
Anraka, Keelua dan Regina akhirnya sampai di rumah keluarga Pranata. Mereka turun bersamaan dan segera masuk ke dalam rumah, mereka akan menemui Oma Arum yang sebenarnya sedang menjadi tersangka utama.
"Rak, kayaknya gue enggak usah asuk deh. Gue tunggu di luar aja, ya?" kata Keelua, ia mendekat ke arah Anraka yang sebentar lagi akan masuk melalui pintu utama.
"Enggak." Anraka tentu saja tidak mengizinkan itu, pemuda tersebut pun menarik tangan Keelua dan mereka masuk bersama.
"Oma?" panggil Anraka begitu ia bersama istri serta Ibu kandungnya sudah berada di ruang tengah.
Terdengar suara pintu yang terbuka, suaranya sangat khas, menandakan bahwa Oma Arum sudah keluar dari kamarnya dan akan segera menemui mereka.
"Oma sudah bilang, enggak usah bawa dia. Kenapa kamu ajak dia ke sini lagi? Apa kata kata Oma enggak jelas sampai kamu enggak paham, Anraka?"
Keelua tidak menunduk, gadis itu mengangkat kepalanya namun tatapannya kosong ke depan karena luka di hatinya yang meraung, bukan dirinya lagi.
"Keelua harus ada di sini, Oma. Raka udah bilang kalau ini bukan tentang hubungan Raka dan Keelua," jawab Anraka.
"Sama aja. Oma tidak suka melihat dia ada di rumah ini, kalau Oma tidak suka artinya dia harus pergi."
Perkataan Oma Arum sangat menyakitkan. Bukan hanya untuk Keelua saja tapi untuk semua orang yang ada di sana.
"Kenapa dia harus pergi? Keelua bisa tetap di sini kapan pun dia mau, Oma Arum enggak punya hak buat ngusir dia." Regina akhirnya buka suara.
Oma Arum kemudian menoleh ke arah Regina, "Tentu saya punya hak. Ini rumah saya, ini rumah anak saya. Saya berhak memutuskan siapa yang bisa tetap tinggal dan siapa yang harus pergi. Termasuk kamu sekali pun," katanya.
Regina menyunggingkan senyum, senyumnya jelas sekali hingga membuat Anraka meringis.
"Kenapa senyum? Kamu udah sadar kalau kamu enggak bisa apa apa di sini? Modal kamu cuma cinta dari anak saya, tanpa itu, kamu akan kembali jadi perempuan biasa yang tidak punya bakat apa apa untuk dibanggakan. Biasa saja."
Regina sudah benar benar muak, ditambah lagi jika ia mengingat bahwa anak perempuannya sedang tidak ada di pelukannya sekarang membuat wanita itu semakin tidak kuat menahan emosinya.
"Anda yang seharusnya sadar diri. Rumah yang anda sebut dengan rumah anda ini adalah rumah yang di bangun dengan susah payah oleh suami saya yang di dalam sertifikatnya tertulis nama saya. Jadi, anda bisa memastikan sendiri siapa yang lebih berhak." Regina menatap Oma Arum dengan mata tajamnya, seolah memperlihatkan seperti apa kebencian yang wanita itu punya pada Ibu mertuanya.
Regina bukan lagi wanita lugu yang hanya bisa disuruh suruh dan dipermainkan oleh orang orang yang lebih pintar darinya bahkan Ibu mertuanya sendiri. Regina bukan lagi gadis biasa yang dicintai oleh Arya dan berakhir menjadi istri yang selalu menuruti semua permintaan Ibu mertuanya.
Awalnya, Regina merasa bahwa
apa yang ia lakukan untuk Oma Arum adalah rasa penghormatannya pada mertuanya tapi setelah beberapa tahun lamanya tinggal satu rumah dengan wanita tua itu, Regina sadar bahwa tidak semua orang tua harus dihormati karena sebagian kecil dari orang tua tidak dapat menghargai anak anak mereka.
"Oma Arum enggak bisa ngomong kayak gitu ke Mama. Mama enggak salah apa apa, kenapa Oma Arum selalu mau misahin orang? Oma Arum harus menghargai orang lain supaya Oma bisa dapat penghargaan yang sama dari orang lain juga," kata Keelua.
Keelua geram, ia sudah tak sanggup melihat penghancuran jiwa seperti ini, dari luar Regina memang tampak baik baik saja tapi siapa yang tidak akan sakit hati saat ada yang mengatakan hal seperti itu apalagi yang mengatakannya adalah mertua kita sendiri.
"Kamu tidak usah ikut campur. Tau apa kamu soal keluarga kami? Kamu bukan siapa siapa di sini, kamu cuma numpang hidup aja.
Kehadiran kamu cuma nyusahin cucu saya dan buat dia enggak nurut lagi sama saya. Kamu parasit."
Dengan entengnya Oma Arum mengatakan itu semua, seolah olah apa pun yang keluar dari mulut wanita tua itu adalah kata kata indah yang tidak akan menyakiti siapa pun. Seolah olah apa yang ia lakukan adalah benar dan tidak bisa disalahkan.
Anraka tidak tahan lagi. Ia harus segera menyelesaikan urusannya di rumah ini lalu membawa Keelua pergi dari rumah yang sudah hampir mirip neraka ini.
"Anraka dan Keelua datang ke sini karena kami lagi nyari Angel, Angel hilang. Oma tau dia di mana?" tanya Anraka, ia langsung mengalihkan pembicaraan.
"Angel? Astaga, anak itu juga. Kenapa semua orang di rumah ini selalu membuat orang lain berada di dalam kesulitan? Tentu saja Oma tidak melihat dia, lagipula memperhatikan dia hanya membuat suasana hati Oma memburuk. Kamu tau sendiri 'kan, Raka?" jelas Oma Arum, lagi lagi perkataannya menyakinkan, ia memang tidak bisa menjaga perasaan siapa pun selain Arya dan juga cucunya, Anraka.
"Udah cukup. Cukup. Mana Angel? Kembalikan dia ke saya dan saya akan pergi dari rumah ini, seperti yang selalu Oma Arum inginkan sejak dulu."
"Apa apaan ini?"
Dari arah ruang tamu datang lah seolah pria berbadan tinggi dan tegap, memasuki obrolan begitu saja dan memecahkan fokus di dalam ruangan itu.
"Ini, istri kamu. Sepertinya dia sudah gila."
"Iya, aku udah gila, Ma! Aku udah gila, tolong kembaliin anak aku aja. Aku janji akan pergi setelah Mama kembaliin Angel ke pelukan aku." Regina menangis, ia memohon pada Oma Arum untuk mengembalikan Angel kepadanya.
"Regina, stop!" seru Arya.
"Enggak, Ar. Aku udah benar benar capek, aku udah enggak sanggup. Aku enggak butuh apa pun, aku cuma mau anak aku aja. Aku cuma mau ketemu sama Angel. Tolong kembaliin Angel."
"Apa yang kamu omongin? Kenapa kamu minta Angel ke saya? Saya enggak punya tanggung jawab sama dia, kalau kamu mau cari dia, cari saja sendiri. Palingan dia lagi pergi sama teman temannya yang nakal, kamu enggak tau gimana nakalnya anak kamu itu.
Kamu memang tidak pandai mengurus anak," balas Oma Arum.
"Tolong, kembaliin Angel, Oma."