentak kaget lalu langsung menggeser tempatnya. Ia tidak sadar bahwa sejak tadi ia duduk begitu dekat dengan Keelua. Ia hanya terkejut tadi, tidak ada maksud untuk mendekati gadis gila yang tidak jelas itu.


"Lo mau dekat dekat sama gue, ya? Jangan, ah. Nanti lo suka," goda Keelua.


Anraka memutar bola mata malas, "Mana mungkin gue suka sama lo. Enggak bakal mungkin," tepisnya.


"Enggak ada yang tau, 'kan? Jangan ngomong gitu, nanti tiba tiba gue jodoh lo, bisa mati karena serangan jantung lo entar," kata Keelua dengan senyum miringnya.


Ternyata seru juga mengerjai Anraka seperti ini, Keelua tidak menyangka bahwa Anraka hanyalah pemuda biasa yang bisa membahas hal hal yang tidak penting dan kedengaran bodoh. Keelua kira, Anraka adalah pemuda membosankan dengan wajah datar yang menyebalkan. Tapi ternyata gagasan itu sedikit salah, walau pun ada sedikit benarnya.


"Enggak usah halu," putus Anraka.


Nasi goreng yang ada di atas piring Keelua pun habis, gadis itu bangkit dari duduknya setelah meminum kopi dingin miliknya hingga tandas.


Anraka ikut berdiri, dengan cepat menyusul Keelua. Gadis itu menatap Anraka aneh, tatapan matanya seperti mengatakan; apa lo ikut ikutin gue? Takut?


"Lo jalan duluan, dong," titah Keelua.


Mata Anraka seketika melebar, "Lo aja duluan, kok nyuruh gue, sih?" tolaknya.


"Lo kan cowok, kok takut, sih?" kesal Keelua.


Anraka mendecak, "Mana ada gue takut. Enggak mungkin lah. Gue Anraka Pranata, enggak mungkin takut sama hantu."


Tiba tiba suara decitan pintu yang sedang ditutup perlahan terdengar. Menggema di dalam ruangan yang sedang Anraka dan Keelua tempati.


BRAK!


Apa dia salah bicara?


Keelua melirik Anraka dengan mimik wajah horor, nyali Anraka seolah menciut bagai bunga putri malu yang baru saja disentuh daunnya.


"Lo udah bikin penunggu di sini marah," ujar Keelua, berniat untuk membuat Anraka yang sudah gemetar semakin ketakutan.


"Gue enggak bisa, Rak. Lo harus pimpin jalan kita, gue ini perempuan, lo harus jagain gue," kata Keelua lagi. Ia sengaja membuat raut wajah panik agar aktingnya semakin di percaya oleh Anraka.


Saat Anraka tidak melihat, dengan sembunyi sembunyi Keelua tertawa geli tanpa suara di belakang pemuda itu.


Gadis itu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana, lalu menyalakan rekaman video dan mulai menyorot Anraka dari belakang.


"Lo ngapain?" tanya Anraka.


"Ini gue lagi nyenterin lo, biar keliatan jelas pas muka hantunya muncul," jawab Keelua.


Anraka menarik napas dalam dalam, ingin sekali ia memukul kepala Keelua hingga pingsan namun ia sadar jika ia melakukan hal itu, ia tidak akan bisa naik kembali ke kamar Angel karena pemuda itu tidak mungkin berani berjalan sendirian.


Anraka pun mulai melangkah lebih dulu tanpa ia ketahui bahwa Keelua sedang melakukan rekaman video dirinya. Keelua sengaja melakukan itu agar ketika Anraka berteriak ketakutan, ia bisa menyimpan videonya. Dengan video itu, Keelua bisa memeras Anraka atau bisa dijadikan ancaman jika pemuda itu melakukan hal yang tidak tidak.


Setelah itu Keelua akan memegang satu lagi kelemaham Anraka selain Oma Arum. Anak nakal ini memang harus diberi pelajaran.


Kedua muda mudi itu sudah berhasil keluar dari kantin, tinggal melewati lorong koridor lalu naik menggunakan lift ke lantai lima.


Keelua dan Anraka menatap lurus ke depan, ada sebuah lorong panjang di depan mereka yang akan membawa kedua orang itu menuju taman rumah sakit lagi, tempat Keelua melihat tiga orang pria yang tiba tiba hilang begitu saja.


Anraka mendadak gelisah, pemuda itu seperti ragu ragu melangkah.


Di tengah tengah koridor, Keelua tersenyum miring.


"AAAAA APAAN TUH DI BELAKANG! LARI!"


"AAAAA GOBLOK!"


Anraka lari terbirit birit, Keelua malah tersenyum senang karena aib sudah di tangan.


Pemuda tinggi berbadan tegap itu lari secepat mungkin, Keelua pun mengikutinya dari belakang.


Tanpa rasa bersalah, Keelua terus cekikikan di belakang Anraka sambil berusaha menyamai langkahnya dengan pemuda penakut tersebut.


Keelua juga memang seorang penakut tapi sepertinya Anraka lebih penakut darinya. Itulah sebabnya Keelua terus saja menggoda Anraka hingga pemuda itu gemetar karena takut.


Kedua manusia itu berlari seperti sedang dikejar hantu, tak berlangsung beberapa detik mereka sudah hampir sampai di depan lift.


Setelah berhasil menggapai lift, keduanya pun berhenti berlari dan otomatis napas mereka terengah engah.


Anraka tunduk sambil memegangi lututnya saking lelahnya berlari, sedangkan Keelua memegangi pinggangnya yang terasa akan patah. Gadis itu sangat jarang berolahraga, sekalinya berolahraga malah di rumah sakit, karena pura pura dikejar hantu pula. Sangat tidak estetik.


"Gila, kaki gue lemes banget, anjing." Anraka tiba tiba mengumpat kesal.


"Siapa suruh lo lari, terpaksa gue harus ikut lari juga, 'kan. Capek tau," balas Keelua.


Niatnya ingin mengerjai Anraka, Keelua malah ikut termakan permainannya sendiri. Tapi tak masalah, yang jelas aset negara sudah ada di tangan gadis itu dan pasti akan membuat Anraka tunduk padanya.


"Lo yang teriak teriak enggak jelas, bego. Makanya kalau mau ngelakuin apa apa tuh mikir dulu, lo kan punya otak, minimal dipakai lah daripada cuma dipajang doang." Anraka melirik sebentar ke arah Keelua yang hanya memasang wajah tanpa dosa miliknya.


Meskipun Anraka memaki maki Keelua di tempat ini sekarang, gadis itu tidak akan tersinggung apalagi sampai marah. Ia tau ini adalah kesalahannya karena sudah membuat Anraka ketakutan, tapi sebenarnya ia suka melihat pemandangan yang benar benar sangat langkah tersebut.


Awalnya Keelua tidak bermaksud untuk mengerjai Anraka namun karena Keelua tidak menyangka bahwa seorang ketua geng bisa takut pada hantu juga, gadis itu iseng saja melakukannya.


Dan ternyata benar, Anraka adalah ketua geng yang takut hantu. Benar benar mengejutkan.


"Marah marah mulu lo, lagi hamil, ya?" tanya Keelua dengan senyum menyebalkannya.


Cukup. Anraka sudah cukup dengan otak Keelua yang mungkin sudah tidak dapat berfungsi dengan baik. Mengapa ia harus terjebak bersama gadis gila ini di sini? Sialnya Anraka tidak bisa ke mana mana tanpa Keelua karena ia sebenarnya takut kegelapan.


Anraka tidak membalas ucapan Keelua yang tidak jelas, pemuda itu kembali berdiri tegak seraya memencet tombol lift agar segera terbuka.


"Eh, apaan tuh?" Keelua tiba tiba buka suara.


"Jangan mulai, kali ini gue bakal nendang lo beneran kalau lo sampai nakut nakutin gue lagi," ancam Anraka.


Keelua mendecak, "Lihat dulu, itu sana pintunya kebuka kayaknya ada orang yang mau keluar. Siapa yang mau berkeliaran di dalam rumah sakit jam segini? Udah gila kali," kata gadis itu.


"Lo dan gue yang terpaksa," sahut Anraka.


"Kalau bukan karena laper, gue juga malas jalan jauh kayak gini, pakai lari larian pula. Kaki gue sakit." Keelua melirik sinis ke arah Anraka.


Dan benar saja, pintu sebuah ruangan yang letaknya tak begitu jauh dari Keelua dan Anraka terbuka lebar dan kemudian beberapa orang keluar dari sana.


Keelua memincingkan mata, kemudian jantungnya berdetak kencang saat menyadari ternyata sosok sosok yang keluar dari ruangan tersebut adalah para pria yang ia lihat di taman rumah sakit tadi sebelum ia pergi ke kantin bersama Anraka.


Tadi mendadak hilang, sekarang mereka tiba tiba muncul lagi.


"Raka.." panggil Keelua pelan.


"Mereka itu manusia, 'kan? Tadi gue lihat mereka di taman rumah sakit tapi mereka mendadak hilang," sambungnya sambil menatap horor ke arah ketiga pria yang berjalan mendekat ke arah mereka.


Anraka tidak mengatakan apa apa, ia malah mengumpati lift yang sangat lama terbuka. Pemuda itu tak tau harus melakukan apa, dia tidak ingin menoleh ke arah sosok yang Keelua maksud.


Ketiga pria itu semakin mendekat dan di menit selanjutnya mereka sudah berdiri tak jauh dari Anraka dan Keelua.


"Kita bukan hantu."


.


.