BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
Bucin



"Gue enggak ngerti, Rak. Kenapa, sih? Kenapa Oma Arum tiba tiba kayak gitu, gue salah apa, sih?" Keelua terus menyuarakan keresahannya pada Anraka yang sedang mengendarai motornya.


Dengan gerakan cepat Anraka langsung menarik tangan kiri Keelua dan meminta gadis itu untuk memeluk pinggangnya.


"Enggak apa apa, lo enggak salah apa apa. Mungkin ada salah paham biasa, gue bakal selesaiin semuanya, lo enggak perlu cemas. Masalahnya bukan ada di lo kok. Tenang aja," ujar Anraka, sekuat mungkin menguatkan hati Keelua.


Dengan hati yang masih hancur lebur, Keelua hanya diam dan menahan semua air mata yang memaksa menerobos dari kelopak matanya.


Gadis itu tau bahwa ia tidak melakukan kesalahan tapi diperlakukan seperti ini membuat Keelua berpikir bahwa ada yang salah pada dirinya meskipun Anraka mengatakan bahwa semuanya baik baik saja.


"Gue cuma mau tau apa yang salah, gue pasti bakal perbaikin itu. Kalau kayak gini, gue malah jadi enggak nyaman tinggal di rumah lo, karena gue emang bukan siapa siapa di sana, gue cuma numpang doang. Gue enggak punya hak apa apa, mau marah pun Oma Arum bisa dengan gampang ngusir gue dari rumah kalian. Enggak mungkin gue pulang ke rumah orang tua gue, gue enggak mau mereka sedih. Serba salah," jelas Keelua, ia masih memeluk perut Anraka dengan nyaman.


Angin sepoi sepoi menerpa wajah Keelua, ini masih pagi tapi ia sudah menangis. Padahal, hari ini cuacanya sangat cerah dan mendukung. Hari ini terlalu indah untuk di awali dengan tangisan.


Jalanan yang ramai membuat gadis itu sedikit teralih dari kesedihannya, banyak hal yang ia lihat dan ia pun punya banyak waktu untuk merenung dan menenangkan dirinya selama di atas motor.


Keelua sebenarnya hanya memikirkan bagaimana hidupnya jika ia harus tinggal satu atap dengan orang yang membencinya bahkan menghinanya seperti tidak punya hati.


Keelua tau bahwa apa yang ia rasakan ini salah, ia merasa bahwa Oma Arum tidak adil padanya. Namun, saat mengingat bagaimana perlakukan Oma Arum pada Angel membuatnya paham bahwa mungkin Oma Arum lah yang bermasalah.


"Gue udah bilang, lo enggak salah sama sekali. Lo bisa stop nganggep diri lo salah, enggak? Gue enggak terima," sahut Anraka.


Keelua pun terdiam, ia tetap memandangi langit dari balik tubuh tegap Anraka yang berada tepat di depan wajahnya.


"Ngomong ngomong soal Oma, gue mau nanya satu hal sama lo," ucap Keelua.


Anraka diam sebentar, "Apa?" balasnya.


"Lo tau apa yang biasanya Oma Arum lakuin ke Angel kalau enggak ada siapa siapa di rumah? Atau kalau lo masih tidur pagi dan gue udah bangun buat siap siap ke sekolah?" Keelua mulai akan menceritakan sebuah kenyataan yang pasti akan membuat Anraka terkejut.


"Apa yang Oma lakuin?" tanya Anraka sambil memperhatikan wajah Keelua dari kaca spion.


"Gue enggak tau apa masalahnya tapi gue beberapa kali ngelihat Oma kayak nyubit atau ngedorong kepala Angel gitu, tapi pas Angel enggak ngelakuin apa apa. Gue lihat Angel kayak diam aja, terus tiba tiba Oma Arum datang dan ngelakuin itu." Keelua memulai dengan hal yang paling sering dia lihat lebih dulu.


Anraka seperti terkejut namun pemuda itu tidak bereaksi berlebihan.


"Terus? Apa lagi yang lo lihat?" tanyanya.


"Beberapa kali gue juga sempat ngelihat Oma Arum kayak bisik bisik gitu ke Angel, tangannya Angel dipegang keras terus Angel kayak ketakutan gitu. Aneh banget, gue kadang takut sendiri tapi gue enggak berani bilang siapa siapa, ini pertama kalinya gue bilang," jelas Keelua lebih banyak.


Anraka tidak langsung merespon, pemuda itu mencoba untuk berpikir jernih lebih dulu karena situasi ini sangat dilema untuknya. Di satu sisi yang melakukan ini adalah Oma Arum, orang yang sangat menyayanginya namun di sisi lain yang menjadi korban adalah gadis kecil, adiknya; Angel, yang sangat ia sayangi.


"Sejak kapan lo ngelihat hal hal kayak gitu dan seberapa sering?" tanya Anraka.


"Udah lama, dari awal gue tinggal di rumah lo. Kejadiannya sering banget, pokoknya kalau Angel lagi sendiri dan Oma Arum datang, pasti ada aja yang Oma Arum lakuin ke Angel."


Keelua memilih untuk menceritakan semua hal yang ia lihat pada Anraka, tidak ada gunanya untuk ditutupi. Lagi pula sikap Oma Arum membuat Keelua cukup kesal dan merasa tidak dihargai sama sekali. telah


Ini bukan balas dendam atau semacamnya, tapi Keelua memikirkan nasib Angel juga, adik iparnya yang terlalu lucu untuk disakiti tanpa alasan.


"Kenapa Oma kayak gitu, ya. Gue enggak pernah tau ini, tapi lo yakin ini akurat, 'kan?" Anraka mencoba memastikan apa yang Keelua katakan, ia hanya tak ingin mendapatkan berita bohong.


"Untuk apa gue ngomong kayak gini, Rak? Enggak ada untungnya juga buat gue, kalau lo mau, lo bisa periksa CCTV yang ada di depan kamar lo. Lo baru pasang itu, 'kan? Kayaknya keliatan sampai ke ruang tengah." Keelua pun mencoba meyakinkan Anraka, ia tak mungkin berbohong untuk hal semacam ini.


Benar juga. Anraka lupa kalau ia baru saja memasang CCTV di depan kamarnya. Ia sebenarnya hanya iseng saja memasang kamera yang bisa berkomunikasi dua arah itu di depan pintu kamarnya tetapi ternyata sekarang benda itu ada fungsinya.


"Ya udah, pulang sekolah kita sama sama lihat rekaman CCTV itu."


...****************...


"Cie, ada yang berangkat sekolah bareng, nih."


Di depan pintu masuk sekolah, sudah ada geng EX yang menyambut ketua mereka. Namun, betapa terkejutnya mereka saat lagi lagi orang yang mereka tunggu itu ternyata berangkat ke sekolah bersama Keelua.


"Kenapa emang?" sahut Anraka.


Keelua hanya diam, tatapan mata gadis itu mengarah ke arah pemuda tinggi yang sejak tadi menatapnya saat ia turun dari motor Anraka.


Gadis itu tidak ingin mengingat apa yang terjadi kemarin, ia bersikap seolah olah tidak ada yang terjadi namun tidak seperti biasa; hari ini Keelua lebih banyak diam dan tidak mau banyak bicara kepada siapa pun khususnya pada anggota geng EX.


"Yang gue tau Keelua deketnya sama Bumi, tapi kayaknya jadiannya bakal sama si Raka deh." Gibran menyelutuk lagi.


"Ayo, masuk." Ganta mengajak teman temannya untuk masuk, sebenarnya ia hanya tak ingin ada kecanggungan yang terjadi di antara teman temannya apalagi antara Anraka dan Bumi.


Ganta memang tidak banyak bicara tapi pemuda itu bisa membaca situasi dengan sangat baik.


Anraka dan yang lain pun menyetujui ajakan Ganta dan pemuda itu langsung masuk bersama teman temannya tapi sebelum ia melangkah, tanpa ragu Anraka menarik tangan Keelua lantas menggenggamnya.


Aksi Anraka itu mencuri perhatian, bukan hanya dari teman temannya, tapi dari orang orang yang ada di sekeliling mereka. Para siswa dan siswi mulai berbisik dan membicarakan kedekatan Keelua dan Anraka, pasalnya selama ini yang mereka tau adalah Bumi yang dekat dengan Keelua, bukan Anraka.


Keelua tau hal ini akan terjadi, ia tak mempermasalahkan itu, biar saja orang orang menganggapnya seperti apa yang mereka inginkan.


Keelua tidak peduli.


Namun, satu hal yang membuat Keelua masih merasa benar benar bersalah.


Lula yang sampai hari ini tetap tidak mau mengajak Keelua bicara atau menjawab pertanyaan tentang apa pun. Gadis itu masih marah pada Keelua dan bilang bahwa ia benar benar kecewa karena Keelua mengambil Anraka darinya.


Padahal seperti yang semua orang ketahui bahwa Anraka bukan milik siapa siapa dan pemuda itu sudah memutuskan hubungan dengan Isabel di depan semua orang meskipun Anraka merasa ia bahkan tidak punya hubungan apa apa dengan gadis itu.


Sebagai seorang sahabat, Keelua tidak ingin melihat sahabatnya marah tapi apa yang harus Keelua lakukan?


Hubungannya dengan Anraka bukan lagi hubungan pacaran biasa, andai Lula tau bahwa mereka berdua ini sudah menikah, pasti gadis itu akan lebih sedikit mengerti atau malah membenci Keelua selamanya.


Sampai akhirnya Keelua memilih untuk diam juga, ia tak bisa memaksa Lula untuk tidak marah kepadanya karena mungkin gadis itu benar benar kecewa karena Keelua juga tau bahwa Lula mengidamkan Anraka sejak lama.


Segala keinginan memang tidak selalu bisa menjadi kenyataan, ada kalanya kita harus menerima keinginan takdir dan menjalaninya dengan sepenuh hati. Terkadang, Tuhan menyiapkan lebih banyak kebahagiaan dari apa yang harapkan. kita


Seperti itulah cara kerja alam semesta untuk para manusia, yang paling sadar akan mendapatkan buah paling manis.


Apa pun yang Keelua lakukan sekarang, itu hanyalah cara ia menemukan kebahagiaan yang telah lama ia cari. Menerima Anraka sebagai suaminya juga bukan hal yang mudah tapi karena ingin melihat orang tuanya bahagia, gadis itu tidak menemukan cara lain.


"Lo udah enggak dekat sama Keelua?" Gibran mendekat ke arah Bumi lantas berbisik di telinga pemuda itu.


"Bukan urusan lo," balas Bumi.


Gibran cukup terkejut dengan sikap Bumi, pemuda itu tidak pernah berkata seperti itu sebelumnya, biasanya jika ada sesuatu yang terjadi, Bumi akan langsung menceritakannya pada teman temannya tanpa perlu ditanya.


Mungkin, masalahnya yang sekarang ada sangkut pautnya dengan relasi pertemanannya maka dari itu Bumi memilih untuk tidak membaginya.


Gibran memilih untuk diam dan mengerti situasi yang sedang temannya alami, mungkin ini juga sulit untuk Bumi. Ada baiknya ia tak ikut campur.


"Itu kelas lo, masuk sana," titah Keelua pada Anraka.


Anraka tidak bergerak dari tempatnya berdiri padahal teman temannya sudah masuk lebih dulu, pemuda itu masih tetap geming di sebelah Keelua.


"Gue antar lo sampai kelas lo," ucap Anraka.


"Enggak perlu. Gue bukan anak kecil yang harus dianterin." Keelua menolak.


"Gue enggak minta persetujuan lo, ini mau gue."


Anraka tidak peduli, ia melangkah lebih dulu tanpa menunggu Keelua. Sang gadis mendecak, terkadang kelakuan Anraka memang sangat tidak masuk akal.


Gibran memandangi temannya itu dari dalam kelas, ia tersenyum kecil, baru menyadari ternyata seperti inilah tingkah Anraka saat bersama dengan seorang gadis yang benar benar ia suka.


"Ternyata ketua geng bisa bucin juga."