BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
1. Anraka Pranata



"Kalau gue jadi lo, gue udah keluar dari sekolah ini."


Seorang pemuda dengan tatapan dingin yang menusuk sedang menginjak paha seorang pemuda lain yang tergeletak di lantai. Pemuda yang tak berdaya itu sudah babak belur dan terkapar tanpa ada yang berniat membantunya.


Semua siswa yang ada di sana hanya menatapnya nanar karena walau pun ingin, mereka tidak akan bisa membantu pemuda malang itu. Mereka tidak mungkin mempertaruhkan diri mereka sendiri untuk orang lain dan harus berhadapan dengan Geng paling terkenal di SMA Bintang.


Panggil saja mereka dengan sebutan Geng EX.


Terdiri dari lima orang pemuda yang katanya paling tampan dan kaya di SMA Bintang.


"Gue udah bilang, jangan berani-berani macam-macam sama EX." Pemuda berikat kepala bernama Gibran buka suara.


Bumi terkekeh, "Udah ditawarin cara halus, lo mau pakai cara kasar." Ia adalah pemuda tinggi yang tidak mengenakan blazer sekolahnya, hanya menyisakan kemeja putih saja.


"Lo mau main-main sama EX? Udah capek hidup tenang?" Romeo menimpali. Dia adalah pemuda berseragam rapi.


Satu orang lagi. Namanya Ganta, dia tidak mengatakan apa pun, hanya menatap datar aksi temannya yang sudah selesai memukuli pemuda yang mencoba bermain-main dengan EX hingga wajahnya lebam di mana-mana.


"Lo sama teman-teman lo udah mukulin anak sekolah lain tapi bilang kalau EX yang ngelakuin? Besar juga nyali lo."


Dan inilah sang ketua dari Geng EX, Anraka Pranata.


"Sorry, Rak. Gue disuruh sama teman-teman gue buat ngejebak lo sama EX karena mereka takut dihabisin sama anak dari sekolah lain," balas pemuda itu seraya meringis pelan.


"Oh, mental patungan?" timpal Gibran seraya terkekeh mengejek.


"Alasan lo enggak logis, gue males buang-buang waktu buat sampah kayak lo sama teman-teman lo. Tapi ..." Anraka menjeda ucapannya, "... gue enggak bisa ngehabisin lo di sini. Kita ketemu lagi di luar sekolah." Lalu pemuda itu menekan kakinya lebih keras hingga membuat korbannya memekik kesakitan.


"Meo, cari siapa aja teman-teman dia. Bawa ke markas EX nanti sore," perintah Anraka tanpa bantahan.


"Sip," balas Romeo.


Anraka kembali menatap tajam pemuda yang tadi diinjaknya, ia mengangkat tubuh pemuda itu dengan menarik kerah bajunya ke atas.


PLAK!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi pemuda itu, semua siswa yang menyaksikan adegan itu lantas memekik kaget.


"Ini buat mulut lo yang suka nyebar berita bohong."


PLAK!


"Ini buat waktu yang udah gue buang sia-sia karena ngurusin masalah lo sama teman-teman lo itu."


Pemuda yang dipukuli hanya pasrah dan tidak melakukan perlawanan apa pun.


"Sampai gue nemu ada yang naikin hape, orang itu bakal jadi musuh EX," seru Bumi.


Seruan itu membuat semua siswa yang ada di sana buru-buru memasukkan ponsel mereka ke dalam saku masing-masing. Tidak ada yang berani melanggar, ancaman dari EX tidak pernah main-main.


Anraka sudah mengambil ancang-ancang untuk membogem wajah pemuda tadi tapi belum sempat tangannya mengenai wajah sang korban, sebuah suara tiba-tiba menghentikan pergerakannya.


"Woi!"


Suara teriakan yang berasal dari seorang gadis. Anraka menyapu seluruh kantin dengan tatapan tajamnya, ia mencari sosok yang sudah berani meneriakinya itu.


"Siapa itu?" tanya Romeo.


Kumpulan manusia yang memadati kantin langsung membela diri dan membukakan jalan untuk sosok gadis yang baru saja berteriak.


"Katanya jagoan, kok mainnya keroyokan?"


Muncul lah sesosok gadis mungil dari kerumunan orang itu, dengan berani menatap tajam mata elang Anraka tanpa rasa gugup pun. sedikit


Gadis itu menepis tangan Anraka dari kerah baju pemuda tadi, dan langsung membuat cengkraman itu terlepas.


"Lo tau ini tempat apa?" tanya gadis itu.


Pemuda yang sudah jatuh terduduk hanya bisa mengais oksigen sebanyak banyaknya yang terasa sudah menipis.


"Ini sekolah. Bukan ajang buat pamer kekuasaan," tekan gadis itu. "Kalau lo mau keliatan keren, seenggaknya jangan di sini. Norak." Lalu melipat kedua tangannya di depan dada.


Aura mendominasi dari Anraka sudah bisa dirasakan oleh seluruh penguni kantin. Sepertinya adegan ini akan semakin seru karena sudah ada Keelua di sini.


Ya, Keelua. Satu-satunya orang yang berani membalas tatapan tajam seorang Anraka.


"Lo ngapain, Lua? Ini urusan EX."


Romeo menimpali.


Keelua menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya, rambutnya yang dikuncir tinggi berayun sesuai gerakan tubuhnya. Sweater yang ia kenakan kini sudah diikat di antara bahunya.


"Gue enggak bisa ngelihat pembulian di pagi yang indah kayak gini," balas Keelua.


"Ini bukan pembulian, Lua. Dia emang cari masalah sama EX." Gibran buka suara.


Keelua hanya memberikan gerakan tangan untuk menyuruh pada antek Anraka itu bungkam. Matanya kembali menatap Anraka.


"Siapa lo yang berani ikut campur sama masalah gue?!" bentak Anraka. Kantin berubah hening.


Bukannya takut, Keelua malah tersenyum miring lalu menatap Anraka dengan tatapan jengah.


"Enggak usah teriak-teriak. Gue enggak budek," imbuh gadis itu.


Anraka mendecak pelan, pemuda itu menggertakkan giginya karena geram dengan tingkah Keelua yang selalu ikut campur dengan masalahnya.


"Berdiri," titah Keelua pada pemuda yang masih terduduk di lantai.


Pemuda itu pun berdiri dengan sisa sisa tenaga yang ia miliki, lalu beralih menatap Keelua.


"Lo pergi sekarang sebelum lo benar-benar dimatiin sama si bajingan ini," ujar Keelua seraya menunjuk Anraka.


"Jangan cari masalah sama EX, mereka enggak segan-segan kalau mukulin orang." Lalu Keelua terkekeh.


Pemuda itu mengangguk lalu hendak berbalik, tapi suara Keelua menghentikan langkahnya.


"Eh, minta maaf dulu."


Pemuda itu berbalik, lalu menoleh ke arah Keelua.


"Gue minta maaf," ucapnya.


Keelua memukul lengan pemuda itu, tidak sakit tapi bisa membuat pemuda itu mengaduh.


"Bukan sama gue, sama Anraka," titah Keelua.


Pemuda itu menelan salivanya kasar, lalu menghadapkan tubuhnya pada Anraka yang masih berdiri di tempatnya.


"Gue minta maaf, Rak. Maaf banget," ujar pemuda itu.


"Sama EX juga dong."


Si pemuda lalu menoleh ke arah empat pemuda yang ada di belakang Anraka.


"Gue minta maaf. Gue janji enggak bakal ganggu kalian lagi, kalian orang baik."


"Giliran udah babak belur aja baru minta maaf," omel Ganta.


"Kalau di belakang berasa jago banget," imbuh Bumi.


"Bukan main." Romeo menimpali.


Ganta hanya menatap datar, raut wajahnya tidak berubah sama sekali.


"Gimana, Ka? Udah kelar, 'kan?" tanya Keelua pada Anraka.


"Masalahnya enggak akan selesai cuma dengan minta maaf doang." Anraka menatap lurus ke depan. "Mereka harus tanggung jawab sama apa yang mereka lakuin." Lalu pemuda itu menatap ke arah Keelua dengan dingin yang menusuk.


Keelua sedikit berjinjit lalu membisikkan sesuatu di telinga Anraka, pemuda itu pun mengeram kesal.


"Pergi sebelum gue berubah pikiran," sungut Anraka dengan nada rendah dan suara beratnya.


Pemuda itu pun mengangguk lalu segera melenggang pergi dari kantin.


"Kalian ngelihat apa lagi? Bubar sana!" usir keelua pada siswa yang masih memadati tempat itu.


"Kayaknya seneng banget ngelihat orang dipukulin," omel Keelua.


"Argh." Gadis itu mengeram tertahan saat Anraka mencengkram lehernya dan menariknya mendekat.


"Kenapa lo selalu ikut campur sama masalah gue? Lo udah ngerasa hebat, hah?!" bentak pemuda itu.


"Udah, Rak. Dia cewek," tegur Romeo.


Anraka tidak mendengarkan perkataan temannya, ia masih mencengkram leher Keelua dengan erat.


"Kalau bukan Oma Arum yang minta, gue juga enggak akan mau kenal sama cowok brengsek kayak lo!" geram Keelua lalu melepaskan tangan Anraka dengan kasar dari lehernya.


Keelua menarik napas panjang lalu menatap Anraka tajam.


"Bajingan." Setelah puas mengumpati Anraka, gadis itu langsung melenggang pergi meninggalkan kelima pemuda itu.


.


.


.


.


.


.