BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
55. Sarapan Pertama



"Ini hari pertama Keelua sarapan di sini, kamu harus betah ya, sayang. Oma Arum sangat senang sekali karena kamu bisa menjadi bagian dari kami."


Oma Arum tersenyum lebar ke arah Keelua, wanita paruh baya itu benar benar menyukai keberadaan istri dari cucunya itu.


Keelua hanya mengangguk kecil, ia belum terbiasa makan dan berbaur di dalam keluarga yang bukan keluarganya. Baru satu hari di sini namun Keelua sudah sangat merindukan rumahnya. Ia ingin pulang, tapi sekarang ia harus tinggal di sini, bersama suaminya. Suami yang tidak ia cintai.


"Makan dulu, Mama ambilin rotinya, ya," ucap Regina sambil mengambil beberapa helai roti lantas melumurinya dengan selain yang diperuntukkan untuk Keelua.


Keelua menundukkan kepala, ia tau bahwa semua anggota keluarga Anraka sangat baik padanya tapi ia masih belum bisa menerima kenyataan yang mengatakan bahwa ia harus hidup dan tinggal bersama orang orang ini mulai sekarang.


Andai saja Anraka adalah pemuda yang Keelua cintai, mungkin keluarga suami yang sangat hangat seperti ini akan membuat gadis itu sangat bahagia.


"Angel senang karena Kak Keelua udah jadi kakak Angel juga sekarang, Angel selalu pengen punya kakak perempuan," kata Angel yang sedang duduk bersebelahan dengan Keelua.


Keelua terpaksa menoleh lantas menyunggingkan senyuman yang paling manis dan paling palsu yang ia miliki, ternyata pura pura bahagia sangat sulit sekali.


"Papa tau ini pasti akan sulit buat kamu untuk beradaptasi dengan rumah ini karena kamu sudah terbiasa dengan rumah kamu yang di dalamnya ada semua anggota keluarga kamu. Tapi, mulai sekarang rumah ini juga udah jadi rumah kamu dan semua orang yang ada di dalam rumah ini adalah keluarga kamu." Arya kemudian buka suara.


Keelua mengangkat kepalanya dan menatap ke arah pria yang kini sudah menjadi ayah mertuanya itu dan tersenyum kecil, "Iya, Om."


"Jangan panggil Om, dong. Panggil saya Mama, dan panggil Papanya Anraka juga Papa. Kami kan udah jadi orang tua kamu, anggap kami seperti orang tua kandung kamu, Keel. Oke, sayang?" Regina meletakkan dua lembar roti ke atas piring Keelua sambil tersenyum manis ke arah anak menantunya itu.


"Iya, Ma." Lagi lagi Keelua menampakkan senyum palsunya.


Si tokoh utama dalam drama ini juga ada di sana, pemuda yang sudah resmi menjadi suami Keelua. Dia hanya duduk diam dan memakan sarapannya tanpa mengatakan apa pun, Keelua memang ingin pemuda itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun karena semua yang dikatakan oleh pemuda itu terdengar menyakitkan untuknya.


Bagaimana semua ini berlalu begitu cepat? Keelua benar benar sudah menjadi istri Anraka sekarang. Kenyataan yang terlalu sulit untuk diterima.


Keelua melahap sarapannya dengan cepat, lantas meminum susu yang juga sudah disiapkan di atas meja.


"Oma, Ma, Pa. Keelua naik ke atas dulu, ya. Pusing, kayaknya kurang tidur," kata Keelua dengan matanya yang sayu.


"Kamu sakit, ya? Mau Oma panggilin Dokter biar kamu diperiksa di rumah aja?" tanya Oma Arum, cemas.


Keelua menggeleng, "Enggak perlu, Oma. Keelua cuma butuh istirahat aja," tolaknya.


"Ya udah kalau gitu, kamu istirahat aja, ya. Kalau ada apa apa langsung kabarin Oma atau siapa pun yang ada di rumah ini." Oma Arum tersenyum lebar ke arah Keelua.


Keelua hanya mengangguk pelan lalu mulai bangkit dan melangkah santai menuju tangga.


"Ditemenin dong istrinya, masa kamu tega ngeliat istri kamu enggak enak badan kayak gitu."


Terdengar suara Oma Arum yang sudah pasti berbisik ke arah Anraka, Keelua hanya mampu memejamkan mata dan menarik napas panjang. Gelar istri yang tersemat pada dirinya sangat amat membebani Keelua, pundaknya terasa berat setelah resmi menjadi menantu keluarga Pranata.


Meskipun keluarga suaminya ini sangat baik sekali tapi tetap saja Keelua lebih suka tinggal di rumahnya, ia merindukan Ravi dan Mama Papanya.


Gadis itu akhirnya menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar Anraka yang katanya kini sudah menjadi kamar Keelua juga. Mereka harus tinggal di dalam satu kamar padahal di rumah ini ada banyak kamar yang kosong. Andai karena tidak dipaksa oleh Oma Arum, Keelua pasti akan tidur di kamar lain asal tidak tinggal satu kamar dengan Anraka.


Keelua masuk dan menutup pintu kamar Anraka dengan gontai, mata gadis itu tiba tiba memanas, ia tak sanggup lagi.


"Gue enggak mau ada di sini, gue mau pulang," lirih gadis itu dengan air mata yang sudah siap membasahi pipinya.


Kakinya gemetar saat hendak melangkah menuju kasur, dan pada akhirnya gadis itu memilih untuk meringkuk di samping ranjang Anraka dengan posisi memeluk lututnya.


Gadis itu menangis, ia menangis tersedu sedu sambil meredam semua rasa sakit di hatinya. Keluarganya benar benar tega, semua orang sangat tega padanya. Mengapa ia harus hidup di keluarga yang sama sekali tidak pernah memikirkan perasaan anak mereka? Keelua terlalu sulit untuk menerima ini.


Rambut panjang gadis itu tampak berantakan, sudah beberapa hari ini ia stress karena semua hal yang terjadi begitu cepat. Keelua tidak bisa merespon ini semua dengan cepat, ia frustrasi.


Ternyata begini ya rasanya dipaksa untuk hidup bersama orang yang tidak pernah kita cintai.


Sekar pernah bercerita bahwa dirinya dan Bambang dulu adalah sepasang suami istri yang dipaksa menikah. Tidak ada cinta di dalam hubungan mereka awalnya, tidak ada bahagia yang mampu membuat Sekar tersenyum.


Pada awalnya, Keelua mengira apa yang pernah diceritakan oleh sang Ibu adalah sesuatu yang manis. Tidak saling mencintai namun tetap ingin hidup bersama dan membangun cinta itu sendiri bersama sama. Keelua kira, itu adalah hal terbaik yang bisa cinta lakukan pada manusia.


Awalnya, Keelua percaya bahwa semuanya akan berakhir bahagia seperti kisah ibunya. Gadis itu hanya beranggan anggan, hingga entah bagaimana awalnya dia akhirnya merasakan apa yang Ibunya dulu rasakan.


Ini sangat jauh dari kata bahagia, bagaimana bisa ibunya bertahan dengan situasi seperti ini? Situasi yang hampir membuat Keelua gila padahal baru beberapa jam saja.


Artinya Sekar tau, bahwa keadaan seperti ini mampu membunuh jiwa siapa saja yang mengalaminya.


Lantas mengapa wanita itu membiarkan anaknya sendiri ikut merasakan apa yang dulu pernah ia rasakan? Apa Sekar mengira bahwa kisah Keelua akan berakhir sama dengan kisahnya?


Mungkin akan terdengar bagus jika kisah Keelua benar benar berakhir bahagia tapi bagaimana jika tidak? Apa Keelua akan benar benar hidup dengan rasa sakit hati sepanjang hidupnya? Keelua sudah janji pada dirinya sendiri bahkan sebelum ia mengerti apa itu pernikahan.


Gadis itu berjanji bahwa ia hanya akan menikah satu kali seumur hidupnya, jika suaminya pergi meninggalkannya karena suatu alasan yang kuat, Keelua berjanji tidak akan pernah mencari pengganti.


Orang orang mungkin mengira Keelua bahagia atau akan segera bahagia tapi kata bahagia tersebut sudah terlalu jauh untuk Keelua saat ini. Dia tak menemukan celah kebahagiaan dalam hidupnya sedikit pun, tidak ada sama sekali.


Saat sedang asik menatap kosong dinding di depannya, tiba tiba suara pintu yang dibuka terdengar.


"Lo ngapain di situ? Jangan nangis di kamar gue."


Itu suara Anraka. Keelua terdiam, biarkan saja si menyebalkan itu bicara, ia tak akan menghiraukannya.


"Gue enggak suka di sini," gumam Keelua pelan, suaranya masih bisa didengar oleh Anraka.


"Terus kenapa lo masih di sini? Enggak ada yang pernah nahan lo, lo bisa pergi kapan pun lo mau."


Anraka bergerak mendekat lantas mengambil ponselnya yang berada di atas tempat tidurnya.


Keelua kembali terisak, hal terburuk yang terjadi sekarang adalah kenyataan bahwa pemuda yang memiliki paling banyak masalah di sekolah tiba tiba menjadi suaminya. Bumi begitu luas. kenapa harus Anraka? Keelua bisa berusaha menerima pemuda mana saja asal jangan Anraka tapi dunia memang selalu tidak pernah berpihak padanya.


"Mending lo pergi dari sini!" seru Keelua dengan kesal.


"Ini kamar gue—"


"Pergi!"


PAK!


Sebuah bantal guling langsung tepat sasaran mengenai wajah Anraka, Keelua melemparnya dengan sekuat tenaga.


"Lo bener bener, ya—"


"Jangan teriak! Apa apaan, sih!"


"Ya udah, pergi sana. Jangan di sini, malas gue lihat muka lo," kata Keelua, matanya masih sembab karena menangis.


Anraka kemudian menatap nyalang gadis yang sedang duduk di sisi ranjangnya itu, ia mirip gelandang yang sedang mengemis. Anraka tidak menyangka bahwa gadis yang duduk di lantai itu adalah istrinya, mungkin menjadi hal terburuk yang pernah terjadi pada Anraka.


Mau tak mau, Anraka akhirnya keluar dari kamarnya sendiri dengan perasaan gondok. Baru sehari di sini tapi Keelua sudah bisa memerintahnya dan menyuruhnya untuk keluar dari kamarnya sendiri, bagaimana jika lebih dari ini? Mungkin Keelua akan menyuruhnya tidur di ruang tengah. Tidak akan Anraka biarkan.


"Bang, Kak Keelua kenapa?"


Pemuda yang sedang mengenakan baju rumahan itu sedikit tersentak saat tiba tiba muncul seorang gadis kecil di depan pintu kamarnya saat ia melangkah keluar.


"Enggak tau," balas Anraka acuh lantas melangkah cepat menuju tangga dan turun ke bawah.


Angel memperhatikan langkah kakaknya hingga menghilang dari pandangannya, lantas kembali menatap pintu kamar Anraka yang sudah tertutup rapat. Gadis kecil itu seperti mendengar suara teriakan dari dalam kamar ini, itu suara teriakan perempuan. Apa Keelua baik baik saja? Apa mungkin Anraka melakukan sesuatu yang menyakiti kakak ipar Angel itu?


Angel penasaran, tangan mungilnya akhirnya naik dan mengetuk daun pintu itu, ia tau Keelua ada di dalam namun Angel harus bersikap sopan dan tidak boleh masuk ke kamar orang seenaknya.


"Kak Keel, ini Angel. Angel masuk, ya," ujar Angel dari luar.


Tidak ada jawaban, Angel semakin cemas. Akhirnya mau tak mau gadis kecil itu langsung membuka pintu kamar Anraka dan menyembulkan kepalanya dari luar, mengecek situasi di dalam ruangan itu terlebih dahulu.


"Halo, Angel. Sini!" panggil Keelua.


"Kak Keelua enggak apa apa?" tanya Angel seraya melangkah masuk ke dalam kamar dan menutup kembali pintu itu.


Keelua menggelengkan kepala pelan, "Enggak apa apa, kenapa nanya gitu, cantik?" tanyanya.


"Tadi Angel dengar suara teriakan dari dalam kamar ini sebelum Bang Raka keluar, kirain Kak Keel kenapa kenapa," terang gadis kecil itu.


Keelua terkekeh pelan, "Oh, tadi kakak lagi nonton film terus kaget gitu jadi refleks teriak," jelasnya.


Angel manggut manggut, ternyata dugaannya salah. Buktinya sekarang Keelua tampak santai menonton film dari laptop yang ada di pangkuan sambil bersandar ada di pangkuan sambil bersandar di atas kasur milik Anraka.


Rasanya sedikit aneh namun menyenangkan saat Angel bisa menemukan manusia lain di rumah ini yang bisa diajak bicara, Angel menikmatinya dan ia suka keadaan seperti ini. Keadaan di mana ia tak lagi kesepian dan punya seseorang yang benar benar peduli padanya. Gadis kecil itu bisa merasakan ketulusan dari kakak iparnya, meskipun ia juga merasakan ketidaknyamanannya yang mungkin sedang Keelua rasakan di rumah ini.


Tapi tak masalah, Angel akan berusaha membuat Keelua senyaman mungkin.


"Kak Keel.." panggil Angel pelan.


Keelua menoleh.


"Kak Keelua senang enggak tinggal di sini?"