BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
61. Terpaksa



"Keren banget hari ini!"


"Cheers untuk geng EX!"


"Cheers!"


TING!


Anraka, Bumi, Gibran, Ganta dan


Romeo sedang merayakan kemenangan mereka di semua cafe yang sudah menjadi tempat favorit mereka untuk berkumpul dan merayakan hari hari kemenangan geng mereka.


"Gue udah bilang, geng mereka itu cuma jago keroyokan doang," kata Romeo.


"Mereka mah enggak tau gelut, gitu aja udah tunduk. Padahal tadi kita cuma berlima doang, tangan kita enggak kotor lagi," sambung Gibran.


"Payah banget," timpal Romeo lagi.


"Kalian jangan mandang enteng orang lain, kita enggak tau apa yang bakal mereka lakuin setelah ini. Kita harus tetap waspada, mereka pasti punya dendam sama kita dan bakal selalu nyari celah buat jatuhin EX." Ganta buka suara, entah ada angin apa.


"Bener kata Ganta, orang orang kayak mereka mungkin enggak bakal mikirin resiko dari perbuatan mereka, enggak peduli sebahaya apa pun itu. Kita harus tetap hati hati dan saling menjaga satu sama lainlain." Bumi menambahkan.


Akhirnya mereka semua berdiskusi tentang tim musuh tersebut, para pemuda itu sepakat untuk memberitahu semua anggota geng EX untuk berhati hati dan tetap menjaga daerah kekuasaan mereka.


"Kita enggak akan selamanya kayak gini, ini cuma kesenangan masa SMA. Setelah lulus, kita akan ngejalanin hidup masing masing, senang bisa berkumpul dan jadi teman baik kalian semua. Pertemanan ini lebih dari apa pun buat gue. Makasih, ya." Romeo tersenyum kecil.


Apa yang baru saja Romeo katakan membuat teman temannya melongo. Ya, inilah dia Romeo, si pemuda puitis yang romantis seperti namanya.


"Bisa aja lo, tapi kita emang harus tetap jadi satu walaupun nanti mencar. Gue enggak tau kita semua bakal jadi apa setelah lulus, tapi gue mau kita semua sukses!" kata Bumi penuh antusias.


"Udah pasti kita sukses, orang tua kita kan orang kaya."


"HAHAHAHAHA!"


Pernyataan Gibran otomatis mengundang tawa, bukan karena lucu tapi karena itu memang benar adanya. Bukankah sangat tidak seru jika setelah lulus mereka semua tidak akan mengalami proses yang berat? Untuk apa lagi berproses jika masing masing dari mereka sudah dijanjikan kesuksesan dari keluarga mereka masing masing.


Ada yang langsung memiliki perusahaan yang akan dikelolah setelah siap, ada yang langsung memiliki properti yang begitu banyak, ada yang langsung punya bisnis di mana mana dan ada yang tinggal menikmati harta kekayaan milik orang tuanya saking banyaknya.


"Beruntung banget karena kita udah dikasih harta yang berlimpah sama Tuhan. Kalian pasti tau, ada banyak bahkan ribuan orang di luar sana yang harus berjuang mati matian hanya untuk mencari pekerjaan. Mereka susah susah ke sana ke sini bawa berkas lamaran cuma buat dapat gajian perbulan. Gaji yang mungkin enggak seberapa buat kita, nilai uang yang kayaknya bisa kita hambur hamburin dalam satu malam dengan gampangnya. Uang dengan nilai besar untuk mereka tapi bernilai kecil untuk kita." Bumi mulai menasehati, yang paling bijak di antara anggota geng EX memang pemuda itu.


"Iya, gue juga kadang ngerasa kayak gitu makanya gue suka susah ngeluarin uang cuma buat foya foya karena gue tau orang orang di luar sana bahkan ada yang seumuran sama kita lagi susah payah nyari pekerjaan," timpal Gibran.


"Gue pengen bisa ngelakuin sesuatu yang besar untuk orang lain, bukan karena gue ngerasa lebih baik dan lebih punya dari mereka tapi karena gue ngerasa gue harus bantuin mereka karena gue udah dikasih harta yang cukup dan bisa dibagi ke orang lain. Kedengarannya naif banget tapi emang kayak gitu faktanya." Romeo ikut buka suara.


"Kita semua punya kesempatan yang besar buat membantu orang lain, jangan sia siakan itu dan kalian tau kalau kalian pasti bisa," ujar Ganta.


Anraka terdiam, ia menjadi satu satunya orang yang menyimak obrolan di meja yang ia duduki ini.


Tanpa sadar senyumnya terbit, ada perasaan yang aneh dari pemuda itu. Ia merasakan sesuatu yang hangat menjalar di dadanya, ia senang melihat teman temannya seperti ini, mereka benar benar tampak seperti remaja yang baik hati dan gemar menolong orang lain.


Anraka tau, di balik tingkah laku mereka yang nakal dan sering berkelahi, EX lebih dari itu, EX adalah keluarga yang selalu bersama dan saling menguatkan satu sama lain.


Pemuda itu sangat bersyukur karena ia bisa disatukan dengan orang orang ini, mereka memang berandalan tapi mereka selalu punya niat yang baik dan tidak pernah berniat menekan orang orang yang tidak bersalah.


Orang orang pikir mungkin geng EX adalah geng anak sekolah yang tidak pernah memikirkan perasaan orang lain dan tidak pernah berpikir sebelum bertindak. Padahal, geng EX tidak pernah ingin menyakiti orang yang tidak bersalah atau tidak mengusik mereka sama sekali.


EX hanya akan menghabisi orang orang yang berani berbuat jahat dan melakukan kesalahan.


"Senang bertemu sama kalian." Anraka bergumam, kali ini ia tersenyum lebar.


...****************...


Mata Keelua melebar saat melihat empat pemuda sedang berdiri dan tampak menunggu di lahan parkiran sekolah.


"Kita enggak bisa putar balik, mereka udah ngelihat kita," kata Anraka.


Dengan terpaksa Anraka dan Keelua terus maju dan tetap memarkirkan mobil di dekat seluruh anggota geng EX.


Anraka turun lebih dulu, ia melarang Keelua untuk keluar karena ia tak ingin geng EX melihat mereka berdua berada di dalam satu mobil.


"Tumben cepat banget datangnya, Rak," sapa Gibran.


"Gue lagi malas dihukum. Kalian ngapain di sini?" tanya Anraka sembari berdiri di depan mobilnya.


"Enggak ada. Kita cuma lagi diskusi aja sambil nungguin lo datang, gue kira masih satu jam lagi," sahut Romeo.


"Ya udah kalau gitu, kalian masuk ke kelas sekarang." Anraka menyarankan.


"Lo pergi ke sekolah bareng siapa, sih? Kok sekarang lo selalu bawa mobil, motor lo mana?" tanya Gibran lagi.


"Motor gue? Ada, di rumah. Gue kadang enggak mau pakai motor karena banyak polusi di jalanan kota," jawabnya.


Mata Gibran melebar, apa yang berdiri di depannya ini benar benar Anraka? Anraka yang dulu selalu bilang bahwa ia tak suka naik mobil jika hendak pergi ke sekolah karena sangat ribet dan akan selalu terjebak macet.


"Dulu lo pernah bilang kalau lo enggak suka naik mobil karena pasti kejebak macet, kok sekarang berubah lagi?" tanya Romeo, persis dengan isi kepala Gibran.


Anraka terdiam, ingatkan teman temannya ini sangat kuat, lantas apa yang harus ia katakan?


"Manusia gampang berubah ubah, makanya jangan percaya sama manusia." Hanya itu yang dapat keluar dari mulut Anraka sebagai bantahan.


Gibran geleng geleng kepala kemudian melangkah mendekat ke arah Anraka yang berdiri dengan santai di depan kap mobilnya dengan tangan yang ditenggelamkan ke saku celana.


"Gue masuk, ya?" kata Gibran sambil mendekat ke arah pintu mobil Anraka.


Mata Anraka melebar, apa apaan Gibran ini? Bagaimana jika ia melihat Keel


"Keelua?"


Astaga.


"Lo ngapain di mobilnya Anraka? Kalian berangkat bareng?" tanya Gibran.


Keelua yang sejak tadi terus meringkuk agar tidak ketahuan akhirnya tertangkap basah juga, tidak ada yang bisa ia lakukan, Gibran sudah melihatnya dengan jelas berada di dalam mobil pemuda tersebut.


"Eh, Gibran. Apa kabar?" Keelua hanya mampu tersenyum kikuk, entah apa yang ada di dalam pikiran pemuda itu sekarang. Di depan sana juga ada semua anggota EX dan juga ... Bumi.


"Gue tanya, lo ngapain di sini? Kalian berangkat bareng, ya?" tanya Gibran lagi, ia mengulangi pertanyaannya.


Keelua menghela napas pelan, ia tak bisa mengelak lagi, ia benar benar sudah terciduk dan tak bisa memberi alasan yang masuk akal. Apa pun yang ia katakan tidak akan terdengar meyakinkan untuk Gibran.


"Iya, gue ba-"


"Oma Arum nyuruh gue berangkat sama dia, gue enggak mau, tapi Oma Arum terpaksa. Gue terpaksa berangkat bareng dia, kalau bukan Oma Arum yang nyuruh, gue juga enggak akan mau." Anraka memotong ucapan Keelua sebelum gadis itu menjawab.


Keelua melirik Anraka sebentar, pemuda itu memang pandai berbohong dan mencari alasan.


"Oh, terpaksa? Sampai sengaja bawa mobil buat berangkat bareng Keelua, ya? Gue curiga, nih." Gibran sengaja menggoda Keelua agar gadis itu semakin panik.


Anggota geng EX yang lain hanya mampu tersenyum kecil seraya menggoda Anraka yang tampak salah tingkah, memang gerak geriknya tidak menunjukkan bahwa ia sedang gelisah namun orang orang yang sudah lama mengenal pemuda itu pasti bisa membedakannya.


"Gue juga enggak mau berangkat ke sekolah sama cowok kayak si Raka! Gue terpaksa!" timpal Keelua seraya melirik ke arah Bumi yang menatap ke arahnya tanpa ekspresi.