
"Kamu tau pelajaran apa yang bisa diambil dari cerita kakak barusan?"
Angel bergumam pelan lalu menggeleng.
"Cerita tadi itu ngasih tau kita bahwa orang orang itu kadang bakal sadar ketika mereka udah ngerasain yang namanya kehilangan. Awalnya mereka enggak nganggep sesuatu itu penting tapi setelah mereka enggak milikin itu lagi, mereka baru sadar kalau sebenarnya sesuatu yang awalnya mereka anggap enggak penting itu adalah hal yang paling berpengaruh buat mereka."
"Ngerti, Angel?"
Gadis kecil dengan senyum manisnya itu mengangguk, "Iya. Ngerti, Kak Keel."
"Pinter." Tangan Keelua terangkat lalu kembali mengelus pucuk kepala Angel dengan sayang.
Tiba tiba, seseorang masuk ke dalam ruangan.
"Kalian bosen enggak di dalam sini? Mau ke luar buat hirup udara segar?" tawar Bumi.
"Mau, Bang Bumi!" seru Angel dengan bersemangat.
Bumi tersenyum senang melihat tingkah menggemaskan dari gadis kecil itu, "Aduh, Angel udah makan langsung semangat, ya!"
"Iya, dong! Siapa dulu yang suapin!" Keelua menimpali.
"Emang siapa?" tanya Bumi untuk menggoda Keelua.
Keelua mendecak, "Nyebelin banget lo!" kesalnya.
Pemuda itu pun tertawa pelan, "Enggak enggak. Becanda doang."
"Ya udah. Ajak si Angel jalan jalan sana, gue mau rebahan aja. Masih ngantuk," kata Keelua.
"Jadi lo enggak ikut, nih?" tanya Bumi.
Si gadis berambut panjang menggeleng, "Enggak. Kalian aja, kalau gue bosan nanti gue ikut kok."
"Anraka sama yang lain lagi pada di kantin, katanya mau makan siang dulu, lapar banget katanya. Gue ngajak lo biar nanti kita bisa makan bareng sama mereka,"sahut Bumi. "Gimana? Lo masih enggak mau ikut?" tanyanya kemudian.
Keelua kemudian merenggangkan tubuhnya, "Gue capek banget, anjir. Semalem lari larian di koridor rumah sakit sama Raka gara gara hantu yang sebenarnya enggak ada. Niat gue cuma mau nakut nakutin si Raka doang, tapi taunya gue juga ikutan lari larian enggak jelas," cerita gadis itu pada Bumi.
"Kalian berdua emang enggak jelas, jadi sama aja, 'kan?" Bumi terkekeh pelan.
"Kurang ajar lo!" sahut Keelua kesal.
"Kak Keel sama Bang Raka lari larian gara gara ngelihat hantu?" tanya Angel penasaran.
Keelua menoleh ke arah Angel lantas manggut manggut, wajah gadis itu tiba tiba serius, "Bukan cuma ngelihat doang, kakak sama abang kamu itu sampai dikejar sama hantunya. Pas naik lift aja masih dikejar," katanya.
Kedua mata Angel melebar, "Beneran?" Kemudian gadis kecil itu menelan salivanya susah payah, tiba tiba ia merinding.
"Jangan kayak gitu, Keel. Lo mah suka ngada ngada," tegur Bumi yang menyadari mimik wajah ketakutan Angel.
Keelua kemudian tertawa tanpa dosa hingga membuat Angel mencebik bibir, "Enggak, becanda doang kok, Ngel. Kak Keel sama Bang Raka cuma lagi becanda becanda doang makanya lari larian semalem," jelasnya.
Angel manggut manggut meskipun ia belum sepenuhnya percaya.
"Semalam kalian ke mana emang? Enggak mungkin dong kalian lari larian di lantai ini?" tanya Bumi.
"Gue sama Raka dari kantin, gue lapar plus gabut nungguin Angel siuman jadi turun deh ke lantai dasar terus nemu kantin di bawah," sahut Keelua.
Bumi manggut manggut, "Terus sekarang lo enggak laper? Enggak asik banget kalau lo enggak ikut, parah banget tau, enggak." Bumi mendecak.
"Gue 'kan udah bilang, Bumi. Gue bakalan nyusul kalau gue pengen. Gue kurang tidur banget tau enggak, sih, masa lo tega ngelihat gue tiba tiba pingsan karena kelelahan," ucap Keelua dengan mata yang hampir tertutup saking mengantuknya.
"Ya elah, lo 'kan lagi ada di rumah sakit, kalau sakit tinggal dirawat. Tenang aja, santai." Bumi menaikturunkan alisnya.
"Lo mau keluar sekarang atau gue lempar lo pakai sendal keras gue?" ancam Keelua kesal.
Bumi malah balas cekikikan.
"Oke kalau gitu." Bumi pun berjalan mengambil kursi roda, lalu membantu Angel untuk naik ke atasnya.
"Kita mau ke mana, Angel?" tanya Bumi.
"Angel masih laper. Mau makan makanan yang enak, boleh, enggak?" tanya gadis kecil itu.
Keelua dan Bumi tertawa pelan.
"Boleh," kata Bumi. "Ya udah, ayo. Gue duluan ya, Keel," pamit pemuda itu.
"Iya. Jagain yang bener," pesan Keelua.
"Oke." Bumi dan Angel yang duduk di atas kursi roda pun keluar dari ruangan Angel, meninggalkan Keelua yang kembali merebahkan tubuhnya di atas sofa.
Gadis itu sangat kelelahan dan merasa kurang tidur. Saat ingin kembali memejamkan mata, tiba tiba ponselnya yang berada di atas nakas berdering dengan suara yang begitu nyaring.
"Siapa lagi, sih?! Kayaknya gue enggak bisa banget deh hidup tenang," omel Keelua lalu mengambil ponselnya.
Tertera nama Elvano di sana, dengan malas Keelua langsung mengangkatnya.
"Halo, El?"
"Halo, Keel. Lo ada di mana? Kenapa enggak masuk sekolah?" tanya pemuda itu dari ujung telepon.
Keelua menghela napas panjang, "Sorry, gue lagi di rumah sakit," jawab gadis itu.
"Hah?! Lo lagi sakit?" tanya Elvano dengan panik.
"Enggak enggak. Gue lagi nemenin adiknya Anraka, dia yang lagi sakit," jelas Keelua pada Elvano.
"Oke kalau gitu, gue bakal ngasih izin ke wali kelas lo," kata Elvano.
Keelua tersenyum kecil, "Makasih, El. Lo emang paling the best, deh," puji gadis itu.
Elvano mencemooh, "Iya, deh. Kalau ada maunya mah emang baik banget pakai muji muji segala lagi," cercahnya.
"Lo enggak suka gue puji?" tanya Keelua.
Elvano terdengar tertawa renyah di ujung sana, 'Suka, kok. Ya udah, semoga lo cepat balik ke sekolah, ya," ujar pemuda itu.
"Iya, El. Sekali lagi makasih," ucap Keelua.
Gadis itu pasti akan kembali ke sekolah, setidaknya menikmati masa masa sekolahnya yang terancam akan terputus jika saja pemuda yang dijodohkan dengannya tiba tiba memintanya untuk segera menikah.
Keelua mendadak penasaran, kira kira pemuda seperti apa yang ingin menikah di usia belasan tahun seperti ini? Apa ada orang yang terpikirkan untuk menikah di umur yang bahkan belum bisa dikatakan dewasa? Entahlah, hanya Tuhan yang tau. Keelua menerima ini semua semata mata hanya karena keinginan kedua orang tuanya dan juga demi bisnis keluarganya yang semakin terancam.
Semoga, pemuda yang akan gadis itu nikahi adalah pemuda yang tampan. Walau pun tidak mencintainya, setidaknya ia bisa menikmati wajah tampannya setiap hari.
"Aduh. Gue takut banget sama malam pertama!" Keelua memekik kesal.
...****************...
"Gimana, Angel? Setelah keluar dari kamar, ngerasa lebih enakan, enggak?" tanya Bumi seraya terus mendorong kursi roda Angel.
Gadis kecil yang ditanyai mengangguk mantap, lalu tersenyum gembira, "Iya, Bang Bumi. Angel senang bisa keluar dari kamar, bosan banget dari tadi," katanya.
"Angel baik baik aja?" tanya Bumi lagi.
"Iya, Angel baik baik aja. Kenapa Bang Bumi nanya kayak gitu?" balas Angel lalu balik bertanya.
Bumi menghirup udara rumah sakit yang khas lalu menghembuskan napas pelan.
"Enggak apa apa, Bang Bumi cuma mau mastiin aja. Rasanya kaget aja gitu, Angel yang biasanya ceria, ketawa terus, kok tiba tiba bisa ada di rumah sakit, sih." Pemuda itu lantas tertawa.
Angel juga ikut tertawa pelan lalu menatap nanar ke depan.
"Bang Bumi? Abang tau, enggak?" tanya Angel.
Kedua tangan gadis itu ia biarkan tetap berada di atas pahanya, walau pun ia tau di kursi roda itu terdapat tumpuan untuk menaruh tangannya di sana.
"Tau apa, tuh?" Bumi menyahut.
"Enggak semua orang yang kelihatan bahagia di luar, aslinya mereka juga bahagia di dalam. Begitu pun sebaliknya. Ada orang yang kelihatan enggak bahagia dari luar, tapi aslinya mereka bahagia banget tanpa mereka harus nunjukin itu," ungkap Angel.
Bumi terdiam. Pemuda itu ingin tau apa kelanjutan dari kata kata anak perempuan yang tengah terduduk lemah di atas kursi roda yang sedang ia dorong ini.
"Kira kira, Angel masuk dalam kategori mana?" tanya Angel pada Bumi yang masih membisu.
Terdengar suara Bumi berdehem pelan, ia juga memikirkan kata kata yang pas untuk menjawab pertanyaan dari adik Anraka itu.
"Mungkin opsi pertama, atau yang kedua. Enggak ada yang tau, mungkin tergantung keadaan?" jawab Bumi dengan ragu.
Angel tertawa pelan.
"Eh, kok malah ketawa? Salah, ya?"
Si anak perempuan menggeleng pelan, "Enggak, enggak salah. Udah benar, kok. Kesimpulannya adalah, kita enggak bisa nentuin gimana keadaan luar dalam seseorang tanpa kita ngerasainnya. Setiap manusia punya sedih dan senangnya masing masing, enggak ada manusia yang perlu ngejelasin ke dunia kalau mereka lagi senang atau sedih, biarin aja mereka nyimpan itu sendiri. Suatu saat kalau dia mampu untuk berbagi dan percaya sama seseorang yang emang benar benar pantas, dia pasti akan bagi. Manusia emang selalu sulit di tebak," kata Angel panjang lebar.
Sesuatu dalam dada Bumi bergejolak, kata kata Angel begitu dalam hingga bisa terasa menusuk di batin Bumi. Dari mana Angel mempelajari kosa kata indah seperti itu? Bumi tidak yakin bahwa orang dewasa yang umurnya jaun di atas Angel Disa mengatakan dan berpikir seperti itu tentang hal ini.
Gadis kecil ini menakjubkan.
"Wah, Angel pintar banget, ya. Kayaknya yang kakak itu kamu deh, bukan Anraka," tutur Bumi.
Senyum manis di bibir Angel kembali terbit, ia sangat senang karena ada orang yang bisa ia ajak untuk bicara dan mengeluarkan keluh kesah. Selama ini, Angel tidak punya teman bicara jika ia sedang berada di rumah, hanya bantal dan dinding kamarnya yang mungkin sudi untuk mendengar setiap tangisannya di malam hari.
Di usia yang masih sangat belia, Angel merasa harusnya ia tidak tumbuh dewasa secepat ini.
Maksudnya, pemikirannya. Apa ada anak seusia Angel yang memikirkan hal hal berat seperti gadis kecil itu? Apa ada anak seusia Angel yang sudah mengalami stress berlebihan? Overthinking dan emosi yang tidak stabil?
Angel harap tidak ada, karena itu semua sangat menyakitkan.
Kakaknya, Anraka, mungkin dulu pernah merasakan hal yang sama. Hanya saja, akhirnya Anraka kecil memilih untuk melampiaskan kekesalannya dengan membenci kedua orang tua mereka tapi Angel tidak ingin memiliki dendam seperti itu, ia masih ingat dengan sebuah petuah yang dikatakan oleh salah satu tokoh di sebuah novel yang pernah gadis kecil itu baca.
"Punya dendam enggak akan bikin hidup kamu merasa lebih tenang atau bahagia, malah sebaliknya. Orang orang yang hidup dengan dendam yang tertanam di dalam hatinya akan membuat jiwa orang tersebut menjadi kotor dan busuk. Dendam yang sengaja mereka simpan akan terus memberi pengaruh buruk hingga dendam itu terbalaskan. Dan semua orang tau, bahwa buah dari dendam. tidak akan berakhir baik," tulis sang penulis di dalam dialog salah satu tokoh utamanya.
Hingga sekarang, itulah yang Angel jaga, ia tidak ingin punya dendam agar hatinya tidak kotor dan busuk. Ia sudah lihat bukti dari dendam yang memang akan merusak jiwa, gadis itu tidak akan mengambil contoh yang terlalu jauh. Kakaknya, Anraka, yang terselimuti dendam kepada kedua orang tua mereka menjadikan kakaknya itu nakal dan bersikap ketus pada orang lain. Tidak ada yang bisa langsung dekat dengan pemuda itu karena sikapnya yang benar benar keras dan selalu berpikiran negatif tentang orang lain.
Angel tidak mau menjadi seperti itu. Ia selalu menyukai dirinya sendiri yang selalu ceria dan ramah kepada orang lain, orang lain juga pasti menyukai karakteristik yang ia punya.
"Angel adiknya Bang Raka, kok. Cuma, Bang Raka enggak sepintar Angel," kata gadis itu sambil tertawa kecil.
Bumi yang mendengarnya juga langsung tertawa renyah, "Ada ada aja kamu, nih. Awas lho, nanti si Raka dengar."
"Enggak apa apa, Bang Raka enggak pernah jahat kok sama Angel."
Saat mengatakan itu, entah mengapa tiba tiba ada perasaan aneh yang langsung membuat hati Angel terasa diremat. Itu cukup membingungkan.
"Iya, adik lucu kayak Angel emang enggak boleh dijahatin." Bumi menepuk pelan pucuk kepala adik Anraka tersebut.
"Kenapa enggak boleh? Kita enggak bisa nentuin sikap orang lain, Bang Bumi. Kalau orang itu enggak suka sama kita, mungkin aja dia bakal jadi jahat," cicit Angel.
"Iya, Angel. Kamu ini terlalu pinter jadi harus dikasih makan makanan enak yang banyak!"
"Yeay!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.