BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
25. Kanker Otak



Setelah kabur dari rumah malam itu dan tidak pulang seharian penuh, akhirnya sore ini Anraka memutuskan untuk pulang ke rumahnya lagi. Pemuda itu bangun terlambat namun tetap berangkat ke sekolah padahal semalam ia mabuk berat bersama teman temannya.


Entah apa yang akan dihadapi oleh Anraka setibanya di rumah. Terakhir kali ia kabur dari rumah, Oma Arum memarahinya habis habisan hingga menyita semua fasilitas yang Anraka miliki tapi kali ini pemuda itu berniat untuk menjelaskan semuanya ke Omanya itu bahwa pertemuannya dengan teman temannya malam itu adalah suatu hal yang penting dan tidak mungkin Anraka lewatkan.


Anraka akan memakai seribu satu alasan agar Oma Arum mau mempercayainya dan yang terpenting tidak menyita fasilitas yang Anraka punya sekarang.


Motor Anraka melaju dan membela jalanan kota yang ramai di siang hari, mentari yang hangat mengiringi pemuda itu hingga ia sampai di rumah keluarga Pranata.


Satpam yang melihat kedatangan


Anraka pun buru buru membukakan gerbang untuk Anraka lalu mempersilahkan tuan muda mereka itu masuk. Anraka memarkirkan motornya di garasi lalu dengan percaya diri masuk ke dalam rumah.


Begitu membuka pintu utama, dan masuk ke dalam rumah, Anraka sontak terkejut ketika mendapati semua anggota keluarga duduk di sofa ruang tengah seperti sedang menunggunya.


Ada Arya, Regina dan Oma Arum. Angel tidak ada di sana karena pasti gadis kecil itu ada jadwal bimble setelah pulang dari sekolah hari ini, dia pasti akan pulang sore.


Anraka memasang wajah datar lalu hendak naik ke kamarnya namun suara Oma Arum menghentikan gerakan pemuda itu.


"Anraka."


Suara itu selembut biasanya, namun Anraka merasa akan terjadi suatu hal yang besar setelah ini.


Pemuda itu pun berbalik, "Iya, Oma?"


"Duduk sini, Sayang," panggil Oma Arum.


Anraka pun menghela napas lalu mendekat dan duduk di sofa tunggal yang berhadapan langsung dengan Ibunya, Regina.


"Kamu dari mana?" tanya Arya.


"Bukan urusan—"


"Kamu dari mana?!" Arya membentak.


"Kenapa tiba tiba peduli? Urusin aja kerjaan kalian," balas Anraka datar.


"Mama sama Papa enggak pernah marahin kamu kalau kamu keluar malam, Rak. Tapi ini udah kelewatan kalau sampai seharian kamu enggak pulang, enggak ada kabar juga," kata Regina dengan suara yang lembut.


Anraka memalingkan wajah lalu menghela napas panjang. Ia sangat malas jika harus mendengar ocehan dari kedua orang tuanya yang bahkan tidak pernah menanyakan kabarnya sama sekali. Dulu ketika Anraka mencoba mencari perhatian dari kedua orang tuanya, mereka sama sekali tidak mempedulikan Anraka bahkan jika Anraka yang waktu itu masih kecil merengek dan meminta mereka untuk membagi waktu antara pekerjaan dan waktu untuk Anraka yang sangat kesepian dan kurang kasih sayang.


Satu satunya yang memperhatikan Anraka waktu itu hanyalah Oma Arum dan Bibi Maryam. Hingga suatu hari, Oma Arum memberitahu Anraka bahwa kini Anraka sudah memiliki teman yang akan selalu menemaninya, saat itu lahirlah Angel.


Sejak kecil, Anraka tidak pernah merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Dan kini saat ia sudah beranjak dewasa, dengan tanpa rasa bersalah orang tuanya malah menghakiminya dengan sebuah kesalahan yang sebenarnya berakar dari mereka juga.


Sungguh tidak adil.


"Kalau mau marah marah nanti aja, Raka capek." Anraka bangkit dari duduknya.


"Oma masih mau bicara, Raka."


Anraka mendecak lalu kembali duduk di tempatnya, jika bukan karena Oma Arum, ia tidak akan pernah mau duduk berlama lama seperti ini.


"Kemarin Oma telepon Keelua, dia bilang dua hari ini kamu masuk sekolah. Benar begitu, Anraka?"


Anraka mengangguk, "Iya, Oma."


"Tapi kamu enggak pulang ke rumah, 'kan? Kamu pakai baju sekolah siapa?" tanya Oma Arum lagi.


"Raka beli baju sekolah baru."


Oma Arum menggelengkan kepala pelan, bisa bisanya Anraka tidak memikirkan uang yang akan ia buang percuma untuk membeli baju sekolah seharga dua juta rupiah untuk beberapa kali pakai saja, padahal ia masih punya baju sekolah baru. Walau pun punya uang yang sangat banyak, harusnya cucunya ini mengeluarkan uangnya untuk hal hal yang penting saja.


Tapi salahnya juga, terlalu memanjakan Anraka sejak kecil.


"Kamu tidur di mana dua malam ini?"


"Di rumah Bumi."


"Kenapa kamu kabur dari rumah?" tanya Oma Arum.


Anraka tau, Omanya ini pasti akan menanyakan segala hal dengan rinci dan jelas. Jika ia tidak mau terkena masalah, ia harus menjawab semua pertanyaan dengan jujur karena Omanya punya banyak mata mata yang tidak pernah Anraka ketahui ada di mana dan siapa orangnya.


Tapi Keelua termasuk dalam pengecualian, gadis itu adalah mata mata Oma Arum yang sangat Tapi Keelua termasuk dalam pengecualian, gadis itu adalah mata mata Oma Arum yang sangat Anraka ketahui dan ia kenal.


"Malam itu ada balapan antar geng, Gibran jadi wakil geng Raka dan dia menang. Raka enggak mungkin enggak datang buat ngasih teman Raka support." Anraka menjelaskan semuanya dengan singkat.


"Balapan? Kamu sering balapan?" tanya Regina tidak percaya.


"Jelas kagetlah, emang kalian tau apa soal anak kalian sendiri,"gumam Anraka tanpa ingin melihat ke arah orang tuanya.


"Raka!" bentak Arya.


"Sudah sudah." Oma Arum menengahi.


"Tapi dia udah kurang ajar, Ma," kata Arya pada Ibunya.


"Kamu enggak boleh selalu keras sama dia, kita dengarkan saja dulu." Oma Arum mencoba membuat suasana di dalam ruangan ini tidak tegang agar Anraka tetap merasa nyaman.


"Sebenarnya Oma sama Mama Papa kamu mau ngasih tau hal yang udah kami simpan dari lama. Ada dua hal yang mungkin bakal bikin kamu enggak percaya," kata Oma Arum.


Dahi Anraka mengernyit tipis, apa apaan ini? Kenapa tidak langsung memberitahu saja?


"Apa?" tanya Anraka.


Perasaan Anraka mendadak tidak enak, firasatnya mengatakan bahwa akan terjadi sesuatu yang buruk atau apa yang akan disampaikan padanya adalah suatu hal yang tidak akan ia sukai. Namun, lihat saja nanti.


"Udah dari beberapa bulan lalu, Oma didiaknosa terkena kanker otak stadium III, Oma juga baru tau setelah dokter Oma akhirnya mau ngasitau apa yang terjadi." Oma Arum menjelaskan dengan suara pelan.


Anraka terpaku beberapa saat, tidak mengatakan apa apa namun menatap Oma Arum lekat. Pemuda itu menggelengkan kepalanya lalu terkekeh pelan.


"Enggak lucu," kata Anraka, memalingkan wajahnya.


Regina sudah mulai terisak, Arya yang duduk di sebelah istrinya itu spontan mencoba menenangkan.


"Apa, sih, pakai nangis nangis segala? Raka enggak akan percaya sama lelucon konyol kayak gini." Anraka pun kembali berdiri, ia tidak mau berlama lama duduk di tengah tengah keluarganya yang suka mempermainkannya seperti ini.


Anraka yang sudah berjalan beberapa langkah pun berhenti. Ia diam sejenak lalu perlahan berbalik.


"Siapa yang berani bilang semua ini benar?" tanya Anraka. "Raka enggak akan maafin kalian semua kalau kalian becanda."


"Semua ini benar, Bang Raka."


Suara itu mengalihkan atensi semua orang yang ada di ruang tengah. Seorang gadis kecil yang baru masuk ke dalam rumah berdiri tegak dengan tas yang ia gendong di punggungnya.


"Angel dengar semua obrolan Papa sama Oma tadi malam. Enggak ada yang bohong," kata Angel.


"Kamu berani nguping pembicaraan orang tua, ya?" Oma Arum melirik sinis ke arah Angel.


Angel menggeleng, "Enggak, Oma. Tadi malam Angel duduk sendirian di ruang tamu buat nungguin Bang Raka pulang, terus Angel enggak sengaja dengar pas Oma ngomong sama Papa di kamar." Gadis kecil itu menjelaskan.


Oma Arum geleng geleng kepala sambil menghela napas pelan, "Anak anak jaman sekarang udah enggak tau sopan santun."


"Raka enggak mau dengar omong kosong lagi." Setelah mengatakan itu, Anraka pun naik ke lantai dua tanpa menghiraukan suara semua orang yang memanggilnya.


Pemuda itu bagai tuli dan benar benar tidak ingin mendengar apa pun dari siapa pun.


Angel masih berdiri sambil menundukkan kepalanya. Arya yang melihat itu kemudian memanggil anak perempuannya itu untuk mendekat.


"Maafin Angel, ya, Pa. Angel benar benar enggak sengaja dengar obrolan Papa sama Oma," kata Angel dengan raut wajah muramnya.


Arya mengangkat tangannya untuk mengelus pucuk kepala Angel dengan sayang, "Enggak apa apa, anak Papa yang cantik. Bukan salah kamu kok."


Angel pun tersenyum.


"Kamu itu jangan terlalu manjain dia. Dia udah salah, harusnya minta maaf," ujar Oma Arum.


"Cukup, Ma."


...****************...


"Lo balik naik apa, Keel?" tanya Lula.


"Naik bus atau enggak naik ojek online kayaknya, emangnya naik apaan lagi? Gue enggak punya pacar yang bisa gue jadiin ojek pribadi," jawab Keelua.


Lula terkekeh pelan, "Makanya lo cari pacar kek, enggak usah nyari deh, tinggal milih aja. Kan banyak tuh cowok cowok yang ngejar ngejar lo, masa lo enggak tertarik sama salah satu dari mereka?" tanya gadis itu serius.


Keelua mencebik bibir, "Gimana, ya. Bukannya enggak tertarik, sih, gue cuma ngerasa belum pantas aja buat siapa pun, masih banyak hal dalam diri gue yang harus gue rubah supaya orang yang nanti datang dan coba buat menetap sama gue bakal ngerasa nyaman dan enggak akan pergi pergi lagi," jelasnya. "Gue takut patah hati juga sebenarnya," sambungnya.


Lula manggut manggut, "Tapi lo tau 'kan, jatuh cinta berarti siap patah hati?"


"Gue sangat tau, makanya gue milih buat enggak berdiri di ujung jurang yang orang orang sebut dengan cinta karena setelah gue ada di sana, gue cuma punya dua pilihan; mundur tapi harus kehilangan atau maju tapi harus terluka. Itu enggak masuk akal, makanya gue enggak mau, untuk sekarang."


Keelua menatap lurus ke depan, sorot matanya berubah kosong, seolah pikiran gadis itu melayang entah ke mana.


"Enggak masalah kalau lo takut buat ngebentuk hubungan baru sekarang. Mungkin emang lo belum siap, itu wajar kok, enggak perlu lo pikirin. Semua pilihan ada di tangan lo jadi lo bebas, cuma kalau emang nanti lo ada di keadaan saatnya buka hati, enggak ada salahnya buat mencoba," tutur Lula. "Dan seperti yang lo tau, lo pasti bakal terlihat sempurna di mata orang yang tepat, seenggak percaya diri apa pun lo, kalau orang yang bakal jadi pendamping lo nanti ngerasa lo adalah cewek paling cantik di bumi, semua ketakutan lo pasti bakal lenyap. Tapi buat sekarang, gue akan selalu ngedukung lo," sambungnya.


Keelua terdiam, ia terpaku setelah mendengar kata kata Lula. Apa yang merasuki gadis itu? Bagaimana ia bisa menjadi sebijak ini hingga mampu membuat Keelua tercengang?


Tapi, di luar dari itu, apa yang dikatakan Lula memang benar. Keelua tidak mau memaksakan dirinya untuk harus mendapatkan pasangan dalam waktu dekat namun jika diberikan kesempatan yang pas, ia tetap harus mencoba. Sepertinya itu masuk akal, Keelua akan mengingatnya.


"Tumben otak lo jalan, makasih ya udah ngomong kayak gini. Ini berarti banget buat ngeyakinin keraguan gue selama ini,' balas Keelua.


"Sama sama, gue emang pinter." Lula tersenyum.


Kedua gadis itu baru saja keluar dari perpustakaan untuk mengembalikan buku yang dipakai oleh teman teman sekelas mereka tadi. Lula mungkin akan pulang bersama Ayahnya yang menjemputnya seperti biasa atau ia akan naik taksi online.


Sayangnya, arah rumah keduanya tidak searah, akhirnya mereka tidak bisa pulang bersama.


Sesampainya di luar gerbang, Keelua celingak celinguk sambil memikirkan akan naik apa dia untuk pulang ke rumahnya.


"Gue duluan enggak apa apa, ya? Ayah gue udah jemput," kata Lula.


"Iya, hati hati, ya." Keelua melambaikan tangan.


Setelah beberapa saat diam, suara seseorang mengagetkannya.


"Naik.".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.