
Tanah yang kering dan rerumputan yang layu menjadi saksi langkah Keelua yang gontai, melewati tiap tiap makam yang berjejer di sebelah kanan dan kirinya, memaksakan diri untuk sampai di satu makam baru yang ia tuju.
Sejak beberapa menit yang lalu air mata gadis itu sudah tertahan di pelupuk, ada perasaan cemas yang menghantuinya.
Ia cemas tentang bagaimana jika air matanya tidak sanggup ia tahan, ia cemas tentang bagaimana jika ia tak sanggup terus membohongi dirinya bahwa ia baik baik saja.
Sungguh, dengan segenap tenaga gadis itu mencoba untuk kuat.
Bagaimana pun caranya, ia harus tetap baik baik saja.
"Kamu baik baik aja, sayang?" tanya Regina yang datang dari arah belakang, dengan gerakan cepat langsung memeluk tubuh Keelua yang gemetar.
"Aku baik baik aja, Ma. Mama enggak perlu khawatir," jawab Keelua.
Lagi dan lagi, gadis itu membohongi dirinya sendiri.
Dari jarak beberapa meter, makam yang Keelua dan keluarganya tuju sudah terlihat. Tubuh Keelua semakin lemas, bahkan napasnya menjadi tidak teratur dengan alasan yang tidak jelas.
Gadis itu diam, terus diam hingga wajahnya memucat.
Anraka menyadari kecemasan istrinya namun ia memilih untuk diam dan membiarkan Keelua tetap menguatkan dirinya sendiri karena memang di keadaan seperti ini, yang bisa membuat gadis itu merasa lebih baik hanya dirinya sendiri.
Keelua membawa keranjang bunga di tangannya, digenggamnya dengan erat keranjang itu hingga tangannya menjadi lembab, saking takutnya.
Yang bisa Keelua lakukan sekarang hanyalah berusaha untuk tetap tenang dan tetap mengatur napasnya agar ia tidak semakin gemetar.
Dari sebelah kanan muncul lah Anraka yang langsung menggenggam tangan gadis itu, membantunya untuk tidak cemas dan merasa lebih baik.
"Kamu enggak apa apa, enggak ada yang perlu kamu cemasin."
Ini lah saatnya, Keelua sudah berada di sebelah makam itu sekarang.
Makam yang bertuliskan nama Arum Cahya Pranata binti Wijaya Pranata.
Ya, ini makam Oma Arum.
Makam seorang wanita yang sangat Anraka sayangi, begitu pun dengan semua anggota keluarganya bahkan Angel sekali pun.
Keelua sudah tak tahan lagi, lagi lagi ia menangis ketika sampai di tempat ini, di tempat peristirahatan terakhir sang Oma yang begitu ia sayangi walaupun ada banyak kisah kelam yang membuatnya sakit di masa lalu.
Takdir ini masih sulit untuk Keelua terima, apalagi ketika mengingat bagaimana cara Oma Arum meninggalkan dunia. Apa yang wanita itu katakan dan bagaimana cara ia menghembuskan napas terakhirnya membuat Keelua tak mampu untuk terus berbohong bahwa ia baik baik saja.
Tepat satu bulan yang lalu, ketika hari yang akan selalu Keelua ingat itu terjadi, saat di mana Anraka kehilangan orang yang paling dekat dengannya sejak kecil.
Oma Arum meninggal, meninggal karena serangan jantung yang tiba tiba membuatnya tak dapat bernapas lagi, penyakit yang membuat wanita paruh baya itu harus meninggalkan semua orang yang ia sayangi.
Hari itu adalah hari biasa di sore hari, tidak ada yang berbeda, Keelua sedang mengerjakan tugas kuliahnya di ruang tengah.
Anraka sedang menemani sang Ibu untuk pergi membeli sesuatu di supermarket, Angel sedang tidak ada di rumah karena gadis kecil itu punya jadwal untuk mengikuti les matematika sementara Arya masih berada di kantor.
Di kebeningan sore yang tenang, tiba tiba saja Keelua mendengar suara dentuman yang keras, seperti ada seseorang yang terjatuh.
Gadis itu pun akhirnya buru buru bangkit dan mengecek dari mana asal suara itu, awalnya ia pergi keluar rumah karena berpikir bahwa mungkin saja suara itu berasal dari luar. Namun, tidak ada apa apa.
Keelua masuk kembali dan mengecek setiap ruangan yang ada di dalam rumah tersebut, sampai ia masuk ke dalam kamar Oma Arum dan menemukan wanita itu sudah tergeletak di ubin kamarnya.
"Oma! Oma kenapa?" teriak Keelua saat itu, dia terkejut setengah mati.
Napas Oma Arum tersenggal senggal, dadanya yang sesak terlihat naik dan turun. Keelua semakin panik.
"Oma baik baik aja?" tanya Keelua sembari berusaha mengangkat tubuh wanita payuh baya itu dengan sekuat tenaganya.
Saat itu tidak ada siapa pun yang bisa dimintai tolong karena rumah kediaman Pranata tidak memiliki tetangga.
"Keelua.. Keelua.."
Oma Arum berujar lirih, sementara Keelua menggenggam tangan nenek dari suaminya itu dengan erat, seolah memberi kekuatan.
"Iya, Oma. Ini Keelua, Keelua telepon Anraka dulu, ya," balas Keelua dengen gemetar, ia tak tau harus melakukan apa lagi.
"Oma enggak perlu minta maaf, Keelua enggak pernah permasalahin itu."
Walaupun Oma Arum sudah melakukan beberapa kesalahan yang menurut Keelua akan sulit untuk dimaafkan, tapi gadis itu sama sekali tidak pernah membenci wanita paruh baya tersebut. Karena pikir gadis itu, Oma Arum adalah orang yang sangat Anraka sayangi, artinya; ia juga harus menyayangi Oma Arum.
Waktu itu pikiran tentang masalah atau kesalahan yang diperbuat oleh Oma Arum tidak Keelua pikirkan lagi, yang paling penting adalah ia harus menyelamatkan nyawa wanita itu dan membawanya dengan selamat ke rumah sakit.
"Kenapa enggak diangkat, sih?!' kesal Keelua saat Anraka tidak mengangkat teleponnya waktu itu.
Gadis itu sudah hampir menangis karena melihat kondisi Oma Arum yang sepertinya sangat kesakitan sementara ia tak dapat melakukan apa apa.
Dengan lemas, Oma Arum menarik tangan Keelua yang memasang ponsel di depan telinganya.
"Dengarkan Oma sebentar," kata Oma Arum saat itu, bibirnya benar benar pucat.
"Sikap Oma Arum selama ini bukan karena Oma benci sama kamu. Oma juga bukan tidak menyukai Regina, Ibu mertua kamu. Tapi, setelah kepergian suami Oma, Oma merasa sangat kesepian dan tidak punya siapa siapa. Yang Oma miliki hanya Arya tapi saat Arya dewasa, Oma terpaksa harus membagi anak Oma sendiri dengan perempuan lain, dan itu bukan hal yang mudah untuk Oma," jelas Oma Arum, napasnya pendek dan terbata bata.
Keelua mendengarkan dengan seksama namun air matanya mulai menetes, sesekali ia mengusap pipinya yang basah dan berusaha untuk menahan emosinya.
Bahkan ketika gadis itu mengingat kejadian tersebut sekarang, ia masih bisa meneteskan air matanya dan kata kata yang diucapkan Oma Arum kembali menari nari di dalam kepalanya. Membuatnya sedih setengah mati.
"Saat Anraka lahir, Oma merasa dia adalah Arya versi kecil yang bisa kembali menjadi milik Oma sepenuhnya dan tidak perlu Oma bagi bagi lagi, itu sebabnya yang merawat Anraka sejak kecil adalah Oma." Oma Arum melanjutkan.
"Sejujurnya Oma sengaja menjodohkan Anraka dengan kamu karena Oma tau Anraka tidak suka pada kamu waktu itu namun ternyata seiring berjalannya waktu, hal yang terjadi pada Arya di masa lalu kembali terjadi pada Anraka, dia akhirnya mencintai kamu dan mulai melupakan Oma. Lagi lagi, Oma sendirian dan Oma tidak ingin itu berlangsung lama. Maka dari itu, Oma ingin kalian berpisah," sambungnya.
Pada hari itu, semuanya menjadi jelas. Keelua jadi mengerti dan ia paham mengapa sikap Oma Arum tiba tiba berbeda.
"Namun sekarang, Oma tidak akan memisahkan kalian lagi. Tapi Oma ingin kamu berjanji bahwa kamu akan selalu bersama Anraka dan tidak akan meninggalkan dia sampai kapan pun," tutur Oma Arum, ada sedikit senyum tipis di wajah pucatnya.
Keelua masih mengingat senyuman itu dengan jelas.
Tanpa sadar Anraka sudah mengangkat panggilannya, beberapa kali ia memanggil nama Keelua tapi gadis itu tidak menyahut, ia masih terfokus pada Oma Arum yang berbicara di sisa sisa napasnya.
"Jangan tinggalkan Anraka, Oma sayang kalian berdua." Genggaman tangan Oma Arum pun melemah hingga tangannya jatuh ke bawah.
Itu adalah kata kata terakhir Oma Arum sebelum ia pergi, Keelua masih sempat meminta Oma Arum untuk membuka mata namun semuanya sudah terlambat.
Oma Arum sudah tidak bernapas.
Keelua benar benar syok hingga ia kesulitan untuk bernapas, dengan panik ia mengambil ponselnya yang tergeletak begitu saja di atas ubin lalu menangis sejadi jadinya.
"Keel! Kenapa? Kenapa?!"
Baru lah ia mendengar suara Anraka dengan jelas, gadis itu tak dapat berhenti menangis.
"Raka, Oma.."
"Oma kenapa?!"
"Oma udah enggak bernapas."
Mulai saat itu lah, kehidupan Keelua berubah, ia terus saja memikirkan perkataan Oma Arum yang terus membuat dadanya sesak.
Ternyata apa yang ia pikirkan tentang Oma Arum itu salah, Oma Arum hanya kesepian dan tidak ingin dilupakan oleh anak anaknya.
Dan di sini lah Keelua, di tempat Oma Arum bersemayam untuk selamanya sedang menabur bunga seraya mendoakan wanita baik itu.
Sesuai janji, Keelua tidak akan meninggalkan Anraka dan akan terus berbahagia bersama kekasihnya itu.
Apa pun yang terjadi dan sampai kapan pun itu.
...Cinta adalah bukan tentang siapa yang selalu menjanjikan bahagia, tapi tentang siapa yang selalu setia menemani dalam duka....
...Dari penulis, Anraka dan Keelua....
...Selesai....