
"Kita mau nyari Angel ke mana, ya?" tanya Keelua memecahkan keheningan di dalam mobil.
Waktu sudah hampir malam, Keelua, Anraka dan Regina masih mencari cara untuk menemukan Angel.
"Kita kayaknya harus ngelacak hapenya dulu, besok baru kita lapor ke polisi supaya kita punya peluang lebih besar buat nemuin Angel secepatnya," balas Anraka.
"Kenapa kita enggak nanya ke Oma Arum aja, sih? Jelas jelas yang ada di CCTV itu mobil Oma, udah jelas kalau Oma Arum yang nyembunyiin Angel sekarang. Buat apa kita susah payah nyari ke sana ke sini kalau Oma udah tau di mana Angel?" sahut Keelua.
"Percuma aja, Keel. Oma Arum enggak akan ngasih tau kita, dia cuma mau Mama tersiksa dan mati matian nyari Angel," celetuk Regina dari bangku belakang.
"Tapi ini menyangkut nyawa, Ma. Oma Arum enggak mungkin setega itu sampai ngejauhin Angel dari keluarganya sendiri. Oma pasti punya sedikit aja rasa kasian," sahut Keelua lagi.
Regina terkekeh, "Buktinya dia tega, kalau dia enggak tega, Angel udah ada sama Mama sekarang," balasnya.
"Gimana kalau emang bukan Oma Arum yang nyembunyiin Angel? Oma Arum 'kan udah bilang tadi kalau bukan dia yang bawa Angel pergi pagi itu. Mungkin aja apa yang Oma bilang itu benar." Anraka buka suara.
"Bahkan saat buktinya udah ada kamu masih ngeraguin faktanya, Rak? Kamu sendiri yang ngasih lihat ke semua orang kalau mobil yang Angel naiki itu mobilnya Oma Arum. Kenapa sekarang kamu bilang kalau bukan Oma Arum pelakunya?" tanya Regina.
"Bukan gitu, Ma. Raka enggak bilang kalau Oma Arum bukan pelakunya. Raka cuma menduga aja, siapa tau bukan karena Oma Arum bilang kalau emang bukan dia yang ngelakuin," jelas Anraka lagi.
"Terus kamu pikir Oma kamu itu bakalan langsung ngaku dan bilang kalau dia yang ngelakuin? Kamu gila, enggak ada orang yang udah ngelakuin kejahatan bisa langsung ngaku. Kalau pun ngaku, harus diancam dulu. Siapa yang mau ngancam Oma Arum? Walaupun sikap Oma Arum enggak baik tapi Mama masih punya rasa hormat sama mertua Mama sendiri. Tapi sayangnya orang yang dihormati tidak bisa menghargai perasaan orang lain."
Anraka terdiam. Ia menyadari bahkan sekarang bukan waktu yang tepat untuk membela siapa pun. Lebih baik ia tutup mulut dan melakukan apa yang bisa ia lakukan. Diam dan menyimak tampaknya terdengar seperti ide yang bagus.
"Maafin Anraka, Ma," kata Anraka.
Regina hanya menghela napas panjang, begitu lama waktu berlalu, ia hanya ingin menemukan anaknya.
Ketiganya akhirnya terus melakukan perjalanan yang akan membawa mereka menuju tempat di mana mereka akan melacak ponsel Angel.
Untuk beberapa waktu Regina akan tinggal bersama Keelua dan Anraka di rumah baru mereka. Keelua yang menyarankan itu karena gadis tersebut tau bahwa Ibu mertuanya butuh waktu untuk sendiri dan berpikir dengan matang sebelum mengambil keputusan agar tidak ada penyesalan setelahnya.
Suasana mobil kembali sepi dan hening, semua orang yang ada di dalam mobil sedang sibuk dengan pikiran mereka masing masing. Sampai suara ponsel milik Anraka berbunyi.
"Halo?"
"Halo, Raka. Lo di mana?"
Samar samar Keelua mendengar suara Romeo dari panggilan itu, suaranya seperti orang yang sedang panik.
"Gue lagi ngurus sesuatu, kenapa lo?" tanya Anraka.
Anraka belum memberitahu siapa pun tentang kasus hilangnya Angel, ia hanya ingin semuanya selesai tanpa drama atau terlalu banyak orang yang tau hingga masalahnya semakin keruh.
"Gibran di bacok sama orang yang enggak dikenal, gue baru aja bawa dia ke rumah sakit. Gue baru bisa kabarin lo karena ini kejadiannya baru banget, kejadiannya di depan cafe semesta."
"Hah? Ya udah, lo bawa Gibran ke rumah sakit secepatnya, setelah ini gue langsung nyusul lo sana. Kasih tau gue aja di mana rumah sakitnya," balas Anraka.
Panggilan terputus.
"Kenapa, Rak?" tanya Keelua yang ikut panik karena melihat ekspresi Anraka yang tiba tiba berubah.
"Gibran di bacok sama orang yang enggak di kenal di depan cafenya."
"Apa?! Jadi gimana keadaan dia sekarang?" tanya Keelua, gadis itu terkejut.
"Romeo lagi bawa dia ke rumah sakit, kita ngelacak hapenya Angel dulu baru nyusulin Romeo di rumah sakit," kata Anraka.
"Gibran yang teman kamu itu Raka?" tanya Regina pula. ya,
"Iya, Ma. Kejadiannya baru aja, Romeo juga baru ngabarin aku doang, jadi aku harus ngabarin teman teman yang lain."
"Ya ampun, kasihan sekali. Semoga dia baik baik aja," tutur Regina.
"Semoga aja, Anraka juga berharap begitu."
Anraka menambah sedikit kecepatannya, ia harus segera sampai ke tujuan agar lebih cepat juga menyusul Romeo di rumah sakit. Ia benar benar cemas degan keadaan Gibran, bagaimana mungkin pemuda itu bisa dilukai di tempat umum seperti ini. Gibran juga jago bela diri, orang yang menyerang pemuda itu pasti melakukannya dari belakang. Dasar pecundang.
"Keel, tolong kabarin anak anak EX di grub. Mereka harus tau supaya ikut nyusul Romeo ke rumah sakit," kata Anraka.
"Oke," balas Keelua seraya mengambil ponsel Anraka dan mulai mengabari semua teman teman Anraka yang ada di dalam grub anggota geng EX.
Setelah Keelua mengetik pesan itu, spontan puluhan anggota grub yang menanyakan kebenarannya dan tak sedikit dari mereka menanyakan di mana rumah sakit tempat Gibran dibawa.
Keelua kembali mengabarkan bahwa Romeo belum memberitahu ke rumah sakit mana ia membawa Gibran.
Beberapa menit setelahnya, ponsel Anraka mendapatkan notifikasi dari Romeo. Pemuda itu mengabarkan di rumah sakit mana ia sekarang bersama Gibran yang entah terluka parah atau tidak.
Ini hal yang mengejutkan untuk Anraka dan Keelua, di saat saat genting seperti ini mengapa ada lagi musibah yang terjadi? Belum selesai dengan masalah hilangnya Angel, sekarang salah satu dari teman mereka terkena musibah juga.
Kepala Anraka hampir pecah, tapi ia berusaha tetap pada kewarasannya.
"Gue benar benar bakal nyari mereka yang udah ngelakuin ini ke orang orang terdekat gue."
...****************...
"Saya harap Mas-nya bisa membantu, ya. Mas ini harapan kami, saya cuma ingin anak saya cepat ditemukan, Mas."
"Saya akan berusaha semaksimal mungkin, Bu. Terima kasih sudah mempercayai jasa saya untuk membantu Ibu dan keluarga."
"Sama sama. Baik, kami pamit dulu, segera hubungi kami kalau dapat kabar apa pun, ya. Kami setia menunggu."
"Baik, Bu. Pasti akan saya lakukan."
Regina, Anraka dan Keelua akhirnya pamit untuk pulang dari tempat jasa pelacakan ponsel yang sejak tadi mereka tuju. Ternyata butuh satu hari untuk melakukan pelacakan jadi mau tidak mau, Regina harus menunggu sampai besok.
"Mama yang sabar, ya. Angel pasti bakal ditemuin, yang Mama harus lakuin sekarang adalah tenang dan ngasih waktu buat diri Mama sendiri untuk bernapas."
Sejak keluar dari tempat pelacakan tadi, Keelua terus merangkul bahu Regina dan memberikan penyemangat penyemangat yang entah berpengaruh atau tidak. Keelua hanya melakukannya karena memang hanya itu yang ia bisa.
Regina berusaha untuk tenang, menyadari bahwa panik bukan solusi untuk situasi seperti ini tapi yang wanita itu pikirkan adalah sedang ada Angel sekarang dan di mana dia? Gadis kecilnya itu baik baik saja atau tidak? Bagaimana jika dia kedinginan atau kelaparan di luar sana? Bagaimana cara gadis itu bertahan?
Sebelum kembali memasuki mobil, Regina menatap bulan yang sedang bersinar indah di atas langit, cahayanya menginari malam yang gelap. Wanita itu berharap bahwa cinta dan rasa rindunya akan selalu menjaga Angel di luar sana sampai ia berhasil menemukan anaknya.
Angel harus selalu berada di dalam lindungan kebaikan dan terjaga dari bahaya apa pun, setidaknya itu yang Regina harapkan sekarang.
Ia tidak akan berhenti sampai anaknya benar benar ada di pelukannya lagi, ia berjanji tidak akan membuat Angel menangis apalagi terluka. Jika harus, Regina akan benar benar meninggalkan rumah keluarga suaminya jika Angel masih dipaksa hidup di dalam tekanan.
"Ma, Mama mau ikut ke rumah sakit atau pulang ke rumah? Mama kayaknya butuh istirahat," tanya Anraka saat Regina masuk ke dalam mobil.
"Mama kayaknya mau pulang aja, Rak. Mama emang capek banget, besok juga harus ke kantor polisi buat bikin laporan hilangnya Angel, titip salam aja buat Gibran, ya. Semoga dia baik baik aja," balas Regina.
"Iya, Ma."
Akhirnya Anraka dan Keelua kembali lagi ke rumah untuk mengantar Ibu mereka pulang dan beristirahat.
Meskipun buru buru untuk pergi ke rumah sakit tapi sepasang suami istri itu harus mengutamakan Ibu mereka dulu yang masih berada di dalam kesedihan yang mendalam.
"Mama mau Keelua temenin, enggak? Keelua di rumah aja, ya, nemenin Mama. Keelua enggak tega kalau Mama sendirian di rumah," ucap Angel begitu mereka sudah hampir sampai di rumah setelah duduk di dalam mobil selama bermenit menit.
"Enggak perlu, sayang. Mama enggak apa apa sendirian di rumah, kalian harus pergi ngecek kondisi teman kalian dulu. Sampai di rumah Mama juga mau langsung istirahat, kamu juga udah nyiapin semua kebutuhan Mama tadi. Makasih banyak ya, sayang. Kamu menantu Mama yang baik sekali," puji Regina.
Keelua tersenyum tipis, "Ya udah, tapi kalau ada apa apa Mama harus langsung kabarin aku atau Anraka, ya."
"Iya, sayang."
Akhirnya mereka sampai di rumah, Keelua mengantar Ibu mertuanya itu sampai di dalam kamar dan memastikan bahwa ia benar benar nyaman di rumah itu.
Regina menempati kamar tidur yang Keelua perlihatkan pada Anraka waktu itu, setelah sekian lama kosong akhirnya ada yang menempatinya.
Setelah itu, Keelua dan Anraka
langsung tancap gas menuju rumah sakit yang sudah Romeo beritahu. Ada banyak kemungkinan kemungkinan buruk yang ada di dalam kepala Keelua sedangkan Anraka hanya berharap bahwa temannya baik baik saja.
Selama perjalanan tidak ada obrolan yang menghiasi mobil, entah Keelua atau Anraka, mereka sibuk dengan pikirannya masing masing.
Sebenarnya keduanya sama sama memikirkan bagaimana cara mereka mengatasi masalah yang terlalu menumpuk ini.
Tapi lagi lagi hanya pertanyaan pertanyaan serta kemungkinan yang mampu mereka dapatkan, alih alih solusi yang seharusnya sudah mampu mereka tebak sekarang.
"Raka.." panggil Keelua pelan.
"Kenapa?" sahut Anraka.
"Geng EX punya musuh, ya?" tanya Keelua membuka topik.
Anraka tidak langsung menjawab, sepertinya ia berpikir lebih dulu.
"Enggak, geng EX enggak punya musuh. Tapi enggak menutup kemungkinan kalau ada beberapa orang yang enggak suka sama gue atau teman teman gue yang lain karena mereka punya dendam yang enggak terbalas. Sama kayak orang orang yang waktu itu hampir ngeroyok gue waktu itu di depan apartemen."
Keelua manggut manggut, "Gue enggak nyangka ada orang yang tega dan jahat banget sampai bisa ngelakuin hal kayak gini."