BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
41. Kembali ke Rumah



"Oke, adik Angel udah bisa pulang, ," kata Dokter yang baru saja ya," memeriksa kondisi Angel.


Gadis yang tengah berbaring di atas ranjang itu pun tersenyum senang lalu menoleh ke arah Anraka dan Keelua yang berdiri di sisi ranjangnya.


"Baik, Dok. Terima kasih, ya," balas Keelua.


"Sama sama." Dokter tersebut mengangguk lalu keluar dari ruangan.


Setelah Dokter itu lenyap dari ambang pintu, giliran Bumi, Gibran, Romeo dan Ganta yang masuk ke dalam ruangan Angel. Sejak tadi mereka menunggu di luar karena tidak ingin mengganggu aktivitas Dokter yang sedang memeriksa keadaan Angel.


"Gimana? Angel baik baik aja?" tanya Bumi yang baru saja melangkah masuk.


Anraka mengangguk, "Dia udah bisa balik."


Gibran menepuk tangan pelan, "Keren juga, nih. Cepat amat udah keluar aja"


Anraka melirik Gibran sinis, "Jadi mau lo adik gue lama lama di rumah sakit, gitu?" tanyanya ketus.


Gibran menggeleng.


"Jangan ngomong sembarangan, Gib. Lo mau gantiin Angel di sini?" Romeo menimpali.


Ganta hanya mampu tersenyum kecil melihat aksi tidak jelas teman temannya itu.


"Ya enggak lah! Gue lebih suka rumah gue dari pada rumah sakit," kata Gibran.


"Yeay, udah bisa pulang. Pasti karena Angel yang makan banyak banget tadi," ucap Keelua seraya mengelus kepala Angel sayang.


Anak perempuan itu pun mengangguk kukuh lalu tertawa pelan, "Angel senang banget. Makasih, ya, Kak Keel!"


Keelua mengangguk, "Sama sama, adik cantik."


Terdengar suara seseorang berdehem keras, suaranya begitu nyaring seolah olah ia baru saja menelan batu sebesar kerikil dan batu itu tersangkut di tenggorokannya.


"Kenapa tuh? Keselek meteor lo?" sindir Romeo.


"Kode keras!" Gibran berseru.


"Bang Raka kenapa? Sakit lehernya?" tanya Angel.


Pemuda itu menggeleng, "Enggak. Cuma kayaknya lo lupa sesuatu deh," katanya.


Angel mengernyit, "Lupa sesuatu? Apanya? Emang pas Angel ke sini ada bawa barang gitu, ya, Bang?" tanyanya.


Anraka malah mendecak kesal, "Bukan itu maksudnya!"


"Lupa kenangan bersama mantan?" celutuk Gibran.


Romeo lantas menyenggol lengan Gibran dengan keras, "Ngomong mulu lo kayak calon bupati."


"Ya maaf," ujar Gibran seraya mengelus lengannya yang sakit.


Anak perempuan yang sedang merebahkan tubuhnya itu pun menjadi bingung. Apa yang sebenarnya kakaknya maksud?


Keelua tertawa kecil lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Angel lantas berbisik pelan. Bibir Angel membulat lalu kepalanya mengangguk angguk pelan.


"Angel udah paham," ucap gadis kecil itu.


Anraka yang sebenarnya penasaran dengan apa yang baru saja Keelua bisikan ke telinga adiknya hanya mengangkat sebelah alisnya pada Angel.


"Makasih juga, ya, Bang Raka. Udah jagain Angel dan udah nyelamatin Angel juga pas Angel tenggelam di kolam kemarin. Tapi, seharusnya Bang Raka enggak usah selamatin Angel," tutur si gadis dengan mata berkaca kaca.


"Angel.." Keelua kembali mengusap rambut panjang Angel yang lebat.


Kata kata Angel tersebut langsung membuat keempat pemuda yang duduk di atas sofa bungkam dan tidak mau membuka suara lagi. Sepertinya kondisi di dalam ruangan itu sudah mulai sensitif.


Anraka mendekat lalu mengambil tangan sang adik yang seputih susu lantas menggenggamnya.


"Lo itu adik gue, gue harus jagain lo gimana pun caranya. Dan please, jangan pernah berniat buat ninggalin gue. Gue bakal minta maaf atas semua perlakuan Oma sama lo, gue bakal minta maaf berkali kali, sebanyak apa pun yang lo mau. Lo saudara gue, cuma lo satu satunya, gue enggak punya siapa siapa lagi," ujar Anraka dengan tatapan matanya yang nanar.


Sedangkan Keelua yang juga berada dalam ruangan tersebut hanya bisa bungkam dan tidak mengatakan apa apa. Pikirannya kembali melayang dengan kata kata Anraka yang baru saja terlontar dari bibir tebal pemuda itu, tentang pelakuan Oma Arum. Perlakuan apa sebenarnya? Apakah itu alasan mengapa Angel mencoba untuk bunuh diri?


Dengan susah payah Angel berniat untuk bangkit dari ranjangnya, Keelua yang melihat itu pun spontan membantu adik Anraka itu.


Tanpa basa basi, Angel langsung menghamburkan pelukannya pada Anraka yang sejak tadi menatapnya. Tidak ada yang bisa ia katakan selain memeluk tubuh kakaknya tersebut erat erat, Angel tau, kakaknya sayang menyayanginya walau pun dia tidak pernah mengatakan hal itu.


Angel juga tau, Anraka selalu ingin membelanya ketika Oma Arum memarahi atau memukulnya namun Oma Arum tidak pernah memberikan pemuda itu celah untuk itu.


Sebenarnya tak apa, Angel tidak membutuhkan kata kata sayang dari kakaknya itu, atau keberadaan kakaknya untuk membelanya. Angel hanya ingin Anraka ada untuk memeluknya ketika ia membutuhkan itu. Orang tua mereka terlalu sibuk untuk hal hal sepele tersebut, jadi, Angel hanya punya Anraka.


Tangan Anraka pun terangkat, lalu ia membalas pelukan Angel. Si pemuda memeluk tubuh mungil adiknya dengan erat, mengirup aroma harum dari rambut gadis kecil itu lalu membenamkan wajahnya di lekukan leher putih itu.


Senyum Keelua mendadak muncul, pemandangan yang sangat indah dan paling manis yang pernah ia lihat. Apa lagi yang paling mengejutkan adalah Anraka di sana sebagai pemeran utamanya.


Mata Keelua melirik ke arah empat pemuda yang hanya diam saja, mereka pasti ikut terbawa suasana dan tidak menyangka bahwa ketua geng EX bisa selembut itu. Terlihat Gibran mengusap matanya dan menundukkan kepala. Keelua bisa menjamin bahwa pemuda itu sedang menangis.


"Angel sayang sama Bang Raka."


"Gue juga sayang sama lo."


...****************...


Sekarang kelima pemuda, seorang gadis dan satu anak perempuan tengah berada di lobi rumah sakit, bersiap siap untuk pulang.


"Iya, Kak Keel," balas Keelua.


"Eh, gue juga ikutan, dong!" Romeo berseru.


"Ikutan apa? Ikutan pelukan?" tanya Bumi.


Romeo mendecak, "Bukan. Ikutan marathon drama koreanya," ujarnya.


"Suka drama korea ternyata. Pantes aja hatinya feminim," cemooh Gibran.


"Boleh banget, Bang Romeo! Abang nanti ikut sama kita, ya!" seru Angel.


"Sip!" Romeo mengangkat tangannya dan seolah memberi hormat.


"Ya udah, ayo," ajak Anraka seraya menggandeng tangan Angel.


"Lo balik sama siapa, Keel?" tanya Gibran.


"Gue sama-"


"Dia balik sama gue. Iya, 'kan, Keel?" potong Bumi bahkan sebelum Keelua menyelesaikan kata katanya.


Mau tak mau Keelua pun mengangguk, "Iya. Gue sama Bumi."


"Gue duluan," kata Romeo.


"See you," ucap Ganta.


"Ya udah deh. Kita balik, ya! Bye!" pamit Gibran lalu pergi ke arah parkiran bersama Romeo dan Ganta.


"Kita juga langsung pulang, nih?" tanya Bumi pada Keelua.


Gadis yang hanya berdiri saja di sebelah Bumi itu pun mengangguk, "Iya, langsung balik aja kali, ya?"


Bumi bergumam, "Kita makan aja dulu, deh. Gimana? Udah mau jam makan siang, gue juga udah lapar banget. Mau, enggak?" tawar pemuda itu.


Lagi lagi mau tak mau Keelua hanya bisa mengangguk untuk mengiyakan ajakan Bumi.


Kedua muda mudi itu pun sudah ada di dalam mobil milik Bumi. Tidak ada obrolan yang berlangsung di dalam kendaraan itu, hanya ada suara pelan radio yang memutarkan lagu berirama pop. Tatapan Keelua lurus ke depan, menatap panjang jalanan yang terbentang luas di depan mereka.


"Bum, gue mau nanya," ujar Keelua.


Bumi menoleh sebentar lalu kembali menatap jalanan seperti semula, "Nanya aja, Keel."


"Lo tau enggak kira kira kenapa Angel bisa kayak gitu? Apa ada hubungannya sama perlakuan Oma Arum ke dia?"


CITT!


Suara ban yang tergesek dengan jalanan yang licin terdengar begitu ngilu di telinga siapa saja yang mendengarnya. Tiba tiba saja Bumi menancap rem mobilnya hingga tubuh mereka pun terbentur ke depan.


"Kenapa, Bum?!" tanya Keelua panik.


Napas Bumi terengah engah, pemuda itu menjawab, "Ada kucing lewat, gue enggak lihat."


Keelua menyugar rambut panjangnya ke belakang lalu menarik napas panjang.


"Ya udah, enggak apa apa. Lo coba lebih fokus aja, ya. Biar kita bisa selamat sampai tujuan, gue belum nikah soalnya," kata Keelua dengan sedikit canda di dalamnya.


Dengan susah payah Bumi menelan ludahnya, ia tiba tiba kehilangan fokus saat Keelua menanyakan hal seperti itu padanya. Entah apa yang tengah ia pikirkan.


"Lo enggak apa apa, 'kan?"


...****************...


Anraka dan Angel pun akhirnya tiba di rumah, Regina dan Arya langsung menyambut mereka dengan rasa senang dan gembira tiada tara. Sebelum pulang, Anraka sudah mengabari kedua orang tuanya dan Oma Arum bahwa adik perempuannya itu sudah bisa pulang dan tidak perlu dirawat lagi.


"Kamu udah bisa pulang, sayang? Kamu baik baik aja, 'kan?" tanya Arya. Di wajahnya tampak bahwa ia sangat cemas.


"Makasih, ya, Raka, karena kamu udah mau jagain Angel dan bawa dia pulang dengan selamat sampai rumah. Mama bakal terus berterima kasih sama kamu," ujar Regina.


"Enggak usah bilang makasih, Raka jagain Angel karena dia adiknya Raka, bukan karena hal lain," kata Anraka lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


Ketika sampai di ruang tengah, Anraka menemukan Oma Arum tengah duduk di salah satu sofa yang ada di sana. Ketika manik mata Oma Arum mendapati Anraka di sana, wanita paruh baya itu pun langsung memunculkan senyumnya.


Tampak Regina, Arya dan Angel pun masuk ke dalam ruang tengah.


"Kalian semua, terutama kamu, Anraka. Silahkan duduk di atas sofa, Oma mau ngomongin hal penting yang udah enggak bisa ditunda tunda lagi."


.


.


.


.


.


.


.